Bab V Sisi Kelam di Balik Sunyi
Keesokan
harinya, matahari terbit dengan enggan di balik kabut Desa Kumayan yang tebal.
Sisa-sisa kegelapan semalam seolah masih bergelayut di udara. Mardian berjalan
dengan langkah berat menuju rumah panggung bambu milik keluarga Nantium.
Wajahnya tampak kusut, ada beban rahasia yang teramat berat menggelayuti
pikirannya sejak malam Minggu itu. Namun, pagi ini dia datang murni untuk
menyampaikan amanah.
Di depan pintu,
Mardian mengetuk pelan dan disambut oleh Nantium. Gadis itu tampak agak
canggung, seolah takut jika Mardian mengetahui apa yang terjadi semalam, meski
ia mencoba bersikap biasa saja.
"Nanti,"
panggil Mardian, suaranya agak serak. "Aku disuruh Pak Kades menyampaikan
pesan. Kamu diminta datang ke rumahnya siang ini untuk mengambil Bantuan Desa.
Ibu dan ayahmu kan lagi sakit, jadi kamu yang harus mewakili."
Keluarga Nantium
memang termasuk yang paling kekurangan di desa itu. Kondisi ekonomi yang sulit
membuat mereka sering bergantung pada bantuan sosial. Kebetulan, Kepala Desa
Kumayan yang bernama Pak Amir masih terhitung memiliki hubungan
kekerabatan—sebagai paman jauh—dengan keluarga Nantium.
Nantium
mengangguk perlahan. "Iya, Mar. Makasih ya sudah menyampaikan. Nanti siang
aku ke sana."
Mardian menatap
Nantium sesaat dengan tatapan yang sulit diartikan, penuh rasa kasihan
sekaligus berkecamuk, sebelum akhirnya berpamitan pergi.
Perangkap di Rumah Kepala
Desa
Sekitar pukul
dua siang, Nantium berjalan menuju rumah kepala desa. Rumah Pak Amir adalah
bangunan paling besar di ujung jalan, berpagar kayu tinggi dengan halaman yang
luas. Namun, siang itu, suasana di sekitar rumah tersebut terasa sangat sunyi.
Tidak ada hilir mudik warga atau perangkat desa yang biasanya bertamu. Angin
gunung yang berembus kering membuat bulu kuduk Nantium agak merinding.
Nantium
melangkah naik ke selasar rumah dan mengetuk pintu jati yang tertutup rapat.
"Permisi... Paman Amir? Ini Nantium mau mengambil bantuan."
Hening sejenak.
Tak lama, dari arah dalam terdengar suara berat Paman Amir memanggilnya.
"Masuk saja, Nantium! Pintunya nggak dikunci, Paman ada di ruang
tengah."
Tanpa menaruh
curiga sedikit pun karena menganggap pria itu adalah kerabat sekaligus pemimpin
desa, Nantium memutar kenop pintu dan melangkah masuk. Keadaan di dalam rumah
tampak remang-remang, gorden jendela ditutup rapat hingga cahaya matahari sore
nyaris tak bersisa.
Klek.
Belum sempat
Nantium melangkah lebih jauh menuju ruang tengah, pintu di belakangnya ditutup
dengan cepat. Sebelum ia sempat berbalik, sepasang lengan kekar langsung
menyergap dan memeluk tubuhnya dengan sangat erat dari belakang.
"Paman!
Apa-apaan ini?!" jerit Nantium panik, jantungnya langsung mencelos
drastis. Ia mencoba meronta, namun tenaga pria dewasa itu jauh lebih kuat.
Brak!
Dengan kasar,
Amir memijak kedua kaki Nantium dengan sepatu larsnya, mengunci pergerakan
gadis itu hingga ia tak mampu melangkah atau menendang. Napas bau tembakau pria
itu berembus kasar di dekat telinga Nantium, membuat gadis itu merinding
ketakutan.
"Jangan
berisik, Nanti..." bisik Amir dengan nada rendah yang penuh ancaman dan
menjijikkan. "Aku tahu semua rahasiamu. Aku tahu kau sering berhubungan
badan dengan Panusunan di pondok sawah itu. Aku pun bisa kok seperti yang dia
lakukan kepadamu!"
Mendengar ucapan
itu, seluruh tubuh Nantium mendadak lemas bak kehilangan tulang. Rahasia
terdalamnya ternyata telah diketahui oleh pria berhati iblis di hadapannya.
Memanfaatkan ketakutan dan posisi Nantium yang tak berdaya, Amir dengan brutal
menyeret gadis itu ke dalam kamar dan melancarkan aksi bejatnya. Di dalam rumah
yang sunyi itu, pertahanan Nantium hancur lebur. Air matanya mengalir deras,
meratapi kemalangan yang merenggut paksa kehormatannya di siang bolong.
Ancaman di Balik Pintu
Setelah badai
mengerikan itu berlalu, Nantium terduduk di lantai kamar dengan pakaian yang
berantakan dan tubuh yang gemetar hebat. Isak tangisnya tertahan di
tenggorokan, menyisakan rasa trauma yang teramat mendalam.
Amir berdiri di
dekat ranjang sambil merapikan pakaiannya kembali, menatap Nantium tanpa ada
rasa bersalah sedikit pun di wajahnya yang ketus. Ia melangkah mendekat, lalu
mencengkeram rahang Nantium dengan kasar, memaksa gadis itu menatap matanya
yang penuh kilat mengancam.
"Dengar ya,
Nantium," desis Amir tajam. "Jangan coba-coba mengadu pada orang
tuamu, pada Panusunan, atau pada siapa pun di desa ini kalau kau sudah
kuperkosa. Kalau sampai ada satu kata saja yang keluar dari mulutmu, aku
sendiri yang akan memberitahu semua warga desa kalau kau adalah perempuan
murahan yang sudah digilir oleh anak kota itu! Biar hancur nama keluargamu, dan
biar diusir si Panusunan itu dari kampung ini!"
Amir
menghempaskan wajah Nantium dengan kasar. "Sekarang, pakai bajumu dan
pergi dari sini!"
Dengan sisa-sisa
tenaga yang ada dan hati yang hancur berkeping-keping, Nantium bangkit. Ia
merapikan pakaiannya dengan tangan yang gemetar hebat, lalu berlari keluar dari
rumah jahanam itu. Di bawah langit sore Desa Kumayan yang perlahan meredup,
Nantium berjalan pulang dengan jiwa yang terasa mati, membawa beban rahasia dan
ancaman yang siap menghancurkan sisa hidupnya kapan saja.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar