Rabu, 10 Juni 2026

Cinta diujung Jalan Bab II

 


BAB II: Riak di Sela Lorong Kelas

Hawa dingin Desa Kumayan di pagi hari rupanya masih enggan beranjak, meski matahari bersemburat kuning keemasan sudah mulai meninggi. Panusunan berdiri di depan cermin lemari pakaiannya yang terbuat dari kayu jati tua. Ia merapikan seragam putih-biru barunya, mencoba membiasakan diri dengan pantulan sosoknya yang kini harus menjadi anak sekolahan di desa. Rambut belah tengahnya disisir rapi, kontras dengan alis tebal dan mata tajamnya yang pagi itu tampak kurang tidur. Jam *Digitec* di tangan kirinya menunjukkan pukul 07.00 WIB ketika ia melangkah keluar rumah menuju SMP Negeri Kumayan.

 

Sebagai murid pindahan dari kota besar di tahun pelajaran baru ini, kehadiran Panusunan jelas mencuri perhatian. Langkah kakinya yang dibalut sepatu kets hitam—satu-satunya barang yang tersisa dari gaya anak *band*-nya—terdengar ritmis menyusuri lantai semen selasar sekolah.

 

Saat wali kelas mempersilakannya maju ke depan kelas untuk memperkenalkan diri, puluhan pasang mata langsung tertuju padanya.

 

"Nama saya Panusunan. Pindahan dari kota," ujarnya singkat, padat, dengan nada suara yang agak berat.

 

Awalnya, Panusunan mengira hari-harinya akan terasa garing dan penuh kecanggangan. Namun, ramahnya anak-anak desa mematahkan dugaannya. Saat jam pelajaran pertama dimulai, beberapa anak laki-laki di barisan belakang mulai melempar candaan dan mengajaknya mengobrol. Jiwa supel yang biasa ia asah bersama teman-teman *band*-nya di kota rupanya membuat Panusunan mudah beradaptasi. Setidaknya, tawa renyah kawan-kawan barunya ini berhasil menyita pikirannya, membuatnya lupa sejenak pada studio musik, teman-teman lama, dan patah hatinya di kota.

 

---

 

### Jam Istirahat: Pukul 10.00 WIB

 

Bel berkarat yang digantung di dekat kantor guru dipukul bertalu-talu menggunakan besi, menandakan waktu istirahat pertama telah tiba.

 

"Sun, ke kantin yuk! Di belakang ada gorengan Mak Purna yang paling juara. Kalau telat, bisa kehabisan kita," ajak seorang anak berambut keriting dengan senyum lebar. Namanya Mardian, anak asli Kumayan yang sejak jam pertama tadi langsung akrab dan menjadi teman sebangkunya.

 

"Boleh, yuk. Perut gua juga udah dangdutan dari tadi," sahut Panusunan, menyelipkan logat kotanya yang belum hilang.

 

Mereka berdua berjalan beriringan menyusuri koridor sekolah yang semi-terbuka. Udara pegunungan yang sejuk berembus, menggoyahkan daun-daun pohon mahoni di halaman tengah. Sepanjang jalan, Mardian dengan antusias menceritakan seluk-beluk sekolah, mulai dari guru yang paling galak sampai mitos hantu di kamar mandi belakang. Panusunan mendengarkan sambil sesekali mengangguk.

 

Namun, langkah kaki Panusunan melambat saat mereka melewati deretan ruang kelas dua.

 

Melalui celah jendela nako yang terbuka, mata tajam Panusunan menangkap sebuah pemandangan yang ganjil. Di saat seluruh murid berhamburan ke lapangan atau kantin untuk melepas penat, ada satu ruang kelas yang hampir kosong melompong. Hanya ada satu orang di dalam sana.

 

Seorang gadis.

 

Gadis itu duduk sendirian di bangku baris tengah. Rambutnya dikuncir kuda sederhana, wajahnya tertunduk menatap permukaan meja kayu yang penuh coretan tipe-eks. Tangannya tampak memainkan ujung pulpen. Suasana di sekitar gadis itu terasa begitu sunyi dan terisolasi dari keriuhan hari pertama sekolah.

 

Panusunan menghentikan langkahnya total. Ia memperhatikan dengan seksama. *Kenapa wanita ini tidak keluar kelas? Apa dia sakit? Atau... dia nggak punya teman?* berbagai spekulasi langsung berputar di kepala Panusunan. Rasa penasarannya terusik.

 

Merasakan ada seseorang yang berdiri di luar jendela, gadis itu perlahan mengangkat wajahnya.

 

*Deg.*

 

Mata mereka beradu pandang melalui celah jendela. Gadis itu memiliki sepasang mata yang bening namun menyiratkan kedalaman yang sulit diartikan—ada semacam luka dan benteng pertahanan yang kokoh di sana. Untuk beberapa detik yang terasa lama, mereka hanya saling diam, terkunci dalam tatapan masing-masing.

 

Gadis yang belakangan akan diketahui bernama Nantium itu tampaknya merasa tidak nyaman, atau mungkin terintimidasi oleh tatapan mata tajam Panusunan serta alis tebalnya yang sekilas memang membuat wajah cowok itu tampak galak dan mengintimidasi.

 

Wajah Nantium mendadak berubah tegang. Sorot matanya yang semula tenang langsung berganti menjadi kilatan defensif yang tajam.

 

"Apa lihat-lihat?! Pergi sana!" bentak Nantium tiba-tiba dengan suara yang lantang dan ketus, memecah kesunyian ruang kelas tersebut.

 

Panusunan tersentak mundur satu langkah, agak terkejut mendapat sambutan sekeras itu di hari pertamanya. Sementara Mardian yang menyadari kepandiran temannya langsung menarik lengan jaket Panusunan.

 

"Eh, Sun! Ayo cepat, jangan cari masalah sama dia," bisik Mardian setengah menyeret Panusunan menjauh dari jendela kelas dua tersebut, meninggalkan Nantium yang masih menatap mereka dengan napas memburu dari balik meja kayunya.

"Heh, Panusunan! Kamu kenapa malah bengong di depan kelas Mak Lampir itu?"

 

Suara melengking tinggi khas remaja perempuan tiba-tiba membuyarkan keterkejutan Panusunan. Dari arah belakang, seorang gadis dengan seragam yang tampak sangat rapi dan wangi parfum menyengat berjalan cepat menghampiri mereka. Namanya Triani, teman sekelas Panusunan yang sejak jam pertama tadi tak henti-hentinya mencuri pandang ke arah meja Panusunan. Triani, dengan bando merah menyala di rambutnya, rupanya sudah menaruh hati pada pandangan pertama kepada si anak baru dari kota itu.

 

Namun, senyum manis yang awalnya dipersiapkan Triani langsung luntur saat ia menyadari bahwa Panusunan baru saja saling beradu pandang—bahkan dibentak—oleh gadis di dalam kelas dua tersebut.

 

Wajah Triani mendadak berlipat gundah, berganti menjadi kilatan emosi. Baginya, martabat cowok keren yang baru ditaksirnya tidak boleh diinjak-injak, apalagi oleh seorang Nantium.

 

"Kurang ajar banget ya itu anak. Anak baru nggak tahu apa-apa malah dibentak!" gerutu Triani berapi-api.

 

Sebelum Panusunan atau Mardian sempat mencegah, Triani dengan langkah menghentak-hentak langsung berbelok, melangkah mantap memasuki pintu kelas dua yang terbuka lebar. Tujuannya hanya satu: meja Nantium.

 

 

Melabrak di Sudut Kelas

Brak!

Triani menggebrak meja kosong di sebelah Nantium, membuat gadis kuncir kuda itu tersentak kaget.

"Maksudmu apa bentak-bentak Panusunan tadi, hah?!" labrak Triani tanpa basa-basi. Suaranya yang melengking menggema di ruangan yang sepi itu. "Dia itu anak baru, nggak ada salah sama kamu! Dasar aneh, pantesan nggak punya teman. Kerjaanmu cuma bisa nyari musuh aja ya!"

Panusunan dan Mardian yang panik segera menyusul masuk ke dalam kelas. Panusunan berdiri agak di belakang Triani, merasa tidak enak karena kehadirannyalah yang memicu keributan ini.

 

Nantium perlahan berdiri dari bangkunya. Alih-alih ketakutan karena dilabrak oleh kakak kelas—mengingat Triani duduk di kelas tiga—sorot mata Nantium justru semakin menajam. Dagunya terangkat menantang, memperlihatkan keteguhan yang luar biasa meskipun dikeroyok secara mental.

 

"Bukan urusanmu," sahut Nantium dingin, suaranya datar namun menusuk. "Tanya saja sama teman barumu yang matanya nggak bisa dijaga itu. Mau dia anak kota atau anak presiden sekalipun, kalau tidak sopan mengintip kelas orang, layak dipelototi!"

 

"Kamu—!" Triani menunjuk wajah Nantium dengan telunjuk yang gemetar karena emosi. "Heh, Nantium! Jaga mulutmu ya! Kamu itu cuma anak—"

 

"Tri, udah, Tri! Cukup!"

 

Panusunan akhirnya melangkah maju, memotong kalimat Triani sebelum situasi menjadi semakin runyam. Ia berdiri di antara kedua gadis itu, telapak tangan kirinya—yang dilingkari jam Digitec—terangkat ke udara, memberi isyarat agar Triani mundur.

 

Panusunan lalu menatap langsung ke arah Nantium. Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat gurat kelelahan sekaligus kekerasan kepala yang terpahat di wajah gadis itu.

 

"Gua yang salah," kata Panusunan dengan logat kota yang tegas, menatap Nantium lekat-lekat. "Gua yang lancang ngelihatin lo tadi. Jadi, nggak usah bawa-bawa orang lain. Tri, ayo keluar. Enggak enak dilihat guru."

 

Nantium hanya mendengus sinis, mengalihkan pandangannya ke luar jendela seolah-olah kehadiran mereka bertiga di kelasnya hanyalah sekumpulan lalat yang mengganggu.

 

Triani yang merasa pembelaannya tidak dihargai, menghentakkan kakinya kesal. "Kamu kok malah belain dia sih, Sun?! Ih, tau ah!" Dengan perasaan dongkol dan cemburu yang membakar dada, Triani berbalik dan berlari keluar kelas, meninggalkan selasar dengan kekesalan mendalam.

 

"Aduh, Sun... repot ini urusannya," bisik Mardian sambil menepuk jidatnya, memberi kode pada Panusunan agar mereka juga segera angkat kaki sebelum gosip ini menyebar ke seantero sekolah.

 

Panusunan memberikan satu tatapan terakhir pada Nantium yang kembali terdiam di bangkunya, lalu berbalik pergi. Hari pertamanya di sekolah desa yang ia kira akan membosankan, rupanya justru dimulai dengan sebuah riak permusuhan yang tak terduga.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar