Rabu, 10 Juni 2026

Cinta diujung Jalan VIII

 

BAB VIII: Air Mata di Rumah Panggung

Malam itu, Desa Kumayan diselimuti kegelapan yang pekat. Setelah berjam-jam dikurung di dalam kamar dan terus diawasi oleh gurat kecewa orang tuanya, Panusunan akhirnya berhasil memanfaatkan kelengahan mereka. Melalui jendela kamar yang sengaja tak dikunci, ia melompat turun tanpa alas kaki. Dengan jaket hijau army yang melekat buru-buru di tubuhnya, pemuda itu berlari membelah dinginnya malam pegunungan.

 

Ia tahu Nantium tidak akan ada di rumahnya sendiri karena situasi yang pasti sedang kacau. Benar saja, setelah mencari informasi secara sembunyi-sembunyi, Panusunan mendapati Nantium sedang diungsikan ke rumah bibinya yang bernama Bibi Buek—sebuah rumah panggung kayu tua yang terletak agak terpencil di dekat batas hutan desa.

 

Dengan napas memburu dan dada yang sesak oleh api cemburu serta rasa sakit, Panusunan menaiki tangga kayu rumah panggung itu. Di dalam ruang tengah yang remang-remang, hanya diterangi lampu minyak yang kecil, Nantium duduk bersimpuh di sudut ruangan. Wajah gadis itu tampak sembap, matanya bengkak karena terus-menerus menangis.

 

"Sekejam Itukah Kau Padaku?"

Panusunan melangkah mendekat, bayangannya memanjang di dinding papan yang lapuk. Sepasang mata tajamnya kini memancarkan luka yang teramat dalam, menatap gadis yang beberapa hari lalu masih didekapnya dengan penuh kasih sayang.

 

"Nanti... tatap gua," suara Panusunan terdengar serak, bergetar menahan amarah yang bercampur dengan kegetiran.

 

Nantium perlahan mengangkat wajahnya, namun ia tak sanggup menatap langsung mata Panusunan. Ia kembali menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya. Isak tangisnya kembali pecah, terdengar begitu memilukan di tengah keheningan malam.

 

"Gua mau tanya langsung dari mulut lo. Kenapa lo khianati gua, Nanti?" tanya Panusunan, langkahnya semakin mendekat hingga ujung celana jinsnya menyentuh lantai tempat Nantium bersimpuh. "Kenapa ada nama Paman Amir? Kenapa ada nama Pak Anwar? Apa arti kebersamaan kita selama ini kalau lo juga main di belakang gua sama mereka?"

 

Nantium tetap bergeming. Lidahnya kelu. Ancaman mengerikan dari Paman Amir di hari jahanam itu mendadak terngiang kembali di telinganya: “Kalau sampai ada satu kata saja yang keluar dari mulutmu, aku sendiri yang akan memberitahu semua warga desa kalau kau adalah perempuan murahan!” Ketakutan bahwa keluarganya akan semakin hancur dan Panusunan akan diusir warga membuat Nantium memilih untuk mengunci rapat bibirnya. Dia hanya bisa menangis sesenggukan, membiarkan kesalahpahaman ini membakar habis sisa hubungan mereka.

 

Melihat Nantium yang hanya diam dan terus menangis tanpa memberikan pembelaan sedikit pun, hati Panusunan rasanya seperti diiris sembilu. Baginya, diamnya Nantium adalah sebuah pengakuan dosa.

 

"Sekejam itukah kau padaku, Nanti?" ucap Panusunan lirih, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh, membasahi pipinya yang ditumbuhi jenggot tipis. "Gua tulus sama lo. Gua lepasin semua kehidupan kota gua demi lo... tapi ini balasan lo?"

 

Panggilan dari Luar Rumah

"Panusunan! Sun! Keluar kamu dari sana!"

 

Sebuah teriakan lantang tiba-tiba memecah ketegangan di dalam rumah panggung. Di bawah tangga, Mardian berdiri sambil memegang sebuah obor bambu. Wajah kawan sebangkunya itu tampak mengeras penuh amarah dan kekhawatiran.

 

"Sun! Untuk apa lagi kamu masih berhubungan dengan wanita jalang seperti Nantium itu?! Dia sudah mengotori kampung ini, Sun! Jangan buat dirimu semakin bodoh!" teriak Mardian lagi dari luar, suaranya menggema menembus dinding bambu rumah Bibi Buek.

 

Mendengar kata-kata kasar yang keluar dari mulut Mardian, tangisan Nantium semakin histeris. Ia meremas dadanya yang terasa sangat sesak.

 

Mardian langsung menaiki tangga dengan langkah menghentak. Ia menerobos masuk ke dalam rumah, lalu dengan kasar mencengkeram lengan jaket hijau army Panusunan, mencoba menarik pemuda itu agar menjauh dari Nantium.

 

"Ayo pulang, Sun! Nggak ada gunanya kamu di sini!" paksa Mardian.

 

Panusunan sempat mencoba menepis tangan sahabatnya. "Gua butuh penjelasan dia, Mar! Lepasin gua!"

 

"Penjelasan apa lagi?! Semua orang di desa sudah tahu kelakuannya!" bentak Mardian, tatapannya beralih menatap tajam ke arah Panusunan yang masih dilingkupi rasa bimbang.

 

Mardian kemudian mendekatkan wajahnya, memberikan sebuah ancaman yang tak bisa dibantah oleh Panusunan. "Ayahmu menyuruhku mencarimu, Sun. Beliau bilang, kalau malam ini kamu tidak pulang ke rumah dan masih nekat menemui perempuan ini, ayahmu tidak akan sudi lagi menganggapmu sebagai anak, dan dia akan menyeretmu sendiri di depan seluruh warga desa! Kamu mau mempermalukan guru yang sudah pensiun itu?!"

 

Mendengar nama ayahnya dibawa-bawa, runtuhlah sudah pertahanan Panusunan. Ancaman Mardian mendarat telak di egonya sebagai seorang anak. Ia menatap Nantium untuk terakhir kalinya—gadis yang kini makin tenggelam dalam tangisnya tanpa sepatah kata pun pembelaan.

 

Dengan hati yang sepenuhnya mati dan hancur berantakan, Panusunan akhirnya membiarkan tubuhnya ditarik dan dibawa pergi oleh Mardian keluar dari rumah panggung itu. Mereka melangkah menembus kegelapan malam, meninggalkan Nantium yang meringkuk sendirian di lantai kayu yang dingin, meratapi nasibnya yang kini benar-benar telah kehilangan segalanya.

***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar