Rabu, 10 Juni 2026

Cinta diujung Jalan X

BAB X: Kebenaran yang Meruntuhkan Jiwa

Satu bulan telah berlalu sejak malam kebenaran di rumah panggung Bibi Buek. Namun, ketenangan yang dicari Panusunan tidak pernah kunjung datang. Desa Kumayan kembali diguncang oleh sebuah kabar yang jauh lebih dahsyat dari gosip sebelumnya: Nantium mengandung. Berita kehamilan itu merebak cepat bak api menyiram bensin, membuat gempar satu kampung.

Di dalam kamarnya, Panusunan duduk di tepi ranjang dengan tubuh yang gemetar hebat. Kepalanya terasa pening, dipenuhi kalkulasi linimasa yang berputar acak.

Bagaimana mungkin Nantium hamil?

Panusunan mengingat dengan sangat jelas, subuh saat Nantium mengantarkannya ke kota menggunakan bus Bunga Raya, itu adalah hari terakhir Nantium menyelesaikan masa datang bulannya. Dan semenjak pulang dari kota hingga detik ini, mereka berdua sama sekali tidak pernah lagi melakukan hubungan badan. Kejadian pemerkosaan oleh Paman Amir pun terjadi jauh sebelum hari keberangkatannya ke kota, yang artinya secara medis tidak mungkin menjadi penyebab kehamilan ini. Lantas, anak siapa yang ada di dalam kandungan Nantium?

Sebelum teka-teki itu terjawab, sebuah hantaman keras kembali meremukkan dada Panusunan. Pihak keluarga dan adat desa memutuskan untuk menikahkan Nantium secara kilat dengan Mardian. Mendengar kabar pernikahan itu, kemurkaan Panusunan mencapai puncaknya. Dengan dada yang terbakar api amarah dan rasa tidak terima, ia nekat menemui Nantium untuk terakhir kalinya sebelum gadis itu resmi menjadi istri orang lain.

Rahasia di Malam-Malam Sepi

"Kenapa, Nanti?! Kenapa kamu mau menikah dengan bajingan itu?!" labrak Panusunan dengan suara tertahan, sepasang mata tajamnya memerah menahan tangis dan amarah. "Dan anak siapa yang kamu kandung? Kita tidak pernah melakukannya lagi setelah kamu selesai datang bulan!"

Nantium hanya bisa bersimpuh, air matanya luruh membasahi lantai. Tubuhnya kurus dan ringkih, sorot matanya telah kehilangan seluruh cahaya kehidupan.

"Waktu kamu pergi ke kota, Sun..." bisik Nantium dengan suara yang terputus-putus oleh isak tangis. "Malam pertamamu di kota, Mardian datang ke rumahku. Dia mengancamku. Dia bilang, kalau aku tidak mau melayaninya, dia akan membeberkan perbuatan kita di pondok sawah dan kasus pemerkosaan Paman Amir kepada seluruh warga desa malam itu juga."

Nantium meremas dadanya yang sesak. "Aku ketakutan, Sun... Aku tidak punya pilihan. Dan sejak malam itu, hampir setiap malam selama kamu di kota, dia datang dan terus meminta jatah yang sama. Ulahnyalah yang membuatku sampai hamil seperti ini."

Bagai disengat listrik jutaan volt, Panusunan mundur selangkah. "Kenapa... KENAPA KAU TIDAK CERITAKAN INI PADA PERTEMUAN TERAKHIR KITA, NANTI?!" raung Panusunan, murka sekaligus kecewa yang luar biasa. "Kenapa kamu menyembunyikannya dari gua?!"

Nantium mengangkat wajahnya yang berlumur air mata, menatap Panusunan dengan pandangan paling hancur. "Karena aku sudah merasa terlalu hina, Sun! Aku malu... Jiwa dan ragaku sudah kotor dikoyak-koyak oleh mereka. Aku merasa sudah tidak pantas lagi menjadi kekasihmu, apalagi menceritakan kebejatan Mardian kepadamu. Aku memilih mati rasa."

Benang Merah Masa Lalu

Rasa murka yang membakar dada membuat Panusunan tidak bisa tinggal diam. Ia segera mencari Mardian. Ia menemui mantan sahabat sebangkunya itu di sebuah sudut sepi di belakang balai desa. Tanpa basa-basi, Panusunan langsung mencengkeram kerah baju Mardian, siap melayangkan jotosan mentah ke wajah pemuda keriting itu.

"Kenapa, Mar?! Kenapa lo tega menghancurkan hidup Nantium dan mengkhianati gua?! Lo sahabat gua, bajingan!" teriak Panusunan dengan urat-urat leher yang menegang keras.

Mardian tidak melawan. Ia justru melempar senyum sinis yang penuh kemenangan, menepis kasar cengkeraman tangan Panusunan yang dilingkari gelang hitam.

"Kau mau tahu kenapa aku melakukannya, Sun?" tanya Mardian dengan nada dingin, sama sekali tidak merasa bersalah. "Semua skenario ini... ini adalah perintah dari ayahmu sendiri!"

Deg. Langkah kaki Panusunan seketika goyah. "Maksud lo apa? Jangan bawa-bawa Ayah!"

"Ayahmu, Pak Endar, yang menyuruhku untuk merusak hubungan kalian! Beliau tidak mau masa depanmu hancur di kota hanya karena berpacaran dengan anak gadis dari keluarga miskin seperti Nantium," ungkap Mardian, setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti pisau yang menguliti kesadaran Panusunan.

Mardian melangkah mendekat, membisikkan sebuah rahasia besar yang selama ini terkubur rapat di Desa Kumayan. "Dan ada satu hal lagi yang tidak kau tahu, Panusunan. Ibu Nantium... adalah gadis desa yang dulu menolak mentah-mentah cinta Pak Endar, ayahmu. Ayahmu menyimpan dendam masa lalu yang mendalam pada keluarga mereka. Pernikahanku dengan Nantium, dan kehancuran hidup gadis itu, adalah bentuk balas dendam terencana yang direstui oleh ayahmu sendiri!"

Mendengar kenyataan yang teramat kejam dan menjijikkan itu, dunia di sekitar Panusunan mendadak berputar hebat. Suara bising di kepalanya berdengung kencang. Sosok ayah yang selama ini ia hormati sebagai seorang guru, seorang panutan, ternyata adalah dalang di balik penderitaan gadis yang teramat dicintainya. Sahabatnya adalah pion pengeksekusi, dan Nantium adalah korban dari lingkaran setan masa lalu.

Dada Panusunan terasa dihantam beban ribuan ton hingga ia tidak sanggup lagi bernapas. Pandangannya perlahan menggelap, matanya membelalak tak percaya, sebelum akhirnya kesadarannya tumbang sepenuhnya. Panusunan pingsan, ambruk ke tanah kering Desa Kumayan, kalah oleh kenyataan yang teramat pahit untuk ditanggung oleh jiwanya.

***


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar