Rabu, 17 Juni 2026

Kuda Emas Dipuncak Gunung Kulabu

Bab I Gema Gordang Sambilan

Suasana di dalam Bagas Godang Pakantan terasa sangat mencekam. Aroma asap kemenyan yang dibakar di sudut ruangan bercampur dengan bau udara dingin khas lereng Gunung Kulabu. Di bawah pendar temaram obor dinding, para tetua adat, Datu, dan bangsawan duduk bersila melingkari tikar pandan.

Di luar, sayup-sayup terdengar tabuhan Gordang Sambilan yang ritmenya melambat, memberi tanda bahwa sebuah keputusan besar dan darurat sedang digodok di dalam rumah adat tersebut.

 

Sutan natorop duduk diam di dekat pintu masuk. Pandangannya lurus menatap lantai kayu, namun telinganya menangkap setiap getaran suara. Di dalam dadanya, ia bisa merasakan Sijangak khodam harimau putihnya sedang menggeram rendah, gelisah.

"Ketukan Gordang Sambilan di luar bukan lagi untuk menyambut panen," ucap Raja Namora, tetua adat Pakantan, memecah keheningan dengan suara serak namun berwibawa. "Gunung Kulabu telah batuk. Cahaya kuning yang membelah langit malam tadi adalah tanda. Sere na gok emas sebesar kuda itu telah bangkit dari dasar danau puncak."

Seorang pria bertubuh kekar dengan jubah hitam legam tiba-tiba tertawa rendah. Dialah Datu Garang. Di bahunya, samar-samar terlihat siluet bayangan harimau hitam yang matanya menyala merah dalam dimensi astral.

"Mengapa wajahmu terlihat seperti melihat hantu, Raja Namora?" cetus Datu Garang sambil mengelus hulu kerisnya. "Emas itu adalah berkah! Tanah Mandailing ini terlalu lama miskin karena tunduk pada aturan-aturan kunomu. Dengan emas sebesar kuda itu, kita bisa membangun pasukan yang ditakuti seluruh pulau!"

"Kau buta oleh keserakahan, Garang!" sahut Datu Sanggul, pendekar tertua yang duduk di sisi timur. Suaranya bergetar karena usia, namun matanya tetap tajam. "Emas itu bukan berkah, melainkan bisa (racun). Siapa pun yang menyentuhnya tanpa kesucian hati akan menghancurkan tanah ini. Kau pikir hanya kau yang merasakannya? Sembilan darah harimau di tanah ini telah terbangun!"

Datu Garang berdiri, membuat beberapa tetua adat tersentak mundur. Aura hitam yang pekat dan dingin langsung berembus memenuhi ruangan, memadamkan dua obor di dekatnya.

"Lalu siapa yang akan melarangku mendaki Kulabu? Kau, Sanggul? Tubuh tuamu bahkan akan hancur sebelum sampai ke lereng," tantang Datu Garang takabur.

"Jika Datu Sanggul terlalu tua, maka aku yang akan berdiri di depan jalanmu, Datu Garang."

Semua mata langsung tertuju ke arah pintu. Sutan natorop berdiri dengan tenang. Tidak ada aura meledak-ledak dari tubuhnya, namun langkah kakinya yang ringankhas pesilat Langka opatmembuat papan lantai kayu Bagas Godang sama sekali tidak berderit.

Datu Garang menyipitkan mata, menatap sinis pemuda di depannya. "Sutan natorop... anak ingusan yang bersembunyi di balik bulu putih khodam warisan ayahnya. Kau ingin mati muda di atas gunung?"

Sutan natorop menatap lurus ke mata merah Datu Garang. "Gunung Kulabu adalah pasak bumi Pakantan. Jika kau mendakinya dengan niat menumpahkan darah, maka harimau putihku yang akan memastikan jasadmu menjadi pupuk di hutan bawah."

Di sudut ruangan yang gelap, seorang wanita bercadar kain sutra merah Intan Nauli tersenyum tipis di balik cadarnya. Jari-jarinya yang lentik mengetuk-ngetuk lantai, sementara khodam Belang Emasnya berbisik di dalam benaknya bahwa pertunjukan berdarah akan segera dimulai.


 

Raja Namora mengangkat tangan kanan, memberi isyarat agar ketegangan di dalam Bagas Godang mereda. Datu Garang mendengus meremehkan, berbalik, lalu melompat turun dari jendela rumah panggung adat tersebut, menghilang ke dalam kegelapan malam menuju lereng Gunung Kulabu. Satu per satu, pendekar lain ikut berkelebat pergi secara senyap melalui bayang-bayang tiang penyangga Bagas Godang.

Kini, ruangan luas itu hanya menyisakan Raja Namora, beberapa tetua adat yang tertunduk cemas, dan Sutan natorop yang masih berdiri kokoh di dekat pintu.

Raja Namora melangkah mendekati Sutan natorop. Tangannya yang keriput namun kokoh mencengkeram kedua bahu pemuda itu. Matanya menatap lurus, memancarkan kecemasan mendalam seorang pemimpin adat.

"Palasa, anakku," bisik Raja Namora, suaranya bergetar berat di sela sisa asap kemenyan. "Malam ini, nasib Pakantan tidak lagi berada di tangan hukum adat atau tombak para penjaga desa. Nasib kita semua ada di punggungmu."

Sutan natorop menunduk hormat. "Saya tidak akan membiarkan keserakahan menghancurkan tanah kelahiran kita, Kakek Raja."

"Pergilah sebelum fajar menyingsing," lanjut Raja Namora sambil meraba kantong kain di pinggangnya. Ia mengeluarkan sebutir batu hitam kecil yang halus, Batu Larangan. "Jika kau sampai di danau puncak, lemparkan batu ini ke dalam air sebelum tangan-tangan serakah itu menyentuh emas sebesar kuda tersebut. Itu akan mengunci kembali gerbang gaif Kulabu."

Sutan menerima batu itu, merasakannya begitu dingin di telapak tangannya. "Baik, Kakek Raja."

"Ingat, Palasa," Raja Namora memperingatkan dengan nada yang sangat serius. "Musuh terbesarmu di atas sana bukanlah cakar Datu Garang atau kelicikan pendekar lain. Musuh terbesarmu adalah bisikan emas itu sendiri. Sembilan harimau akan saling memangsa jika hati mereka goyah."

Sutan natorop mengangguk pelan. Di dalam dadanya, hangatnya energi Sijangak si harimau putih mengalir ke ujung-ujung jarinya, memberikan ketenangan dan kesiapan penuh. Ia menjura hormat untuk terakhir kalinya, lalu berbalik membelakangi ruangan.



Bab II

Di luar Bagas Godang, angin malam bertiup sangat kencang, menggoyang pohon-pohon aren di pinggir desa Pakantan. Tabuhan Gordang Sambilan tiba-tiba berhenti total, menyisakan kesunyian yang mencekam.

Sutan natorop menarik napas dalam-dalam, mengikat kain pengikat kepalanya dengan kencang, lalu melompat turun ke halaman tanah. Dengan gerakan silat Langka opat yang seringan angin, tubuhnya berkelebat cepat membelah kabut malam, berlari menuju rimbunnya hutan liar yang memeluk kaki Gunung Kulabu. Pendakian berdarah telah dimulai.

Baru saja kaki Sutan natorop melewati batas rimba keramat di kaki Gunung Kulabu, hawa udara mendadak berubah menjadi sangat pekat. Kabut tebal khas pegunungan Mandailing turun dengan cepat, memangkas jarak pandang hingga hanya menyisakan beberapa jengkal di depan mata.

Sutan menghentikan langkahnya tepat di sebuah celah batu besar yang ditumbuhi lumut kerak. Langkah kakinya yang semula tanpa suara kini benar-benar mati. Di dalam tubuhnya, aliran darah Sutan berdesir hebat. Sijangak, khodam harimau putih di dalam dirinya, mendadak menegakkan bulu kuduk astral-nya dan mengeluarkan geraman rendah yang bergetar di rongga dada Sutan.

Ada bau anyir darah yang tersamar di antara wangi tanah basah.

Sreeek...

Suara gesekan kain menembus sunyinya hutan. Dari balik rimbunnya pohon-pohon pakis raksasa, dua siluet bertubuh pendek namun tegap melangkah keluar secara perlahan. Mereka berjalan dengan posisi tubuh agak membungkuk, sangat mirip dengan gestur binatang buas yang siap menerkam.

Mereka adalah Si Kembar Napa dan Napi.

Wajah keduanya hampir serupa, dengan tato garis-garis loreng melintang di pipi hingga ke leher. Di bawah temaram cahaya bulan yang menembus celah daun, mata mereka memancarkan pendar hijau kekuningan yang liar. Di tangan masing-masing, sepasang senjata kurambiak (kerambit) melengkung tajam, memantulkan cahaya perak yang dingin.

"Lihat siapa yang berjalan paling lambat, Napi," ucap Napa, sisi kirinya. Suaranya terdengar seperti lengkingan kucing hutan.

"Anak manja dari Pakantan, Napa. Dia mengira mendaki Kulabu sama seperti berjalan-jalan di kebun kopi," sahut Napi dari sisi kanan, sambil menjilat bilah kerambitnya yang sudah ternoda darah segar entah darah hewan hutan atau pendekar lain yang sudah mereka habisi sebelumnya.

Sutan natorop tidak bergeming. Ia segera memasang kuda-kuda rendah Silat Harimau Langkah Empat. Tangan kanannya terbuka di depan dada berbentuk cakar, sementara tangan kirinya berjaga di pinggang, siap menahan atau mengalihkan serangan.

"Napa, Napi. Kita sama-sama memiliki darah harimau di tanah ini. Mengapa kalian harus mengotori tangan dengan darah sebelum sampai ke puncak?" tanya Sutan, suaranya tetap tenang dan berwibawa meski dikepung dari dua arah.

"Karena semakin sedikit harimau yang sampai ke danau, semakin besar bagian emas yang bisa kami bawa pulang!" pekik Napa kasar.

Secara serentak, tubuh si kembar berkelebat maju. Khodam harimau muda mereka bermanifestasi sebagai bayangan jingga berloreng hitam yang melompat secepat kilat melintasi kabut. Napa mengincar tenggorokan Sutan dengan kerambitnya, sementara Napi merosot ke bawah, mengincar urat nadi di pergelangan kaki Sutan dengan kecepatan yang mengerikan.

***

Serangan serentak si kembar membelah kabut malam dengan sangat cepat. Napi yang merosot di tanah menyabetkan kerambitnya ke arah pergelangan kaki Sutan natorop. Namun, Sutan bukanlah pesilat sembarangan. Menggunakan kegesitan Silat Langkah Empat, ia melompat mundur selangkah, membiarkan bilah tajam Napi hanya memotong angin malam.

Di saat yang sama, Napa yang melompat dari atas menerjang ke arah dada Sutan. Sabetan kerambitnya mengincar leher. Sutan memiringkan kepala seujung kuku. Logam dingin itu menggores sedikit kain pengikat kepalanya hingga putus.

"Mati kau, anak manja!" pekik Napa, merasa di atas angin.

Napa tidak menyadari bahwa posisinya yang sedang melayang di udara membuatnya tidak memiliki tumpuan. Sutan natorop memanfaatkan momentum itu. Emosi Sutan tetap tenang, namun di dalam dimensi astral, Sijangak—si harimau putih—merasakan ancaman besar pada tuannya. Harimau putih gaib itu menggeram dahsyat, bangkit dengan murka dari dalam dada Sutan.

ROAAARRR!

Gema geraman gaib yang memekakkan telinga bermanifestasi di dunia nyata. Gelombang angin beraura putih keperakan meledak dari tubuh Sutan, membuat kabut di sekeliling mereka koyak dan hancur.

Napa yang masih melayang mendadak membeku di udara. Wajahnya pucat pasi saat melihat bayangan cakar harimau putih raksasa berukuran tiga kali tubuh manusia mendadak muncul dari balik punggung Sutan.

Sutan natorop menghentakkan telapak tangan kanannya ke depan, meniru gerakan menerkam. Di dimensi gaib, cakar spiritual Sijangak ikut bergerak menyambar dengan kecepatan kilat.

SRAAAKKK!

Cakar astral Harimau Putih merobek dada Napa tanpa ampun. Meski pakaian luar Napa tidak terlihat robek secara fisik, benturan energi gaib itu menghancurkan pelindung batinnya. Semburan darah segar keluar dari mulut Napa. Tubuhnya terpental sejauh lima meter, menghantam pohon pakis raksasa hingga tumbang, lalu jatuh bergedebuk ke tanah tanah basah.

Napa kejang beberapa saat. Mata hijaunya yang semula liar perlahan meredup dan kosong. Khodam harimau jingga di dalam tubuhnya melesat keluar menjadi asap tipis, lalu musnah. Napa tewas seketika akibat hancurnya jantung astral miliknya.

"NAPA!" jerit Napi histeris.

Napi melompat ke arah jasad saudara kembarnya. Ia mengguncang-guncang tubuh yang mulai mendingin itu dengan tangan gemetar. Ratapan kesedihan Napi segera berubah menjadi kemarahan yang meluap-luap. Ia menoleh ke arah Sutan natorop dengan tatapan mata yang dipenuhi dendam kesumat.

Sutan natorop menurunkan kembali tangannya. Napasnya sedikit memburu. Ia menatap jasad Napa dengan rasa sesal yang mendalam di matanya. "Aku sudah memperingatkan kalian. Gunung ini tidak menerima darah yang ditumpahkan karena keserakahan."

***

Bab III


N
api meraung, mencengkeram tanah basah hingga kuku-kukunya berdarah. Dendam kesumat yang membara di matanya berbenturan dengan naluri bertahan hidup yang dipicu oleh geraman batin khodamnya. Sijangak di belakang Sutan masih menatapnya dengan pendar mata perak yang intimidatif. Napi tahu, bertarung sendirian saat ini sama saja dengan bunuh diri.

"Kau... Sutan natorop!" desis Napi, suaranya bergetar hebat di sela isak tangis yang tertahan. "Demi leluhur Mandailing, darah dibayar darah! Aku akan merobek jantungmu dan menyerahkannya pada Datu Garang di puncak Kulabu!"

Sutan natorop tidak mengejar. Ia menarik kaki kanannya dari posisi kuda-kuda, membiarkan tubuhnya berdiri tegak kembali dengan sisa penyesalan yang membayang di wajahnya. "Bawa saudaramu pulang, Napi. Gunung ini hanya akan meminta lebih banyak nyawa jika kau meneruskan dendam ini."

Tanpa menjawab, Napi menyambar jasad kembarannya dengan satu hentakan tangan yang diperkuat sisa energi khodam harimau jingganya. Ia memanggul tubuh Napa di atas bahu, lalu melompat mundur ke dalam kegelapan. Langkah kakinya yang penuh amarah menembus rimbunnya hutan, menghilang ke arah jalur pendakian barat jalur yang dilewati oleh Datu Garang.

Hutan kembali sunyi, menyisakan bau anyir darah yang perlahan disapu oleh embus angin malam Gunung Kulabu. Sutan natorop menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan degup jantungnya, bersiap melanjutkan langkah yang kini terasa jauh lebih berat.

Plok... Plok... Plok...

Suara tepuk tangan pelan terdengar dari atas dahan pohon beringin tua di atasnya.

"Langka opat yang mengagumkan, Sutan," sebuah suara lembut namun dingin mengalun dari kegelapan atas.

Sesosok tubuh ramping berkelebat turun tanpa suara, mendarat tepat di atas lumut lembut beberapa langkah di depan Sutan. Kain cadar sutra merahnya berkibar pelan ditiup angin malam. Intan Nauli berdiri di sana, menatap Sutan dengan mata indahnya yang penuh selubung misteri.

***

"Kau terlambat menikmati pertunjukannya, Intan Nauli," ucap Sutan natorop tenang, meski tangannya kembali bersiap di dekat hulu senjatanya.

Intan Nauli tersenyum di balik cadar sutra merahnya. Ia melangkah mendekat, membiarkan khodam Harimau Belang Emas miliknya mendengus pelan di dimensi astral, memberi tanda bahwa ia tidak datang untuk bertarung.

"Aku tidak di sini untuk menonton, Sutan. Aku di sini untuk memastikan kau tidak mati konyol di tengah jalan," bisik Intan Nauli, matanya menatap tajam ke arah jalur barat tempat Napi menghilang tadi. "Napi tidak akan pulang ke Pakantan. Dia pergi menyusul Datu Garang ke Lembah Bayang-Bayang."

Sutan natorop mengernyitkan dahi. "Lembah Bayang-Bayang? Itu jalur tercepat menuju danau puncak."

"Benar, dan itu juga tempat eksekusimu," lanjut Intan dengan nada serius. "Datu Garang tahu kau adalah ancaman terbesar bagi ambisinya. Di lembah itu, dia bersama sisa pendekar lain termasuk Napi yang kini haus darah sedang menyiapkan Jebakan Sungsang."

Intan Nauli melangkah mundur satu langkah, jemarinya menunjuk ke tanah basah di depan mereka. "Datu Garang menggunakan kekuatan mistis dari khodam Harimau Hitamnya untuk meracuni akar-akar pohon beringin purba di lembah itu. Siapa pun yang menginjak areanya akan terperangkap dalam ilusi kabut hitam yang menguras energi astral. Saat kau lemah dan buta karena ilusi, Napi dan cakar maut Datu Garang akan menyergapmu dari kegelapan."

Sutan natorop terdiam sejenak, mencerna informasi berharga tersebut. Informasi ini menjelaskan mengapa Datu Garang begitu takabur saat di Bagas Godang tadi; dia sudah menyiapkan strategi matang untuk menyingkirkan para pesaingnya satu per satu sebelum menyentuh emas sebesar kuda di puncak Kulabu.

"Mengapa kau memberitahuku semua ini, Intan?" tanya Sutan penuh selidik. "Kau juga pemilik khodam harimau. Emas di puncak itu bisa jadi milikmu jika aku dan Datu Garang saling membunuh."

Intan Nauli menatap lurus ke mata Sutan. "Emas itu adalah kutukan jika jatuh ke tangan yang salah. Aku ingin menyelamatkan desaku, bukan menghancurkan Mandailing seperti yang diinginkan Datu Garang. Kita punya musuh yang sama, Sutan. Untuk melewati Lembah Bayang-Bayang, kau butuh kemampuan ilusi angin dari Harimau Belang Emas-ku untuk memecah kabut hitam Datu Garang."

Sutan natorop menatap jalur pendakian yang gelap gulita di hadapannya, lalu kembali menatap Intan Nauli. Aliansi sementara terpaksa dibentuk di bawah bayang-bayang Gunung Kulabu.

***



 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar