BAB II: Riak di Sela Lorong Kelas
Hawa dingin Desa
Kumayan di pagi hari rupanya masih enggan beranjak, meski matahari bersemburat
kuning keemasan sudah mulai meninggi. Panusunan berdiri di depan cermin lemari
pakaiannya yang terbuat dari kayu jati tua. Ia merapikan seragam putih-biru barunya,
mencoba membiasakan diri dengan pantulan sosoknya yang kini harus menjadi anak
sekolahan di desa. Rambut belah tengahnya disisir rapi, kontras dengan alis
tebal dan mata tajamnya yang pagi itu tampak kurang tidur. Jam *Digitec* di
tangan kirinya menunjukkan pukul 07.00 WIB ketika ia melangkah keluar rumah
menuju SMP Negeri Kumayan.
Sebagai murid
pindahan dari kota besar di tahun pelajaran baru ini, kehadiran Panusunan jelas
mencuri perhatian. Langkah kakinya yang dibalut sepatu kets hitam—satu-satunya
barang yang tersisa dari gaya anak *band*-nya—terdengar ritmis menyusuri lantai
semen selasar sekolah.
Saat wali kelas
mempersilakannya maju ke depan kelas untuk memperkenalkan diri, puluhan pasang
mata langsung tertuju padanya.
"Nama saya
Panusunan. Pindahan dari kota," ujarnya singkat, padat, dengan nada suara
yang agak berat.
Awalnya,
Panusunan mengira hari-harinya akan terasa garing dan penuh kecanggangan.
Namun, ramahnya anak-anak desa mematahkan dugaannya. Saat jam pelajaran pertama
dimulai, beberapa anak laki-laki di barisan belakang mulai melempar candaan dan
mengajaknya mengobrol. Jiwa supel yang biasa ia asah bersama teman-teman
*band*-nya di kota rupanya membuat Panusunan mudah beradaptasi. Setidaknya,
tawa renyah kawan-kawan barunya ini berhasil menyita pikirannya, membuatnya
lupa sejenak pada studio musik, teman-teman lama, dan patah hatinya di kota.
---
### Jam
Istirahat: Pukul 10.00 WIB
Bel berkarat
yang digantung di dekat kantor guru dipukul bertalu-talu menggunakan besi,
menandakan waktu istirahat pertama telah tiba.
"Sun, ke
kantin yuk! Di belakang ada gorengan Mak Purna yang paling juara. Kalau telat,
bisa kehabisan kita," ajak seorang anak berambut keriting dengan senyum
lebar. Namanya Mardian, anak asli Kumayan yang sejak jam pertama tadi langsung
akrab dan menjadi teman sebangkunya.
"Boleh,
yuk. Perut gua juga udah dangdutan dari tadi," sahut Panusunan,
menyelipkan logat kotanya yang belum hilang.
Mereka berdua
berjalan beriringan menyusuri koridor sekolah yang semi-terbuka. Udara
pegunungan yang sejuk berembus, menggoyahkan daun-daun pohon mahoni di halaman
tengah. Sepanjang jalan, Mardian dengan antusias menceritakan seluk-beluk
sekolah, mulai dari guru yang paling galak sampai mitos hantu di kamar mandi
belakang. Panusunan mendengarkan sambil sesekali mengangguk.
Namun, langkah
kaki Panusunan melambat saat mereka melewati deretan ruang kelas dua.
Melalui celah
jendela nako yang terbuka, mata tajam Panusunan menangkap sebuah pemandangan
yang ganjil. Di saat seluruh murid berhamburan ke lapangan atau kantin untuk
melepas penat, ada satu ruang kelas yang hampir kosong melompong. Hanya ada
satu orang di dalam sana.
Seorang gadis.
Gadis itu duduk
sendirian di bangku baris tengah. Rambutnya dikuncir kuda sederhana, wajahnya
tertunduk menatap permukaan meja kayu yang penuh coretan tipe-eks. Tangannya
tampak memainkan ujung pulpen. Suasana di sekitar gadis itu terasa begitu sunyi
dan terisolasi dari keriuhan hari pertama sekolah.
Panusunan
menghentikan langkahnya total. Ia memperhatikan dengan seksama. *Kenapa wanita
ini tidak keluar kelas? Apa dia sakit? Atau... dia nggak punya teman?* berbagai
spekulasi langsung berputar di kepala Panusunan. Rasa penasarannya terusik.
Merasakan ada
seseorang yang berdiri di luar jendela, gadis itu perlahan mengangkat wajahnya.
*Deg.*
Mata mereka
beradu pandang melalui celah jendela. Gadis itu memiliki sepasang mata yang
bening namun menyiratkan kedalaman yang sulit diartikan—ada semacam luka dan
benteng pertahanan yang kokoh di sana. Untuk beberapa detik yang terasa lama,
mereka hanya saling diam, terkunci dalam tatapan masing-masing.
Gadis yang
belakangan akan diketahui bernama Nantium itu tampaknya merasa tidak nyaman,
atau mungkin terintimidasi oleh tatapan mata tajam Panusunan serta alis
tebalnya yang sekilas memang membuat wajah cowok itu tampak galak dan
mengintimidasi.
Wajah Nantium
mendadak berubah tegang. Sorot matanya yang semula tenang langsung berganti
menjadi kilatan defensif yang tajam.
"Apa
lihat-lihat?! Pergi sana!" bentak Nantium tiba-tiba dengan suara yang
lantang dan ketus, memecah kesunyian ruang kelas tersebut.
Panusunan
tersentak mundur satu langkah, agak terkejut mendapat sambutan sekeras itu di
hari pertamanya. Sementara Mardian yang menyadari kepandiran temannya langsung
menarik lengan jaket Panusunan.
"Eh, Sun!
Ayo cepat, jangan cari masalah sama dia," bisik Mardian setengah menyeret
Panusunan menjauh dari jendela kelas dua tersebut, meninggalkan Nantium yang
masih menatap mereka dengan napas memburu dari balik meja kayunya.
"Heh,
Panusunan! Kamu kenapa malah bengong di depan kelas Mak Lampir itu?"
Suara melengking
tinggi khas remaja perempuan tiba-tiba membuyarkan keterkejutan Panusunan. Dari
arah belakang, seorang gadis dengan seragam yang tampak sangat rapi dan wangi
parfum menyengat berjalan cepat menghampiri mereka. Namanya Triani, teman sekelas
Panusunan yang sejak jam pertama tadi tak henti-hentinya mencuri pandang ke
arah meja Panusunan. Triani, dengan bando merah menyala di rambutnya, rupanya
sudah menaruh hati pada pandangan pertama kepada si anak baru dari kota itu.
Namun, senyum
manis yang awalnya dipersiapkan Triani langsung luntur saat ia menyadari bahwa
Panusunan baru saja saling beradu pandang—bahkan dibentak—oleh gadis di dalam
kelas dua tersebut.
Wajah Triani
mendadak berlipat gundah, berganti menjadi kilatan emosi. Baginya, martabat
cowok keren yang baru ditaksirnya tidak boleh diinjak-injak, apalagi oleh
seorang Nantium.
"Kurang
ajar banget ya itu anak. Anak baru nggak tahu apa-apa malah dibentak!"
gerutu Triani berapi-api.
Sebelum
Panusunan atau Mardian sempat mencegah, Triani dengan langkah menghentak-hentak
langsung berbelok, melangkah mantap memasuki pintu kelas dua yang terbuka
lebar. Tujuannya hanya satu: meja Nantium.
Melabrak di
Sudut Kelas
Brak!
Triani
menggebrak meja kosong di sebelah Nantium, membuat gadis kuncir kuda itu
tersentak kaget.
"Maksudmu
apa bentak-bentak Panusunan tadi, hah?!" labrak Triani tanpa basa-basi.
Suaranya yang melengking menggema di ruangan yang sepi itu. "Dia itu anak
baru, nggak ada salah sama kamu! Dasar aneh, pantesan nggak punya teman.
Kerjaanmu cuma bisa nyari musuh aja ya!"
Panusunan dan
Mardian yang panik segera menyusul masuk ke dalam kelas. Panusunan berdiri agak
di belakang Triani, merasa tidak enak karena kehadirannyalah yang memicu
keributan ini.
Nantium perlahan
berdiri dari bangkunya. Alih-alih ketakutan karena dilabrak oleh kakak
kelas—mengingat Triani duduk di kelas tiga—sorot mata Nantium justru semakin
menajam. Dagunya terangkat menantang, memperlihatkan keteguhan yang luar biasa
meskipun dikeroyok secara mental.
"Bukan
urusanmu," sahut Nantium dingin, suaranya datar namun menusuk. "Tanya
saja sama teman barumu yang matanya nggak bisa dijaga itu. Mau dia anak kota
atau anak presiden sekalipun, kalau tidak sopan mengintip kelas orang, layak
dipelototi!"
"Kamu—!"
Triani menunjuk wajah Nantium dengan telunjuk yang gemetar karena emosi.
"Heh, Nantium! Jaga mulutmu ya! Kamu itu cuma anak—"
"Tri, udah,
Tri! Cukup!"
Panusunan
akhirnya melangkah maju, memotong kalimat Triani sebelum situasi menjadi
semakin runyam. Ia berdiri di antara kedua gadis itu, telapak tangan
kirinya—yang dilingkari jam Digitec—terangkat ke udara, memberi isyarat agar
Triani mundur.
Panusunan lalu
menatap langsung ke arah Nantium. Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat gurat
kelelahan sekaligus kekerasan kepala yang terpahat di wajah gadis itu.
"Gua yang
salah," kata Panusunan dengan logat kota yang tegas, menatap Nantium
lekat-lekat. "Gua yang lancang ngelihatin lo tadi. Jadi, nggak usah
bawa-bawa orang lain. Tri, ayo keluar. Enggak enak dilihat guru."
Nantium hanya
mendengus sinis, mengalihkan pandangannya ke luar jendela seolah-olah kehadiran
mereka bertiga di kelasnya hanyalah sekumpulan lalat yang mengganggu.
Triani yang
merasa pembelaannya tidak dihargai, menghentakkan kakinya kesal. "Kamu kok
malah belain dia sih, Sun?! Ih, tau ah!" Dengan perasaan dongkol dan
cemburu yang membakar dada, Triani berbalik dan berlari keluar kelas,
meninggalkan selasar dengan kekesalan mendalam.
"Aduh,
Sun... repot ini urusannya," bisik Mardian sambil menepuk jidatnya,
memberi kode pada Panusunan agar mereka juga segera angkat kaki sebelum gosip
ini menyebar ke seantero sekolah.
Panusunan
memberikan satu tatapan terakhir pada Nantium yang kembali terdiam di
bangkunya, lalu berbalik pergi. Hari pertamanya di sekolah desa yang ia kira
akan membosankan, rupanya justru dimulai dengan sebuah riak permusuhan yang tak
terduga.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar