Bab I Gema Gordang Sambilan
Suasana di dalam Bagas Godang Pakantan terasa sangat mencekam. Aroma asap
kemenyan yang dibakar di sudut ruangan bercampur dengan bau udara dingin khas
lereng Gunung Kulabu. Di bawah pendar temaram obor dinding, para tetua adat, Datu,
dan bangsawan duduk bersila melingkari tikar pandan.
Di luar,
sayup-sayup terdengar tabuhan Gordang Sambilan yang ritmenya melambat,
memberi tanda bahwa sebuah keputusan besar dan darurat sedang digodok di dalam
rumah adat tersebut.
Sutan natorop
duduk diam di dekat pintu masuk. Pandangannya lurus menatap lantai kayu, namun
telinganya menangkap setiap getaran suara. Di dalam dadanya, ia bisa merasakan Sijangak
khodam harimau putihnya sedang menggeram rendah, gelisah.
"Ketukan
Gordang Sambilan di luar bukan lagi untuk menyambut panen," ucap Raja
Namora, tetua adat Pakantan, memecah keheningan dengan suara serak namun
berwibawa. "Gunung Kulabu telah batuk. Cahaya kuning yang membelah langit
malam tadi adalah tanda. Sere na gok emas sebesar kuda itu telah bangkit
dari dasar danau puncak."
Seorang pria
bertubuh kekar dengan jubah hitam legam tiba-tiba tertawa rendah. Dialah Datu
Garang. Di bahunya, samar-samar terlihat siluet bayangan harimau hitam yang
matanya menyala merah dalam dimensi astral.
"Mengapa
wajahmu terlihat seperti melihat hantu, Raja Namora?" cetus Datu Garang
sambil mengelus hulu kerisnya. "Emas itu adalah berkah! Tanah Mandailing
ini terlalu lama miskin karena tunduk pada aturan-aturan kunomu. Dengan emas
sebesar kuda itu, kita bisa membangun pasukan yang ditakuti seluruh
pulau!"
"Kau buta
oleh keserakahan, Garang!" sahut Datu Sanggul, pendekar tertua yang duduk
di sisi timur. Suaranya bergetar karena usia, namun matanya tetap tajam.
"Emas itu bukan berkah, melainkan bisa (racun). Siapa pun yang
menyentuhnya tanpa kesucian hati akan menghancurkan tanah ini. Kau pikir hanya
kau yang merasakannya? Sembilan darah harimau di tanah ini telah
terbangun!"
Datu Garang
berdiri, membuat beberapa tetua adat tersentak mundur. Aura hitam yang pekat
dan dingin langsung berembus memenuhi ruangan, memadamkan dua obor di dekatnya.
"Lalu siapa
yang akan melarangku mendaki Kulabu? Kau, Sanggul? Tubuh tuamu bahkan akan
hancur sebelum sampai ke lereng," tantang Datu Garang takabur.
"Jika Datu
Sanggul terlalu tua, maka aku yang akan berdiri di depan jalanmu, Datu
Garang."
Semua mata
langsung tertuju ke arah pintu. Sutan natorop berdiri dengan tenang. Tidak ada
aura meledak-ledak dari tubuhnya, namun langkah kakinya yang ringankhas pesilat
Langka opatmembuat papan lantai kayu Bagas Godang sama sekali tidak
berderit.
Datu Garang
menyipitkan mata, menatap sinis pemuda di depannya. "Sutan natorop... anak
ingusan yang bersembunyi di balik bulu putih khodam warisan ayahnya. Kau ingin
mati muda di atas gunung?"
Sutan natorop
menatap lurus ke mata merah Datu Garang. "Gunung Kulabu adalah pasak bumi
Pakantan. Jika kau mendakinya dengan niat menumpahkan darah, maka harimau
putihku yang akan memastikan jasadmu menjadi pupuk di hutan bawah."
Di sudut ruangan
yang gelap, seorang wanita bercadar kain sutra merah Intan Nauli tersenyum
tipis di balik cadarnya. Jari-jarinya yang lentik mengetuk-ngetuk lantai,
sementara khodam Belang Emasnya berbisik di dalam benaknya bahwa pertunjukan
berdarah akan segera dimulai.
Raja Namora
mengangkat tangan kanan, memberi isyarat agar ketegangan di dalam Bagas Godang
mereda. Datu Garang mendengus meremehkan, berbalik, lalu melompat turun dari
jendela rumah panggung adat tersebut, menghilang ke dalam kegelapan malam
menuju lereng Gunung Kulabu. Satu per satu, pendekar lain ikut berkelebat pergi
secara senyap melalui bayang-bayang tiang penyangga Bagas Godang.
Kini, ruangan
luas itu hanya menyisakan Raja Namora, beberapa tetua adat yang tertunduk
cemas, dan Sutan natorop yang masih berdiri kokoh di dekat pintu.
Raja Namora
melangkah mendekati Sutan natorop. Tangannya yang keriput namun kokoh
mencengkeram kedua bahu pemuda itu. Matanya menatap lurus, memancarkan
kecemasan mendalam seorang pemimpin adat.
"Palasa,
anakku," bisik Raja Namora, suaranya bergetar berat di sela sisa asap
kemenyan. "Malam ini, nasib Pakantan tidak lagi berada di tangan hukum
adat atau tombak para penjaga desa. Nasib kita semua ada di punggungmu."
Sutan natorop
menunduk hormat. "Saya tidak akan membiarkan keserakahan menghancurkan
tanah kelahiran kita, Kakek Raja."
"Pergilah
sebelum fajar menyingsing," lanjut Raja Namora sambil meraba kantong kain
di pinggangnya. Ia mengeluarkan sebutir batu hitam kecil yang halus, Batu
Larangan. "Jika kau sampai di danau puncak, lemparkan batu ini ke
dalam air sebelum tangan-tangan serakah itu menyentuh emas sebesar kuda
tersebut. Itu akan mengunci kembali gerbang gaif Kulabu."
Sutan menerima
batu itu, merasakannya begitu dingin di telapak tangannya. "Baik, Kakek
Raja."
"Ingat,
Palasa," Raja Namora memperingatkan dengan nada yang sangat serius.
"Musuh terbesarmu di atas sana bukanlah cakar Datu Garang atau kelicikan
pendekar lain. Musuh terbesarmu adalah bisikan emas itu sendiri. Sembilan
harimau akan saling memangsa jika hati mereka goyah."
Sutan natorop
mengangguk pelan. Di dalam dadanya, hangatnya energi Sijangak si harimau
putih mengalir ke ujung-ujung jarinya, memberikan ketenangan dan kesiapan
penuh. Ia menjura hormat untuk terakhir kalinya, lalu berbalik membelakangi
ruangan.
Bab II
Di luar Bagas Godang, angin malam bertiup sangat kencang, menggoyang
pohon-pohon aren di pinggir desa Pakantan. Tabuhan Gordang Sambilan
tiba-tiba berhenti total, menyisakan kesunyian yang mencekam.
Sutan natorop
menarik napas dalam-dalam, mengikat kain pengikat kepalanya dengan kencang,
lalu melompat turun ke halaman tanah. Dengan gerakan silat Langka opat yang
seringan angin, tubuhnya berkelebat cepat membelah kabut malam, berlari menuju
rimbunnya hutan liar yang memeluk kaki Gunung Kulabu. Pendakian berdarah telah
dimulai.
Baru saja kaki Sutan
natorop melewati batas rimba keramat di kaki Gunung Kulabu, hawa udara mendadak
berubah menjadi sangat pekat. Kabut tebal khas pegunungan Mandailing turun
dengan cepat, memangkas jarak pandang hingga hanya menyisakan beberapa jengkal
di depan mata.
Sutan
menghentikan langkahnya tepat di sebuah celah batu besar yang ditumbuhi lumut
kerak. Langkah kakinya yang semula tanpa suara kini benar-benar mati. Di dalam
tubuhnya, aliran darah Sutan berdesir hebat. Sijangak, khodam harimau putih di
dalam dirinya, mendadak menegakkan bulu kuduk astral-nya dan mengeluarkan
geraman rendah yang bergetar di rongga dada Sutan.
Ada bau anyir
darah yang tersamar di antara wangi tanah basah.
Sreeek...
Suara gesekan
kain menembus sunyinya hutan. Dari balik rimbunnya pohon-pohon pakis raksasa,
dua siluet bertubuh pendek namun tegap melangkah keluar secara perlahan. Mereka
berjalan dengan posisi tubuh agak membungkuk, sangat mirip dengan gestur
binatang buas yang siap menerkam.
Mereka adalah Si
Kembar Napa dan Napi.
Wajah keduanya
hampir serupa, dengan tato garis-garis loreng melintang di pipi hingga ke
leher. Di bawah temaram cahaya bulan yang menembus celah daun, mata mereka
memancarkan pendar hijau kekuningan yang liar. Di tangan masing-masing,
sepasang senjata kurambiak (kerambit) melengkung tajam, memantulkan cahaya
perak yang dingin.
"Lihat
siapa yang berjalan paling lambat, Napi," ucap Napa, sisi kirinya.
Suaranya terdengar seperti lengkingan kucing hutan.
"Anak manja
dari Pakantan, Napa. Dia mengira mendaki Kulabu sama seperti berjalan-jalan di
kebun kopi," sahut Napi dari sisi kanan, sambil menjilat bilah kerambitnya
yang sudah ternoda darah segar entah darah hewan hutan atau pendekar lain yang
sudah mereka habisi sebelumnya.
Sutan natorop
tidak bergeming. Ia segera memasang kuda-kuda rendah Silat Harimau Langkah
Empat. Tangan kanannya terbuka di depan dada berbentuk cakar, sementara tangan
kirinya berjaga di pinggang, siap menahan atau mengalihkan serangan.
"Napa,
Napi. Kita sama-sama memiliki darah harimau di tanah ini. Mengapa kalian harus
mengotori tangan dengan darah sebelum sampai ke puncak?" tanya Sutan,
suaranya tetap tenang dan berwibawa meski dikepung dari dua arah.
"Karena
semakin sedikit harimau yang sampai ke danau, semakin besar bagian emas yang
bisa kami bawa pulang!" pekik Napa kasar.
Secara serentak,
tubuh si kembar berkelebat maju. Khodam harimau muda mereka bermanifestasi
sebagai bayangan jingga berloreng hitam yang melompat secepat kilat melintasi
kabut. Napa mengincar tenggorokan Sutan dengan kerambitnya, sementara Napi
merosot ke bawah, mengincar urat nadi di pergelangan kaki Sutan dengan
kecepatan yang mengerikan.
***
Serangan
serentak si kembar membelah kabut malam dengan sangat cepat. Napi yang merosot
di tanah menyabetkan kerambitnya ke arah pergelangan kaki Sutan natorop. Namun,
Sutan bukanlah pesilat sembarangan. Menggunakan kegesitan Silat Langkah Empat,
ia melompat mundur selangkah, membiarkan bilah tajam Napi hanya memotong angin
malam.
Di saat yang
sama, Napa yang melompat dari atas menerjang ke arah dada Sutan. Sabetan
kerambitnya mengincar leher. Sutan memiringkan kepala seujung kuku. Logam
dingin itu menggores sedikit kain pengikat kepalanya hingga putus.
"Mati kau,
anak manja!" pekik Napa, merasa di atas angin.
Napa tidak
menyadari bahwa posisinya yang sedang melayang di udara membuatnya tidak
memiliki tumpuan. Sutan natorop memanfaatkan momentum itu. Emosi Sutan tetap
tenang, namun di dalam dimensi astral, Sijangak—si harimau putih—merasakan
ancaman besar pada tuannya. Harimau putih gaib itu menggeram dahsyat, bangkit
dengan murka dari dalam dada Sutan.
ROAAARRR!
Gema geraman
gaib yang memekakkan telinga bermanifestasi di dunia nyata. Gelombang angin
beraura putih keperakan meledak dari tubuh Sutan, membuat kabut di sekeliling
mereka koyak dan hancur.
Napa yang masih
melayang mendadak membeku di udara. Wajahnya pucat pasi saat melihat bayangan
cakar harimau putih raksasa berukuran tiga kali tubuh manusia mendadak muncul
dari balik punggung Sutan.
Sutan natorop
menghentakkan telapak tangan kanannya ke depan, meniru gerakan menerkam. Di
dimensi gaib, cakar spiritual Sijangak ikut bergerak menyambar dengan kecepatan
kilat.
SRAAAKKK!
Cakar astral
Harimau Putih merobek dada Napa tanpa ampun. Meski pakaian luar Napa tidak
terlihat robek secara fisik, benturan energi gaib itu menghancurkan pelindung
batinnya. Semburan darah segar keluar dari mulut Napa. Tubuhnya terpental
sejauh lima meter, menghantam pohon pakis raksasa hingga tumbang, lalu jatuh
bergedebuk ke tanah tanah basah.
Napa kejang
beberapa saat. Mata hijaunya yang semula liar perlahan meredup dan kosong.
Khodam harimau jingga di dalam tubuhnya melesat keluar menjadi asap tipis, lalu
musnah. Napa tewas seketika akibat hancurnya jantung astral miliknya.
"NAPA!"
jerit Napi histeris.
Napi melompat ke
arah jasad saudara kembarnya. Ia mengguncang-guncang tubuh yang mulai mendingin
itu dengan tangan gemetar. Ratapan kesedihan Napi segera berubah menjadi
kemarahan yang meluap-luap. Ia menoleh ke arah Sutan natorop dengan tatapan
mata yang dipenuhi dendam kesumat.
Sutan natorop
menurunkan kembali tangannya. Napasnya sedikit memburu. Ia menatap jasad Napa
dengan rasa sesal yang mendalam di matanya. "Aku sudah memperingatkan
kalian. Gunung ini tidak menerima darah yang ditumpahkan karena
keserakahan."
***
Bab III
Napi meraung, mencengkeram tanah basah hingga kuku-kukunya berdarah. Dendam
kesumat yang membara di matanya berbenturan dengan naluri bertahan hidup yang
dipicu oleh geraman batin khodamnya. Sijangak di belakang Sutan masih
menatapnya dengan pendar mata perak yang intimidatif. Napi tahu, bertarung
sendirian saat ini sama saja dengan bunuh diri.
"Kau... Sutan
natorop!" desis Napi, suaranya bergetar hebat di sela isak tangis yang
tertahan. "Demi leluhur Mandailing, darah dibayar darah! Aku akan merobek
jantungmu dan menyerahkannya pada Datu Garang di puncak Kulabu!"
Sutan natorop
tidak mengejar. Ia menarik kaki kanannya dari posisi kuda-kuda, membiarkan
tubuhnya berdiri tegak kembali dengan sisa penyesalan yang membayang di
wajahnya. "Bawa saudaramu pulang, Napi. Gunung ini hanya akan meminta
lebih banyak nyawa jika kau meneruskan dendam ini."
Tanpa menjawab,
Napi menyambar jasad kembarannya dengan satu hentakan tangan yang diperkuat
sisa energi khodam harimau jingganya. Ia memanggul tubuh Napa di atas bahu,
lalu melompat mundur ke dalam kegelapan. Langkah kakinya yang penuh amarah
menembus rimbunnya hutan, menghilang ke arah jalur pendakian barat jalur yang
dilewati oleh Datu Garang.
Hutan kembali
sunyi, menyisakan bau anyir darah yang perlahan disapu oleh embus angin malam
Gunung Kulabu. Sutan natorop menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan degup
jantungnya, bersiap melanjutkan langkah yang kini terasa jauh lebih berat.
Plok... Plok... Plok...
Suara tepuk
tangan pelan terdengar dari atas dahan pohon beringin tua di atasnya.
"Langka
opat yang mengagumkan, Sutan," sebuah suara lembut namun dingin mengalun
dari kegelapan atas.
Sesosok tubuh
ramping berkelebat turun tanpa suara, mendarat tepat di atas lumut lembut
beberapa langkah di depan Sutan. Kain cadar sutra merahnya berkibar pelan
ditiup angin malam. Intan Nauli berdiri di sana, menatap Sutan dengan mata
indahnya yang penuh selubung misteri.
***
"Kau
terlambat menikmati pertunjukannya, Intan Nauli," ucap Sutan natorop
tenang, meski tangannya kembali bersiap di dekat hulu senjatanya.
Intan Nauli
tersenyum di balik cadar sutra merahnya. Ia melangkah mendekat, membiarkan
khodam Harimau Belang Emas miliknya mendengus pelan di dimensi astral, memberi
tanda bahwa ia tidak datang untuk bertarung.
"Aku tidak
di sini untuk menonton, Sutan. Aku di sini untuk memastikan kau tidak mati
konyol di tengah jalan," bisik Intan Nauli, matanya menatap tajam ke arah
jalur barat tempat Napi menghilang tadi. "Napi tidak akan pulang ke
Pakantan. Dia pergi menyusul Datu Garang ke Lembah Bayang-Bayang."
Sutan natorop
mengernyitkan dahi. "Lembah Bayang-Bayang? Itu jalur tercepat menuju danau
puncak."
"Benar, dan
itu juga tempat eksekusimu," lanjut Intan dengan nada serius. "Datu
Garang tahu kau adalah ancaman terbesar bagi ambisinya. Di lembah itu, dia
bersama sisa pendekar lain termasuk Napi yang kini haus darah sedang menyiapkan
Jebakan Sungsang."
Intan Nauli
melangkah mundur satu langkah, jemarinya menunjuk ke tanah basah di depan
mereka. "Datu Garang menggunakan kekuatan mistis dari khodam Harimau
Hitamnya untuk meracuni akar-akar pohon beringin purba di lembah itu. Siapa pun
yang menginjak areanya akan terperangkap dalam ilusi kabut hitam yang menguras
energi astral. Saat kau lemah dan buta karena ilusi, Napi dan cakar maut Datu
Garang akan menyergapmu dari kegelapan."
Sutan natorop
terdiam sejenak, mencerna informasi berharga tersebut. Informasi ini
menjelaskan mengapa Datu Garang begitu takabur saat di Bagas Godang tadi; dia
sudah menyiapkan strategi matang untuk menyingkirkan para pesaingnya satu per
satu sebelum menyentuh emas sebesar kuda di puncak Kulabu.
"Mengapa
kau memberitahuku semua ini, Intan?" tanya Sutan penuh selidik. "Kau
juga pemilik khodam harimau. Emas di puncak itu bisa jadi milikmu jika aku dan
Datu Garang saling membunuh."
Intan Nauli
menatap lurus ke mata Sutan. "Emas itu adalah kutukan jika jatuh ke tangan
yang salah. Aku ingin menyelamatkan desaku, bukan menghancurkan Mandailing
seperti yang diinginkan Datu Garang. Kita punya musuh yang sama, Sutan. Untuk
melewati Lembah Bayang-Bayang, kau butuh kemampuan ilusi angin dari Harimau
Belang Emas-ku untuk memecah kabut hitam Datu Garang."
Sutan natorop
menatap jalur pendakian yang gelap gulita di hadapannya, lalu kembali menatap
Intan Nauli. Aliansi sementara terpaksa dibentuk di bawah bayang-bayang Gunung
Kulabu.
***






