BAB VII: Badai Gosip yang
Menghancurkan
Seminggu di kota
terasa berjalan begitu lambat bagi Panusunan. Setelah menyelesaikan seluruh
berkas pendaftaran sekolah barunya, ia bergegas kembali ke Desa Kumayan. Rasa
rindu pada Nantium sudah membubung tinggi, mengalahkan rasa enggannya pada
suasana desa.
Siang itu, bus
Bunga Raya berguncang pelan memasuki batas wilayah kecamatan. Panusunan yang
duduk di bangku tengah sempat merasa heran. Saat menaikki bus subuh tadi, ia
tidak melihat Pak Anwar di kursi kemudi, begitu pula dengan Borang. Posisi
mereka kini digantikan oleh seorang pria berwajah tegas bernama Pak Haris,
dengan kernek berbadan kurus bernama Komeng.
Panusunan sempat
mengernyitkan alis tebalnya, menatap jam Digitec-nya sejenak. Kok bisa langsung
diganti kru busnya? pikirnya dalam hati. Namun, karena pikirannya sudah
dipenuhi oleh bayangan wajah Nantium, Panusunan memilih mengabaikan keanehan
itu dan menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi.
Tatapan Asing di Sepanjang
Jalan
Begitu kakinya
menapak di tanah terminal Desa Kumayan, Panusunan langsung merasakan ada
atmosfer yang berbeda. Suasana desa terasa mencekam dan dingin, bukan karena
kabut, melainkan karena sikap para warga.
Panusunan
membetulkan letak jaket hijau army-nya dan mulai berjalan menyusuri jalanan
desa menuju rumahnya. Namun, baru beberapa meter melangkah, ia menyadari
sekelilingnya mendadak sunyi. Orang-orang yang sedang berkumpul di kedai kopi
atau di depan teras rumah seketika menghentikan obrolan mereka.
Mata tajam
Panusunan menangkap basah tatapan semua orang yang tertuju padanya. Sialnya,
itu bukan tatapan ramah seperti minggu lalu. Beberapa ibu-ibu berbisik tetangga
sambil menunjuk-nunjuk ke arahnya, sementara beberapa warga pria menatapnya
dengan pandangan sinis dan jijik.
Panusunan
mempercepat langkah kakinya dengan dada yang mulai berdegup kencang karena
bingung sekaligus dongkol. Ada apa dengan orang-orang ini? Apa gua berbuat
salah? batinnya bergejolak.
Ruang Tengah yang Mencekam
Sesampainya di
rumah, kejanggalan itu semakin menjadi-jadi. Pintu depan terbuka, namun suasana
di dalam begitu hening. Panusunan melangkah masuk dan menemukan kedua orang
tuanya sudah duduk di ruang tengah.
Ibu dan ayahnya
terlihat sangat murung. Sang ayah, yang biasanya menyambutnya dengan senyuman
hangat seorang guru, kini duduk kaku dengan wajah tegang yang menyiratkan
kekecewaan mendalam. Sang ibu bahkan tak mampu menatap mata putranya, beliau
hanya menunduk sambil meremas sapu tangan.
"Ayah,
Ibu... Panusunan sudah pulang," sapa Panusunan pelan, menurunkan tas
ranselnya.
"Duduk,
Panusunan," suara ayahnya terdengar berat dan dingin, memotong kalimat
Panusunan tanpa basa-basi.
Panusunan
mengambil tempat di kursi kayu seberang ayahnya. Atmosfer di ruangan itu
mendadak berubah menjadi ruang interogasi yang mencekam.
"Ayah mau
tanya langsung sama kamu. Jawab dengan jujur, jangan ada yang ditutupi,"
ujar sang ayah, matanya menatap tajam ke arah Panusunan. "Bagaimana
sebenarnya hubungan percintaanmu dengan Nantium?"
Panusunan
mengernyitkan dahi. "Kami pacaran, Yah. Panusunan serius sama Nanti.
Memangnya ada apa?"
Sang ayah
mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat menyakitkan. "Seminggu
kamu di kota, desa ini gempar, Panusunan. Gosip busuk tentang pacarmu itu sudah
beredar luas ke seantero kampung."
Ayahnya
memajukan tubuhnya, menekan suaranya agar tidak terdengar ke luar rumah.
"Nantium... gadis yang kamu bangga-banggakan itu, kabarnya berpacaran
dengan Kepala Desa, Pak Amir. Dan bukan cuma itu, beredar cerita kalau Nantium
juga punya hubungan gelap dengan Pak Anwar di dalam bus Bunga Raya!"
Deg.
Bagai dihantam
godam besar tepat di dadanya, napas Panusunan mendadak tercekat.
"Istri Pak
Anwar murka besar di terminal dua hari lalu," lanjut ayahnya lagi dengan
nada getir. "Dia melabrak suaminya dan melarang Pak Anwar membawa bus
Bunga Raya lagi. Itulah kenapa sopir busmu hari ini diganti! Nama baik keluarga
kita ikut terseret karena semua orang tahu kamu berhubungan dekat dengan gadis
itu!"
Mendengar
rentetan kalimat itu, hati Panusunan hancur sehancur-hancurnya. Dadanya terasa
sesak luar biasa, ada rasa panas yang menjalar hingga ke kepala. Ia mengingat
kembali bagaimana Pak Anwar menghentikan bus di bengkel sepi waktu itu. Apakah
Nantium mengkhianatinya? Ataukah ada hal lain yang terjadi? Pikiran Panusunan
mendadak kusut berantakan, campur aduk antara rasa tidak percaya, cemburu, dan
sakit hati yang teramat dalam.
Pertanyaan Terakhir Sang
Ayah
Sebelum
Panusunan sempat mencerna seluruh rasa sakitnya, sang ayah mengetukkan jarinya
ke meja, memaksa Panusunan kembali fokus. Wajah mantan guru itu kini tampak
memerah, menahan rasa malu yang teramat sangat sebagai pemuka masyarakat.
"Satu hal
lagi, Panusunan..." suara ayahnya bergetar, kali ini dipenuhi rasa sangsi
dan ketakutan seorang orang tua.
Ayahnya menatap
lurus ke dalam sepasang mata tajam Panusunan yang kini mulai berkaca-kaca.
"Ada selentingan lain yang mampir ke telinga Ayah. Warga bilang, mereka
melihat kalian sering berduaan di pondok sawah. Jawab Ayah sekarang... apakah
kalian berdua sudah melakukan hubungan badan yang dilarang itu?"
Pertanyaan
menohok itu menggema di ruang tengah, menyisakan keheningan yang mencekik.
Panusunan terpaku di kursinya, tangannya yang memakai gelang-gelang hitam
bergetar hebat, tak mampu langsung mengeluarkan kata-kata di hadapan tatapan
penuh tuntutan dari sang ayah.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar