BAB XI: Putaran Pita Kaset yang Baru
“Bila cinta
sudah didusta jangan harap aku kembali”
Suara lengkingan
vokal yang khas dan distorsi gitar listrik yang bertenaga menutup lagu terakhir
malam itu. Tepuk tangan dan teriakan histeris ratusan penonton bergemuruh,
memenuhi seisi aula gedung pertunjukan di pusat kota. Lampu panggung perlahan
meredup, menyisakan kepulan asap smoke gun yang menggantung di udara.
Panusunan—yang
kini telah bertransformasi sepenuhnya dan dikenal publik dengan nama panggung
Ikren—menurunkan mikrofon dari penyangganya. Napasnya memburu, peluh membasahi
kaos hitamnya. Di pergelangan tangans kiri, jam tangan digitalnya telah
berganti menjadi aksesoris panggung yang lebih modern, namun gelang tali hitam
di tangan kanannya masih setia melingkar, seolah menjadi jangkar yang
mengikatnya pada bumi.
Tur promosi
album pertama band mereka akhirnya resmi berakhir malam ini. Sebuah tur yang
melelahkan, menguras emosi, namun sekaligus menjadi pembuktian bahwa ia
berhasil merebut kembali takdirnya yang sempat tercerabut di masa remaja.
Ikren
menyerahkan gitarnya kepada kru panggung, lalu melangkah turun melewati
pembatas. Ia tidak menuju ruang ganti, melainkan berjalan mantap ke sudut
barisan depan yang agak temaram. Di sana, berdiri seorang wanita yang tak
pernah lepas memandangnya sepanjang konser.
Rindu.
Cinta pertama
masa remajanya, gadis yang dulu menangis tersedu-sedu di terminal bus saat ia
terpaksa ikut orang tuanya pindah ke desa. Takdir rupanya punya cara yang unik
untuk memutar balik kompas kehidupan. Setelah bertahun-tahun berpisah, setelah
badai jahanam di Desa Kumayan berlalu dan menyisakan luka yang mendalam,
Panusunan kembali ke kota, memulai semuanya dari nol, dan takdir
mempertemukannya lagi dengan Rindu. Gadis itu menerima segala remah-remah masa
lalunya yang hancur dengan ketulusan yang luar biasa.
"Konser
yang hebat, Ren," ucap Rindu dengan senyum manis yang dulu selalu
dirindukan Panusunan di malam-malam sepinya.
Ikren tersenyum,
menyeka keringat di pelipisnya yang tertutup rambut—yang tak lagi belah tengah,
melainkan berpotongan gondrong khas anak grunge era baru. Ia menggenggam jemari
Rindu hangat.
"Makasih ya
sudah selalu ada di setiap kota," bisik Ikren tulus.
Mereka berdua
berjalan beriringan meninggalkan area gedung yang mulai sepi menuju pelataran
parkir. Udara malam kota berembus pelan, membawa obrolan yang sudah mereka
rencanakan sejak beberapa minggu lalu. Sebuah rencana besar setelah masa-masa
sibuk tur album ini selesai: pernikahan mereka yang tinggal menghitung hari.
"Jadi...
kita tetap dengan rencana awal untuk bulan madu kita?" tanya Rindu saat
mereka sudah berada di dalam mobil.
Ikren terdiam
sejenak. Matanya menatap lurus ke arah jalanan aspal di depan. Nama tempat itu
kembali terngiang di kepalanya. Sebuah tempat yang selama bertahun-tahun ini
sengaja ia kunci rapat-rapat di dalam laci ingatannya yang paling gelap. Tempat
yang sudah lama terlupakan.
"Iya,"
jawab Ikren, suaranya terdengar mantap namun tenang. "Kita akan ke Desa
Kumayan."
Rindu menoleh,
menatap suaminya dengan pandangan penuh pengertian. Dia tahu, bagi Ikren,
perjalanan bulan madu ini bukan sekadar liburan biasa. Ini adalah perjalanan
pulang untuk berdamai dengan masa lalu. Mengunjungi desa pegunungan yang dingin
itu bersama Rindu adalah cara Ikren untuk mengubur dalam-dalam bayang-bayang
kelam tentang pengkhianatan Mardian, kebejatan orang-orang dewasa di sana,
serta dendam masa lalu ayahnya yang telah menghancurkan hidup seorang gadis tak
bersalah bernama Nantium.
Mobil pun melaju
membelah malam kota yang terang benderang, bersiap menuju ke arah lintas
sumatra, kembali ke desa di balik gunung tempat semua cerita itu bermula.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar