BAB VI: Perjalanan yang Mengintai
Dua minggu
setelah malam yang kelam itu, sebuah keputusan mendadak diambil oleh keluarga
Panusunan. Sang ayah, yang menginginkan masa depan terbaik untuk putra
tunggalnya, meminta Panusunan kembali ke kota untuk mencari sekolah lanjutan
atas yang bermutu. Rencananya, Panusunan akan tinggal di rumah indekos selama
seminggu untuk mengurus segala keperluan administrasi. Sang ayah membekalinya
dengan uang yang cukup lumayan di dalam dompetnya.
Subuh itu, kabut
tipis masih menyelimuti terminal kecil Desa Kumayan. Udara dingin menusuk
hingga ke tulang. Nantium berdiri di samping Panusunan, menatap bus ekonomi
Bunga Raya yang mesinnya sedang dipanaskan. Wajah Nantium tampak pucat, ada
kesedihan mendalam yang coba ia sembunyikan rapat-rapat sejak kejadian bersama
Paman Amir.
"Sun,
hati-hati di kota ya," bisik Nantium lirih, merapatkan jaket hijau army
yang sengaja Panusunan pakaikan ke tubuhnya agar gadis itu tidak kedinginan.
Panusunan
menatap kekasihnya, lalu melirik jam Digitec-nya yang menunjukkan pukul 05.00
WIB. Tiba-tiba, sebuah ide melintas di kepalanya. Ia tidak tega meninggalkan
Nantium dalam kondisi serapuh ini.
"Nanti,
ikut gua yuk ke kota? Lo temani gua jalan hari ini, nanti sore lo langsung
pulang naik bus ini lagi pas putar balik ke desa. Ongkosnya gua yang tanggung,
gua ada uang lebih dari Ayah," ajak Panusunan spontan sambil menggenggam
tangan Nantium.
Nantium sempat
ragu, namun rasa rindunya yang besar serta keinginan untuk menjauh sejenak dari
bayang-bayang trauma di desa membuatnya mengangguk. "Iya, Sun. Aku
ikut."
Intaian di Spion Atas
Bus Bunga Raya
mulai bergerak membelah jalanan lintas sumatra yang sepi. Seiring berjalannya
waktu dan kilometer yang bertambah, satu per satu penumpang turun di kota-kota
kecamatan yang dilewati. Hingga akhirnya, ketika matahari mulai meninggi, bus
itu menjadi sangat lengang. Penumpang umum telah habis. Di dalam bus besar itu
kini hanya tersisa Panusunan, Nantium, Pak Anwar sang sopir yang sudah paruh
baya, serta Borang, kernek bus yang bertubuh tambun.
Merasa suasana
sudah aman dan sepi, Panusunan menarik tangan Nantium untuk pindah ke bangku
paling belakang—tempat yang paling tidak terlihat dari kursi kemudi. Di sana,
didorong oleh rasa rindu karena akan berpisah seminggu, kedua remaja itu mulai
bermesraan.
Namun, mereka
tidak sadar bahwa sepasang mata tua milik Pak Anwar sedari tadi mengawasi
gerak-gerik mereka melalui kaca spion panjang yang menggantung di atas
kepalanya. Sorot mata Pak Anwar tampak berubah, dipenuhi oleh rasa penasaran
dan pikiran kotor saat melihat adegan sepasang kekasih di bangku belakang itu.
Otak licik Pak
Anwar mulai bekerja. Saat bus melewati sebuah pinggiran kota yang sepi, ia
sengaja membelokkan setir masuk ke sebuah pelataran bengkel tua yang tampak
mangkrak dan sunyi.
"Borang!
Aku mau cek mesin sebentar di bawah, kayaknya ada as yang goyang!" seru
Pak Anwar beralasan sambil mematikan mesin bus. Ia kemudian turun membawa kunci
pas.
Namun, Pak Anwar
tidak benar-benar memeriksa mesin. Pria tua itu justru menyelinap ke kolong
bus. Di sana, terdapat sebuah lubang kontrol kecil di bawah lantai bus yang
biasanya digunakan untuk mengecek transmisi. Melalui lubang sempit itulah, Pak
Anwar mengintip dengan napas memburu, menyaksikan seluruh adegan demi adegan
mesra yang dilakukan Panusunan dan Nantium di atasnya.
Putar Balik Menuju Kumayan
Setelah puas
melancarkan aksi bejatnya mengintip, Pak Anwar kembali naik ke kursi kemudi
dengan wajah biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa. Bus kembali melaju
hingga akhirnya tiba di terminal kota besar tujuan Panusunan.
Di area
kedatangan, Panusunan turun menggendong tas ranselnya. Ia menggenggam jemari
Nantium erat-erat sebelum gadis itu kembali duduk di dalam bus yang bersiap
putar balik menuju Desa Kumayan.
"Gua cuma
seminggu di sini, Nanti. Jaga diri baik-baik ya di desa. Ini uang buat ongkosmu
dan buat jajan di jalan," kata Panusunan sambil menyelipkan beberapa
lembar uang kertas ke tangan Nantium.
Nantium
tersenyum getir, mengangguk perlahan. "Iya, Sun. Kamu juga ya."
Setelah lambaian
perpisahan itu selesai, bus Bunga Raya kembali melaju jalan pulang, menyusuri
rute pegunungan yang sama. Kali ini, kondisi bus benar-benar kosong melompong.
Hanya ada Nantium seorang diri sebagai penumpang di baris tengah.
Di tengah
kepungan hutan yang sepi, Pak Anwar tiba-tiba menginjak rem mendadak,
menghentikan bus di tepi jalan raya yang lengang. Ia mematikan mesin, lalu
berdiri dari kursi kemudi dan berjalan lambat menghampiri bangku Nantium.
Wajah Pak Anwar
tampak menyeringai tipis. "Nanti... kau tidak usah bayar ongkos ya. Simpan
saja uang yang dikasih si Panusunan itu," ucap Pak Anwar dengan nada suara
yang dibuat-buat manis, membuat Nantium langsung merasa tidak enak.
Nantium
tertegun. "Tapi, Pak—"
"Bahkan,
kalau perlu, ini ada uang jajan tambahan untukmu," potong Pak Anwar. Pria
tua itu melangkah semakin dekat, lalu dengan lancang menyodorkan beberapa
lembar uangnya, mencoba mendekatkan tangan dan uang itu ke arah dada Nantium.
Nantium sontak
memundurkan tubuhnya hingga mentok ke sandaran kursi, wajahnya memerah padam
menahan malu dan ketakutan yang luar biasa. Ia menyadari satu hal: Pak Anwar
tahu apa yang ia lakukan dengan Panusunan tadi.
"Ayo ambil,
Nanti. Paman tahu kok apa yang kamu lakukan sama pacarmu di bangku belakang
tadi. Paman lihat semua..." bisik Pak Anwar semakin berani.
Pembelaan dari Borang
"Heh, Pak
Anwar! Sudah, apa-apaan ini?!"
Sebuah suara
lantang tiba-tiba menginterupsi. Borang, sang kernek yang sedari tadi berada di
dekat pintu belakang, langsung melangkah maju dengan cepat. Ia menyela di
antara Pak Anwar dan Nantium, menghalangi tubuh pria tua itu dengan badannya
yang kekar.
"Sudah, ayo
kita lanjutkan perjalanan pulang ini! Jangan macam-macam, Pak. Ingat anak istri
di rumah!" gertak Borang dengan wajah serius.
Pak Anwar yang
aksinya dipotong langsung mendengus kesal. Sambil bersungut-sungut, ia menarik
kembali uangnya lalu berbalik menuju kursi kemudi, menghidupkan mesin bus
dengan kasar karena dongkol.
Setelah situasi
mereda, Borang berbalik menatap Nantium yang masih gemetar di kursinya dengan
air mata yang hampir menetes. Borang menghela napas panjang, lalu duduk di
bangku seberang Nantium untuk menjaganya agar Pak Anwar tidak bertingkah lagi.
"Nanti...
dengarkan abang ya," kata Borang dengan nada bicara yang tulus dan
bersahabat. "Jangan mau kau sama pak tua bangka itu. Dia itu cuma mau
memanfaatkanmu saja karena kejadian tadi."
Borang menepuk
pundak kursi di depannya. "Sudah bagus kau pacaran sama si Panusunan itu.
Dia itu orangnya baik, bertanggung jawab, dan kelihatan tulus sama kau. Jaga
hubungan kalian baik-baik, jangan tergoda sama omongan orang-orang tua bejat di
desa."
Mendengar
nasihat tulus dari Borang, benteng ketakutan di dada Nantium perlahan sedikit
mengendur. Di tengah rasa malu yang teramat sangat karena rahasianya ketahuan
lagi, ia merasa bersyukur masih ada orang baik seperti Borang yang
melindunginya di bus ini.
Nantium perlahan
menghapus sudut matanya, lalu mengangguk pelan menatap Borang. "Iya,
Bang... Terima kasih banyak."
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar