seniman pakantan
Kamis, 22 Oktober 2026
Rabu, 17 Juni 2026
Kuda Emas Dipuncak Gunung Kulabu
Bab I Gema Gordang Sambilan
Lolongan panjang anjing terdengar dari jauh membuat Suasana di dalam Bagas Godang Pakantan terasa sangat mencekam. Aroma asap
kemenyan yang dibakar di sudut ruangan bercampur dengan bau udara dingin khas
lereng Gunung Kulabu. Di bawah pendar temaram obor dinding, para tetua adat, Datu,
dan bangsawan duduk bersila melingkari tikar pandan.
Di luar,
sayup-sayup terdengar tabuhan Gordang Sambilan yang ritmenya melambat,
memberi tanda bahwa sebuah keputusan besar dan darurat sedang digodok di dalam
rumah adat tersebut.
Sutan Natorop
duduk diam di dekat pintu masuk. Pandangannya lurus menatap lantai kayu, namun
telinganya menangkap setiap getaran suara. Di dalam dadanya, ia bisa merasakan Sijangak
khodam harimau putihnya sedang menggeram rendah, gelisah.
Terkadang dia masih teringat pesan orang tuanya jangan terlalu dekat dengan kekuria-an, tidak baik untuk masa depanmu. Hal ini membuatnya bingung. "Bukankah sebagai pemilik khodam putih harusnya menjaga banua (negeri) ada apakah gerangan? apa aku pulang saja." batinnya.
"Ketukan
Gordang Sambilan di luar bukan lagi untuk menyambut panen," ucap Raja
Namora, tetua adat Pakantan, memecah keheningan dengan suara serak namun
berwibawa. "Gunung Kulabu telah batuk. Cahaya kuning yang membelah langit
malam tadi adalah tanda. Sere na gok emas sebesar kuda itu telah bangkit
dari dasar danau puncak."
Seorang pria
bertubuh kekar dengan jubah hitam legam tiba-tiba tertawa rendah. Dialah Datu Baginda Sojuangon yang lebih akrab dipanggil Datu Garang. Di bahunya, samar-samar terlihat siluet bayangan harimau hitam yang
matanya menyala merah dalam dimensi astral. Badanya tinggi besar dengan kulit coklat gelap, tangannya terlihat kekar. Terdengar suara giginya menggeretak saat mengunyah pinang yang menjadi kebiasaannya.
"Mengapa
wajahmu terlihat seperti melihat hantu, Raja Namora?" cetus Datu Garang
sambil mengelus hulu kerisnya. "Emas itu adalah berkah! Tanah Mandailing
ini terlalu lama miskin karena tunduk pada aturan-aturan kunomu. Dengan emas
sebesar kuda itu, kita bisa membangun pasukan yang ditakuti seluruh
pulau!"
"Kau buta
oleh keserakahan, Garang!" sahut Datu Naparas, pendekar tertua yang duduk
di sisi timur. Suaranya bergetar karena usia, namun matanya tetap tajam. Badannya kurus dengan kulit putih dan gigi depan yang menonjol, jakunnya terlihat naik turunsaat menelan ludah. "Emas itu bukan berkah, melainkan rasa (racun). Siapa pun yang
menyentuhnya tanpa kesucian hati akan menghancurkan tanah ini. Kau pikir hanya
kau yang merasakannya? Sembilan darah harimau di tanah ini telah
terbangun!"
Datu Garang
berdiri, membuat beberapa tetua adat tersentak mundur. Aura hitam yang pekat
dan dingin langsung berembus memenuhi ruangan, memadamkan dua obor di dekatnya.
"Lalu siapa
yang akan melarangku mendaki Kulabu? Kau, Sanggul? bendera didapur, huh..Tubuh tuamu bahkan akan
hancur sebelum sampai ke lereng," tantang Datu Garang takabur.
"Jika Datu
Sanggul terlalu tua, maka aku yang akan berdiri di depan jalanmu, Datu
Garang."
Semua mata
langsung tertuju ke arah pintu. Sutan Natorop berdiri dengan tenang. Tidak ada
aura meledak-ledak dari tubuhnya, namun langkah kakinya yang ringankhas pesilat
Langka opat membuat papan lantai kayu Bagas Godang sama sekali tidak
berderit.
Datu Garang
menyipitkan mata, menatap sinis pemuda di depannya. "Sutan Natorop... hahaha anak
ingusan yang bersembunyi di balik bulu putih khodam warisan ayahnya. Kau ingin
mati muda di atas gunung?"
Sutan natorop
menatap lurus ke mata merah Datu Garang. "Gunung Kulabu adalah pasak bumi
Pakantan. Jika kau mendakinya dengan niat menumpahkan darah, maka harimau
putihku yang akan memastikan jasadmu menjadi pupuk di hutan bawah sulang-ngaling."
Di sudut ruangan yang gelap, seorang wanita bercadar kain sutra merah Intan Nauli tersenyum tipis di balik cadarnya. Jari-jarinya yang lentik mengetuk-ngetuk lantai, sementara khodam Belang Emasnya berbisik di dalam benaknya bahwa pertunjukan berdarah akan segera dimulai.
Raja Namora
mengangkat tangan kanan, memberi isyarat agar ketegangan di dalam Bagas Godang
mereda. Datu Garang mendengus meremehkan, berbalik, lalu melompat turun dari
jendela rumah panggung adat tersebut, menghilang ke dalam kegelapan malam
menuju lereng Gunung Kulabu. Satu per satu, pendekar lain ikut berkelebat pergi
secara senyap melalui bayang-bayang tiang penyangga Bagas Godang.
Kini, ruangan
luas itu hanya menyisakan Raja Namora, beberapa tetua adat yang tertunduk
cemas, dan Sutan Natorop yang masih berdiri kokoh di dekat pintu.
Raja Namora
melangkah mendekati Sutan Natorop. Tangannya yang keriput namun kokoh
mencengkeram kedua bahu pemuda itu. Matanya menatap lurus, memancarkan
kecemasan mendalam seorang pemimpin adat.
"Natorop,
anakku," bisik Raja Namora, suaranya bergetar berat di sela sisa asap
kemenyan. "Malam ini, nasib Pakantan tidak lagi berada di tangan hukum
adat atau tombak para hulubalang banua. Nasib kita semua ada di punggungmu."
Sutan Natorop
menunduk hormat. "Saya tidak akan membiarkan keserakahan menghancurkan
tanah kelahiran kita, Ompung Raja."
"Pergilah
sebelum fajar menyingsing," lanjut Raja Namora sambil meraba kantong kain
di pinggangnya. Ia mengeluarkan sebutir batu hitam kecil yang halus, Batu Tagor batu yang memiliki khodam ini biasanya bertugas untuk memberikan peringatan ke banua bila ada yang akan berlaku. "Jika kau sampai di danau puncak, lemparkan batu ini ke
dalam air sebelum tangan-tangan serakah itu menyentuh emas sebesar kuda
tersebut. Itu akan mengunci kembali gerbang gaif Kulabu."
Sutan menerima
batu itu, merasakannya begitu dingin di telapak tangannya. "Baik, Ompung Raja."
"Ingat, Natorop," Raja Namora memperingatkan dengan nada yang sangat serius.
"Musuh terbesarmu di atas sana bukanlah cakar Datu Garang atau kelicikan
pendekar lain. Musuh terbesarmu adalah bisikan emas itu sendiri. Sembilan
harimau akan saling memangsa jika hati mereka goyah."
Sutan natorop
mengangguk pelan. Di dalam dadanya, hangatnya energi Sijangak si harimau
putih mengalir ke ujung-ujung jarinya, memberikan ketenangan dan kesiapan
penuh. Ia menjura hormat untuk terakhir kalinya, lalu berbalik membelakangi
ruangan.
Bab II
Di luar Bagas Godang, angin malam bertiup sangat kencang, menggoyang
pohon-pohon aren di pinggir desa Pakantan. Tabuhan Gordang Sambilan
tiba-tiba berhenti total, menyisakan kesunyian yang mencekam.
Sutan Natorop
menarik napas dalam-dalam, mengikat kain pengikat kepalanya dengan kencang,
lalu melompat turun ke halaman tanah. Dengan gerakan silat Langka opat yang
seringan angin, tubuhnya berkelebat cepat membelah kabut malam, berlari menuju
rimbunnya hutan liar yang memeluk kaki Gunung Kulabu. Pendakian berdarah telah
dimulai.
Baru saja kaki Sutan Natorop menapaki batas rimba keramat sulang-ngaling di kaki Gunung Kulabu, hawa udara mendadak
berubah menjadi sangat pekat. Kabut tebal khas pegunungan Mandailing turun
dengan cepat, memangkas jarak pandang hingga hanya menyisakan beberapa jengkal
di depan mata.
Sutan
menghentikan langkahnya tepat di sebuah celah batu besar yang ditumbuhi lumut
kerak. Langkah kakinya yang semula tanpa suara kini benar-benar mati. Di dalam
tubuhnya, aliran darah Sutan berdesir hebat. Sijangak, khodam harimau putih di
dalam dirinya, mendadak menegakkan bulu kuduk astral-nya dan mengeluarkan
geraman rendah yang bergetar di rongga dada Sutan.
Ada bau anyir
darah yang tersamar di antara wangi tanah basah.
Sreeek...
Suara gesekan
kain menembus sunyinya hutan. Dari balik rimbunnya pohon-pohon pakis raksasa,
dua siluet bertubuh pendek namun tegap melangkah keluar secara perlahan. Mereka
berjalan dengan posisi tubuh agak membungkuk, sangat mirip dengan gestur
binatang buas yang siap menerkam.
Mereka adalah Si
Kembar Parla dan Parli.
Wajah keduanya
hampir serupa, dengan tato garis-garis loreng melintang di pipi hingga ke
leher. Di bawah temaram cahaya bulan yang menembus celah daun, mata mereka
memancarkan pendar hijau kekuningan yang liar. Di tangan masing-masing,
sepasang senjata kurambiak (kerambit) melengkung tajam, memantulkan cahaya
perak yang dingin.
"Lihat
siapa yang berjalan paling lambat, Parli," ucap Parla, disisi kirinya.
Suaranya terdengar seperti lengkingan kucing hutan.
"Anak manja
dari Pakantan, Parla. Dia mengira mendaki Kulabu sama seperti berjalan-jalan di
kebun kopi," sahut Napi dari sisi kanan, sambil menjilat bilah kerambitnya
yang sudah ternoda darah segar entah darah hewan hutan atau pendekar lain yang
sudah mereka habisi sebelumnya.
Sutan natorop
tidak bergeming. Ia segera memasang kuda-kuda rendah Silat Harimau Langkah
Empat. Tangan kanannya terbuka di depan dada berbentuk cakar, sementara tangan
kirinya berjaga di pinggang, siap menahan atau mengalihkan serangan.
"Napa,
Napi. Kita sama-sama memiliki darah harimau di banua ini. Mengapa kalian harus
mengotori tangan dengan darah sebelum sampai ke puncak?" tanya Sutan,
suaranya tetap tenang dan berwibawa meski dikepung dari dua arah.
"Karena
semakin sedikit harimau yang sampai ke danau, semakin besar bagian emas yang
bisa kami bawa pulang!" pekik Parla kasar.
Secara serentak,
tubuh si kembar berkelebat maju. Khodam harimau muda mereka bermanifestasi
sebagai bayangan jingga berloreng hitam yang melompat secepat kilat melintasi
kabut. Parla mengincar tenggorokan Sutan dengan kerambitnya, sementara Parli merosot ke bawah, mengincar urat nadi di pergelangan kaki Sutan dengan
kecepatan yang mengerikan.
***
Serangan
serentak si kembar membelah kabut malam dengan sangat cepat. Parli yang merosot
di tanah menyabetkan kerambitnya ke arah pergelangan kaki Sutan Natorop. Namun,
Sutan bukanlah pesilat sembarangan. Menggunakan kegesitan Silat Langkah Empat,
ia melompat mundur selangkah, membiarkan bilah tajam Napi hanya memotong angin
malam.
Di saat yang
sama, Parla yang melompat dari atas menerjang ke arah dada Sutan. Sabetan
kerambitnya mengincar leher. Sutan memiringkan kepala seujung kuku. Logam
dingin itu menggores sedikit kain pengikat kepalanya hingga putus.
"Mati kau,
anak manja!" pekik Parla, merasa di atas angin.
Parla tidak
menyadari bahwa posisinya yang sedang melayang di udara membuatnya tidak
memiliki tumpuan. Sutan Natorop memanfaatkan momentum itu. Emosi Sutan tetap
tenang, namun di dalam dimensi astral, Sijangak si harimau putih merasakan
ancaman besar pada tuannya. Harimau putih gaib itu menggeram dahsyat, bangkit
dengan murka dari dalam dada Sutan.
ROAAARRR!
Gema geraman
gaib yang memekakkan telinga bermanifestasi di dunia nyata. Gelombang angin
beraura putih keperakan meledak dari tubuh Sutan, membuat kabut di sekeliling
mereka koyak dan hancur.
Parla yang masih
melayang mendadak membeku di udara. Wajahnya pucat pasi saat melihat bayangan
cakar harimau putih raksasa berukuran tiga kali tubuh manusia mendadak muncul
dari dada Sutan.
Sutan Natorop
menghentakkan telapak tangan kanannya ke depan, meniru gerakan menerkam. Di
dimensi gaib, cakar spiritual Sijangak ikut bergerak menyambar dengan kecepatan
kilat.
SRAAAKKK!
Cakar astral
Harimau Putih merobek dada Parla tanpa ampun. Meski pakaian luar Parla tidak
terlihat robek secara fisik, benturan energi gaib itu menghancurkan pelindung
batinnya. Semburan darah segar keluar dari mulut Parla. Tubuhnya terpental
sejauh lima meter, menghantam pohon pakis raksasa hingga tumbang, lalu jatuh
bergedebuk ke tanah tanah basah.
Parla kejang
beberapa saat. Mata hijaunya yang semula liar perlahan meredup dan kosong.
Khodam harimau jingga di dalam tubuhnya melesat keluar menjadi asap tipis, lalu
musnah. Parla tewas seketika akibat hancurnya jantung astral miliknya.
"PARLA!"
jerit Parli histeris.
Parli melompat ke
arah jasad saudara kembarnya. Ia mengguncang-guncang tubuh yang mulai mendingin
itu dengan tangan gemetar. Ratapan kesedihan Parli segera berubah menjadi
kemarahan yang meluap-luap. Ia menoleh ke arah Sutan Natorop dengan tatapan
mata yang dipenuhi dendam kesumat.
Sutan Natorop
menurunkan kembali tangannya. Napasnya sedikit memburu. Ia menatap jasad Parla dengan rasa sesal yang mendalam di matanya. "Aku sudah memperingatkan
kalian. Gunung ini tidak menerima darah yang ditumpahkan karena
keserakahan."
***
Bab III
Parli meraung, mencengkeram tanah basah hingga kuku-kukunya berdarah. Dendam
kesumat yang membara di matanya berbenturan dengan naluri bertahan hidup yang
dipicu oleh geraman batin khodamnya. Sijangak di belakang Sutan masih
menatapnya dengan pendar mata perak yang intimidatif. Napi tahu, bertarung
sendirian saat ini sama saja dengan bunuh diri.
"Kau... Sutan Natorop!" desis Parli, suaranya bergetar hebat di sela isak tangis yang
tertahan. "Demi leluhur Mandailing, darah dibayar darah! Aku akan merobek
jantungmu dan menyerahkannya pada Datu Garang di puncak Kulabu!"
Sutan Natorop
tidak mengejar. Ia menarik kaki kanannya dari posisi kuda-kuda, membiarkan
tubuhnya berdiri tegak kembali dengan sisa penyesalan yang membayang di
wajahnya. "Bawa saudaramu pulang, Parli. Gunung ini hanya akan meminta
lebih banyak nyawa jika kau meneruskan dendam ini. Aku hanya menjalankan tugas dari Raja Namora"
Parli menyambar jasad kembarannya dengan satu hentakan tangan yang diperkuat
sisa energi khodam harimau jingganya. Ia memanggul tubuh Napa di atas bahu,
lalu melompat mundur ke dalam kegelapan. "Kami juga mendapat tugas dari Raja Namora" ucapnya. Langkah kakinya yang penuh amarah
menembus rimbunnya hutan, menghilang ke arah jalur pendakian barat jalur yang
dilewati oleh Datu Garang.
Sutan Natorop terkejut dengan perkataan Parla bahwa mereka juga diberi tugas Raja Namora, hal ini membuatnya ragu sekaligus penasaran. Dia berdiri menatap rembulan yang sedang diselimuti awan hitam.
Hutan kembali
sunyi, menyisakan bau anyir darah yang perlahan disapu oleh embus angin malam
Gunung Kulabu. Sutan Natorop menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan degup
jantungnya, bersiap melanjutkan langkah yang kini terasa jauh lebih berat.
Plok... Plok... Plok...
Suara tepuk
tangan pelan terdengar dari atas dahan pohon beringin tua di atasnya.
"Langka
opat yang mengagumkan, Sutan," sebuah suara lembut namun dingin mengalun
dari kegelapan diatas pepohonan.
Sesosok tubuh
ramping berkelebat turun tanpa suara dengan wangi tubuhnya yang khas dan rambut panjang lebatnya, mendarat tepat di atas lumut lembut
beberapa langkah di depan Sutan. Kain cadar sutra merahnya berkibar pelan
ditiup angin malam. Wajahnya terlihat cantik terlebih ketika tersenyum yang memperlihatkan gigi gingdulnya dipipi kiri. Intan Nauli berdiri di sana, menatap Sutan dengan mata
indahnya yang penuh selubung misteri.
***
"Kau
terlambat menikmati pertunjukannya, Intan Nauli," ucap Sutan natorop
tenang, meski tangannya kembali bersiap di dekat hulu senjatanya.
Intan Nauli
tersenyum di balik cadar sutra merahnya. Ia melangkah mendekat, membiarkan
khodam Harimau Belang Emas miliknya mendengus pelan di dimensi astral, memberi
tanda bahwa ia tidak datang untuk bertarung.
"Aku tidak
di sini untuk menonton, Sutan. Aku di sini untuk memastikan kau tidak mati
konyol di tengah jalan," bisik Intan Nauli sambil cekikian, matanya menatap tajam ke arah
jalur barat tempat Parli menghilang tadi. "Parli tidak akan pulang ke
Pakantan. Dia pergi menyusul Datu Garang ke Lembah sigiring-giring."
Sutan natorop
mengernyitkan dahi. "Lembah Sigiring-giring? Itu jalur tercepat menuju danau
puncak."
"Benar, dan
itu juga tempat eksekusimu," lanjut Intan dengan nada serius. "Datu
Garang tahu kau adalah ancaman terbesar bagi ambisinya. Di lembah itu, dia
bersama sisa pendekar lain termasuk Parli yang kini haus darah sedang menyiapkan
Jebakan maut."
Intan Nauli
melangkah mundur satu langkah, jemarinya menunjuk ke tanah basah di depan
mereka. "Datu Garang menggunakan kekuatan mistis dari khodam Harimau
Hitamnya untuk meracuni akar-akar pohon beringin purba di lembah itu. Siapa pun
yang menginjak areanya akan terperangkap dalam ilusi kabut hitam yang menguras
energi astral. Saat kau lemah dan buta karena ilusi, Parli dan cakar maut Datu
Garang akan menyergapmu dari kegelapan."
Sutan Natorop
terdiam sejenak, mencerna informasi berharga tersebut. Informasi ini
menjelaskan mengapa Datu Garang begitu takabur saat di Bagas Godang tadi; dia
sudah menyiapkan strategi matang untuk menyingkirkan para pesaingnya satu per
satu sebelum menyentuh emas sebesar kuda di puncak Kulabu.
"Mengapa
kau memberitahuku semua ini, Intan?" tanya Sutan penuh selidik. "Kau
juga pemilik khodam harimau. Emas di puncak itu bisa jadi milikmu jika aku dan
Datu Garang saling membunuh."
Intan Nauli
menatap lurus ke mata Sutan. "Emas itu adalah kutukan jika jatuh ke tangan
yang salah. Aku ingin menyelamatkan desaku, bukan menghancurkan Mandailing
seperti yang diinginkan Datu Garang. Kita punya musuh yang sama, Sutan. Untuk
melewati Lembah Sigiring-giring, kau butuh kemampuan ilusi angin dari Harimau
Belang Emas-ku untuk memecah kabut hitam Datu Garang."
"Intan apakah kau mendengar perkataan Parla tadi?, bahwa mereka juga diberi tugas oleh Ompung Raja?"
Intan Nauli tersenyum manis "kita semua diberi tugas olehnya Sutan."
Sutan natorop
menatap jalur pendakian yang gelap gulita di hadapannya, lalu kembali menatap
Intan Nauli. Aliansi sementara terpaksa dibentuk di bawah bayang-bayang Gunung
Kulabu.
***
Rabu, 10 Juni 2026
Cinta diujung Jalan XI TAMAT
BAB XI: Putaran Pita Kaset yang Baru
“Bila cinta
sudah didusta jangan harap aku kembali”
Suara lengkingan
vokal yang khas dan distorsi gitar listrik yang bertenaga menutup lagu terakhir
malam itu. Tepuk tangan dan teriakan histeris ratusan penonton bergemuruh,
memenuhi seisi aula gedung pertunjukan di pusat kota. Lampu panggung perlahan
meredup, menyisakan kepulan asap smoke gun yang menggantung di udara.
Panusunan yang
kini telah bertransformasi sepenuhnya dan dikenal publik dengan nama panggung
Ikren menurunkan mikrofon dari penyangganya. Napasnya memburu, peluh membasahi
kaos hitamnya. Di pergelangan tangans kiri, jam tangan digitalnya telah
berganti menjadi aksesoris panggung yang lebih modern, namun gelang tali hitam
di tangan kanannya masih setia melingkar, seolah menjadi jangkar yang
mengikatnya pada bumi.
Tur promosi
album pertama band mereka akhirnya resmi berakhir malam ini. Sebuah tur yang
melelahkan, menguras emosi, namun sekaligus menjadi pembuktian bahwa ia
berhasil merebut kembali takdirnya yang sempat tercerabut di masa remaja.
Ikren
menyerahkan gitarnya kepada kru panggung, lalu melangkah turun melewati
pembatas. Ia tidak menuju ruang ganti, melainkan berjalan mantap ke sudut
barisan depan yang agak temaram. Di sana, berdiri seorang wanita yang tak
pernah lepas memandangnya sepanjang konser.
Rindu.
Cinta pertama
masa remajanya, gadis yang dulu menangis tersedu-sedu di terminal bus saat ia
terpaksa ikut orang tuanya pindah ke desa. Takdir rupanya punya cara yang unik
untuk memutar balik kompas kehidupan. Setelah bertahun-tahun berpisah, setelah
badai jahanam di Desa Kumayan berlalu dan menyisakan luka yang mendalam,
Panusunan kembali ke kota, memulai semuanya dari nol, dan takdir
mempertemukannya lagi dengan Rindu. Gadis itu menerima segala remah-remah masa
lalunya yang hancur dengan ketulusan yang luar biasa.
"Konser
yang hebat, Ren," ucap Rindu dengan senyum manis yang dulu selalu
dirindukan Panusunan di malam-malam sepinya.
Ikren tersenyum,
menyeka keringat di pelipisnya yang tertutup rambut—yang tak lagi belah tengah,
melainkan berpotongan gondrong khas anak grunge era baru. Ia menggenggam jemari
Rindu hangat.
"Makasih ya
sudah selalu ada di setiap kota," bisik Ikren tulus.
Mereka berdua
berjalan beriringan meninggalkan area gedung yang mulai sepi menuju pelataran
parkir. Udara malam kota berembus pelan, membawa obrolan yang sudah mereka
rencanakan sejak beberapa minggu lalu. Sebuah rencana besar setelah masa-masa
sibuk tur album ini selesai: pernikahan mereka yang tinggal menghitung hari.
"Jadi...
kita tetap dengan rencana awal untuk bulan madu kita?" tanya Rindu saat
mereka sudah berada di dalam mobil.
Ikren terdiam
sejenak. Matanya menatap lurus ke arah jalanan aspal di depan. Nama tempat itu
kembali terngiang di kepalanya. Sebuah tempat yang selama bertahun-tahun ini
sengaja ia kunci rapat-rapat di dalam laci ingatannya yang paling gelap. Tempat
yang sudah lama terlupakan.
"Iya,"
jawab Ikren, suaranya terdengar mantap namun tenang. "Kita akan ke Desa
Kumayan."
Rindu menoleh,
menatap suaminya dengan pandangan penuh pengertian. Dia tahu, bagi Ikren,
perjalanan bulan madu ini bukan sekadar liburan biasa. Ini adalah perjalanan
pulang untuk berdamai dengan masa lalu. Mengunjungi desa pegunungan yang dingin
itu bersama Rindu adalah cara Ikren untuk mengubur dalam-dalam bayang-bayang
kelam tentang pengkhianatan Mardian, kebejatan orang-orang dewasa di sana,
serta dendam masa lalu ayahnya yang telah menghancurkan hidup seorang gadis tak
bersalah bernama Nantium.
Mobil pun melaju
membelah malam kota yang terang benderang, bersiap menuju ke arah lintas
sumatra, kembali ke desa di balik gunung tempat semua cerita itu bermula.
***
Cinta diujung Jalan X
BAB X: Kebenaran yang Meruntuhkan
Jiwa
Satu bulan telah
berlalu sejak malam kebenaran di rumah panggung Bibi Buek. Namun, ketenangan
yang dicari Panusunan tidak pernah kunjung datang. Desa Kumayan kembali
diguncang oleh sebuah kabar yang jauh lebih dahsyat dari gosip sebelumnya:
Nantium mengandung. Berita kehamilan itu merebak cepat bak api menyiram bensin,
membuat gempar satu kampung.
Di dalam
kamarnya, Panusunan duduk di tepi ranjang dengan tubuh yang gemetar hebat.
Kepalanya terasa pening, dipenuhi kalkulasi linimasa yang berputar acak.
Bagaimana mungkin Nantium hamil?
Panusunan
mengingat dengan sangat jelas, subuh saat Nantium mengantarkannya ke kota
menggunakan bus Bunga Raya, itu adalah hari terakhir Nantium
menyelesaikan masa datang bulannya. Dan semenjak pulang dari kota hingga detik
ini, mereka berdua sama sekali tidak pernah lagi melakukan hubungan badan.
Kejadian pemerkosaan oleh Paman Amir pun terjadi jauh sebelum hari
keberangkatannya ke kota, yang artinya secara medis tidak mungkin menjadi
penyebab kehamilan ini. Lantas, anak siapa yang ada di dalam kandungan Nantium?
Sebelum
teka-teki itu terjawab, sebuah hantaman keras kembali meremukkan dada
Panusunan. Pihak keluarga dan adat desa memutuskan untuk menikahkan Nantium
secara kilat dengan Mardian. Mendengar kabar pernikahan itu, kemurkaan
Panusunan mencapai puncaknya. Dengan dada yang terbakar api amarah dan rasa
tidak terima, ia nekat menemui Nantium untuk terakhir kalinya sebelum gadis itu
resmi menjadi istri orang lain.
Rahasia di Malam-Malam
Sepi
"Kenapa,
Nanti?! Kenapa kamu mau menikah dengan bajingan itu?!" labrak Panusunan
dengan suara tertahan, sepasang mata tajamnya memerah menahan tangis dan
amarah. "Dan anak siapa yang kamu kandung? Kita tidak pernah melakukannya
lagi setelah kamu selesai datang bulan!"
Nantium hanya
bisa bersimpuh, air matanya luruh membasahi lantai. Tubuhnya kurus dan ringkih,
sorot matanya telah kehilangan seluruh cahaya kehidupan.
"Waktu kamu
pergi ke kota, Sun..." bisik Nantium dengan suara yang terputus-putus oleh
isak tangis. "Malam pertamamu di kota, Mardian datang ke rumahku. Dia
mengancamku. Dia bilang, kalau aku tidak mau melayaninya, dia akan membeberkan
perbuatan kita di pondok sawah dan kasus pemerkosaan Paman Amir kepada seluruh
warga desa malam itu juga."
Nantium meremas
dadanya yang sesak. "Aku ketakutan Sun, Aku ketakutan,... Aku tidak punya pilihan. Dan
sejak malam itu, hampir setiap malam selama kamu di kota, dia selalu datang dan terus
meminta jatah yang sama. Ulahnyalah yang membuatku sampai hamil seperti
ini, ulahnyalah semua ini,...Sun"
Bagai disengat
listrik jutaan volt, Panusunan mundur selangkah. "Kenapa... KENAPA KAU
TIDAK CERITAKAN INI PADA PERTEMUAN TERAKHIR KITA, NANTI?!" raung
Panusunan, air matanya deras mengaliri wajahnya yang memerah karena amarah, dia murka sekaligus kecewa yang luar biasa. "Kenapa kamu
menyembunyikannya dari gua Nanti?!"
Nantium
mengangkat wajahnya yang berlumur air mata, menatap Panusunan dengan pandangan
paling hancur oh..sungguh pilu hatinya. "Karena aku sudah merasa terlalu hina, Sun! Aku malu... aku malu!, Jiwa dan ragaku sudah kotor dikoyak-koyak oleh mereka. Aku merasa sudah tidak
pantas lagi menjadi kekasihmu, apalagi menceritakan kebejatan Mardian kepadamu.
Aku memilih mati rasa Sun."
Panusunan tak tau harus berkata apa, marah, sedih, kecewa semua menyatu didadanya. Dia hampir tak bisa melihat Nantium karena tertutupi oleh air yang membendung dimatanya.
"Maafkan aku Sun, maafkan aku..." Nantium memohon pilu.
Benang Merah Masa Lalu
Rasa murka yang
membakar dada membuat Panusunan tidak bisa tinggal diam. Ia segera mencari
Mardian. Ia menemui mantan sahabat sebangkunya itu di sebuah sudut sepi di
belakang balai desa. Tanpa basa-basi, Panusunan langsung mencengkeram kerah
baju Mardian, siap melayangkan jotosan mentah ke wajah pemuda keriting itu.
"Kenapa,
Mar?! Kenapa lo tega menghancurkan hidup Nantium dan mengkhianati gua?! Lo
sahabat gua, bajingan!" teriak Panusunan dengan urat-urat leher yang
menegang keras.
Mardian tidak
melawan. Ia justru melempar senyum sinis yang penuh kemenangan, menepis kasar
cengkeraman tangan Panusunan yang dilingkari gelang hitam.
"Kau mau
tahu kenapa aku melakukannya, Sun?" tanya Mardian dengan nada dingin, sama
sekali tidak merasa bersalah. "Semua skenario ini... ini adalah perintah
dari ayahmu sendiri!"
Deg. Langkah kaki Panusunan seketika goyah.
"Maksud lo apa? Jangan bawa-bawa Ayah!"
"Ayahmu,
Pak Endar, yang menyuruhku untuk merusak hubungan kalian! Beliau tidak mau masa
depanmu hancur hanya karena berpacaran dengan anak gadis dari keluarga
miskin seperti Nantium," ungkap Mardian, setiap kata yang keluar dari
mulutnya terasa seperti pisau yang menguliti kesadaran Panusunan. Dia seakan tak percaya dengan apa yang baru didengarnya.
Mardian
melangkah mendekat, membisikkan sebuah rahasia besar yang selama ini terkubur
rapat di Desa Kumayan. "Dan ada satu hal lagi yang tidak kau tahu,
Panusunan. Ibu Nantium... adalah gadis desa yang dulu menolak mentah-mentah
cinta Pak Endar, ayahmu. Ayahmu menyimpan dendam masa lalu yang mendalam pada
keluarga mereka. Pernikahanku dengan Nantium, dan kehancuran hidup gadis itu,
adalah bentuk balas dendam terencana yang direstui oleh ayahmu sendiri!"
Mendengar
kenyataan yang teramat kejam dan menjijikkan itu, dunia di sekitar Panusunan
mendadak berputar hebat. Suara bising di kepalanya berdengung kencang. Sosok
ayah yang selama ini ia hormati sebagai seorang guru, seorang panutan, ternyata
adalah dalang di balik penderitaan gadis yang teramat dicintainya. Sahabatnya
adalah pion pengeksekusi, dan Nantium adalah korban dari lingkaran setan masa
lalu.
Dada Panusunan
terasa dihantam beban ribuan ton hingga ia tidak sanggup lagi bernapas.
Pandangannya perlahan menggelap, matanya membelalak tak percaya, sebelum
akhirnya kesadarannya tumbang sepenuhnya. Panusunan pingsan, ambruk ke tanah
kering Desa Kumayan, kalah oleh kenyataan yang teramat pahit untuk ditanggung
oleh jiwanya.
***
Cinta diujung Jalan IX
BAB IX: Kebenaran yang Terungkap
Malam berikutnya, badai penyesalan memaksa Panusunan untuk
kembali melanggar titah orang tuanya. Logika anak mudanya berontak. Di dalam
kamar, sambil menatap jam Digitec-nya yang berdetik sunyi, ia menyadari
ada lubang besar dalam semua cerita ini. Mengapa Nantium hanya menangis
semalam? Kenapa Mardian begitu menggebu-gebu menyeretnya pergi?
Dengan tekad yang bulat, Panusunan kembali menyelinap
menembus kabut pekat Desa Kumayan, menuju rumah panggung Bibi Buek untuk kedua
kalinya.
Saat pintu kayu itu berderit terbuka, Nantium masih terduduk
di posisi yang sama seperti semalam. Namun kali ini, gurat wajahnya berubah.
Ketakutan yang sempat mengunci rapat bibirnya runtuh bersama rasa sakit yang
sudah mencapai batas maksimal. Begitu melihat sosok Panusunan dengan jaket
hijau army-nya berdiri di ambang pintu, Nantium bangkit.
Kali ini, Nantium tidak lagi diam.
Topeng Sang Sahabat
"Sun..." suara Nantium bergetar, namun sepasang
mata beningnya menatap lurus ke dalam manik mata tajam Panusunan. "Kalau
kamu ke sini hanya untuk mengutukku, silakan. Tapi dengarkan dulu kebenaran
ini, demi Tuhan, aku tidak pernah mengkhianatimu."
Panusunan terpaku di tempatnya berdiri, tangannya mengepal di
dalam saku jaket. "Kebenaran apa, Nanti? Warga, ayahku, bahkan
Mardian..."
"Mardian!" potong Nantium dengan nada tinggi yang
sarat akan kepedihan. "Semua gosip busuk, semua kehancuran ini... itu
semua ulah Mardian, Sun!"
Nantium melangkah mendekat, air matanya meluncur deras.
"Jauh sebelum kamu pindah ke desa ini, Mardian berkali-kali mengirimkan
surat cinta kepadaku. Dia mengejarku, Sun. Tapi semuanya kutolak karena aku
tidak punya rasa sama sekali dengannya. Dan setelah kamu datang, setelah kita
bersama, dendam dan cemburunya berubah menjadi iblis."
Panusunan meraba dadanya yang mendadak terasa dihantam
banyalan batu. Mardian? Sahabat sebangkunya?
"Hari itu, Mardian datang ke rumahku. Dia yang
menyuruhku datang ke rumah Paman Amir dengan alasan mengambil Bantuan Desa. Dia
tahu Paman Amir itu punya niat bejat sama aku!" Nantium menjerit histeris,
mengingat malam terkutuk itu. "Di rumah itu... Paman Amir menjebakku, Sun.
Kaki dipijak sampai aku tidak bisa bergerak, lalu dia memerkosaku! Dan setelah
selesai, dia mengancam akan menyebarkan fitnah kalau aku ini wanita murahan
jika aku berani mengadu. Dan tebak siapa yang menyebarkan desas-desus itu ke
seantero desa hingga telinga istri Pak Anwar? Mardian! Dia yang menyusun semua
cerita ini untuk menghancurkanku dan memisahkan kita!"
Panusunan berdiri mematung bak patung batu. Alis tebalnya
bertaut erat, wajahnya memucat seketika. Kenyataan bahwa Mardian—orang yang
paling ia percayai di desa ini, orang yang menenangkannya saat emosi—adalah
dalang di balik runtuhnya kehormatan sang kekasih, membuat dunia Panusunan
serasa runtuh berantakan.
Kesaksian dari Bus dan
Teror di Selasar Sekolah
Nantium menghapus kasar air matanya, mencoba menstabilkan
napasnya yang memburu untuk melanjutkan ceritanya yang belum usai.
"Lalu soal kejadian di bus Bunga Raya saat kamu
di kota," lanjut Nantium dengan suara yang mulai serak. "Pak Anwar
memang berniat jahat kepadaku setelah mengintip kita di bengkel sepi itu. Di
perjalanan pulang, dia menghentikan bus dan mencoba melecehkanku dengan
menyodorkan uang ke dadaku. Tapi demi Allah, Sun, tidak terjadi hal senonoh apa
pun! Bang Borang, kerneknya, langsung datang menghalangi Pak Anwar. Bang Borang
yang menjagaku sepanjang jalan sampai selamat ke desa ini."
Panusunan mengembuskan napas berat, rasa sesak akibat cemburu
buta yang sempat membakar dadanya perlahan mencair, berganti menjadi rasa
bersalah yang teramat besar kepada Nantium. Gadisnya tidak bersalah. Gadisnya
adalah korban dari kejamnya lingkungan desa ini.
"Bukan cuma mereka, Sun..." Nantium mencengkeram
ujung baju Panusunan, tubuhnya bergetar hebat mengingat betapa menjijikkannya
orang-orang dewasa di sekitar mereka. "Saat kamu masih berada di kota, aku
juga diteror di sekolah. Kamu ingat Pak Jafar? Suami dari Ibu Guru Biologi
kita?"
Panusunan mengangguk kaku.
"Waktu itu dia selesai mengantar istrinya ke sekolah.
Saat berpapasan denganku di selasar lingkungan sekolah yang sepi, dia
menghentikan langkahku. Dengan wajah mesum dia berbisik, 'Untuk apa kau sama
si Panusunan? Lebih ganteng lagi aku. Apa lagi dia pandenya cuma isap aja,'
katanya!" Nantium menirukan ucapan menjijikkan itu dengan rasa jijik yang
kentara.
Mendengar penuturan terakhir Nantium, darah Panusunan
mendidih hebat. Rahangnya mengatup rapat hingga urat-urat di lehernya menegang.
Di tangan kirinya, jam Digitec terasa berdenyut seirama dengan detak
jantungnya yang dipompa oleh amarah yang membara. Gadis yang dicintainya, yang
dianggapnya rapuh, ternyata telah melewati neraka jahanam sendirian selama
seminggu ia tinggalkan ke kota. Semuanya tertata rapi dalam konspirasi busuk
yang dipicu oleh sakit hati seorang sahabat bernama Mardian.
***




















