Rabu, 10 Juni 2026

Cinta diujung Jalan Bab III



BAB IV: Harmoni yang Tak Terduga

Pengumuman di papan kliping sekolah pagi itu sukses membuat gempar. Dalam rangka memperingati ulang tahun SMP Negeri Kumayan, pihak sekolah akan mengadakan kegiatan pentas seni (pensi) antar-kelas. Namun, kejutan terbesar justru datang dari ruang guru. Ibu Natalia, guru kesenian yang terkenal tegas, menunjuk Panusunan dan Nantium untuk berduet mewakili gabungan kelas mereka.

 

Panusunan didapuk untuk bernyanyi sekaligus memetik gitar, sementara Nantium menjadi vokalis utamanya.

 

"Duh, Sun, kok bisa kamu dipasangkan sama si 'Gadis Es' itu?" bisik Mardian cemas saat mereka berjalan menuju ruang musik di sudut belakang sekolah untuk latihan pertama.

 

Panusunan hanya mengangkat bahu, walau dalam hati dadanya berdegup agak kencang. Mengingat insiden labrak-melabrak beberapa minggu lalu, ia tidak yakin latihan ini akan berjalan mulus.

 

Saat pintu ruang musik yang berdebu itu terbuka, Nantium sudah duduk di sana. Ia menatap kedatangan Panusunan dengan pandangan datar yang sulit diartikan. Di sudut ruangan, sebuah gitar akustik tua bermerek Yamaha bersandar di dinding. Panusunan melangkah maju, mengambil gitar itu, lalu duduk di kursi kayu tepat di hadapan Nantium.

 

Di Antara Nada dan Rasa

"Kita mau bawa lagu apa?" tanya Nantium memecah keheningan, suaranya tidak seketus dulu, namun masih menyisakan dinding pembatas.

 

"Gimana kalau lagu yang lagi sering diputar di radio?" Panusunan mulai menyetem senar gitarnya. Jari-jarinya yang terbiasa memegang gitar listrik anak band kota tampak sangat lihai dan lincah memetik senar.

 

Setelah sepakat memilih sebuah lagu pop romantis berjudul My Heart yang dipopulerkan Acha ft Irwansyah  sedang hit di tahun 2000, Panusunan mulai memainkan intro. Petikan gitarnya begitu bersih, ritmenya sangat pas, dan mengalun indah memenuhi ruangan yang sepi.

Di sini kau dan aku
Terbiasa bersama
Menjalani kasih sayang
Bahagia ku denganmu

Nantium tertegun. Sepasang matanya yang biasa menatap sinis, kini melebar karena kagum. Ia tidak menyangka cowok kota berpenampilan urakan dengan jaket hijau army dan gelang-gelang hitam itu memiliki musikalitas seindah ini.

 

"Sekarang masuk bagianmu," ucap Panusunan memberi aba-aba dengan anggukan kepala.

 

Nantium menghirup napas dalam-dalam, lalu mulai melantunkan bait pertama.

 

Pernahkah kau menguntai

Hari paling indah?

Kuukir nama kita berdua

Di sini surga kita

 

Kali ini, giliran jantung Panusunan yang seolah berhenti berdetak. Suara Nantium terdengar begitu merdu, bening, dan penuh penghayatan, berpadu sempurna dengan petikan gitarnya. Ketika tiba di bagian reflektif, Panusunan masuk memberikan suara dua, menciptakan harmoni vokal duet yang luar biasa indah.

 

Di saat latihan vokal inilah, mata mereka kembali beradu pandang. Namun, tidak ada lagi kilatan amarah atau rasa tersinggung. Yang ada hanyalah getaran tak kasat mata yang perlahan meruntuhkan dinding ego masing-masing. Panusunan menatap lekat mata bening Nantium, dan menyadari sesuatu yang mengejutkan hatinya: ia tertarik pada gadis desa ini. Di sisi lain, Nantium yang selama ini menutup diri, merasa sangat kagum dengan suara vokal berat Panusunan serta caranya bermain gitar yang begitu memikat. Mereka berdua mendadak merasa sangat serasi, seolah musik telah menyatukan dua dunia mereka yang berbeda.

 

Redamnya Amarah di Balik Jendela

Di luar ruang musik, dari balik celah jendela kaca yang buram, sepasang mata memperhatikan mereka dengan dada yang bergemuruh. Triani berdiri di sana dengan wajah yang memerah padam menahan murka. Menyaksikan kebersamaan dan tatapan intim antara Panusunan dan Nantium membuat hatinya panas terbakar cemburu.

 

"Kurang ajar... berani-beraninya si Nantium kegatelan sama Panusunan," desis Triani, tangannya mengepal kuat siap untuk melabrak lagi.

 

Namun, belum sempat Triani melangkah ke pintu, sebuah tangan menahan pundaknya. Itu Mardian. Cowok keriting itu rupanya sudah mengawasi Triani sejak tadi.

 

"Tri, tunggu dulu. Jangan emosi," cetus Mardian dengan nada yang sengaja dilembutkan.

 

"Lepasin, Mar! Kamu nggak lihat mereka di dalam? Nantium itu sengaja—"

 

"Triani, dengerin aku dulu," potong Mardian tegas namun tetap tenang, menatap langsung ke mata Triani. "Panusunan itu anak baru, dia ke sini cuma mau sekolah dan bantu orang tuanya yang pensiun. Dan soal pensi ini, itu murni tugas dari Bu Natalia. Kamu tahu sendiri kan sifat Panusunan? Dia itu profesional kalau soal musik."

 

Mardian menghela napas pendek, lalu melanjutkan dengan suara lebih pelan, "Lagi pula, Tri... cinta itu nggak bisa dipaksa. Kamu cantik, pintar, populer di sekolah ini. Masih banyak cowok lain yang mendambakanmu. Jangan rendahkan dirimu dengan terus-terusan mengemis perhatian dari orang yang hatinya mungkin udah tertuju ke tempat lain. Lepasin aja, Tri. Kamu berhak mendapatkan yang lebih menghargai perasaanmu."

 

Mendengar penjelasan panjang lebar dan bijak dari Mardian, kalimat makian yang sudah di ujung lidah Triani mendadak tertelan kembali. Ia menatap Mardian yang menatapnya dengan tulus, lalu kembali menoleh ke dalam ruang musik di mana Panusunan dan Nantium tampak tertawa kecil bersama setelah menyelesaikan satu lagu.

 

Ada rasa sesak di dada Triani, namun perlahan ego tingginya mulai melunak. Kata-kata Mardian entah mengapa meresap jauh ke dalam sanubarinya. Ditambah lagi, perhatian kecil dari Mardian yang selalu ada di dekatnya belakangan ini membuat Triani menyadari sesuatu.

 

Triani mengembuskan napas panjang, bahunya yang tegang perlahan merosot turun.

 

"Ya sudah," gumam Triani lirih, matanya melirik Panusunan untuk terakhir kali dengan tatapan merelakan. "Mungkin dia memang bukan buat aku."

 

Dengan perasaan yang jauh lebih lega, Triani berbalik memunggungi ruang musik. Langkah kakinya kini terasa lebih ringan, mulai berjalan menjauh ditemani Mardian di sampingnya, membiarkan harmoni indah di dalam ruangan itu terus mengalun menyambut masa depan yang baru bagi Panusunan dan Nantium.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar