Rabu, 10 Juni 2026

Cinta diujung Jalan VII

 

BAB VII: Badai Gosip yang Menghancurkan

Seminggu di kota terasa berjalan begitu lambat bagi Panusunan. Setelah menyelesaikan seluruh berkas pendaftaran sekolah barunya, ia bergegas kembali ke Desa Kumayan. Rasa rindu pada Nantium sudah membubung tinggi, mengalahkan rasa enggannya pada suasana desa.

 

Siang itu, bus Bunga Raya berguncang pelan memasuki batas wilayah kecamatan. Panusunan yang duduk di bangku tengah sempat merasa heran. Saat menaikki bus subuh tadi, ia tidak melihat Pak Anwar di kursi kemudi, begitu pula dengan Borang. Posisi mereka kini digantikan oleh seorang pria berwajah tegas bernama Pak Haris, dengan kernek berbadan kurus bernama Komeng.

 

Panusunan sempat mengernyitkan alis tebalnya, menatap jam Digitec-nya sejenak. Kok bisa langsung diganti kru busnya? pikirnya dalam hati. Namun, karena pikirannya sudah dipenuhi oleh bayangan wajah Nantium, Panusunan memilih mengabaikan keanehan itu dan menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi.

 

Tatapan Asing di Sepanjang Jalan

Begitu kakinya menapak di tanah terminal Desa Kumayan, Panusunan langsung merasakan ada atmosfer yang berbeda. Suasana desa terasa mencekam dan dingin, bukan karena kabut, melainkan karena sikap para warga.

 

Panusunan membetulkan letak jaket hijau army-nya dan mulai berjalan menyusuri jalanan desa menuju rumahnya. Namun, baru beberapa meter melangkah, ia menyadari sekelilingnya mendadak sunyi. Orang-orang yang sedang berkumpul di kedai kopi atau di depan teras rumah seketika menghentikan obrolan mereka.

 

Mata tajam Panusunan menangkap basah tatapan semua orang yang tertuju padanya. Sialnya, itu bukan tatapan ramah seperti minggu lalu. Beberapa ibu-ibu berbisik tetangga sambil menunjuk-nunjuk ke arahnya, sementara beberapa warga pria menatapnya dengan pandangan sinis dan jijik.

 

Panusunan mempercepat langkah kakinya dengan dada yang mulai berdegup kencang karena bingung sekaligus dongkol. Ada apa dengan orang-orang ini? Apa gua berbuat salah? batinnya bergejolak.

 

Ruang Tengah yang Mencekam

Sesampainya di rumah, kejanggalan itu semakin menjadi-jadi. Pintu depan terbuka, namun suasana di dalam begitu hening. Panusunan melangkah masuk dan menemukan kedua orang tuanya sudah duduk di ruang tengah.

 

Ibu dan ayahnya terlihat sangat murung. Sang ayah, yang biasanya menyambutnya dengan senyuman hangat seorang guru, kini duduk kaku dengan wajah tegang yang menyiratkan kekecewaan mendalam. Sang ibu bahkan tak mampu menatap mata putranya, beliau hanya menunduk sambil meremas sapu tangan.

 

"Ayah, Ibu... Panusunan sudah pulang," sapa Panusunan pelan, menurunkan tas ranselnya.

 

"Duduk, Panusunan," suara ayahnya terdengar berat dan dingin, memotong kalimat Panusunan tanpa basa-basi.

 

Panusunan mengambil tempat di kursi kayu seberang ayahnya. Atmosfer di ruangan itu mendadak berubah menjadi ruang interogasi yang mencekam.

 

"Ayah mau tanya langsung sama kamu. Jawab dengan jujur, jangan ada yang ditutupi," ujar sang ayah, matanya menatap tajam ke arah Panusunan. "Bagaimana sebenarnya hubungan percintaanmu dengan Nantium?"

 

Panusunan mengernyitkan dahi. "Kami pacaran, Yah. Panusunan serius sama Nanti. Memangnya ada apa?"

 

Sang ayah mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat menyakitkan. "Seminggu kamu di kota, desa ini gempar, Panusunan. Gosip busuk tentang pacarmu itu sudah beredar luas ke seantero kampung."

 

Ayahnya memajukan tubuhnya, menekan suaranya agar tidak terdengar ke luar rumah. "Nantium... gadis yang kamu bangga-banggakan itu, kabarnya berpacaran dengan Kepala Desa, Pak Amir. Dan bukan cuma itu, beredar cerita kalau Nantium juga punya hubungan gelap dengan Pak Anwar di dalam bus Bunga Raya!"

 

Deg.

 

Bagai dihantam godam besar tepat di dadanya, napas Panusunan mendadak tercekat.

 

"Istri Pak Anwar murka besar di terminal dua hari lalu," lanjut ayahnya lagi dengan nada getir. "Dia melabrak suaminya dan melarang Pak Anwar membawa bus Bunga Raya lagi. Itulah kenapa sopir busmu hari ini diganti! Nama baik keluarga kita ikut terseret karena semua orang tahu kamu berhubungan dekat dengan gadis itu!"

 

Mendengar rentetan kalimat itu, hati Panusunan hancur sehancur-hancurnya. Dadanya terasa sesak luar biasa, ada rasa panas yang menjalar hingga ke kepala. Ia mengingat kembali bagaimana Pak Anwar menghentikan bus di bengkel sepi waktu itu. Apakah Nantium mengkhianatinya? Ataukah ada hal lain yang terjadi? Pikiran Panusunan mendadak kusut berantakan, campur aduk antara rasa tidak percaya, cemburu, dan sakit hati yang teramat dalam.

 

Pertanyaan Terakhir Sang Ayah

Sebelum Panusunan sempat mencerna seluruh rasa sakitnya, sang ayah mengetukkan jarinya ke meja, memaksa Panusunan kembali fokus. Wajah mantan guru itu kini tampak memerah, menahan rasa malu yang teramat sangat sebagai pemuka masyarakat.

 

"Satu hal lagi, Panusunan..." suara ayahnya bergetar, kali ini dipenuhi rasa sangsi dan ketakutan seorang orang tua.

 

Ayahnya menatap lurus ke dalam sepasang mata tajam Panusunan yang kini mulai berkaca-kaca. "Ada selentingan lain yang mampir ke telinga Ayah. Warga bilang, mereka melihat kalian sering berduaan di pondok sawah. Jawab Ayah sekarang... apakah kalian berdua sudah melakukan hubungan badan yang dilarang itu?"

 

Pertanyaan menohok itu menggema di ruang tengah, menyisakan keheningan yang mencekik. Panusunan terpaku di kursinya, tangannya yang memakai gelang-gelang hitam bergetar hebat, tak mampu langsung mengeluarkan kata-kata di hadapan tatapan penuh tuntutan dari sang ayah.

***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar