BAB IX: Kebenaran yang Terungkap
Malam berikutnya, badai penyesalan memaksa Panusunan untuk
kembali melanggar titah orang tuanya. Logika anak mudanya berontak. Di dalam
kamar, sambil menatap jam Digitec-nya yang berdetik sunyi, ia menyadari
ada lubang besar dalam semua cerita ini. Mengapa Nantium hanya menangis
semalam? Kenapa Mardian begitu menggebu-gebu menyeretnya pergi?
Dengan tekad yang bulat, Panusunan kembali menyelinap
menembus kabut pekat Desa Kumayan, menuju rumah panggung Bibi Buek untuk kedua
kalinya.
Saat pintu kayu itu berderit terbuka, Nantium masih terduduk
di posisi yang sama seperti semalam. Namun kali ini, gurat wajahnya berubah.
Ketakutan yang sempat mengunci rapat bibirnya runtuh bersama rasa sakit yang
sudah mencapai batas maksimal. Begitu melihat sosok Panusunan dengan jaket
hijau army-nya berdiri di ambang pintu, Nantium bangkit.
Kali ini, Nantium tidak lagi diam.
Topeng Sang Sahabat
"Sun..." suara Nantium bergetar, namun sepasang
mata beningnya menatap lurus ke dalam manik mata tajam Panusunan. "Kalau
kamu ke sini hanya untuk mengutukku, silakan. Tapi dengarkan dulu kebenaran
ini, demi Tuhan, aku tidak pernah mengkhianatimu."
Panusunan terpaku di tempatnya berdiri, tangannya mengepal di
dalam saku jaket. "Kebenaran apa, Nanti? Warga, ayahku, bahkan
Mardian..."
"Mardian!" potong Nantium dengan nada tinggi yang
sarat akan kepedihan. "Semua gosip busuk, semua kehancuran ini... itu
semua ulah Mardian, Sun!"
Nantium melangkah mendekat, air matanya meluncur deras.
"Jauh sebelum kamu pindah ke desa ini, Mardian berkali-kali mengirimkan
surat cinta kepadaku. Dia mengejarku, Sun. Tapi semuanya kutolak karena aku
tidak punya rasa sama sekali dengannya. Dan setelah kamu datang, setelah kita
bersama, dendam dan cemburunya berubah menjadi iblis."
Panusunan meraba dadanya yang mendadak terasa dihantam
banyalan batu. Mardian? Sahabat sebangkunya?
"Hari itu, Mardian datang ke rumahku. Dia yang
menyuruhku datang ke rumah Paman Amir dengan alasan mengambil Bantuan Desa. Dia
tahu Paman Amir itu punya niat bejat sama aku!" Nantium menjerit histeris,
mengingat malam terkutuk itu. "Di rumah itu... Paman Amir menjebakku, Sun.
Kaki dipijak sampai aku tidak bisa bergerak, lalu dia memerkosaku! Dan setelah
selesai, dia mengancam akan menyebarkan fitnah kalau aku ini wanita murahan
jika aku berani mengadu. Dan tebak siapa yang menyebarkan desas-desus itu ke
seantero desa hingga telinga istri Pak Anwar? Mardian! Dia yang menyusun semua
cerita ini untuk menghancurkanku dan memisahkan kita!"
Panusunan berdiri mematung bak patung batu. Alis tebalnya
bertaut erat, wajahnya memucat seketika. Kenyataan bahwa Mardian—orang yang
paling ia percayai di desa ini, orang yang menenangkannya saat emosi—adalah
dalang di balik runtuhnya kehormatan sang kekasih, membuat dunia Panusunan
serasa runtuh berantakan.
Kesaksian dari Bus dan
Teror di Selasar Sekolah
Nantium menghapus kasar air matanya, mencoba menstabilkan
napasnya yang memburu untuk melanjutkan ceritanya yang belum usai.
"Lalu soal kejadian di bus Bunga Raya saat kamu
di kota," lanjut Nantium dengan suara yang mulai serak. "Pak Anwar
memang berniat jahat kepadaku setelah mengintip kita di bengkel sepi itu. Di
perjalanan pulang, dia menghentikan bus dan mencoba melecehkanku dengan
menyodorkan uang ke dadaku. Tapi demi Allah, Sun, tidak terjadi hal senonoh apa
pun! Bang Borang, kerneknya, langsung datang menghalangi Pak Anwar. Bang Borang
yang menjagaku sepanjang jalan sampai selamat ke desa ini."
Panusunan mengembuskan napas berat, rasa sesak akibat cemburu
buta yang sempat membakar dadanya perlahan mencair, berganti menjadi rasa
bersalah yang teramat besar kepada Nantium. Gadisnya tidak bersalah. Gadisnya
adalah korban dari kejamnya lingkungan desa ini.
"Bukan cuma mereka, Sun..." Nantium mencengkeram
ujung baju Panusunan, tubuhnya bergetar hebat mengingat betapa menjijikkannya
orang-orang dewasa di sekitar mereka. "Saat kamu masih berada di kota, aku
juga diteror di sekolah. Kamu ingat Pak Jafar? Suami dari Ibu Guru Biologi
kita?"
Panusunan mengangguk kaku.
"Waktu itu dia selesai mengantar istrinya ke sekolah.
Saat berpapasan denganku di selasar lingkungan sekolah yang sepi, dia
menghentikan langkahku. Dengan wajah mesum dia berbisik, 'Untuk apa kau sama
si Panusunan? Lebih ganteng lagi aku. Apa lagi dia pandenya cuma isap aja,'
katanya!" Nantium menirukan ucapan menjijikkan itu dengan rasa jijik yang
kentara.
Mendengar penuturan terakhir Nantium, darah Panusunan
mendidih hebat. Rahangnya mengatup rapat hingga urat-urat di lehernya menegang.
Di tangan kirinya, jam Digitec terasa berdenyut seirama dengan detak
jantungnya yang dipompa oleh amarah yang membara. Gadis yang dicintainya, yang
dianggapnya rapuh, ternyata telah melewati neraka jahanam sendirian selama
seminggu ia tinggalkan ke kota. Semuanya tertata rapi dalam konspirasi busuk
yang dipicu oleh sakit hati seorang sahabat bernama Mardian.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar