BAB VIII: Air Mata di Rumah Panggung
Malam itu, Desa
Kumayan diselimuti kegelapan yang pekat. Setelah berjam-jam dikurung di dalam
kamar dan terus diawasi oleh gurat kecewa orang tuanya, Panusunan akhirnya
berhasil memanfaatkan kelengahan mereka. Melalui jendela kamar yang sengaja tak
dikunci, ia melompat turun tanpa alas kaki. Dengan jaket hijau army yang
melekat buru-buru di tubuhnya, pemuda itu berlari membelah dinginnya malam
pegunungan.
Ia tahu Nantium
tidak akan ada di rumahnya sendiri karena situasi yang pasti sedang kacau.
Benar saja, setelah mencari informasi secara sembunyi-sembunyi, Panusunan
mendapati Nantium sedang diungsikan ke rumah bibinya yang bernama Bibi
Buek—sebuah rumah panggung kayu tua yang terletak agak terpencil di dekat batas
hutan desa.
Dengan napas
memburu dan dada yang sesak oleh api cemburu serta rasa sakit, Panusunan
menaiki tangga kayu rumah panggung itu. Di dalam ruang tengah yang
remang-remang, hanya diterangi lampu minyak yang kecil, Nantium duduk bersimpuh
di sudut ruangan. Wajah gadis itu tampak sembap, matanya bengkak karena
terus-menerus menangis.
"Sekejam
Itukah Kau Padaku?"
Panusunan
melangkah mendekat, bayangannya memanjang di dinding papan yang lapuk. Sepasang
mata tajamnya kini memancarkan luka yang teramat dalam, menatap gadis yang
beberapa hari lalu masih didekapnya dengan penuh kasih sayang.
"Nanti...
tatap gua," suara Panusunan terdengar serak, bergetar menahan amarah yang
bercampur dengan kegetiran.
Nantium perlahan
mengangkat wajahnya, namun ia tak sanggup menatap langsung mata Panusunan. Ia
kembali menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya.
Isak tangisnya kembali pecah, terdengar begitu memilukan di tengah keheningan
malam.
"Gua mau
tanya langsung dari mulut lo. Kenapa lo khianati gua, Nanti?" tanya
Panusunan, langkahnya semakin mendekat hingga ujung celana jinsnya menyentuh
lantai tempat Nantium bersimpuh. "Kenapa ada nama Paman Amir? Kenapa ada
nama Pak Anwar? Apa arti kebersamaan kita selama ini kalau lo juga main di
belakang gua sama mereka?"
Nantium tetap
bergeming. Lidahnya kelu. Ancaman mengerikan dari Paman Amir di hari jahanam
itu mendadak terngiang kembali di telinganya: “Kalau sampai ada satu kata saja
yang keluar dari mulutmu, aku sendiri yang akan memberitahu semua warga desa
kalau kau adalah perempuan murahan!” Ketakutan bahwa keluarganya akan semakin
hancur dan Panusunan akan diusir warga membuat Nantium memilih untuk mengunci
rapat bibirnya. Dia hanya bisa menangis sesenggukan, membiarkan kesalahpahaman
ini membakar habis sisa hubungan mereka.
Melihat Nantium
yang hanya diam dan terus menangis tanpa memberikan pembelaan sedikit pun, hati
Panusunan rasanya seperti diiris sembilu. Baginya, diamnya Nantium adalah
sebuah pengakuan dosa.
"Sekejam
itukah kau padaku, Nanti?" ucap Panusunan lirih, air mata yang sejak tadi
ditahannya akhirnya luruh, membasahi pipinya yang ditumbuhi jenggot tipis.
"Gua tulus sama lo. Gua lepasin semua kehidupan kota gua demi lo... tapi
ini balasan lo?"
Panggilan dari Luar Rumah
"Panusunan!
Sun! Keluar kamu dari sana!"
Sebuah teriakan
lantang tiba-tiba memecah ketegangan di dalam rumah panggung. Di bawah tangga,
Mardian berdiri sambil memegang sebuah obor bambu. Wajah kawan sebangkunya itu
tampak mengeras penuh amarah dan kekhawatiran.
"Sun! Untuk
apa lagi kamu masih berhubungan dengan wanita jalang seperti Nantium itu?! Dia
sudah mengotori kampung ini, Sun! Jangan buat dirimu semakin bodoh!"
teriak Mardian lagi dari luar, suaranya menggema menembus dinding bambu rumah
Bibi Buek.
Mendengar
kata-kata kasar yang keluar dari mulut Mardian, tangisan Nantium semakin
histeris. Ia meremas dadanya yang terasa sangat sesak.
Mardian langsung
menaiki tangga dengan langkah menghentak. Ia menerobos masuk ke dalam rumah,
lalu dengan kasar mencengkeram lengan jaket hijau army Panusunan, mencoba
menarik pemuda itu agar menjauh dari Nantium.
"Ayo
pulang, Sun! Nggak ada gunanya kamu di sini!" paksa Mardian.
Panusunan sempat
mencoba menepis tangan sahabatnya. "Gua butuh penjelasan dia, Mar! Lepasin
gua!"
"Penjelasan
apa lagi?! Semua orang di desa sudah tahu kelakuannya!" bentak Mardian,
tatapannya beralih menatap tajam ke arah Panusunan yang masih dilingkupi rasa
bimbang.
Mardian kemudian
mendekatkan wajahnya, memberikan sebuah ancaman yang tak bisa dibantah oleh
Panusunan. "Ayahmu menyuruhku mencarimu, Sun. Beliau bilang, kalau malam
ini kamu tidak pulang ke rumah dan masih nekat menemui perempuan ini, ayahmu
tidak akan sudi lagi menganggapmu sebagai anak, dan dia akan menyeretmu sendiri
di depan seluruh warga desa! Kamu mau mempermalukan guru yang sudah pensiun
itu?!"
Mendengar nama
ayahnya dibawa-bawa, runtuhlah sudah pertahanan Panusunan. Ancaman Mardian
mendarat telak di egonya sebagai seorang anak. Ia menatap Nantium untuk
terakhir kalinya—gadis yang kini makin tenggelam dalam tangisnya tanpa sepatah
kata pun pembelaan.
Dengan hati yang
sepenuhnya mati dan hancur berantakan, Panusunan akhirnya membiarkan tubuhnya
ditarik dan dibawa pergi oleh Mardian keluar dari rumah panggung itu. Mereka
melangkah menembus kegelapan malam, meninggalkan Nantium yang meringkuk
sendirian di lantai kayu yang dingin, meratapi nasibnya yang kini benar-benar
telah kehilangan segalanya.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar