Rabu, 10 Juni 2026

Cinta diujung Jalan Bab V


 

Bab V Sisi Kelam di Balik Sunyi

Keesokan harinya, matahari terbit dengan enggan di balik kabut Desa Kumayan yang tebal. Sisa-sisa kegelapan semalam seolah masih bergelayut di udara. Mardian berjalan dengan langkah berat menuju rumah panggung bambu milik keluarga Nantium. Wajahnya tampak kusut, ada beban rahasia yang teramat berat menggelayuti pikirannya sejak malam Minggu itu. Namun, pagi ini dia datang murni untuk menyampaikan amanah.

 

Di depan pintu, Mardian mengetuk pelan dan disambut oleh Nantium. Gadis itu tampak agak canggung, seolah takut jika Mardian mengetahui apa yang terjadi semalam, meski ia mencoba bersikap biasa saja.

 

"Nanti," panggil Mardian, suaranya agak serak. "Aku disuruh Pak Kades menyampaikan pesan. Kamu diminta datang ke rumahnya siang ini untuk mengambil Bantuan Desa. Ibu dan ayahmu kan lagi sakit, jadi kamu yang harus mewakili."

 

Keluarga Nantium memang termasuk yang paling kekurangan di desa itu. Kondisi ekonomi yang sulit membuat mereka sering bergantung pada bantuan sosial. Kebetulan, Kepala Desa Kumayan yang bernama Pak Amir masih terhitung memiliki hubungan kekerabatan—sebagai paman jauh—dengan keluarga Nantium.

 

Nantium mengangguk perlahan. "Iya, Mar. Makasih ya sudah menyampaikan. Nanti siang aku ke sana."

 

Mardian menatap Nantium sesaat dengan tatapan yang sulit diartikan, penuh rasa kasihan sekaligus berkecamuk, sebelum akhirnya berpamitan pergi.

 

Perangkap di Rumah Kepala Desa

Sekitar pukul dua siang, Nantium berjalan menuju rumah kepala desa. Rumah Pak Amir adalah bangunan paling besar di ujung jalan, berpagar kayu tinggi dengan halaman yang luas. Namun, siang itu, suasana di sekitar rumah tersebut terasa sangat sunyi. Tidak ada hilir mudik warga atau perangkat desa yang biasanya bertamu. Angin gunung yang berembus kering membuat bulu kuduk Nantium agak merinding.

 

Nantium melangkah naik ke selasar rumah dan mengetuk pintu jati yang tertutup rapat. "Permisi... Paman Amir? Ini Nantium mau mengambil bantuan."

 

Hening sejenak. Tak lama, dari arah dalam terdengar suara berat Paman Amir memanggilnya. "Masuk saja, Nantium! Pintunya nggak dikunci, Paman ada di ruang tengah."

 

Tanpa menaruh curiga sedikit pun karena menganggap pria itu adalah kerabat sekaligus pemimpin desa, Nantium memutar kenop pintu dan melangkah masuk. Keadaan di dalam rumah tampak remang-remang, gorden jendela ditutup rapat hingga cahaya matahari sore nyaris tak bersisa.

 

Klek.

 

Belum sempat Nantium melangkah lebih jauh menuju ruang tengah, pintu di belakangnya ditutup dengan cepat. Sebelum ia sempat berbalik, sepasang lengan kekar langsung menyergap dan memeluk tubuhnya dengan sangat erat dari belakang.

 

"Paman! Apa-apaan ini?!" jerit Nantium panik, jantungnya langsung mencelos drastis. Ia mencoba meronta, namun tenaga pria dewasa itu jauh lebih kuat.

 

Brak!

 

Dengan kasar, Amir memijak kedua kaki Nantium dengan sepatu larsnya, mengunci pergerakan gadis itu hingga ia tak mampu melangkah atau menendang. Napas bau tembakau pria itu berembus kasar di dekat telinga Nantium, membuat gadis itu merinding ketakutan.

 

"Jangan berisik, Nanti..." bisik Amir dengan nada rendah yang penuh ancaman dan menjijikkan. "Aku tahu semua rahasiamu. Aku tahu kau sering berhubungan badan dengan Panusunan di pondok sawah itu. Aku pun bisa kok seperti yang dia lakukan kepadamu!"

 

Mendengar ucapan itu, seluruh tubuh Nantium mendadak lemas bak kehilangan tulang. Rahasia terdalamnya ternyata telah diketahui oleh pria berhati iblis di hadapannya. Memanfaatkan ketakutan dan posisi Nantium yang tak berdaya, Amir dengan brutal menyeret gadis itu ke dalam kamar dan melancarkan aksi bejatnya. Di dalam rumah yang sunyi itu, pertahanan Nantium hancur lebur. Air matanya mengalir deras, meratapi kemalangan yang merenggut paksa kehormatannya di siang bolong.

 

Ancaman di Balik Pintu

Setelah badai mengerikan itu berlalu, Nantium terduduk di lantai kamar dengan pakaian yang berantakan dan tubuh yang gemetar hebat. Isak tangisnya tertahan di tenggorokan, menyisakan rasa trauma yang teramat mendalam.

 

Amir berdiri di dekat ranjang sambil merapikan pakaiannya kembali, menatap Nantium tanpa ada rasa bersalah sedikit pun di wajahnya yang ketus. Ia melangkah mendekat, lalu mencengkeram rahang Nantium dengan kasar, memaksa gadis itu menatap matanya yang penuh kilat mengancam.

 

"Dengar ya, Nantium," desis Amir tajam. "Jangan coba-coba mengadu pada orang tuamu, pada Panusunan, atau pada siapa pun di desa ini kalau kau sudah kuperkosa. Kalau sampai ada satu kata saja yang keluar dari mulutmu, aku sendiri yang akan memberitahu semua warga desa kalau kau adalah perempuan murahan yang sudah digilir oleh anak kota itu! Biar hancur nama keluargamu, dan biar diusir si Panusunan itu dari kampung ini!"

 

Amir menghempaskan wajah Nantium dengan kasar. "Sekarang, pakai bajumu dan pergi dari sini!"

 

Dengan sisa-sisa tenaga yang ada dan hati yang hancur berkeping-keping, Nantium bangkit. Ia merapikan pakaiannya dengan tangan yang gemetar hebat, lalu berlari keluar dari rumah jahanam itu. Di bawah langit sore Desa Kumayan yang perlahan meredup, Nantium berjalan pulang dengan jiwa yang terasa mati, membawa beban rahasia dan ancaman yang siap menghancurkan sisa hidupnya kapan saja.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar