Rabu, 17 Juni 2026

Kuda Emas Dipuncak Gunung Kulabu

Bab I Gema Gordang Sambilan

Suasana di dalam Bagas Godang Pakantan terasa sangat mencekam. Aroma asap kemenyan yang dibakar di sudut ruangan bercampur dengan bau udara dingin khas lereng Gunung Kulabu. Di bawah pendar temaram obor dinding, para tetua adat, Datu, dan bangsawan duduk bersila melingkari tikar pandan.

Di luar, sayup-sayup terdengar tabuhan Gordang Sambilan yang ritmenya melambat, memberi tanda bahwa sebuah keputusan besar dan darurat sedang digodok di dalam rumah adat tersebut.

 

Sutan natorop duduk diam di dekat pintu masuk. Pandangannya lurus menatap lantai kayu, namun telinganya menangkap setiap getaran suara. Di dalam dadanya, ia bisa merasakan Sijangak khodam harimau putihnya sedang menggeram rendah, gelisah.

"Ketukan Gordang Sambilan di luar bukan lagi untuk menyambut panen," ucap Raja Namora, tetua adat Pakantan, memecah keheningan dengan suara serak namun berwibawa. "Gunung Kulabu telah batuk. Cahaya kuning yang membelah langit malam tadi adalah tanda. Sere na gok emas sebesar kuda itu telah bangkit dari dasar danau puncak."

Seorang pria bertubuh kekar dengan jubah hitam legam tiba-tiba tertawa rendah. Dialah Datu Garang. Di bahunya, samar-samar terlihat siluet bayangan harimau hitam yang matanya menyala merah dalam dimensi astral.

"Mengapa wajahmu terlihat seperti melihat hantu, Raja Namora?" cetus Datu Garang sambil mengelus hulu kerisnya. "Emas itu adalah berkah! Tanah Mandailing ini terlalu lama miskin karena tunduk pada aturan-aturan kunomu. Dengan emas sebesar kuda itu, kita bisa membangun pasukan yang ditakuti seluruh pulau!"

"Kau buta oleh keserakahan, Garang!" sahut Datu Sanggul, pendekar tertua yang duduk di sisi timur. Suaranya bergetar karena usia, namun matanya tetap tajam. "Emas itu bukan berkah, melainkan bisa (racun). Siapa pun yang menyentuhnya tanpa kesucian hati akan menghancurkan tanah ini. Kau pikir hanya kau yang merasakannya? Sembilan darah harimau di tanah ini telah terbangun!"

Datu Garang berdiri, membuat beberapa tetua adat tersentak mundur. Aura hitam yang pekat dan dingin langsung berembus memenuhi ruangan, memadamkan dua obor di dekatnya.

"Lalu siapa yang akan melarangku mendaki Kulabu? Kau, Sanggul? Tubuh tuamu bahkan akan hancur sebelum sampai ke lereng," tantang Datu Garang takabur.

"Jika Datu Sanggul terlalu tua, maka aku yang akan berdiri di depan jalanmu, Datu Garang."

Semua mata langsung tertuju ke arah pintu. Sutan natorop berdiri dengan tenang. Tidak ada aura meledak-ledak dari tubuhnya, namun langkah kakinya yang ringankhas pesilat Langka opatmembuat papan lantai kayu Bagas Godang sama sekali tidak berderit.

Datu Garang menyipitkan mata, menatap sinis pemuda di depannya. "Sutan natorop... anak ingusan yang bersembunyi di balik bulu putih khodam warisan ayahnya. Kau ingin mati muda di atas gunung?"

Sutan natorop menatap lurus ke mata merah Datu Garang. "Gunung Kulabu adalah pasak bumi Pakantan. Jika kau mendakinya dengan niat menumpahkan darah, maka harimau putihku yang akan memastikan jasadmu menjadi pupuk di hutan bawah."

Di sudut ruangan yang gelap, seorang wanita bercadar kain sutra merah Intan Nauli tersenyum tipis di balik cadarnya. Jari-jarinya yang lentik mengetuk-ngetuk lantai, sementara khodam Belang Emasnya berbisik di dalam benaknya bahwa pertunjukan berdarah akan segera dimulai.


 

Raja Namora mengangkat tangan kanan, memberi isyarat agar ketegangan di dalam Bagas Godang mereda. Datu Garang mendengus meremehkan, berbalik, lalu melompat turun dari jendela rumah panggung adat tersebut, menghilang ke dalam kegelapan malam menuju lereng Gunung Kulabu. Satu per satu, pendekar lain ikut berkelebat pergi secara senyap melalui bayang-bayang tiang penyangga Bagas Godang.

Kini, ruangan luas itu hanya menyisakan Raja Namora, beberapa tetua adat yang tertunduk cemas, dan Sutan natorop yang masih berdiri kokoh di dekat pintu.

Raja Namora melangkah mendekati Sutan natorop. Tangannya yang keriput namun kokoh mencengkeram kedua bahu pemuda itu. Matanya menatap lurus, memancarkan kecemasan mendalam seorang pemimpin adat.

"Palasa, anakku," bisik Raja Namora, suaranya bergetar berat di sela sisa asap kemenyan. "Malam ini, nasib Pakantan tidak lagi berada di tangan hukum adat atau tombak para penjaga desa. Nasib kita semua ada di punggungmu."

Sutan natorop menunduk hormat. "Saya tidak akan membiarkan keserakahan menghancurkan tanah kelahiran kita, Kakek Raja."

"Pergilah sebelum fajar menyingsing," lanjut Raja Namora sambil meraba kantong kain di pinggangnya. Ia mengeluarkan sebutir batu hitam kecil yang halus, Batu Larangan. "Jika kau sampai di danau puncak, lemparkan batu ini ke dalam air sebelum tangan-tangan serakah itu menyentuh emas sebesar kuda tersebut. Itu akan mengunci kembali gerbang gaif Kulabu."

Sutan menerima batu itu, merasakannya begitu dingin di telapak tangannya. "Baik, Kakek Raja."

"Ingat, Palasa," Raja Namora memperingatkan dengan nada yang sangat serius. "Musuh terbesarmu di atas sana bukanlah cakar Datu Garang atau kelicikan pendekar lain. Musuh terbesarmu adalah bisikan emas itu sendiri. Sembilan harimau akan saling memangsa jika hati mereka goyah."

Sutan natorop mengangguk pelan. Di dalam dadanya, hangatnya energi Sijangak si harimau putih mengalir ke ujung-ujung jarinya, memberikan ketenangan dan kesiapan penuh. Ia menjura hormat untuk terakhir kalinya, lalu berbalik membelakangi ruangan.



Bab II

Di luar Bagas Godang, angin malam bertiup sangat kencang, menggoyang pohon-pohon aren di pinggir desa Pakantan. Tabuhan Gordang Sambilan tiba-tiba berhenti total, menyisakan kesunyian yang mencekam.

Sutan natorop menarik napas dalam-dalam, mengikat kain pengikat kepalanya dengan kencang, lalu melompat turun ke halaman tanah. Dengan gerakan silat Langka opat yang seringan angin, tubuhnya berkelebat cepat membelah kabut malam, berlari menuju rimbunnya hutan liar yang memeluk kaki Gunung Kulabu. Pendakian berdarah telah dimulai.

Baru saja kaki Sutan natorop melewati batas rimba keramat di kaki Gunung Kulabu, hawa udara mendadak berubah menjadi sangat pekat. Kabut tebal khas pegunungan Mandailing turun dengan cepat, memangkas jarak pandang hingga hanya menyisakan beberapa jengkal di depan mata.

Sutan menghentikan langkahnya tepat di sebuah celah batu besar yang ditumbuhi lumut kerak. Langkah kakinya yang semula tanpa suara kini benar-benar mati. Di dalam tubuhnya, aliran darah Sutan berdesir hebat. Sijangak, khodam harimau putih di dalam dirinya, mendadak menegakkan bulu kuduk astral-nya dan mengeluarkan geraman rendah yang bergetar di rongga dada Sutan.

Ada bau anyir darah yang tersamar di antara wangi tanah basah.

Sreeek...

Suara gesekan kain menembus sunyinya hutan. Dari balik rimbunnya pohon-pohon pakis raksasa, dua siluet bertubuh pendek namun tegap melangkah keluar secara perlahan. Mereka berjalan dengan posisi tubuh agak membungkuk, sangat mirip dengan gestur binatang buas yang siap menerkam.

Mereka adalah Si Kembar Napa dan Napi.

Wajah keduanya hampir serupa, dengan tato garis-garis loreng melintang di pipi hingga ke leher. Di bawah temaram cahaya bulan yang menembus celah daun, mata mereka memancarkan pendar hijau kekuningan yang liar. Di tangan masing-masing, sepasang senjata kurambiak (kerambit) melengkung tajam, memantulkan cahaya perak yang dingin.

"Lihat siapa yang berjalan paling lambat, Napi," ucap Napa, sisi kirinya. Suaranya terdengar seperti lengkingan kucing hutan.

"Anak manja dari Pakantan, Napa. Dia mengira mendaki Kulabu sama seperti berjalan-jalan di kebun kopi," sahut Napi dari sisi kanan, sambil menjilat bilah kerambitnya yang sudah ternoda darah segar entah darah hewan hutan atau pendekar lain yang sudah mereka habisi sebelumnya.

Sutan natorop tidak bergeming. Ia segera memasang kuda-kuda rendah Silat Harimau Langkah Empat. Tangan kanannya terbuka di depan dada berbentuk cakar, sementara tangan kirinya berjaga di pinggang, siap menahan atau mengalihkan serangan.

"Napa, Napi. Kita sama-sama memiliki darah harimau di tanah ini. Mengapa kalian harus mengotori tangan dengan darah sebelum sampai ke puncak?" tanya Sutan, suaranya tetap tenang dan berwibawa meski dikepung dari dua arah.

"Karena semakin sedikit harimau yang sampai ke danau, semakin besar bagian emas yang bisa kami bawa pulang!" pekik Napa kasar.

Secara serentak, tubuh si kembar berkelebat maju. Khodam harimau muda mereka bermanifestasi sebagai bayangan jingga berloreng hitam yang melompat secepat kilat melintasi kabut. Napa mengincar tenggorokan Sutan dengan kerambitnya, sementara Napi merosot ke bawah, mengincar urat nadi di pergelangan kaki Sutan dengan kecepatan yang mengerikan.

***

Serangan serentak si kembar membelah kabut malam dengan sangat cepat. Napi yang merosot di tanah menyabetkan kerambitnya ke arah pergelangan kaki Sutan natorop. Namun, Sutan bukanlah pesilat sembarangan. Menggunakan kegesitan Silat Langkah Empat, ia melompat mundur selangkah, membiarkan bilah tajam Napi hanya memotong angin malam.

Di saat yang sama, Napa yang melompat dari atas menerjang ke arah dada Sutan. Sabetan kerambitnya mengincar leher. Sutan memiringkan kepala seujung kuku. Logam dingin itu menggores sedikit kain pengikat kepalanya hingga putus.

"Mati kau, anak manja!" pekik Napa, merasa di atas angin.

Napa tidak menyadari bahwa posisinya yang sedang melayang di udara membuatnya tidak memiliki tumpuan. Sutan natorop memanfaatkan momentum itu. Emosi Sutan tetap tenang, namun di dalam dimensi astral, Sijangak—si harimau putih—merasakan ancaman besar pada tuannya. Harimau putih gaib itu menggeram dahsyat, bangkit dengan murka dari dalam dada Sutan.

ROAAARRR!

Gema geraman gaib yang memekakkan telinga bermanifestasi di dunia nyata. Gelombang angin beraura putih keperakan meledak dari tubuh Sutan, membuat kabut di sekeliling mereka koyak dan hancur.

Napa yang masih melayang mendadak membeku di udara. Wajahnya pucat pasi saat melihat bayangan cakar harimau putih raksasa berukuran tiga kali tubuh manusia mendadak muncul dari balik punggung Sutan.

Sutan natorop menghentakkan telapak tangan kanannya ke depan, meniru gerakan menerkam. Di dimensi gaib, cakar spiritual Sijangak ikut bergerak menyambar dengan kecepatan kilat.

SRAAAKKK!

Cakar astral Harimau Putih merobek dada Napa tanpa ampun. Meski pakaian luar Napa tidak terlihat robek secara fisik, benturan energi gaib itu menghancurkan pelindung batinnya. Semburan darah segar keluar dari mulut Napa. Tubuhnya terpental sejauh lima meter, menghantam pohon pakis raksasa hingga tumbang, lalu jatuh bergedebuk ke tanah tanah basah.

Napa kejang beberapa saat. Mata hijaunya yang semula liar perlahan meredup dan kosong. Khodam harimau jingga di dalam tubuhnya melesat keluar menjadi asap tipis, lalu musnah. Napa tewas seketika akibat hancurnya jantung astral miliknya.

"NAPA!" jerit Napi histeris.

Napi melompat ke arah jasad saudara kembarnya. Ia mengguncang-guncang tubuh yang mulai mendingin itu dengan tangan gemetar. Ratapan kesedihan Napi segera berubah menjadi kemarahan yang meluap-luap. Ia menoleh ke arah Sutan natorop dengan tatapan mata yang dipenuhi dendam kesumat.

Sutan natorop menurunkan kembali tangannya. Napasnya sedikit memburu. Ia menatap jasad Napa dengan rasa sesal yang mendalam di matanya. "Aku sudah memperingatkan kalian. Gunung ini tidak menerima darah yang ditumpahkan karena keserakahan."

***

Bab III


N
api meraung, mencengkeram tanah basah hingga kuku-kukunya berdarah. Dendam kesumat yang membara di matanya berbenturan dengan naluri bertahan hidup yang dipicu oleh geraman batin khodamnya. Sijangak di belakang Sutan masih menatapnya dengan pendar mata perak yang intimidatif. Napi tahu, bertarung sendirian saat ini sama saja dengan bunuh diri.

"Kau... Sutan natorop!" desis Napi, suaranya bergetar hebat di sela isak tangis yang tertahan. "Demi leluhur Mandailing, darah dibayar darah! Aku akan merobek jantungmu dan menyerahkannya pada Datu Garang di puncak Kulabu!"

Sutan natorop tidak mengejar. Ia menarik kaki kanannya dari posisi kuda-kuda, membiarkan tubuhnya berdiri tegak kembali dengan sisa penyesalan yang membayang di wajahnya. "Bawa saudaramu pulang, Napi. Gunung ini hanya akan meminta lebih banyak nyawa jika kau meneruskan dendam ini."

Tanpa menjawab, Napi menyambar jasad kembarannya dengan satu hentakan tangan yang diperkuat sisa energi khodam harimau jingganya. Ia memanggul tubuh Napa di atas bahu, lalu melompat mundur ke dalam kegelapan. Langkah kakinya yang penuh amarah menembus rimbunnya hutan, menghilang ke arah jalur pendakian barat jalur yang dilewati oleh Datu Garang.

Hutan kembali sunyi, menyisakan bau anyir darah yang perlahan disapu oleh embus angin malam Gunung Kulabu. Sutan natorop menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan degup jantungnya, bersiap melanjutkan langkah yang kini terasa jauh lebih berat.

Plok... Plok... Plok...

Suara tepuk tangan pelan terdengar dari atas dahan pohon beringin tua di atasnya.

"Langka opat yang mengagumkan, Sutan," sebuah suara lembut namun dingin mengalun dari kegelapan atas.

Sesosok tubuh ramping berkelebat turun tanpa suara, mendarat tepat di atas lumut lembut beberapa langkah di depan Sutan. Kain cadar sutra merahnya berkibar pelan ditiup angin malam. Intan Nauli berdiri di sana, menatap Sutan dengan mata indahnya yang penuh selubung misteri.

***

"Kau terlambat menikmati pertunjukannya, Intan Nauli," ucap Sutan natorop tenang, meski tangannya kembali bersiap di dekat hulu senjatanya.

Intan Nauli tersenyum di balik cadar sutra merahnya. Ia melangkah mendekat, membiarkan khodam Harimau Belang Emas miliknya mendengus pelan di dimensi astral, memberi tanda bahwa ia tidak datang untuk bertarung.

"Aku tidak di sini untuk menonton, Sutan. Aku di sini untuk memastikan kau tidak mati konyol di tengah jalan," bisik Intan Nauli, matanya menatap tajam ke arah jalur barat tempat Napi menghilang tadi. "Napi tidak akan pulang ke Pakantan. Dia pergi menyusul Datu Garang ke Lembah Bayang-Bayang."

Sutan natorop mengernyitkan dahi. "Lembah Bayang-Bayang? Itu jalur tercepat menuju danau puncak."

"Benar, dan itu juga tempat eksekusimu," lanjut Intan dengan nada serius. "Datu Garang tahu kau adalah ancaman terbesar bagi ambisinya. Di lembah itu, dia bersama sisa pendekar lain termasuk Napi yang kini haus darah sedang menyiapkan Jebakan Sungsang."

Intan Nauli melangkah mundur satu langkah, jemarinya menunjuk ke tanah basah di depan mereka. "Datu Garang menggunakan kekuatan mistis dari khodam Harimau Hitamnya untuk meracuni akar-akar pohon beringin purba di lembah itu. Siapa pun yang menginjak areanya akan terperangkap dalam ilusi kabut hitam yang menguras energi astral. Saat kau lemah dan buta karena ilusi, Napi dan cakar maut Datu Garang akan menyergapmu dari kegelapan."

Sutan natorop terdiam sejenak, mencerna informasi berharga tersebut. Informasi ini menjelaskan mengapa Datu Garang begitu takabur saat di Bagas Godang tadi; dia sudah menyiapkan strategi matang untuk menyingkirkan para pesaingnya satu per satu sebelum menyentuh emas sebesar kuda di puncak Kulabu.

"Mengapa kau memberitahuku semua ini, Intan?" tanya Sutan penuh selidik. "Kau juga pemilik khodam harimau. Emas di puncak itu bisa jadi milikmu jika aku dan Datu Garang saling membunuh."

Intan Nauli menatap lurus ke mata Sutan. "Emas itu adalah kutukan jika jatuh ke tangan yang salah. Aku ingin menyelamatkan desaku, bukan menghancurkan Mandailing seperti yang diinginkan Datu Garang. Kita punya musuh yang sama, Sutan. Untuk melewati Lembah Bayang-Bayang, kau butuh kemampuan ilusi angin dari Harimau Belang Emas-ku untuk memecah kabut hitam Datu Garang."

Sutan natorop menatap jalur pendakian yang gelap gulita di hadapannya, lalu kembali menatap Intan Nauli. Aliansi sementara terpaksa dibentuk di bawah bayang-bayang Gunung Kulabu.

***



 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

Rabu, 10 Juni 2026

Cinta diujung Jalan XI TAMAT

BAB XI: Putaran Pita Kaset yang Baru

“Bila cinta sudah didusta jangan harap aku kembali”

 

Suara lengkingan vokal yang khas dan distorsi gitar listrik yang bertenaga menutup lagu terakhir malam itu. Tepuk tangan dan teriakan histeris ratusan penonton bergemuruh, memenuhi seisi aula gedung pertunjukan di pusat kota. Lampu panggung perlahan meredup, menyisakan kepulan asap smoke gun yang menggantung di udara.

 

Panusunan yang kini telah bertransformasi sepenuhnya dan dikenal publik dengan nama panggung Ikren menurunkan mikrofon dari penyangganya. Napasnya memburu, peluh membasahi kaos hitamnya. Di pergelangan tangans kiri, jam tangan digitalnya telah berganti menjadi aksesoris panggung yang lebih modern, namun gelang tali hitam di tangan kanannya masih setia melingkar, seolah menjadi jangkar yang mengikatnya pada bumi.

 

Tur promosi album pertama band mereka akhirnya resmi berakhir malam ini. Sebuah tur yang melelahkan, menguras emosi, namun sekaligus menjadi pembuktian bahwa ia berhasil merebut kembali takdirnya yang sempat tercerabut di masa remaja.

 

Ikren menyerahkan gitarnya kepada kru panggung, lalu melangkah turun melewati pembatas. Ia tidak menuju ruang ganti, melainkan berjalan mantap ke sudut barisan depan yang agak temaram. Di sana, berdiri seorang wanita yang tak pernah lepas memandangnya sepanjang konser.

 

Rindu.

 

Cinta pertama masa remajanya, gadis yang dulu menangis tersedu-sedu di terminal bus saat ia terpaksa ikut orang tuanya pindah ke desa. Takdir rupanya punya cara yang unik untuk memutar balik kompas kehidupan. Setelah bertahun-tahun berpisah, setelah badai jahanam di Desa Kumayan berlalu dan menyisakan luka yang mendalam, Panusunan kembali ke kota, memulai semuanya dari nol, dan takdir mempertemukannya lagi dengan Rindu. Gadis itu menerima segala remah-remah masa lalunya yang hancur dengan ketulusan yang luar biasa.

 

"Konser yang hebat, Ren," ucap Rindu dengan senyum manis yang dulu selalu dirindukan Panusunan di malam-malam sepinya.

 

Ikren tersenyum, menyeka keringat di pelipisnya yang tertutup rambut—yang tak lagi belah tengah, melainkan berpotongan gondrong khas anak grunge era baru. Ia menggenggam jemari Rindu hangat.

 

"Makasih ya sudah selalu ada di setiap kota," bisik Ikren tulus.

 

Mereka berdua berjalan beriringan meninggalkan area gedung yang mulai sepi menuju pelataran parkir. Udara malam kota berembus pelan, membawa obrolan yang sudah mereka rencanakan sejak beberapa minggu lalu. Sebuah rencana besar setelah masa-masa sibuk tur album ini selesai: pernikahan mereka yang tinggal menghitung hari.

 

"Jadi... kita tetap dengan rencana awal untuk bulan madu kita?" tanya Rindu saat mereka sudah berada di dalam mobil.

 

Ikren terdiam sejenak. Matanya menatap lurus ke arah jalanan aspal di depan. Nama tempat itu kembali terngiang di kepalanya. Sebuah tempat yang selama bertahun-tahun ini sengaja ia kunci rapat-rapat di dalam laci ingatannya yang paling gelap. Tempat yang sudah lama terlupakan.

 

"Iya," jawab Ikren, suaranya terdengar mantap namun tenang. "Kita akan ke Desa Kumayan."

 

Rindu menoleh, menatap suaminya dengan pandangan penuh pengertian. Dia tahu, bagi Ikren, perjalanan bulan madu ini bukan sekadar liburan biasa. Ini adalah perjalanan pulang untuk berdamai dengan masa lalu. Mengunjungi desa pegunungan yang dingin itu bersama Rindu adalah cara Ikren untuk mengubur dalam-dalam bayang-bayang kelam tentang pengkhianatan Mardian, kebejatan orang-orang dewasa di sana, serta dendam masa lalu ayahnya yang telah menghancurkan hidup seorang gadis tak bersalah bernama Nantium.

 

Mobil pun melaju membelah malam kota yang terang benderang, bersiap menuju ke arah lintas sumatra, kembali ke desa di balik gunung tempat semua cerita itu bermula.

***


 

Cinta diujung Jalan X

BAB X: Kebenaran yang Meruntuhkan Jiwa

Satu bulan telah berlalu sejak malam kebenaran di rumah panggung Bibi Buek. Namun, ketenangan yang dicari Panusunan tidak pernah kunjung datang. Desa Kumayan kembali diguncang oleh sebuah kabar yang jauh lebih dahsyat dari gosip sebelumnya: Nantium mengandung. Berita kehamilan itu merebak cepat bak api menyiram bensin, membuat gempar satu kampung.

Di dalam kamarnya, Panusunan duduk di tepi ranjang dengan tubuh yang gemetar hebat. Kepalanya terasa pening, dipenuhi kalkulasi linimasa yang berputar acak.

Bagaimana mungkin Nantium hamil?

Panusunan mengingat dengan sangat jelas, subuh saat Nantium mengantarkannya ke kota menggunakan bus Bunga Raya, itu adalah hari terakhir Nantium menyelesaikan masa datang bulannya. Dan semenjak pulang dari kota hingga detik ini, mereka berdua sama sekali tidak pernah lagi melakukan hubungan badan. Kejadian pemerkosaan oleh Paman Amir pun terjadi jauh sebelum hari keberangkatannya ke kota, yang artinya secara medis tidak mungkin menjadi penyebab kehamilan ini. Lantas, anak siapa yang ada di dalam kandungan Nantium?

Sebelum teka-teki itu terjawab, sebuah hantaman keras kembali meremukkan dada Panusunan. Pihak keluarga dan adat desa memutuskan untuk menikahkan Nantium secara kilat dengan Mardian. Mendengar kabar pernikahan itu, kemurkaan Panusunan mencapai puncaknya. Dengan dada yang terbakar api amarah dan rasa tidak terima, ia nekat menemui Nantium untuk terakhir kalinya sebelum gadis itu resmi menjadi istri orang lain.

Rahasia di Malam-Malam Sepi

"Kenapa, Nanti?! Kenapa kamu mau menikah dengan bajingan itu?!" labrak Panusunan dengan suara tertahan, sepasang mata tajamnya memerah menahan tangis dan amarah. "Dan anak siapa yang kamu kandung? Kita tidak pernah melakukannya lagi setelah kamu selesai datang bulan!"

Nantium hanya bisa bersimpuh, air matanya luruh membasahi lantai. Tubuhnya kurus dan ringkih, sorot matanya telah kehilangan seluruh cahaya kehidupan.

"Waktu kamu pergi ke kota, Sun..." bisik Nantium dengan suara yang terputus-putus oleh isak tangis. "Malam pertamamu di kota, Mardian datang ke rumahku. Dia mengancamku. Dia bilang, kalau aku tidak mau melayaninya, dia akan membeberkan perbuatan kita di pondok sawah dan kasus pemerkosaan Paman Amir kepada seluruh warga desa malam itu juga."

Nantium meremas dadanya yang sesak. "Aku ketakutan Sun, Aku ketakutan,... Aku tidak punya pilihan. Dan sejak malam itu, hampir setiap malam selama kamu di kota, dia selalu datang dan terus meminta jatah yang sama. Ulahnyalah yang membuatku sampai hamil seperti ini, ulahnyalah semua ini,...Sun"

Bagai disengat listrik jutaan volt, Panusunan mundur selangkah. "Kenapa... KENAPA KAU TIDAK CERITAKAN INI PADA PERTEMUAN TERAKHIR KITA, NANTI?!" raung Panusunan, air matanya deras mengaliri wajahnya yang memerah karena amarah, dia murka sekaligus kecewa yang luar biasa. "Kenapa kamu menyembunyikannya dari gua Nanti?!"

Nantium mengangkat wajahnya yang berlumur air mata, menatap Panusunan dengan pandangan paling hancur oh..sungguh pilu hatinya. "Karena aku sudah merasa terlalu hina, Sun! Aku malu... aku malu!, Jiwa dan ragaku sudah kotor dikoyak-koyak oleh mereka. Aku merasa sudah tidak pantas lagi menjadi kekasihmu, apalagi menceritakan kebejatan Mardian kepadamu. Aku memilih mati rasa Sun."

Panusunan tak tau harus berkata apa, marah, sedih, kecewa semua menyatu didadanya. Dia hampir tak bisa melihat Nantium karena tertutupi oleh air yang membendung dimatanya.

"Maafkan aku Sun, maafkan aku..." Nantium memohon pilu.

Benang Merah Masa Lalu

Rasa murka yang membakar dada membuat Panusunan tidak bisa tinggal diam. Ia segera mencari Mardian. Ia menemui mantan sahabat sebangkunya itu di sebuah sudut sepi di belakang balai desa. Tanpa basa-basi, Panusunan langsung mencengkeram kerah baju Mardian, siap melayangkan jotosan mentah ke wajah pemuda keriting itu.

"Kenapa, Mar?! Kenapa lo tega menghancurkan hidup Nantium dan mengkhianati gua?! Lo sahabat gua, bajingan!" teriak Panusunan dengan urat-urat leher yang menegang keras.

Mardian tidak melawan. Ia justru melempar senyum sinis yang penuh kemenangan, menepis kasar cengkeraman tangan Panusunan yang dilingkari gelang hitam.

"Kau mau tahu kenapa aku melakukannya, Sun?" tanya Mardian dengan nada dingin, sama sekali tidak merasa bersalah. "Semua skenario ini... ini adalah perintah dari ayahmu sendiri!"

Deg. Langkah kaki Panusunan seketika goyah. "Maksud lo apa? Jangan bawa-bawa Ayah!"

"Ayahmu, Pak Endar, yang menyuruhku untuk merusak hubungan kalian! Beliau tidak mau masa depanmu hancur hanya karena berpacaran dengan anak gadis dari keluarga miskin seperti Nantium," ungkap Mardian, setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti pisau yang menguliti kesadaran Panusunan. Dia seakan tak percaya dengan apa yang baru didengarnya.

Mardian melangkah mendekat, membisikkan sebuah rahasia besar yang selama ini terkubur rapat di Desa Kumayan. "Dan ada satu hal lagi yang tidak kau tahu, Panusunan. Ibu Nantium... adalah gadis desa yang dulu menolak mentah-mentah cinta Pak Endar, ayahmu. Ayahmu menyimpan dendam masa lalu yang mendalam pada keluarga mereka. Pernikahanku dengan Nantium, dan kehancuran hidup gadis itu, adalah bentuk balas dendam terencana yang direstui oleh ayahmu sendiri!"

Mendengar kenyataan yang teramat kejam dan menjijikkan itu, dunia di sekitar Panusunan mendadak berputar hebat. Suara bising di kepalanya berdengung kencang. Sosok ayah yang selama ini ia hormati sebagai seorang guru, seorang panutan, ternyata adalah dalang di balik penderitaan gadis yang teramat dicintainya. Sahabatnya adalah pion pengeksekusi, dan Nantium adalah korban dari lingkaran setan masa lalu.

Dada Panusunan terasa dihantam beban ribuan ton hingga ia tidak sanggup lagi bernapas. Pandangannya perlahan menggelap, matanya membelalak tak percaya, sebelum akhirnya kesadarannya tumbang sepenuhnya. Panusunan pingsan, ambruk ke tanah kering Desa Kumayan, kalah oleh kenyataan yang teramat pahit untuk ditanggung oleh jiwanya.

***


 

Cinta diujung Jalan IX

 

BAB IX: Kebenaran yang Terungkap

Malam berikutnya, badai penyesalan memaksa Panusunan untuk kembali melanggar titah orang tuanya. Logika anak mudanya berontak. Di dalam kamar, sambil menatap jam Digitec-nya yang berdetik sunyi, ia menyadari ada lubang besar dalam semua cerita ini. Mengapa Nantium hanya menangis semalam? Kenapa Mardian begitu menggebu-gebu menyeretnya pergi?

Dengan tekad yang bulat, Panusunan kembali menyelinap menembus kabut pekat Desa Kumayan, menuju rumah panggung Bibi Buek untuk kedua kalinya.

Saat pintu kayu itu berderit terbuka, Nantium masih terduduk di posisi yang sama seperti semalam. Namun kali ini, gurat wajahnya berubah. Ketakutan yang sempat mengunci rapat bibirnya runtuh bersama rasa sakit yang sudah mencapai batas maksimal. Begitu melihat sosok Panusunan dengan jaket hijau army-nya berdiri di ambang pintu, Nantium bangkit.

Kali ini, Nantium tidak lagi diam.

Topeng Sang Sahabat

"Sun..." suara Nantium bergetar, namun sepasang mata beningnya menatap lurus ke dalam manik mata tajam Panusunan. "Kalau kamu ke sini hanya untuk mengutukku, silakan. Tapi dengarkan dulu kebenaran ini, demi Tuhan, aku tidak pernah mengkhianatimu."

Panusunan terpaku di tempatnya berdiri, tangannya mengepal di dalam saku jaket. "Kebenaran apa, Nanti? Warga, ayahku, bahkan Mardian..."

"Mardian!" potong Nantium dengan nada tinggi yang sarat akan kepedihan. "Semua gosip busuk, semua kehancuran ini... itu semua ulah Mardian, Sun!"

Nantium melangkah mendekat, air matanya meluncur deras. "Jauh sebelum kamu pindah ke desa ini, Mardian berkali-kali mengirimkan surat cinta kepadaku. Dia mengejarku, Sun. Tapi semuanya kutolak karena aku tidak punya rasa sama sekali dengannya. Dan setelah kamu datang, setelah kita bersama, dendam dan cemburunya berubah menjadi iblis."

Panusunan meraba dadanya yang mendadak terasa dihantam banyalan batu. Mardian? Sahabat sebangkunya?

"Hari itu, Mardian datang ke rumahku. Dia yang menyuruhku datang ke rumah Paman Amir dengan alasan mengambil Bantuan Desa. Dia tahu Paman Amir itu punya niat bejat sama aku!" Nantium menjerit histeris, mengingat malam terkutuk itu. "Di rumah itu... Paman Amir menjebakku, Sun. Kaki dipijak sampai aku tidak bisa bergerak, lalu dia memerkosaku! Dan setelah selesai, dia mengancam akan menyebarkan fitnah kalau aku ini wanita murahan jika aku berani mengadu. Dan tebak siapa yang menyebarkan desas-desus itu ke seantero desa hingga telinga istri Pak Anwar? Mardian! Dia yang menyusun semua cerita ini untuk menghancurkanku dan memisahkan kita!"

Panusunan berdiri mematung bak patung batu. Alis tebalnya bertaut erat, wajahnya memucat seketika. Kenyataan bahwa Mardian—orang yang paling ia percayai di desa ini, orang yang menenangkannya saat emosi—adalah dalang di balik runtuhnya kehormatan sang kekasih, membuat dunia Panusunan serasa runtuh berantakan.

Kesaksian dari Bus dan Teror di Selasar Sekolah

Nantium menghapus kasar air matanya, mencoba menstabilkan napasnya yang memburu untuk melanjutkan ceritanya yang belum usai.

"Lalu soal kejadian di bus Bunga Raya saat kamu di kota," lanjut Nantium dengan suara yang mulai serak. "Pak Anwar memang berniat jahat kepadaku setelah mengintip kita di bengkel sepi itu. Di perjalanan pulang, dia menghentikan bus dan mencoba melecehkanku dengan menyodorkan uang ke dadaku. Tapi demi Allah, Sun, tidak terjadi hal senonoh apa pun! Bang Borang, kerneknya, langsung datang menghalangi Pak Anwar. Bang Borang yang menjagaku sepanjang jalan sampai selamat ke desa ini."

Panusunan mengembuskan napas berat, rasa sesak akibat cemburu buta yang sempat membakar dadanya perlahan mencair, berganti menjadi rasa bersalah yang teramat besar kepada Nantium. Gadisnya tidak bersalah. Gadisnya adalah korban dari kejamnya lingkungan desa ini.

"Bukan cuma mereka, Sun..." Nantium mencengkeram ujung baju Panusunan, tubuhnya bergetar hebat mengingat betapa menjijikkannya orang-orang dewasa di sekitar mereka. "Saat kamu masih berada di kota, aku juga diteror di sekolah. Kamu ingat Pak Jafar? Suami dari Ibu Guru Biologi kita?"

Panusunan mengangguk kaku.

"Waktu itu dia selesai mengantar istrinya ke sekolah. Saat berpapasan denganku di selasar lingkungan sekolah yang sepi, dia menghentikan langkahku. Dengan wajah mesum dia berbisik, 'Untuk apa kau sama si Panusunan? Lebih ganteng lagi aku. Apa lagi dia pandenya cuma isap aja,' katanya!" Nantium menirukan ucapan menjijikkan itu dengan rasa jijik yang kentara.

Mendengar penuturan terakhir Nantium, darah Panusunan mendidih hebat. Rahangnya mengatup rapat hingga urat-urat di lehernya menegang. Di tangan kirinya, jam Digitec terasa berdenyut seirama dengan detak jantungnya yang dipompa oleh amarah yang membara. Gadis yang dicintainya, yang dianggapnya rapuh, ternyata telah melewati neraka jahanam sendirian selama seminggu ia tinggalkan ke kota. Semuanya tertata rapi dalam konspirasi busuk yang dipicu oleh sakit hati seorang sahabat bernama Mardian.

***


Cinta diujung Jalan VIII

 

BAB VIII: Air Mata di Rumah Panggung

Malam itu, Desa Kumayan diselimuti kegelapan yang pekat. Setelah berjam-jam dikurung di dalam kamar dan terus diawasi oleh gurat kecewa orang tuanya, Panusunan akhirnya berhasil memanfaatkan kelengahan mereka. Melalui jendela kamar yang sengaja tak dikunci, ia melompat turun tanpa alas kaki. Dengan jaket hijau army yang melekat buru-buru di tubuhnya, pemuda itu berlari membelah dinginnya malam pegunungan.

 

Ia tahu Nantium tidak akan ada di rumahnya sendiri karena situasi yang pasti sedang kacau. Benar saja, setelah mencari informasi secara sembunyi-sembunyi, Panusunan mendapati Nantium sedang diungsikan ke rumah bibinya yang bernama Bibi Buek—sebuah rumah panggung kayu tua yang terletak agak terpencil di dekat batas hutan desa.

 

Dengan napas memburu dan dada yang sesak oleh api cemburu serta rasa sakit, Panusunan menaiki tangga kayu rumah panggung itu. Di dalam ruang tengah yang remang-remang, hanya diterangi lampu minyak yang kecil, Nantium duduk bersimpuh di sudut ruangan. Wajah gadis itu tampak sembap, matanya bengkak karena terus-menerus menangis.

 

"Sekejam Itukah Kau Padaku Nantium?"

Panusunan melangkah mendekat, bayangannya memanjang di dinding papan yang lapuk. Sepasang mata tajamnya kini memancarkan luka yang teramat dalam, disudut matanya air bening terlihat enggan untuk tumpah. Dia tak berkedip menatap gadis yang beberapa hari lalu masih didekapnya dengan penuh kasih sayang.

 

"Nanti... tatap gua," suara Panusunan terdengar serak, bergetar menahan amarah yang bercampur dengan kegetiran, nafasnya berat mendesah. Air matanya terasa hangat mengaliri wajahnya yang dingin dihempas angin malam.

 

Nantium perlahan mengangkat wajahnya, namun ia tak sanggup menatap langsung mata Panusunan. Ia kembali menunduk, terdiam untuk sejenak. Ada tetesan air bergantian membasahi lantai kayu yang sudah terlihat lapuk. Nantium menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya. Isak tangisnya kembali pecah, terdengar begitu memilukan di tengah keheningan malam.

 

"Gua mau tanya langsung dari mulut lo. Kenapa lo khianati gua, Nantium?" tanya Panusunan, langkahnya semakin mendekat hingga ujung celana jinsnya menyentuh lantai tempat Nantium bersimpuh. "Kenapa ada nama Paman Amir? Kenapa ada nama Pak Anwar? Apa arti kebersamaan kita selama ini kalau lo juga main di belakang gua sama mereka?"

 

Nantium tetap bergeming. Lidahnya kelu. Ancaman mengerikan dari Paman Amir di hari jahanam itu mendadak terngiang kembali di telinganya: “Kalau sampai ada satu kata saja yang keluar dari mulutmu, aku sendiri yang akan memberitahu semua warga desa kalau kau adalah perempuan murahan!” Ketakutan bahwa keluarganya akan semakin hancur dan Panusunan akan diusir warga membuat Nantium memilih untuk mengunci rapat bibirnya. Dia hanya bisa menangis sesenggukan, membiarkan kesalahpahaman ini membakar habis sisa hubungan mereka.

 

Melihat Nantium yang hanya diam dan terus menangis tanpa memberikan pembelaan sedikit pun, hati Panusunan rasanya seperti diiris sembilu. Baginya, diamnya Nantium adalah sebuah pengakuan dosa.

 

"Sekejam itukah kau padaku, Nanti?" ucap Panusunan lirih, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh, membasahi pipinya yang ditumbuhi jenggot tipis. "Gua tulus sama lo. Gua lepasin semua kehidupan kota gua demi lo... tapi ini balasan lo?" argh!!

 

Panggilan dari Luar Rumah

"Panusunan! Sun! Keluar kamu dari sana!"

 

Sebuah teriakan lantang tiba-tiba memecah ketegangan di dalam rumah panggung. Di bawah tangga, Mardian berdiri sambil memegang sebuah obor bambu. Wajah kawan sebangkunya itu tampak mengeras penuh amarah dan kekhawatiran.

 

"Sun! Untuk apa lagi kamu masih berhubungan dengan wanita jalang seperti Nantium itu?! Dia sudah mengotori kampung ini, Sun! Jangan buat dirimu semakin bodoh!" teriak Mardian lagi dari luar, suaranya menggema menembus dinding bambu rumah Bibi Buek.

 

Mendengar kata-kata kasar yang keluar dari mulut Mardian, tangisan Nantium semakin histeris. Ia meremas dadanya yang terasa sangat sesak badannya bergetar hebat dia meratap.

 

Mardian langsung menaiki tangga dengan langkah menghentak. Ia menerobos masuk ke dalam rumah, lalu dengan kasar mencengkeram lengan jaket hijau army Panusunan, mencoba menarik pemuda itu agar menjauh dari Nantium.

 

"Ayo pulang, Sun! Nggak ada gunanya kamu di sini!" paksa Mardian.

 

Panusunan sempat mencoba menepis tangan sahabatnya. "Gua butuh penjelasan dia, Mar! Lepasin gua!"

 

"Penjelasan apa lagi?! Semua orang di desa sudah tahu kelakuannya!" bentak Mardian, tatapannya beralih menatap tajam ke arah Panusunan yang masih dilingkupi rasa bimbang.

 

Mardian kemudian mendekatkan wajahnya, memberikan sebuah ancaman yang tak bisa dibantah oleh Panusunan. "Ayahmu menyuruhku mencarimu, Sun. Beliau bilang, kalau malam ini kamu tidak pulang ke rumah dan masih nekat menemui perempuan ini, ayahmu tidak akan sudi lagi menganggapmu sebagai anak, dan dia akan menyeretmu sendiri di depan seluruh warga desa! Kamu mau mempermalukan guru yang sudah pensiun itu?!"

 

Mendengar nama ayahnya dibawa-bawa, runtuhlah sudah pertahanan Panusunan. Ancaman Mardian mendarat telak di egonya sebagai seorang anak. Ia menatap Nantium untuk terakhir kalinya gadis yang kini makin tenggelam dalam tangisnya tanpa sepatah kata pun pembelaan.

 

Dengan hati yang sepenuhnya mati dan hancur berantakan, Panusunan akhirnya membiarkan tubuhnya ditarik dan dibawa pergi oleh Mardian keluar dari rumah panggung itu. Terdengar suara jeritan Nantium meraung sedih namun mereka tetap melangkah menembus kegelapan malam, meninggalkan Nantium yang meringkuk sendirian di lantai kayu yang dingin, meratapi nasibnya yang kini benar-benar telah kehilangan segalanya.

***


Cinta diujung Jalan VII

 

BAB VII: Badai Gosip yang Menghancurkan

Seminggu di kota terasa berjalan begitu lambat bagi Panusunan. Setelah menyelesaikan seluruh berkas pendaftaran sekolah barunya, ia bergegas kembali ke Desa Kumayan. Rasa rindu pada Nantium sudah membubung tinggi, mengalahkan rasa enggannya pada suasana desa.

 

Sore itu, bus Bunga Raya berguncang pelan memasuki batas wilayah kecamatan. Panusunan yang duduk di bangku tengah sempat merasa heran. Saat menaikki bus siang tadi, ia tidak melihat Pak Anwar di kursi kemudi, begitu pula dengan Borang. Posisi mereka kini digantikan oleh seorang pria berwajah tegas bernama Pak Haris, dengan kernek berbadan kurus bernama Komeng.

 

Panusunan sempat mengernyitkan alis tebalnya, menatap jam Digitec-nya sejenak. Kok bisa langsung diganti kru busnya? pikirnya dalam hati. Namun, karena pikirannya sudah dipenuhi oleh bayangan wajah Nantium, Panusunan memilih mengabaikan keanehan itu dan menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi.

 

Tatapan Asing di Sepanjang Jalan

Begitu kakinya menapak di tanah terminal Desa Kumayan, Panusunan langsung merasakan ada atmosfer yang berbeda. Suasana desa terasa mencekam dan dingin, bukan karena kabut, melainkan karena sikap para warga.

 

Panusunan membetulkan letak jaket hijau army-nya dan mulai berjalan menyusuri jalanan desa menuju rumahnya. Namun, baru beberapa meter melangkah, ia menyadari sekelilingnya mendadak sunyi. Orang-orang yang sedang berkumpul di kedai kopi atau di depan teras rumah seketika menghentikan obrolan mereka.

 

Mata tajam Panusunan menangkap basah tatapan semua orang yang tertuju padanya. Sialnya, itu bukan tatapan ramah seperti minggu lalu. Beberapa ibu-ibu berbisik tetangga sambil menunjuk-nunjuk ke arahnya, sementara beberapa warga pria menatapnya dengan pandangan sinis dan jijik.

 

Panusunan mempercepat langkah kakinya dengan dada yang mulai berdegup kencang karena bingung sekaligus dongkol. Ada apa dengan orang-orang ini? Apa gua berbuat salah? batinnya bergejolak.

 

Ruang Tengah yang Mencekam

Sesampainya di rumah, kejanggalan itu semakin menjadi-jadi. Pintu depan terbuka, namun suasana di dalam begitu hening. Panusunan melangkah masuk dan menemukan kedua orang tuanya sudah duduk di ruang tengah.

 

Ibu dan ayahnya terlihat sangat murung. Sang ayah, yang biasanya menyambutnya dengan senyuman hangat seorang guru, kini duduk kaku dengan wajah tegang yang menyiratkan kekecewaan mendalam. Sang ibu bahkan tak mampu menatap mata putranya, beliau hanya menunduk sambil meremas sapu tangan.

 

"Ayah, Ibu... Panusunan sudah pulang," sapa Panusunan pelan, menurunkan tas ranselnya.

 

"Duduk, Panusunan," suara ayahnya terdengar berat dan dingin, memotong kalimat Panusunan tanpa basa-basi.

 

Panusunan mengambil tempat di kursi kayu seberang ayahnya. Atmosfer di ruangan itu mendadak berubah menjadi ruang interogasi yang mencekam.

 

"Ayah mau tanya langsung sama kamu. Jawab dengan jujur, jangan ada yang ditutupi," ujar sang ayah, matanya menatap tajam ke arah Panusunan. "Bagaimana sebenarnya hubunganmu dengan Nantium?"

 

Panusunan mengernyitkan dahi. "Kami pacaran, Yah. Panusunan serius sama Nanti. Memangnya ada apa?"

 

Sang ayah mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat menyakitkan. "Seminggu kamu di kota, desa ini gempar, Panusunan. Gosip busuk tentang pacarmu itu sudah beredar luas ke seantero kampung."

 

Ayahnya memajukan tubuhnya, menekan suaranya agar tidak terdengar ke luar rumah. "Nantium... gadis yang kamu bangga-banggakan itu, kabarnya berpacaran dengan Kepala Desa, Pak Amir. Dan bukan cuma itu, beredar cerita kalau Nantium juga punya hubungan gelap dengan Pak Anwar di dalam bus Bunga Raya!"

 

Deg.

 

Bagai dihantam godam besar tepat di dadanya, napas Panusunan mendadak tercekat.

 

"Istri Pak Anwar murka besar di terminal dua hari lalu," lanjut ayahnya lagi dengan nada getir. "Dia melabrak suaminya dan melarang Pak Anwar membawa bus Bunga Raya lagi. Itulah kenapa sopir busmu hari ini diganti! Nama baik keluarga kita ikut terseret karena semua orang tahu kamu berhubungan dekat dengan gadis itu!"

 

Mendengar rentetan kalimat itu, hati Panusunan hancur sehancur-hancurnya. Dadanya terasa sesak luar biasa, ada rasa panas yang menjalar hingga ke kepala. Ia mengingat kembali bagaimana Pak Anwar menghentikan bus di bengkel sepi waktu itu. Apakah Nantium mengkhianatinya? Ataukah ada hal lain yang terjadi? Pikiran Panusunan mendadak kusut berantakan, campur aduk antara rasa tidak percaya, cemburu, dan sakit hati yang teramat dalam. Akhhh!!

 

Pertanyaan Terakhir Sang Ayah

Sebelum Panusunan sempat mencerna seluruh rasa sakitnya, sang ayah mengetukkan jarinya ke meja, memaksa Panusunan kembali fokus. Wajah mantan guru itu kini tampak memerah, menahan rasa malu yang teramat sangat sebagai pemuka masyarakat.

 

"Satu hal lagi, Panusunan..." suara ayahnya bergetar, kali ini dipenuhi rasa sangsi dan ketakutan seorang orang tua.

 

Ayahnya menatap lurus ke dalam sepasang mata tajam Panusunan yang kini mulai berkaca-kaca. "Ada selentingan lain yang mampir ke telinga Ayah. Warga bilang, mereka melihat kalian sering berduaan di pondok sawah. Jawab Ayah sekarang... apakah kalian berdua sudah melakukan hubungan badan yang dilarang itu?"

 

Pertanyaan menohok itu menggema di ruang tengah, menyisakan keheningan yang mencekik. Panusunan terpaku di kursinya, tangannya yang memakai gelang-gelang hitam bergetar hebat, tak mampu langsung mengeluarkan kata-kata di hadapan tatapan penuh tuntutan dari sang ayah. Betapa malu dan marah pada dirinya.

***


Cinta diujung Jalan Bab VI

 

BAB VI: Perjalanan yang Mengintai

Dua minggu setelah malam yang kelam itu, sebuah keputusan mendadak diambil oleh keluarga Panusunan. Sang ayah, yang menginginkan masa depan terbaik untuk putra tunggalnya sudah meminta izin wali kelasnya untuk libur selama seminggu dan meminta Panusunan ke kota terdekat untuk mencari sekolah lanjutan atas yang bermutu. Rencananya, Panusunan akan tinggal di rumah indekos selama seminggu untuk mengurus segala keperluan administrasi. Sang ayah membekalinya dengan uang yang cukup lumayan di dalam dompetnya.

 

Subuh itu, kabut tipis masih menyelimuti terminal kecil Desa Kumayan. Udara dingin menusuk hingga ke tulang. Nantium berdiri di samping Panusunan, menatap bus ekonomi Bunga Raya yang mesinnya sedang dipanaskan. Wajah Nantium tampak pucat, ada kesedihan mendalam yang coba ia sembunyikan rapat-rapat sejak kejadian bersama Paman Amir.

 

"Sun, hati-hati di kota ya," bisik Nantium lirih, merapatkan jaket hijau army yang sengaja Panusunan pakaikan ke tubuhnya agar gadis itu tidak kedinginan.

 

Panusunan menatap kekasihnya, lalu melirik jam Digitec-nya yang menunjukkan pukul 05.00 WIB. Tiba-tiba, sebuah ide melintas di kepalanya. Ia tidak tega meninggalkan Nantium dalam kondisi serapuh ini.

 

"Nanti, ikut gua yuk ke kota? Lo temani gua jalan hari ini, nanti sore lo langsung pulang naik bus ini lagi pas putar balik ke desa. Ongkosnya gua yang tanggung, gua ada uang lebih dari Ayah," ajak Panusunan spontan sambil menggenggam tangan Nantium.

 

Nantium sempat ragu, namun rasa rindunya yang besar serta keinginan untuk menjauh sejenak dari bayang-bayang trauma di desa membuatnya mengangguk. "Iya, Sun. Aku ikut."

 

Intaian di Spion Atas

Bus Bunga Raya mulai bergerak membelah jalanan lintas sumatra yang sepi. Seiring berjalannya waktu dan kilometer yang bertambah, satu per satu penumpang turun di kota-kota kecamatan yang dilewati. Hingga akhirnya, ketika matahari mulai meninggi, bus itu menjadi sangat lengang. Penumpang umum telah habis. Di dalam bus besar itu kini hanya tersisa Panusunan, Nantium, Pak Anwar sang sopir yang sudah paruh baya, serta Borang, kernek bus yang bertubuh tambun.

 

Merasa suasana sudah aman dan sepi, Panusunan menarik tangan Nantium untuk pindah ke bangku paling belakang tempat yang paling tidak terlihat dari kursi kemudi. Di sana, didorong oleh rasa rindu karena akan berpisah seminggu, kedua remaja itu mulai bermesraan.

 

Namun, mereka tidak sadar bahwa sepasang mata tua milik Pak Anwar sedari tadi mengawasi gerak-gerik mereka melalui kaca spion panjang yang menggantung di atas kepalanya. Sorot mata Pak Anwar tampak berubah, dipenuhi oleh rasa penasaran dan pikiran kotor saat melihat adegan sepasang kekasih di bangku belakang itu.

 

Otak licik Pak Anwar mulai bekerja. Saat bus melewati sebuah pinggiran kota yang sepi, ia sengaja membelokkan setir masuk ke sebuah pelataran bengkel tua yang tampak mangkrak dan sunyi.

 

"Borang! Aku mau cek mesin sebentar di bawah, kayaknya ada as yang goyang!" seru Pak Anwar beralasan sambil mematikan mesin bus. Ia kemudian turun membawa kunci pas.

 

Namun, Pak Anwar tidak benar-benar memeriksa mesin. Pria tua itu justru menyelinap ke kolong bus. Di sana, terdapat sebuah lubang kontrol kecil di bawah lantai bus yang biasanya digunakan untuk mengecek transmisi. Melalui lubang sempit itulah, Pak Anwar mengintip dengan napas memburu, menyaksikan seluruh adegan demi adegan mesra yang dilakukan Panusunan dan Nantium di atasnya.

 

Putar Balik Menuju Kumayan

Setelah puas melancarkan aksi bejatnya mengintip, Pak Anwar kembali naik ke kursi kemudi dengan wajah biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa. Bus kembali melaju hingga akhirnya tiba di terminal kota besar tujuan Panusunan.

 

Di area kedatangan, Panusunan turun menggendong tas ranselnya. Ia menggenggam jemari Nantium erat-erat sebelum gadis itu kembali duduk di dalam bus yang bersiap putar balik menuju Desa Kumayan.

 

"Gua cuma seminggu di sini, Nanti. Jaga diri baik-baik ya di desa. Ini uang buat ongkosmu dan buat jajan di jalan," kata Panusunan sambil menyelipkan beberapa lembar uang kertas ke tangan Nantium.

 

Nantium tersenyum getir, mengangguk perlahan. "Iya, Sun. Kamu juga ya."

 

Setelah lambaian perpisahan itu selesai, bus Bunga Raya kembali melaju jalan pulang, menyusuri rute pegunungan yang sama. Kali ini, kondisi bus benar-benar kosong melompong. Hanya ada Nantium seorang diri sebagai penumpang di baris tengah.

 

Di tengah kepungan hutan yang sepi, Pak Anwar tiba-tiba menginjak rem mendadak, menghentikan bus di tepi jalan raya yang lengang. Ia mematikan mesin, lalu berdiri dari kursi kemudi dan berjalan lambat menghampiri bangku Nantium.

 

Wajah Pak Anwar tampak menyeringai tipis. "Nanti... kau tidak usah bayar ongkos ya. Simpan saja uang yang dikasih si Panusunan itu," ucap Pak Anwar dengan nada suara yang dibuat-buat manis sambil menurunkan sedikit kacamatanya, membuat Nantium langsung merasa tidak enak.

 

Nantium tertegun. "Tapi, Pak"

 

"Bahkan, kalau perlu, ini ada uang jajan tambahan untukmu," potong Pak Anwar. Pria tua itu melangkah semakin dekat, lalu dengan lancang menyodorkan beberapa lembar uangnya, mencoba mendekatkan tangan dan uang itu ke arah dada Nantium.

 

Nantium terkejut, sontak memundurkan tubuhnya hingga mentok ke sandaran kursi, wajahnya memerah padam menahan malu dan ketakutan yang luar biasa. Ia menyadari satu hal: Pak Anwar tahu apa yang ia lakukan dengan Panusunan tadi.

 

"Ayo ambil, Nanti. Paman tahu kok apa yang kamu lakukan sama pacarmu di bangku belakang tadi. Paman lihat semua..." bisik Pak Anwar semakin berani.

 

Pembelaan dari Borang

"Heh, Pak Anwar! Sudah, apa-apaan ini?!"

 

Sebuah suara lantang tiba-tiba menginterupsi. Borang, sang kernek yang sedari tadi berada di dekat pintu belakang, langsung melangkah maju dengan cepat. Ia menyela di antara Pak Anwar dan Nantium, menghalangi tubuh pria tua itu dengan badannya yang kekar.

 

"Sudah, ayo kita lanjutkan perjalanan pulang ini! Jangan macam-macam, Pak. Ingat anak istri di rumah!" gertak Borang dengan wajah serius.

 

Pak Anwar yang aksinya dipotong langsung mendengus kesal. Sambil bersungut-sungut, ia menarik kembali uangnya lalu berbalik menuju kursi kemudi, menghidupkan mesin bus dengan kasar karena dongkol.

 

Setelah situasi mereda, Borang berbalik menatap Nantium yang masih gemetar di kursinya dengan air mata yang hampir menetes. Borang menghela napas panjang, lalu duduk di bangku seberang Nantium untuk menjaganya agar Pak Anwar tidak bertingkah lagi.

 

"Nanti... dengarkan abang ya," kata Borang dengan nada bicara yang tulus dan bersahabat. "Jangan mau kau sama pak tua bangka itu. Dia itu cuma mau memanfaatkanmu saja karena kejadian tadi."

 

Borang menepuk pundak kursi di depannya. "Sudah bagus kau pacaran sama si Panusunan itu. Dia itu orangnya baik, bertanggung jawab, dan kelihatan tulus sama kau. Jaga hubungan kalian baik-baik, jangan tergoda sama omongan orang-orang tua bejat di desa."

 

Mendengar nasihat tulus dari Borang, benteng ketakutan di dada Nantium perlahan sedikit mengendur. Di tengah rasa malu yang teramat sangat karena rahasianya ketahuan lagi, ia merasa bersyukur masih ada orang baik seperti Borang yang melindunginya di bus ini.

 

Nantium perlahan menghapus sudut matanya, lalu mengangguk pelan menatap Borang. "Iya, Bang... Terima kasih banyak."

***