BAB I: Senja di
Balik Kaca Jendela
Deru mesin bus
antarkota Bunga Raya menderu rendah, membelah jalanan aspal berkelok yang
memutari lereng pegunungan. Di luar sana, hari mulai beranjak senja. Semburat
warna jingga dan keunguan perlahan tenggelam di balik gumpalan kabut tebal yang
mulai turun, membawa hawa dingin yang perlahan menyusup lewat sela-sela kaca
jendela bus yang tak rapat sempurna.
Di sisi kanan
jalan, sebuah sungai berbatu mengalir dengan airnya yang seingga jernih,
memantulkan sisa-sisa cahaya langit sore. Riaknya yang deras seolah sedang
balapan dengan laju bus yang membawa mereka semakin jauh meninggalkan
hiruk-pikuk peradaban modern.
Di baris kursi
nomor dua belas, Panusunan menyandarkan kepalanya ke kaca yang terasa sedingin
es. Di telinganya, sepasang earphone busa berwarna hitam terpasang erat,
mengalirkan suara melengking Once lewat lagu "Akulah Arjuna".
Sesekali, suara musik itu agak melambat dan bergelombang—tanda bahwa baterai AA
di dalam walkman Sony kuning yang ia genggam sudah mulai melemah.
Panusunan
mengembuskan napas berat, membuat kaca jendela di depannya sedikit berembun. Ia
menyeka embun itu dengan ujung jaket hijau army-nya. Menatap pantulan dirinya
sendiri di kaca: seorang pemuda dengan rambut hitam yang dibelah tengah
rapi—tren yang sedang digilai anak muda zaman itu—alis tebal yang menaungi
sepasang mata tajam, serta sejumput jenggot tipis yang baru tumbuh di dagunya.
Di tangan
kirinya, sebuah jam tangan digital merek Digitec menunjukkan pukul 17.45.
Sementara di pergelangan tangan kanannya, melingkar beberapa gelang tali hitam
polos—sisa-sisa identitasnya sebagai anak band kota yang terpaksa tercerabut
dari akarnya. Lengkap dengan kaos hitam dan celana jins belelnya, Panusunan
tampak seperti makhluk asing yang tersesat di jalur lintas sumatra ini.
Ia menoleh ke
samping kirinya. Kedua orang tuanya duduk dengan gurat wajah yang bertolak
belakang dengannya. Ibu dan Ayahnya sedari tadi tak berhenti tersenyum,
sesekali menunjuk ke luar jendela, menikmati setiap jengkal pemandangan hijau
yang dilewati. Ada binar kebahagiaan yang tulus di mata sang ayah.
Perjalanan ini
adalah perjalanan pulang yang abadi bagi sang ayah. Setelah puluhan tahun
merantau dan mengabdi sebagai guru pegawai negeri di kota, masa pensiun
akhirnya tiba. Dan bagi ayahnya, tidak ada tempat terbaik untuk menghabiskan
sisa umur selain tanah kelahiran: Desa Kumayan.
Namun bagi
Panusunan, Desa Kumayan terdengar seperti akhir dari dunianya.
Kenapa harus
sekarang? Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, seirama dengan putaran
pita kaset di dalam walkman-nya.
Ia benci
kenyataan ini. Ia sudah terlanjur nyaman dengan kehidupan kota yang dinamis. Di
sana, di studio musik pengap berperedam telur yang biasa mereka sewa per jam,
teman-teman bandnya mungkin sedang berkumpul menyusun daftar lagu untuk
festival bulan depan. Dan yang paling menyakitkan, ia harus merelakan
hubungannya kandas dengan sang kekasih, gadis yang menangis di terminal bus dua
hari lalu saat melepas keberangkatannya. Semua itu harus ditinggalkan demi
sebuah desa terpencil yang bahkan sinyal radio pun timbul tenggelam.
Bus kembali
berguncang keras saat roda besarnya menghantam lubang jalanan gunung. Panusunan
memejamkan mata, menekan tombol forward pada walkman-nya secara acak, berharap
lagu berikutnya bisa meredam rasa dongkol dan rindu yang mulai menggunung di
dadanya, tepat saat bus mulai berbelok memasuki gapura tua bertuliskan: Selamat
Datang di Desa Kumayan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar