Rabu, 10 Juni 2026

Cinta diujung Jalan Bab IV



 

BAB V: Antara Panggung, Sawah, dan Noda Sore

Malam puncak perayaan ulang tahun SMP Negeri Kumayan menjadi saksi bisu bagi membumbungnya nama Panusunan dan Nantium. Di atas panggung sederhana dengan sorot lampu warna-warni seadanya, duet mereka sukses memukau seisi sekolah. Petikan gitar Panusunan yang magis bersanding sempurna dengan suara merdu Nantium, melahirkan tepuk tangan riuh yang seolah tak mau berhenti.

 

Namun, bagi Panusunan, panggung malam itu bukanlah pencapaian terbesarnya.

 

Sesaat setelah acara resmi ditutup dan riuh penonton mulai membubarkan diri di bawah langit malam desa yang bertabur bintang, Panusunan menarik lembut jemari Nantium. Mereka berjalan menjauh dari keramaian, menuju ke balik rimbunnya pohon mahoni di sudut lapangan yang sepi. Udara malam yang sedingin es tak mampu membendung debar di dada Panusunan. Dengan tatapan mata tajamnya yang kini melunak penuh kesungguhan, pemuda itu menggenggam tangan Nantium.

 

"Nanti... gua tahu gua anak baru di sini. Tapi sejak latihan vokal waktu itu, rasa ini nggak bisa gua bohongi lagi," ucap Panusunan, logat kotanya terdengar bergetar lembut. "Gua suka sama lo. Lo mau kan jadi pacar gua?"

 

Nantium tertegun. Benteng pertahanan yang selama ini ia bangun kokoh di dalam hatinya mendadak runtuh sepenuhnya. Menatap ketulusan di mata Panusunan, ia perlahan mengangguk kecil dengan pipi yang merona merah.

 

"Iya, Sun. Aku mau," bisik Nantium lirih.

 

Hari-Hari yang Bersemi

Sejak malam itu, dunia seolah hanya milik mereka berdua. Panusunan tidak lagi merindukan hiruk-pikuk kota atau studio musiknya yang dulu. Baginya, Desa Kumayan kini telah bertransformasi menjadi tempat paling indah karena keberadaan Nantium.

 

Hubungan mereka terjalin sangat erat dan tak terpisahkan. Di waktu siang setelah pulang sekolah, Panusunan yang berpakaian santai dengan kaos hitam dan celana jinsnya setulus hati menemani Nantium pergi ke sawah milik orang tua gadis itu. Anak kota yang dulunya anti kotor itu kini tak segan melepas sepatunya, ikut berjalan di atas pematang sawah, membantu Nantium membawa bekal atau sekadar menemani gadis itu mengusir burung pipit di bawah terik matahari.

 

Saat malam tiba, kebersamaan mereka berlanjut. Mereka kerap menghabiskan waktu di teras rumah atau di gardu pandang dekat perbatasan desa. Di bawah temaram cahaya bulan pegunungan, Panusunan akan memetik gitarnya secara perlahan, mengiringi suara merdu Nantium yang bernyanyi membelah keheningan malam. Kedekatan yang intens ini, hari demi hari, memupuk rasa kepemilikan dan gairah muda yang semakin mendalam di antara keduanya.

 

Batas yang Terlanggar

Hingga tibalah sebuah malam Minggu yang sunyi. Kabut tebal turun lebih cepat dari biasanya, membungkus Desa Kumayan dalam hawa dingin yang menggigit.

 

Di ujung desa, Mardian berjalan santai menyusuri jalanan setapak yang gelap. Berniat mencari Panusunan untuk mengajaknya mengobrol santai seperti malam Minggu biasanya, Mardian mengarahkan langkah kakinya menuju sebuah pondok kayu kosong di tepi sawah—tempat yang ia tahu sering menjadi lokasi favorit Panusunan dan Nantium menghabiskan malam untuk bernyanyi.

 

Kondisi malam itu sangat sepi, hanya terdengar suara jangkrik dan gesekan daun padi yang ditiup angin. Namun, saat langkah Mardian semakin dekat dengan pondok, ia tidak mendengar suara petikan gitar atau senandung lagu yang biasa menggema. Suasana justru terasa hening, diselingi bisikan-bisikan lirih yang ganjil.

 

Didorong rasa penasaran, Mardian melangkah mengendap-endap. Di bawah temaram cahaya bulan yang menembus celah dinding bambu pondok, mata Mardian seketika melebar. Jantungnya berdegup kencang, seolah berhenti berdetak untuk beberapa detik.

 

Melalui celah yang terbuka, tanpa sengaja Mardian memergoki Panusunan dan Nantium sedang melakukan hal yang teramat jauh di luar batas norma. Di tengah keheningan malam dan dinginnya udara desa, kedua remaja yang sedang dimabuk asmara itu telah hanyut oleh buaian rasa, melanggar dinding pembatas yang selama ini dijaga ketat oleh adat dan agama. Ini adalah kali pertama bagi pasangan muda itu melakukan perbuatan yang sangat dilarang tersebut.

 

Mardian berdiri terpaku, tubuhnya bergetar hebat antara syok, tidak percaya, dan juga merasa bersalah karena telah melihat apa yang seharusnya tidak ia lihat. Sahabat yang ia kenal baik, dan gadis yang dikenal sangat tertutup itu, kini telah melangkah terlalu jauh.

 

Sadar bahwa kehadirannya bisa merusak segalanya atau memperkeruh suasana, Mardian perlahan mundur selangkah demi selangkah. Dengan dada yang bergemuruh hebat dan perasaan campur aduk, ia berbalik. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Mardian diam-diam pergi meninggalkan area pondok sawah itu, membiarkan kegelapan malam Minggu menelan rahasia kelam yang baru saja ia saksikan.


 

Cinta diujung Jalan Bab III



BAB IV: Harmoni yang Tak Terduga

Pengumuman di papan kliping sekolah pagi itu sukses membuat gempar. Dalam rangka memperingati ulang tahun SMP Negeri Kumayan, pihak sekolah akan mengadakan kegiatan pentas seni (pensi) antar-kelas. Namun, kejutan terbesar justru datang dari ruang guru. Ibu Natalia, guru kesenian yang terkenal tegas, menunjuk Panusunan dan Nantium untuk berduet mewakili gabungan kelas mereka.

 

Panusunan didapuk untuk bernyanyi sekaligus memetik gitar, sementara Nantium menjadi vokalis utamanya.

 

"Duh, Sun, kok bisa kamu dipasangkan sama si 'Gadis Es' itu?" bisik Mardian cemas saat mereka berjalan menuju ruang musik di sudut belakang sekolah untuk latihan pertama.

 

Panusunan hanya mengangkat bahu, walau dalam hati dadanya berdegup agak kencang. Mengingat insiden labrak-melabrak beberapa minggu lalu, ia tidak yakin latihan ini akan berjalan mulus.

 

Saat pintu ruang musik yang berdebu itu terbuka, Nantium sudah duduk di sana. Ia menatap kedatangan Panusunan dengan pandangan datar yang sulit diartikan. Di sudut ruangan, sebuah gitar akustik tua bermerek Yamaha bersandar di dinding. Panusunan melangkah maju, mengambil gitar itu, lalu duduk di kursi kayu tepat di hadapan Nantium.

 

Di Antara Nada dan Rasa

"Kita mau bawa lagu apa?" tanya Nantium memecah keheningan, suaranya tidak seketus dulu, namun masih menyisakan dinding pembatas.

 

"Gimana kalau lagu yang lagi sering diputar di radio?" Panusunan mulai menyetem senar gitarnya. Jari-jarinya yang terbiasa memegang gitar listrik anak band kota tampak sangat lihai dan lincah memetik senar.

 

Setelah sepakat memilih sebuah lagu pop romantis berjudul My Heart yang dipopulerkan Acha ft Irwansyah  sedang hit di tahun 2000, Panusunan mulai memainkan intro. Petikan gitarnya begitu bersih, ritmenya sangat pas, dan mengalun indah memenuhi ruangan yang sepi.

Di sini kau dan aku
Terbiasa bersama
Menjalani kasih sayang
Bahagia ku denganmu

Nantium tertegun. Sepasang matanya yang biasa menatap sinis, kini melebar karena kagum. Ia tidak menyangka cowok kota berpenampilan urakan dengan jaket hijau army dan gelang-gelang hitam itu memiliki musikalitas seindah ini.

 

"Sekarang masuk bagianmu," ucap Panusunan memberi aba-aba dengan anggukan kepala.

 

Nantium menghirup napas dalam-dalam, lalu mulai melantunkan bait pertama.

 

Pernahkah kau menguntai

Hari paling indah?

Kuukir nama kita berdua

Di sini surga kita

 

Kali ini, giliran jantung Panusunan yang seolah berhenti berdetak. Suara Nantium terdengar begitu merdu, bening, dan penuh penghayatan, berpadu sempurna dengan petikan gitarnya. Ketika tiba di bagian reflektif, Panusunan masuk memberikan suara dua, menciptakan harmoni vokal duet yang luar biasa indah.

 

Di saat latihan vokal inilah, mata mereka kembali beradu pandang. Namun, tidak ada lagi kilatan amarah atau rasa tersinggung. Yang ada hanyalah getaran tak kasat mata yang perlahan meruntuhkan dinding ego masing-masing. Panusunan menatap lekat mata bening Nantium, dan menyadari sesuatu yang mengejutkan hatinya: ia tertarik pada gadis desa ini. Di sisi lain, Nantium yang selama ini menutup diri, merasa sangat kagum dengan suara vokal berat Panusunan serta caranya bermain gitar yang begitu memikat. Mereka berdua mendadak merasa sangat serasi, seolah musik telah menyatukan dua dunia mereka yang berbeda.

 

Redamnya Amarah di Balik Jendela

Di luar ruang musik, dari balik celah jendela kaca yang buram, sepasang mata memperhatikan mereka dengan dada yang bergemuruh. Triani berdiri di sana dengan wajah yang memerah padam menahan murka. Menyaksikan kebersamaan dan tatapan intim antara Panusunan dan Nantium membuat hatinya panas terbakar cemburu.

 

"Kurang ajar... berani-beraninya si Nantium kegatelan sama Panusunan," desis Triani, tangannya mengepal kuat siap untuk melabrak lagi.

 

Namun, belum sempat Triani melangkah ke pintu, sebuah tangan menahan pundaknya. Itu Mardian. Cowok keriting itu rupanya sudah mengawasi Triani sejak tadi.

 

"Tri, tunggu dulu. Jangan emosi," cetus Mardian dengan nada yang sengaja dilembutkan.

 

"Lepasin, Mar! Kamu nggak lihat mereka di dalam? Nantium itu sengaja—"

 

"Triani, dengerin aku dulu," potong Mardian tegas namun tetap tenang, menatap langsung ke mata Triani. "Panusunan itu anak baru, dia ke sini cuma mau sekolah dan bantu orang tuanya yang pensiun. Dan soal pensi ini, itu murni tugas dari Bu Natalia. Kamu tahu sendiri kan sifat Panusunan? Dia itu profesional kalau soal musik."

 

Mardian menghela napas pendek, lalu melanjutkan dengan suara lebih pelan, "Lagi pula, Tri... cinta itu nggak bisa dipaksa. Kamu cantik, pintar, populer di sekolah ini. Masih banyak cowok lain yang mendambakanmu. Jangan rendahkan dirimu dengan terus-terusan mengemis perhatian dari orang yang hatinya mungkin udah tertuju ke tempat lain. Lepasin aja, Tri. Kamu berhak mendapatkan yang lebih menghargai perasaanmu."

 

Mendengar penjelasan panjang lebar dan bijak dari Mardian, kalimat makian yang sudah di ujung lidah Triani mendadak tertelan kembali. Ia menatap Mardian yang menatapnya dengan tulus, lalu kembali menoleh ke dalam ruang musik di mana Panusunan dan Nantium tampak tertawa kecil bersama setelah menyelesaikan satu lagu.

 

Ada rasa sesak di dada Triani, namun perlahan ego tingginya mulai melunak. Kata-kata Mardian entah mengapa meresap jauh ke dalam sanubarinya. Ditambah lagi, perhatian kecil dari Mardian yang selalu ada di dekatnya belakangan ini membuat Triani menyadari sesuatu.

 

Triani mengembuskan napas panjang, bahunya yang tegang perlahan merosot turun.

 

"Ya sudah," gumam Triani lirih, matanya melirik Panusunan untuk terakhir kali dengan tatapan merelakan. "Mungkin dia memang bukan buat aku."

 

Dengan perasaan yang jauh lebih lega, Triani berbalik memunggungi ruang musik. Langkah kakinya kini terasa lebih ringan, mulai berjalan menjauh ditemani Mardian di sampingnya, membiarkan harmoni indah di dalam ruangan itu terus mengalun menyambut masa depan yang baru bagi Panusunan dan Nantium.


Cinta diujung Jalan Bab II

 


BAB II: Riak di Sela Lorong Kelas

Hawa dingin Desa Kumayan di pagi hari rupanya masih enggan beranjak, meski matahari bersemburat kuning keemasan sudah mulai meninggi. Panusunan berdiri di depan cermin lemari pakaiannya yang terbuat dari kayu jati tua. Ia merapikan seragam putih-biru barunya, mencoba membiasakan diri dengan pantulan sosoknya yang kini harus menjadi anak sekolahan di desa. Rambut belah tengahnya disisir rapi, kontras dengan alis tebal dan mata tajamnya yang pagi itu tampak kurang tidur. Jam *Digitec* di tangan kirinya menunjukkan pukul 07.00 WIB ketika ia melangkah keluar rumah menuju SMP Negeri Kumayan.

 

Sebagai murid pindahan dari kota besar di tahun pelajaran baru ini, kehadiran Panusunan jelas mencuri perhatian. Langkah kakinya yang dibalut sepatu kets hitam—satu-satunya barang yang tersisa dari gaya anak *band*-nya—terdengar ritmis menyusuri lantai semen selasar sekolah.

 

Saat wali kelas mempersilakannya maju ke depan kelas untuk memperkenalkan diri, puluhan pasang mata langsung tertuju padanya.

 

"Nama saya Panusunan. Pindahan dari kota," ujarnya singkat, padat, dengan nada suara yang agak berat.

 

Awalnya, Panusunan mengira hari-harinya akan terasa garing dan penuh kecanggangan. Namun, ramahnya anak-anak desa mematahkan dugaannya. Saat jam pelajaran pertama dimulai, beberapa anak laki-laki di barisan belakang mulai melempar candaan dan mengajaknya mengobrol. Jiwa supel yang biasa ia asah bersama teman-teman *band*-nya di kota rupanya membuat Panusunan mudah beradaptasi. Setidaknya, tawa renyah kawan-kawan barunya ini berhasil menyita pikirannya, membuatnya lupa sejenak pada studio musik, teman-teman lama, dan patah hatinya di kota.

 

---

 

### Jam Istirahat: Pukul 10.00 WIB

 

Bel berkarat yang digantung di dekat kantor guru dipukul bertalu-talu menggunakan besi, menandakan waktu istirahat pertama telah tiba.

 

"Sun, ke kantin yuk! Di belakang ada gorengan Mak Purna yang paling juara. Kalau telat, bisa kehabisan kita," ajak seorang anak berambut keriting dengan senyum lebar. Namanya Mardian, anak asli Kumayan yang sejak jam pertama tadi langsung akrab dan menjadi teman sebangkunya.

 

"Boleh, yuk. Perut gua juga udah dangdutan dari tadi," sahut Panusunan, menyelipkan logat kotanya yang belum hilang.

 

Mereka berdua berjalan beriringan menyusuri koridor sekolah yang semi-terbuka. Udara pegunungan yang sejuk berembus, menggoyahkan daun-daun pohon mahoni di halaman tengah. Sepanjang jalan, Mardian dengan antusias menceritakan seluk-beluk sekolah, mulai dari guru yang paling galak sampai mitos hantu di kamar mandi belakang. Panusunan mendengarkan sambil sesekali mengangguk.

 

Namun, langkah kaki Panusunan melambat saat mereka melewati deretan ruang kelas dua.

 

Melalui celah jendela nako yang terbuka, mata tajam Panusunan menangkap sebuah pemandangan yang ganjil. Di saat seluruh murid berhamburan ke lapangan atau kantin untuk melepas penat, ada satu ruang kelas yang hampir kosong melompong. Hanya ada satu orang di dalam sana.

 

Seorang gadis.

 

Gadis itu duduk sendirian di bangku baris tengah. Rambutnya dikuncir kuda sederhana, wajahnya tertunduk menatap permukaan meja kayu yang penuh coretan tipe-eks. Tangannya tampak memainkan ujung pulpen. Suasana di sekitar gadis itu terasa begitu sunyi dan terisolasi dari keriuhan hari pertama sekolah.

 

Panusunan menghentikan langkahnya total. Ia memperhatikan dengan seksama. *Kenapa wanita ini tidak keluar kelas? Apa dia sakit? Atau... dia nggak punya teman?* berbagai spekulasi langsung berputar di kepala Panusunan. Rasa penasarannya terusik.

 

Merasakan ada seseorang yang berdiri di luar jendela, gadis itu perlahan mengangkat wajahnya.

 

*Deg.*

 

Mata mereka beradu pandang melalui celah jendela. Gadis itu memiliki sepasang mata yang bening namun menyiratkan kedalaman yang sulit diartikan—ada semacam luka dan benteng pertahanan yang kokoh di sana. Untuk beberapa detik yang terasa lama, mereka hanya saling diam, terkunci dalam tatapan masing-masing.

 

Gadis yang belakangan akan diketahui bernama Nantium itu tampaknya merasa tidak nyaman, atau mungkin terintimidasi oleh tatapan mata tajam Panusunan serta alis tebalnya yang sekilas memang membuat wajah cowok itu tampak galak dan mengintimidasi.

 

Wajah Nantium mendadak berubah tegang. Sorot matanya yang semula tenang langsung berganti menjadi kilatan defensif yang tajam.

 

"Apa lihat-lihat?! Pergi sana!" bentak Nantium tiba-tiba dengan suara yang lantang dan ketus, memecah kesunyian ruang kelas tersebut.

 

Panusunan tersentak mundur satu langkah, agak terkejut mendapat sambutan sekeras itu di hari pertamanya. Sementara Mardian yang menyadari kepandiran temannya langsung menarik lengan jaket Panusunan.

 

"Eh, Sun! Ayo cepat, jangan cari masalah sama dia," bisik Mardian setengah menyeret Panusunan menjauh dari jendela kelas dua tersebut, meninggalkan Nantium yang masih menatap mereka dengan napas memburu dari balik meja kayunya.

"Heh, Panusunan! Kamu kenapa malah bengong di depan kelas Mak Lampir itu?"

 

Suara melengking tinggi khas remaja perempuan tiba-tiba membuyarkan keterkejutan Panusunan. Dari arah belakang, seorang gadis dengan seragam yang tampak sangat rapi dan wangi parfum menyengat berjalan cepat menghampiri mereka. Namanya Triani, teman sekelas Panusunan yang sejak jam pertama tadi tak henti-hentinya mencuri pandang ke arah meja Panusunan. Triani, dengan bando merah menyala di rambutnya, rupanya sudah menaruh hati pada pandangan pertama kepada si anak baru dari kota itu.

 

Namun, senyum manis yang awalnya dipersiapkan Triani langsung luntur saat ia menyadari bahwa Panusunan baru saja saling beradu pandang—bahkan dibentak—oleh gadis di dalam kelas dua tersebut.

 

Wajah Triani mendadak berlipat gundah, berganti menjadi kilatan emosi. Baginya, martabat cowok keren yang baru ditaksirnya tidak boleh diinjak-injak, apalagi oleh seorang Nantium.

 

"Kurang ajar banget ya itu anak. Anak baru nggak tahu apa-apa malah dibentak!" gerutu Triani berapi-api.

 

Sebelum Panusunan atau Mardian sempat mencegah, Triani dengan langkah menghentak-hentak langsung berbelok, melangkah mantap memasuki pintu kelas dua yang terbuka lebar. Tujuannya hanya satu: meja Nantium.

 

 

Melabrak di Sudut Kelas

Brak!

Triani menggebrak meja kosong di sebelah Nantium, membuat gadis kuncir kuda itu tersentak kaget.

"Maksudmu apa bentak-bentak Panusunan tadi, hah?!" labrak Triani tanpa basa-basi. Suaranya yang melengking menggema di ruangan yang sepi itu. "Dia itu anak baru, nggak ada salah sama kamu! Dasar aneh, pantesan nggak punya teman. Kerjaanmu cuma bisa nyari musuh aja ya!"

Panusunan dan Mardian yang panik segera menyusul masuk ke dalam kelas. Panusunan berdiri agak di belakang Triani, merasa tidak enak karena kehadirannyalah yang memicu keributan ini.

 

Nantium perlahan berdiri dari bangkunya. Alih-alih ketakutan karena dilabrak oleh kakak kelas—mengingat Triani duduk di kelas tiga—sorot mata Nantium justru semakin menajam. Dagunya terangkat menantang, memperlihatkan keteguhan yang luar biasa meskipun dikeroyok secara mental.

 

"Bukan urusanmu," sahut Nantium dingin, suaranya datar namun menusuk. "Tanya saja sama teman barumu yang matanya nggak bisa dijaga itu. Mau dia anak kota atau anak presiden sekalipun, kalau tidak sopan mengintip kelas orang, layak dipelototi!"

 

"Kamu—!" Triani menunjuk wajah Nantium dengan telunjuk yang gemetar karena emosi. "Heh, Nantium! Jaga mulutmu ya! Kamu itu cuma anak—"

 

"Tri, udah, Tri! Cukup!"

 

Panusunan akhirnya melangkah maju, memotong kalimat Triani sebelum situasi menjadi semakin runyam. Ia berdiri di antara kedua gadis itu, telapak tangan kirinya—yang dilingkari jam Digitec—terangkat ke udara, memberi isyarat agar Triani mundur.

 

Panusunan lalu menatap langsung ke arah Nantium. Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat gurat kelelahan sekaligus kekerasan kepala yang terpahat di wajah gadis itu.

 

"Gua yang salah," kata Panusunan dengan logat kota yang tegas, menatap Nantium lekat-lekat. "Gua yang lancang ngelihatin lo tadi. Jadi, nggak usah bawa-bawa orang lain. Tri, ayo keluar. Enggak enak dilihat guru."

 

Nantium hanya mendengus sinis, mengalihkan pandangannya ke luar jendela seolah-olah kehadiran mereka bertiga di kelasnya hanyalah sekumpulan lalat yang mengganggu.

 

Triani yang merasa pembelaannya tidak dihargai, menghentakkan kakinya kesal. "Kamu kok malah belain dia sih, Sun?! Ih, tau ah!" Dengan perasaan dongkol dan cemburu yang membakar dada, Triani berbalik dan berlari keluar kelas, meninggalkan selasar dengan kekesalan mendalam.

 

"Aduh, Sun... repot ini urusannya," bisik Mardian sambil menepuk jidatnya, memberi kode pada Panusunan agar mereka juga segera angkat kaki sebelum gosip ini menyebar ke seantero sekolah.

 

Panusunan memberikan satu tatapan terakhir pada Nantium yang kembali terdiam di bangkunya, lalu berbalik pergi. Hari pertamanya di sekolah desa yang ia kira akan membosankan, rupanya justru dimulai dengan sebuah riak permusuhan yang tak terduga.


Banua

. Berdirinya Banua Patani
Setelah melewati anutan kekosongan, Ompung Guru menerima pesan dari Ombun untuk mendirikan Bagas Parlagutan sebagai tempatnya mengajarkan anutan ditanah Sumbur. Tanah Sumbur sangat luas, asri dan subur. Cukup lama baginya untuk mendirikan bagas parlagutan karena usianya yang sudah tua.
Tak butuh waktu lama berdatanganlah orang ke bagas parlagutan untuk menimba ilmu dengan Ompung Guru. murid pertamanya adalah Kobul kemudian Majahat disusul oleh Sihataja. Setelah setahun barulah muncul Naril,Nawibar, Mantabi, Majahat dan terakhir Neki.


Mereka setiap hari sangat rajin belajar, sehabis tenggelam matahari Ompung Guru akan memberikan mangajari kepada semua murid-muridnya. Tentang bagaimana anutan yang benar, untuk tetap berpedoman pada tiopon yaitu Lampak dan Bias.

Suatu hari tatkala matahari akan bersinar turunlah Ombun dari langit dan memberikan perintah kepada Ompung Guru untuk mendirikan kerajaan.

"O.. Ompung Guru!, aku datang padamu membawa perintah dari Mangatas "
"Apakah isi perintah itu wahai Ombun?!"
"O.. Ompung Guru, kamu harus mendirikan kerajaan di Tanah Sumbur ini. Utarakanlah perintah ini kepada murid-muridmu niscaya kamu akan melihat tabiat setiap muridmu, namun sebelum itu suruhlah mereka untuk memakan buah "Salotna" ini, buah ini akan membuat mereka panjang umur ratusan bahkan ribuan tahun. Bila nanti mereka beristri kasiatnyapun akan sampai pada istrinya."
"Baiklah Ombun

Cinta diujung Jalan Bab I



BAB I: Senja di Balik Kaca Jendela

Deru mesin bus antarkota Bunga Raya menderu rendah, membelah jalanan aspal berkelok yang memutari lereng pegunungan. Di luar sana, hari mulai beranjak senja. Semburat warna jingga dan keunguan perlahan tenggelam di balik gumpalan kabut tebal yang mulai turun, membawa hawa dingin yang perlahan menyusup lewat sela-sela kaca jendela bus yang tak rapat sempurna.

 

Di sisi kanan jalan, sebuah sungai berbatu mengalir dengan airnya yang seingga jernih, memantulkan sisa-sisa cahaya langit sore. Riaknya yang deras seolah sedang balapan dengan laju bus yang membawa mereka semakin jauh meninggalkan hiruk-pikuk peradaban modern.

 

Di baris kursi nomor dua belas, Panusunan menyandarkan kepalanya ke kaca yang terasa sedingin es. Di telinganya, sepasang earphone busa berwarna hitam terpasang erat, mengalirkan suara melengking Once lewat lagu "Akulah Arjuna". Sesekali, suara musik itu agak melambat dan bergelombang—tanda bahwa baterai AA di dalam walkman Sony kuning yang ia genggam sudah mulai melemah.

 

Panusunan mengembuskan napas berat, membuat kaca jendela di depannya sedikit berembun. Ia menyeka embun itu dengan ujung jaket hijau army-nya. Menatap pantulan dirinya sendiri di kaca: seorang pemuda dengan rambut hitam yang dibelah tengah rapi—tren yang sedang digilai anak muda zaman itu—alis tebal yang menaungi sepasang mata tajam, serta sejumput jenggot tipis yang baru tumbuh di dagunya.

 

Di tangan kirinya, sebuah jam tangan digital merek Digitec menunjukkan pukul 17.45. Sementara di pergelangan tangan kanannya, melingkar beberapa gelang tali hitam polos—sisa-sisa identitasnya sebagai anak band kota yang terpaksa tercerabut dari akarnya. Lengkap dengan kaos hitam dan celana jins belelnya, Panusunan tampak seperti makhluk asing yang tersesat di jalur lintas sumatra ini.

 

Ia menoleh ke samping kirinya. Kedua orang tuanya duduk dengan gurat wajah yang bertolak belakang dengannya. Ibu dan Ayahnya sedari tadi tak berhenti tersenyum, sesekali menunjuk ke luar jendela, menikmati setiap jengkal pemandangan hijau yang dilewati. Ada binar kebahagiaan yang tulus di mata sang ayah.

 

Perjalanan ini adalah perjalanan pulang yang abadi bagi sang ayah. Setelah puluhan tahun merantau dan mengabdi sebagai guru pegawai negeri di kota, masa pensiun akhirnya tiba. Dan bagi ayahnya, tidak ada tempat terbaik untuk menghabiskan sisa umur selain tanah kelahiran: Desa Kumayan.

 

Namun bagi Panusunan, Desa Kumayan terdengar seperti akhir dari dunianya.

 

Kenapa harus sekarang? Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, seirama dengan putaran pita kaset di dalam walkman-nya.

 

Ia benci kenyataan ini. Ia sudah terlanjur nyaman dengan kehidupan kota yang dinamis. Di sana, di studio musik pengap berperedam telur yang biasa mereka sewa per jam, teman-teman bandnya mungkin sedang berkumpul menyusun daftar lagu untuk festival bulan depan. Dan yang paling menyakitkan, ia harus merelakan hubungannya kandas dengan sang kekasih, gadis yang menangis di terminal bus dua hari lalu saat melepas keberangkatannya. Semua itu harus ditinggalkan demi sebuah desa terpencil yang bahkan sinyal radio pun timbul tenggelam.

 

Bus kembali berguncang keras saat roda besarnya menghantam lubang jalanan gunung. Panusunan memejamkan mata, menekan tombol forward pada walkman-nya secara acak, berharap lagu berikutnya bisa meredam rasa dongkol dan rindu yang mulai menggunung di dadanya, tepat saat bus mulai berbelok memasuki gapura tua bertuliskan: Selamat Datang di Desa Kumayan.