Rabu, 10 Juni 2026

Cinta diujung Jalan XI TAMAT

BAB XI: Putaran Pita Kaset yang Baru

“Bila cinta sudah didusta jangan harap aku kembali”

 

Suara lengkingan vokal yang khas dan distorsi gitar listrik yang bertenaga menutup lagu terakhir malam itu. Tepuk tangan dan teriakan histeris ratusan penonton bergemuruh, memenuhi seisi aula gedung pertunjukan di pusat kota. Lampu panggung perlahan meredup, menyisakan kepulan asap smoke gun yang menggantung di udara.

 

Panusunan—yang kini telah bertransformasi sepenuhnya dan dikenal publik dengan nama panggung Ikren—menurunkan mikrofon dari penyangganya. Napasnya memburu, peluh membasahi kaos hitamnya. Di pergelangan tangans kiri, jam tangan digitalnya telah berganti menjadi aksesoris panggung yang lebih modern, namun gelang tali hitam di tangan kanannya masih setia melingkar, seolah menjadi jangkar yang mengikatnya pada bumi.

 

Tur promosi album pertama band mereka akhirnya resmi berakhir malam ini. Sebuah tur yang melelahkan, menguras emosi, namun sekaligus menjadi pembuktian bahwa ia berhasil merebut kembali takdirnya yang sempat tercerabut di masa remaja.

 

Ikren menyerahkan gitarnya kepada kru panggung, lalu melangkah turun melewati pembatas. Ia tidak menuju ruang ganti, melainkan berjalan mantap ke sudut barisan depan yang agak temaram. Di sana, berdiri seorang wanita yang tak pernah lepas memandangnya sepanjang konser.

 

Rindu.

 

Cinta pertama masa remajanya, gadis yang dulu menangis tersedu-sedu di terminal bus saat ia terpaksa ikut orang tuanya pindah ke desa. Takdir rupanya punya cara yang unik untuk memutar balik kompas kehidupan. Setelah bertahun-tahun berpisah, setelah badai jahanam di Desa Kumayan berlalu dan menyisakan luka yang mendalam, Panusunan kembali ke kota, memulai semuanya dari nol, dan takdir mempertemukannya lagi dengan Rindu. Gadis itu menerima segala remah-remah masa lalunya yang hancur dengan ketulusan yang luar biasa.

 

"Konser yang hebat, Ren," ucap Rindu dengan senyum manis yang dulu selalu dirindukan Panusunan di malam-malam sepinya.

 

Ikren tersenyum, menyeka keringat di pelipisnya yang tertutup rambut—yang tak lagi belah tengah, melainkan berpotongan gondrong khas anak grunge era baru. Ia menggenggam jemari Rindu hangat.

 

"Makasih ya sudah selalu ada di setiap kota," bisik Ikren tulus.

 

Mereka berdua berjalan beriringan meninggalkan area gedung yang mulai sepi menuju pelataran parkir. Udara malam kota berembus pelan, membawa obrolan yang sudah mereka rencanakan sejak beberapa minggu lalu. Sebuah rencana besar setelah masa-masa sibuk tur album ini selesai: pernikahan mereka yang tinggal menghitung hari.

 

"Jadi... kita tetap dengan rencana awal untuk bulan madu kita?" tanya Rindu saat mereka sudah berada di dalam mobil.

 

Ikren terdiam sejenak. Matanya menatap lurus ke arah jalanan aspal di depan. Nama tempat itu kembali terngiang di kepalanya. Sebuah tempat yang selama bertahun-tahun ini sengaja ia kunci rapat-rapat di dalam laci ingatannya yang paling gelap. Tempat yang sudah lama terlupakan.

 

"Iya," jawab Ikren, suaranya terdengar mantap namun tenang. "Kita akan ke Desa Kumayan."

 

Rindu menoleh, menatap suaminya dengan pandangan penuh pengertian. Dia tahu, bagi Ikren, perjalanan bulan madu ini bukan sekadar liburan biasa. Ini adalah perjalanan pulang untuk berdamai dengan masa lalu. Mengunjungi desa pegunungan yang dingin itu bersama Rindu adalah cara Ikren untuk mengubur dalam-dalam bayang-bayang kelam tentang pengkhianatan Mardian, kebejatan orang-orang dewasa di sana, serta dendam masa lalu ayahnya yang telah menghancurkan hidup seorang gadis tak bersalah bernama Nantium.

 

Mobil pun melaju membelah malam kota yang terang benderang, bersiap menuju ke arah lintas sumatra, kembali ke desa di balik gunung tempat semua cerita itu bermula.

***


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar