Rabu, 10 Juni 2026

Cinta diujung Jalan Bab IV



 

BAB V: Antara Panggung, Sawah, dan Noda Sore

Malam puncak perayaan ulang tahun SMP Negeri Kumayan menjadi saksi bisu bagi membumbungnya nama Panusunan dan Nantium. Di atas panggung sederhana dengan sorot lampu warna-warni seadanya, duet mereka sukses memukau seisi sekolah. Petikan gitar Panusunan yang magis bersanding sempurna dengan suara merdu Nantium, melahirkan tepuk tangan riuh yang seolah tak mau berhenti.

 

Namun, bagi Panusunan, panggung malam itu bukanlah pencapaian terbesarnya.

 

Sesaat setelah acara resmi ditutup dan riuh penonton mulai membubarkan diri di bawah langit malam desa yang bertabur bintang, Panusunan menarik lembut jemari Nantium. Mereka berjalan menjauh dari keramaian, menuju ke balik rimbunnya pohon mahoni di sudut lapangan yang sepi. Udara malam yang sedingin es tak mampu membendung debar di dada Panusunan. Dengan tatapan mata tajamnya yang kini melunak penuh kesungguhan, pemuda itu menggenggam tangan Nantium.

 

"Nanti... gua tahu gua anak baru di sini. Tapi sejak latihan vokal waktu itu, rasa ini nggak bisa gua bohongi lagi," ucap Panusunan, logat kotanya terdengar bergetar lembut. "Gua suka sama lo. Lo mau kan jadi pacar gua?"

 

Nantium tertegun. Benteng pertahanan yang selama ini ia bangun kokoh di dalam hatinya mendadak runtuh sepenuhnya. Menatap ketulusan di mata Panusunan, ia perlahan mengangguk kecil dengan pipi yang merona merah.

 

"Iya, Sun. Aku mau," bisik Nantium lirih.

 

Hari-Hari yang Bersemi

Sejak malam itu, dunia seolah hanya milik mereka berdua. Panusunan tidak lagi merindukan hiruk-pikuk kota atau studio musiknya yang dulu. Baginya, Desa Kumayan kini telah bertransformasi menjadi tempat paling indah karena keberadaan Nantium.

 

Hubungan mereka terjalin sangat erat dan tak terpisahkan. Di waktu siang setelah pulang sekolah, Panusunan yang berpakaian santai dengan kaos hitam dan celana jinsnya setulus hati menemani Nantium pergi ke sawah milik orang tua gadis itu. Anak kota yang dulunya anti kotor itu kini tak segan melepas sepatunya, ikut berjalan di atas pematang sawah, membantu Nantium membawa bekal atau sekadar menemani gadis itu mengusir burung pipit di bawah terik matahari.

 

Saat malam tiba, kebersamaan mereka berlanjut. Mereka kerap menghabiskan waktu di teras rumah atau di gardu pandang dekat perbatasan desa. Di bawah temaram cahaya bulan pegunungan, Panusunan akan memetik gitarnya secara perlahan, mengiringi suara merdu Nantium yang bernyanyi membelah keheningan malam. Kedekatan yang intens ini, hari demi hari, memupuk rasa kepemilikan dan gairah muda yang semakin mendalam di antara keduanya.

 

Batas yang Terlanggar

Hingga tibalah sebuah malam Minggu yang sunyi. Kabut tebal turun lebih cepat dari biasanya, membungkus Desa Kumayan dalam hawa dingin yang menggigit.

 

Di ujung desa, Mardian berjalan santai menyusuri jalanan setapak yang gelap. Berniat mencari Panusunan untuk mengajaknya mengobrol santai seperti malam Minggu biasanya, Mardian mengarahkan langkah kakinya menuju sebuah pondok kayu kosong di tepi sawah—tempat yang ia tahu sering menjadi lokasi favorit Panusunan dan Nantium menghabiskan malam untuk bernyanyi.

 

Kondisi malam itu sangat sepi, hanya terdengar suara jangkrik dan gesekan daun padi yang ditiup angin. Namun, saat langkah Mardian semakin dekat dengan pondok, ia tidak mendengar suara petikan gitar atau senandung lagu yang biasa menggema. Suasana justru terasa hening, diselingi bisikan-bisikan lirih yang ganjil.

 

Didorong rasa penasaran, Mardian melangkah mengendap-endap. Di bawah temaram cahaya bulan yang menembus celah dinding bambu pondok, mata Mardian seketika melebar. Jantungnya berdegup kencang, seolah berhenti berdetak untuk beberapa detik.

 

Melalui celah yang terbuka, tanpa sengaja Mardian memergoki Panusunan dan Nantium sedang melakukan hal yang teramat jauh di luar batas norma. Di tengah keheningan malam dan dinginnya udara desa, kedua remaja yang sedang dimabuk asmara itu telah hanyut oleh buaian rasa, melanggar dinding pembatas yang selama ini dijaga ketat oleh adat dan agama. Ini adalah kali pertama bagi pasangan muda itu melakukan perbuatan yang sangat dilarang tersebut.

 

Mardian berdiri terpaku, tubuhnya bergetar hebat antara syok, tidak percaya, dan juga merasa bersalah karena telah melihat apa yang seharusnya tidak ia lihat. Sahabat yang ia kenal baik, dan gadis yang dikenal sangat tertutup itu, kini telah melangkah terlalu jauh.

 

Sadar bahwa kehadirannya bisa merusak segalanya atau memperkeruh suasana, Mardian perlahan mundur selangkah demi selangkah. Dengan dada yang bergemuruh hebat dan perasaan campur aduk, ia berbalik. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Mardian diam-diam pergi meninggalkan area pondok sawah itu, membiarkan kegelapan malam Minggu menelan rahasia kelam yang baru saja ia saksikan.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar