BAB X: Kebenaran yang Meruntuhkan
Jiwa
Satu bulan telah
berlalu sejak malam kebenaran di rumah panggung Bibi Buek. Namun, ketenangan
yang dicari Panusunan tidak pernah kunjung datang. Desa Kumayan kembali
diguncang oleh sebuah kabar yang jauh lebih dahsyat dari gosip sebelumnya:
Nantium mengandung. Berita kehamilan itu merebak cepat bak api menyiram bensin,
membuat gempar satu kampung.
Di dalam
kamarnya, Panusunan duduk di tepi ranjang dengan tubuh yang gemetar hebat.
Kepalanya terasa pening, dipenuhi kalkulasi linimasa yang berputar acak.
Bagaimana mungkin Nantium hamil?
Panusunan
mengingat dengan sangat jelas, subuh saat Nantium mengantarkannya ke kota
menggunakan bus Bunga Raya, itu adalah hari terakhir Nantium
menyelesaikan masa datang bulannya. Dan semenjak pulang dari kota hingga detik
ini, mereka berdua sama sekali tidak pernah lagi melakukan hubungan badan.
Kejadian pemerkosaan oleh Paman Amir pun terjadi jauh sebelum hari
keberangkatannya ke kota, yang artinya secara medis tidak mungkin menjadi
penyebab kehamilan ini. Lantas, anak siapa yang ada di dalam kandungan Nantium?
Sebelum
teka-teki itu terjawab, sebuah hantaman keras kembali meremukkan dada
Panusunan. Pihak keluarga dan adat desa memutuskan untuk menikahkan Nantium
secara kilat dengan Mardian. Mendengar kabar pernikahan itu, kemurkaan
Panusunan mencapai puncaknya. Dengan dada yang terbakar api amarah dan rasa
tidak terima, ia nekat menemui Nantium untuk terakhir kalinya sebelum gadis itu
resmi menjadi istri orang lain.
Rahasia di Malam-Malam
Sepi
"Kenapa,
Nanti?! Kenapa kamu mau menikah dengan bajingan itu?!" labrak Panusunan
dengan suara tertahan, sepasang mata tajamnya memerah menahan tangis dan
amarah. "Dan anak siapa yang kamu kandung? Kita tidak pernah melakukannya
lagi setelah kamu selesai datang bulan!"
Nantium hanya
bisa bersimpuh, air matanya luruh membasahi lantai. Tubuhnya kurus dan ringkih,
sorot matanya telah kehilangan seluruh cahaya kehidupan.
"Waktu kamu
pergi ke kota, Sun..." bisik Nantium dengan suara yang terputus-putus oleh
isak tangis. "Malam pertamamu di kota, Mardian datang ke rumahku. Dia
mengancamku. Dia bilang, kalau aku tidak mau melayaninya, dia akan membeberkan
perbuatan kita di pondok sawah dan kasus pemerkosaan Paman Amir kepada seluruh
warga desa malam itu juga."
Nantium meremas
dadanya yang sesak. "Aku ketakutan, Sun... Aku tidak punya pilihan. Dan
sejak malam itu, hampir setiap malam selama kamu di kota, dia datang dan terus
meminta jatah yang sama. Ulahnyalah yang membuatku sampai hamil seperti
ini."
Bagai disengat
listrik jutaan volt, Panusunan mundur selangkah. "Kenapa... KENAPA KAU
TIDAK CERITAKAN INI PADA PERTEMUAN TERAKHIR KITA, NANTI?!" raung
Panusunan, murka sekaligus kecewa yang luar biasa. "Kenapa kamu
menyembunyikannya dari gua?!"
Nantium
mengangkat wajahnya yang berlumur air mata, menatap Panusunan dengan pandangan
paling hancur. "Karena aku sudah merasa terlalu hina, Sun! Aku malu...
Jiwa dan ragaku sudah kotor dikoyak-koyak oleh mereka. Aku merasa sudah tidak
pantas lagi menjadi kekasihmu, apalagi menceritakan kebejatan Mardian kepadamu.
Aku memilih mati rasa."
Benang Merah Masa Lalu
Rasa murka yang
membakar dada membuat Panusunan tidak bisa tinggal diam. Ia segera mencari
Mardian. Ia menemui mantan sahabat sebangkunya itu di sebuah sudut sepi di
belakang balai desa. Tanpa basa-basi, Panusunan langsung mencengkeram kerah
baju Mardian, siap melayangkan jotosan mentah ke wajah pemuda keriting itu.
"Kenapa,
Mar?! Kenapa lo tega menghancurkan hidup Nantium dan mengkhianati gua?! Lo
sahabat gua, bajingan!" teriak Panusunan dengan urat-urat leher yang
menegang keras.
Mardian tidak
melawan. Ia justru melempar senyum sinis yang penuh kemenangan, menepis kasar
cengkeraman tangan Panusunan yang dilingkari gelang hitam.
"Kau mau
tahu kenapa aku melakukannya, Sun?" tanya Mardian dengan nada dingin, sama
sekali tidak merasa bersalah. "Semua skenario ini... ini adalah perintah
dari ayahmu sendiri!"
Deg. Langkah kaki Panusunan seketika goyah.
"Maksud lo apa? Jangan bawa-bawa Ayah!"
"Ayahmu,
Pak Endar, yang menyuruhku untuk merusak hubungan kalian! Beliau tidak mau masa
depanmu hancur di kota hanya karena berpacaran dengan anak gadis dari keluarga
miskin seperti Nantium," ungkap Mardian, setiap kata yang keluar dari
mulutnya terasa seperti pisau yang menguliti kesadaran Panusunan.
Mardian
melangkah mendekat, membisikkan sebuah rahasia besar yang selama ini terkubur
rapat di Desa Kumayan. "Dan ada satu hal lagi yang tidak kau tahu,
Panusunan. Ibu Nantium... adalah gadis desa yang dulu menolak mentah-mentah
cinta Pak Endar, ayahmu. Ayahmu menyimpan dendam masa lalu yang mendalam pada
keluarga mereka. Pernikahanku dengan Nantium, dan kehancuran hidup gadis itu,
adalah bentuk balas dendam terencana yang direstui oleh ayahmu sendiri!"
Mendengar
kenyataan yang teramat kejam dan menjijikkan itu, dunia di sekitar Panusunan
mendadak berputar hebat. Suara bising di kepalanya berdengung kencang. Sosok
ayah yang selama ini ia hormati sebagai seorang guru, seorang panutan, ternyata
adalah dalang di balik penderitaan gadis yang teramat dicintainya. Sahabatnya
adalah pion pengeksekusi, dan Nantium adalah korban dari lingkaran setan masa
lalu.
Dada Panusunan
terasa dihantam beban ribuan ton hingga ia tidak sanggup lagi bernapas.
Pandangannya perlahan menggelap, matanya membelalak tak percaya, sebelum
akhirnya kesadarannya tumbang sepenuhnya. Panusunan pingsan, ambruk ke tanah
kering Desa Kumayan, kalah oleh kenyataan yang teramat pahit untuk ditanggung
oleh jiwanya.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar