Rabu, 10 Juni 2026

Cinta diujung Jalan Bab VI

 

BAB VI: Perjalanan yang Mengintai

Dua minggu setelah malam yang kelam itu, sebuah keputusan mendadak diambil oleh keluarga Panusunan. Sang ayah, yang menginginkan masa depan terbaik untuk putra tunggalnya, meminta Panusunan kembali ke kota untuk mencari sekolah lanjutan atas yang bermutu. Rencananya, Panusunan akan tinggal di rumah indekos selama seminggu untuk mengurus segala keperluan administrasi. Sang ayah membekalinya dengan uang yang cukup lumayan di dalam dompetnya.

 

Subuh itu, kabut tipis masih menyelimuti terminal kecil Desa Kumayan. Udara dingin menusuk hingga ke tulang. Nantium berdiri di samping Panusunan, menatap bus ekonomi Bunga Raya yang mesinnya sedang dipanaskan. Wajah Nantium tampak pucat, ada kesedihan mendalam yang coba ia sembunyikan rapat-rapat sejak kejadian bersama Paman Amir.

 

"Sun, hati-hati di kota ya," bisik Nantium lirih, merapatkan jaket hijau army yang sengaja Panusunan pakaikan ke tubuhnya agar gadis itu tidak kedinginan.

 

Panusunan menatap kekasihnya, lalu melirik jam Digitec-nya yang menunjukkan pukul 05.00 WIB. Tiba-tiba, sebuah ide melintas di kepalanya. Ia tidak tega meninggalkan Nantium dalam kondisi serapuh ini.

 

"Nanti, ikut gua yuk ke kota? Lo temani gua jalan hari ini, nanti sore lo langsung pulang naik bus ini lagi pas putar balik ke desa. Ongkosnya gua yang tanggung, gua ada uang lebih dari Ayah," ajak Panusunan spontan sambil menggenggam tangan Nantium.

 

Nantium sempat ragu, namun rasa rindunya yang besar serta keinginan untuk menjauh sejenak dari bayang-bayang trauma di desa membuatnya mengangguk. "Iya, Sun. Aku ikut."

 

Intaian di Spion Atas

Bus Bunga Raya mulai bergerak membelah jalanan lintas sumatra yang sepi. Seiring berjalannya waktu dan kilometer yang bertambah, satu per satu penumpang turun di kota-kota kecamatan yang dilewati. Hingga akhirnya, ketika matahari mulai meninggi, bus itu menjadi sangat lengang. Penumpang umum telah habis. Di dalam bus besar itu kini hanya tersisa Panusunan, Nantium, Pak Anwar sang sopir yang sudah paruh baya, serta Borang, kernek bus yang bertubuh tambun.

 

Merasa suasana sudah aman dan sepi, Panusunan menarik tangan Nantium untuk pindah ke bangku paling belakang—tempat yang paling tidak terlihat dari kursi kemudi. Di sana, didorong oleh rasa rindu karena akan berpisah seminggu, kedua remaja itu mulai bermesraan.

 

Namun, mereka tidak sadar bahwa sepasang mata tua milik Pak Anwar sedari tadi mengawasi gerak-gerik mereka melalui kaca spion panjang yang menggantung di atas kepalanya. Sorot mata Pak Anwar tampak berubah, dipenuhi oleh rasa penasaran dan pikiran kotor saat melihat adegan sepasang kekasih di bangku belakang itu.

 

Otak licik Pak Anwar mulai bekerja. Saat bus melewati sebuah pinggiran kota yang sepi, ia sengaja membelokkan setir masuk ke sebuah pelataran bengkel tua yang tampak mangkrak dan sunyi.

 

"Borang! Aku mau cek mesin sebentar di bawah, kayaknya ada as yang goyang!" seru Pak Anwar beralasan sambil mematikan mesin bus. Ia kemudian turun membawa kunci pas.

 

Namun, Pak Anwar tidak benar-benar memeriksa mesin. Pria tua itu justru menyelinap ke kolong bus. Di sana, terdapat sebuah lubang kontrol kecil di bawah lantai bus yang biasanya digunakan untuk mengecek transmisi. Melalui lubang sempit itulah, Pak Anwar mengintip dengan napas memburu, menyaksikan seluruh adegan demi adegan mesra yang dilakukan Panusunan dan Nantium di atasnya.

 

Putar Balik Menuju Kumayan

Setelah puas melancarkan aksi bejatnya mengintip, Pak Anwar kembali naik ke kursi kemudi dengan wajah biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa. Bus kembali melaju hingga akhirnya tiba di terminal kota besar tujuan Panusunan.

 

Di area kedatangan, Panusunan turun menggendong tas ranselnya. Ia menggenggam jemari Nantium erat-erat sebelum gadis itu kembali duduk di dalam bus yang bersiap putar balik menuju Desa Kumayan.

 

"Gua cuma seminggu di sini, Nanti. Jaga diri baik-baik ya di desa. Ini uang buat ongkosmu dan buat jajan di jalan," kata Panusunan sambil menyelipkan beberapa lembar uang kertas ke tangan Nantium.

 

Nantium tersenyum getir, mengangguk perlahan. "Iya, Sun. Kamu juga ya."

 

Setelah lambaian perpisahan itu selesai, bus Bunga Raya kembali melaju jalan pulang, menyusuri rute pegunungan yang sama. Kali ini, kondisi bus benar-benar kosong melompong. Hanya ada Nantium seorang diri sebagai penumpang di baris tengah.

 

Di tengah kepungan hutan yang sepi, Pak Anwar tiba-tiba menginjak rem mendadak, menghentikan bus di tepi jalan raya yang lengang. Ia mematikan mesin, lalu berdiri dari kursi kemudi dan berjalan lambat menghampiri bangku Nantium.

 

Wajah Pak Anwar tampak menyeringai tipis. "Nanti... kau tidak usah bayar ongkos ya. Simpan saja uang yang dikasih si Panusunan itu," ucap Pak Anwar dengan nada suara yang dibuat-buat manis, membuat Nantium langsung merasa tidak enak.

 

Nantium tertegun. "Tapi, Pak—"

 

"Bahkan, kalau perlu, ini ada uang jajan tambahan untukmu," potong Pak Anwar. Pria tua itu melangkah semakin dekat, lalu dengan lancang menyodorkan beberapa lembar uangnya, mencoba mendekatkan tangan dan uang itu ke arah dada Nantium.

 

Nantium sontak memundurkan tubuhnya hingga mentok ke sandaran kursi, wajahnya memerah padam menahan malu dan ketakutan yang luar biasa. Ia menyadari satu hal: Pak Anwar tahu apa yang ia lakukan dengan Panusunan tadi.

 

"Ayo ambil, Nanti. Paman tahu kok apa yang kamu lakukan sama pacarmu di bangku belakang tadi. Paman lihat semua..." bisik Pak Anwar semakin berani.

 

Pembelaan dari Borang

"Heh, Pak Anwar! Sudah, apa-apaan ini?!"

 

Sebuah suara lantang tiba-tiba menginterupsi. Borang, sang kernek yang sedari tadi berada di dekat pintu belakang, langsung melangkah maju dengan cepat. Ia menyela di antara Pak Anwar dan Nantium, menghalangi tubuh pria tua itu dengan badannya yang kekar.

 

"Sudah, ayo kita lanjutkan perjalanan pulang ini! Jangan macam-macam, Pak. Ingat anak istri di rumah!" gertak Borang dengan wajah serius.

 

Pak Anwar yang aksinya dipotong langsung mendengus kesal. Sambil bersungut-sungut, ia menarik kembali uangnya lalu berbalik menuju kursi kemudi, menghidupkan mesin bus dengan kasar karena dongkol.

 

Setelah situasi mereda, Borang berbalik menatap Nantium yang masih gemetar di kursinya dengan air mata yang hampir menetes. Borang menghela napas panjang, lalu duduk di bangku seberang Nantium untuk menjaganya agar Pak Anwar tidak bertingkah lagi.

 

"Nanti... dengarkan abang ya," kata Borang dengan nada bicara yang tulus dan bersahabat. "Jangan mau kau sama pak tua bangka itu. Dia itu cuma mau memanfaatkanmu saja karena kejadian tadi."

 

Borang menepuk pundak kursi di depannya. "Sudah bagus kau pacaran sama si Panusunan itu. Dia itu orangnya baik, bertanggung jawab, dan kelihatan tulus sama kau. Jaga hubungan kalian baik-baik, jangan tergoda sama omongan orang-orang tua bejat di desa."

 

Mendengar nasihat tulus dari Borang, benteng ketakutan di dada Nantium perlahan sedikit mengendur. Di tengah rasa malu yang teramat sangat karena rahasianya ketahuan lagi, ia merasa bersyukur masih ada orang baik seperti Borang yang melindunginya di bus ini.

 

Nantium perlahan menghapus sudut matanya, lalu mengangguk pelan menatap Borang. "Iya, Bang... Terima kasih banyak."

***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar