Rabu, 10 Juni 2026

Cinta diujung Jalan Bab I



BAB I: Senja di Balik Kaca Jendela

Deru mesin bus antarkota Bunga Raya menderu rendah, membelah jalanan aspal berkelok yang memutari lereng pegunungan. Di luar sana, hari mulai beranjak senja. Semburat warna jingga dan keunguan perlahan tenggelam di balik gumpalan kabut tebal yang mulai turun, membawa hawa dingin yang perlahan menyusup lewat sela-sela kaca jendela bus yang tak rapat sempurna.

 

Di sisi kanan jalan, sebuah sungai berbatu mengalir dengan airnya yang seingga jernih, memantulkan sisa-sisa cahaya langit sore. Riaknya yang deras seolah sedang balapan dengan laju bus yang membawa mereka semakin jauh meninggalkan hiruk-pikuk peradaban modern.

 

Di baris kursi nomor dua belas, Panusunan menyandarkan kepalanya ke kaca yang terasa sedingin es. Di telinganya, sepasang earphone busa berwarna hitam terpasang erat, mengalirkan suara melengking Once lewat lagu "Akulah Arjuna". Sesekali, suara musik itu agak melambat dan bergelombang—tanda bahwa baterai AA di dalam walkman Sony kuning yang ia genggam sudah mulai melemah.

 

Panusunan mengembuskan napas berat, membuat kaca jendela di depannya sedikit berembun. Ia menyeka embun itu dengan ujung jaket hijau army-nya. Menatap pantulan dirinya sendiri di kaca: seorang pemuda dengan rambut hitam yang dibelah tengah rapi—tren yang sedang digilai anak muda zaman itu—alis tebal yang menaungi sepasang mata tajam, serta sejumput jenggot tipis yang baru tumbuh di dagunya.

 

Di tangan kirinya, sebuah jam tangan digital merek Digitec menunjukkan pukul 17.45. Sementara di pergelangan tangan kanannya, melingkar beberapa gelang tali hitam polos—sisa-sisa identitasnya sebagai anak band kota yang terpaksa tercerabut dari akarnya. Lengkap dengan kaos hitam dan celana jins belelnya, Panusunan tampak seperti makhluk asing yang tersesat di jalur lintas sumatra ini.

 

Ia menoleh ke samping kirinya. Kedua orang tuanya duduk dengan gurat wajah yang bertolak belakang dengannya. Ibu dan Ayahnya sedari tadi tak berhenti tersenyum, sesekali menunjuk ke luar jendela, menikmati setiap jengkal pemandangan hijau yang dilewati. Ada binar kebahagiaan yang tulus di mata sang ayah.

 

Perjalanan ini adalah perjalanan pulang yang abadi bagi sang ayah. Setelah puluhan tahun merantau dan mengabdi sebagai guru pegawai negeri di kota, masa pensiun akhirnya tiba. Dan bagi ayahnya, tidak ada tempat terbaik untuk menghabiskan sisa umur selain tanah kelahiran: Desa Kumayan.

 

Namun bagi Panusunan, Desa Kumayan terdengar seperti akhir dari dunianya.

 

Kenapa harus sekarang? Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, seirama dengan putaran pita kaset di dalam walkman-nya.

 

Ia benci kenyataan ini. Ia sudah terlanjur nyaman dengan kehidupan kota yang dinamis. Di sana, di studio musik pengap berperedam telur yang biasa mereka sewa per jam, teman-teman bandnya mungkin sedang berkumpul menyusun daftar lagu untuk festival bulan depan. Dan yang paling menyakitkan, ia harus merelakan hubungannya kandas dengan sang kekasih, gadis yang menangis di terminal bus dua hari lalu saat melepas keberangkatannya. Semua itu harus ditinggalkan demi sebuah desa terpencil yang bahkan sinyal radio pun timbul tenggelam.

 

Bus kembali berguncang keras saat roda besarnya menghantam lubang jalanan gunung. Panusunan memejamkan mata, menekan tombol forward pada walkman-nya secara acak, berharap lagu berikutnya bisa meredam rasa dongkol dan rindu yang mulai menggunung di dadanya, tepat saat bus mulai berbelok memasuki gapura tua bertuliskan: Selamat Datang di Desa Kumayan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar