BAB IV: Harmoni
yang Tak Terduga
Pengumuman di
papan kliping sekolah pagi itu sukses membuat gempar. Dalam rangka memperingati
ulang tahun SMP Negeri Kumayan, pihak sekolah akan mengadakan kegiatan pentas
seni (pensi) antar-kelas. Namun, kejutan terbesar justru datang dari ruang
guru. Ibu Natalia, guru kesenian yang terkenal tegas, menunjuk Panusunan dan
Nantium untuk berduet mewakili gabungan kelas mereka.
Panusunan
didapuk untuk bernyanyi sekaligus memetik gitar, sementara Nantium menjadi
vokalis utamanya.
"Duh, Sun,
kok bisa kamu dipasangkan sama si 'Gadis Es' itu?" bisik Mardian cemas
saat mereka berjalan menuju ruang musik di sudut belakang sekolah untuk latihan
pertama.
Panusunan hanya
mengangkat bahu, walau dalam hati dadanya berdegup agak kencang. Mengingat
insiden labrak-melabrak beberapa minggu lalu, ia tidak yakin latihan ini akan
berjalan mulus.
Saat pintu ruang
musik yang berdebu itu terbuka, Nantium sudah duduk di sana. Ia menatap
kedatangan Panusunan dengan pandangan datar yang sulit diartikan. Di sudut
ruangan, sebuah gitar akustik tua bermerek Yamaha bersandar di dinding.
Panusunan melangkah maju, mengambil gitar itu, lalu duduk di kursi kayu tepat
di hadapan Nantium.
Di Antara Nada dan Rasa
"Kita mau
bawa lagu apa?" tanya Nantium memecah keheningan, suaranya tidak seketus
dulu, namun masih menyisakan dinding pembatas.
"Gimana
kalau lagu yang lagi sering diputar di radio?" Panusunan mulai menyetem
senar gitarnya. Jari-jarinya yang terbiasa memegang gitar listrik anak band
kota tampak sangat lihai dan lincah memetik senar.
Setelah sepakat
memilih sebuah lagu pop romantis berjudul My Heart yang dipopulerkan Acha ft
Irwansyah sedang hit di tahun 2000,
Panusunan mulai memainkan intro. Petikan gitarnya begitu bersih, ritmenya
sangat pas, dan mengalun indah memenuhi ruangan yang sepi.
Nantium
tertegun. Sepasang matanya yang biasa menatap sinis, kini melebar karena kagum.
Ia tidak menyangka cowok kota berpenampilan urakan dengan jaket hijau army dan
gelang-gelang hitam itu memiliki musikalitas seindah ini.
"Sekarang
masuk bagianmu," ucap Panusunan memberi aba-aba dengan anggukan kepala.
Nantium
menghirup napas dalam-dalam, lalu mulai melantunkan bait pertama.
Pernahkah kau
menguntai
Hari paling
indah?
Kuukir nama kita
berdua
Di sini surga
kita
Kali ini,
giliran jantung Panusunan yang seolah berhenti berdetak. Suara Nantium
terdengar begitu merdu, bening, dan penuh penghayatan, berpadu sempurna dengan
petikan gitarnya. Ketika tiba di bagian reflektif, Panusunan masuk memberikan
suara dua, menciptakan harmoni vokal duet yang luar biasa indah.
Di saat latihan
vokal inilah, mata mereka kembali beradu pandang. Namun, tidak ada lagi kilatan
amarah atau rasa tersinggung. Yang ada hanyalah getaran tak kasat mata yang
perlahan meruntuhkan dinding ego masing-masing. Panusunan menatap lekat mata
bening Nantium, dan menyadari sesuatu yang mengejutkan hatinya: ia tertarik
pada gadis desa ini. Di sisi lain, Nantium yang selama ini menutup diri, merasa
sangat kagum dengan suara vokal berat Panusunan serta caranya bermain gitar
yang begitu memikat. Mereka berdua mendadak merasa sangat serasi, seolah musik
telah menyatukan dua dunia mereka yang berbeda.
Redamnya Amarah di Balik Jendela
Di luar ruang
musik, dari balik celah jendela kaca yang buram, sepasang mata memperhatikan
mereka dengan dada yang bergemuruh. Triani berdiri di sana dengan wajah yang
memerah padam menahan murka. Menyaksikan kebersamaan dan tatapan intim antara
Panusunan dan Nantium membuat hatinya panas terbakar cemburu.
"Kurang
ajar... berani-beraninya si Nantium kegatelan sama Panusunan," desis
Triani, tangannya mengepal kuat siap untuk melabrak lagi.
Namun, belum
sempat Triani melangkah ke pintu, sebuah tangan menahan pundaknya. Itu Mardian.
Cowok keriting itu rupanya sudah mengawasi Triani sejak tadi.
"Tri,
tunggu dulu. Jangan emosi," cetus Mardian dengan nada yang sengaja
dilembutkan.
"Lepasin,
Mar! Kamu nggak lihat mereka di dalam? Nantium itu sengaja—"
"Triani,
dengerin aku dulu," potong Mardian tegas namun tetap tenang, menatap
langsung ke mata Triani. "Panusunan itu anak baru, dia ke sini cuma mau
sekolah dan bantu orang tuanya yang pensiun. Dan soal pensi ini, itu murni
tugas dari Bu Natalia. Kamu tahu sendiri kan sifat Panusunan? Dia itu
profesional kalau soal musik."
Mardian menghela
napas pendek, lalu melanjutkan dengan suara lebih pelan, "Lagi pula,
Tri... cinta itu nggak bisa dipaksa. Kamu cantik, pintar, populer di sekolah
ini. Masih banyak cowok lain yang mendambakanmu. Jangan rendahkan dirimu dengan
terus-terusan mengemis perhatian dari orang yang hatinya mungkin udah tertuju
ke tempat lain. Lepasin aja, Tri. Kamu berhak mendapatkan yang lebih menghargai
perasaanmu."
Mendengar
penjelasan panjang lebar dan bijak dari Mardian, kalimat makian yang sudah di
ujung lidah Triani mendadak tertelan kembali. Ia menatap Mardian yang
menatapnya dengan tulus, lalu kembali menoleh ke dalam ruang musik di mana
Panusunan dan Nantium tampak tertawa kecil bersama setelah menyelesaikan satu
lagu.
Ada rasa sesak
di dada Triani, namun perlahan ego tingginya mulai melunak. Kata-kata Mardian
entah mengapa meresap jauh ke dalam sanubarinya. Ditambah lagi, perhatian kecil
dari Mardian yang selalu ada di dekatnya belakangan ini membuat Triani
menyadari sesuatu.
Triani
mengembuskan napas panjang, bahunya yang tegang perlahan merosot turun.
"Ya
sudah," gumam Triani lirih, matanya melirik Panusunan untuk terakhir kali
dengan tatapan merelakan. "Mungkin dia memang bukan buat aku."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar