Rabu, 10 Juni 2026

Cinta diujung Jalan IX

 

BAB IX: Kebenaran yang Terungkap

Malam berikutnya, badai penyesalan memaksa Panusunan untuk kembali melanggar titah orang tuanya. Logika anak mudanya berontak. Di dalam kamar, sambil menatap jam Digitec-nya yang berdetik sunyi, ia menyadari ada lubang besar dalam semua cerita ini. Mengapa Nantium hanya menangis semalam? Kenapa Mardian begitu menggebu-gebu menyeretnya pergi?

Dengan tekad yang bulat, Panusunan kembali menyelinap menembus kabut pekat Desa Kumayan, menuju rumah panggung Bibi Buek untuk kedua kalinya.

Saat pintu kayu itu berderit terbuka, Nantium masih terduduk di posisi yang sama seperti semalam. Namun kali ini, gurat wajahnya berubah. Ketakutan yang sempat mengunci rapat bibirnya runtuh bersama rasa sakit yang sudah mencapai batas maksimal. Begitu melihat sosok Panusunan dengan jaket hijau army-nya berdiri di ambang pintu, Nantium bangkit.

Kali ini, Nantium tidak lagi diam.

Topeng Sang Sahabat

"Sun..." suara Nantium bergetar, namun sepasang mata beningnya menatap lurus ke dalam manik mata tajam Panusunan. "Kalau kamu ke sini hanya untuk mengutukku, silakan. Tapi dengarkan dulu kebenaran ini, demi Tuhan, aku tidak pernah mengkhianatimu."

Panusunan terpaku di tempatnya berdiri, tangannya mengepal di dalam saku jaket. "Kebenaran apa, Nanti? Warga, ayahku, bahkan Mardian..."

"Mardian!" potong Nantium dengan nada tinggi yang sarat akan kepedihan. "Semua gosip busuk, semua kehancuran ini... itu semua ulah Mardian, Sun!"

Nantium melangkah mendekat, air matanya meluncur deras. "Jauh sebelum kamu pindah ke desa ini, Mardian berkali-kali mengirimkan surat cinta kepadaku. Dia mengejarku, Sun. Tapi semuanya kutolak karena aku tidak punya rasa sama sekali dengannya. Dan setelah kamu datang, setelah kita bersama, dendam dan cemburunya berubah menjadi iblis."

Panusunan meraba dadanya yang mendadak terasa dihantam banyalan batu. Mardian? Sahabat sebangkunya?

"Hari itu, Mardian datang ke rumahku. Dia yang menyuruhku datang ke rumah Paman Amir dengan alasan mengambil Bantuan Desa. Dia tahu Paman Amir itu punya niat bejat sama aku!" Nantium menjerit histeris, mengingat malam terkutuk itu. "Di rumah itu... Paman Amir menjebakku, Sun. Kaki dipijak sampai aku tidak bisa bergerak, lalu dia memerkosaku! Dan setelah selesai, dia mengancam akan menyebarkan fitnah kalau aku ini wanita murahan jika aku berani mengadu. Dan tebak siapa yang menyebarkan desas-desus itu ke seantero desa hingga telinga istri Pak Anwar? Mardian! Dia yang menyusun semua cerita ini untuk menghancurkanku dan memisahkan kita!"

Panusunan berdiri mematung bak patung batu. Alis tebalnya bertaut erat, wajahnya memucat seketika. Kenyataan bahwa Mardian—orang yang paling ia percayai di desa ini, orang yang menenangkannya saat emosi—adalah dalang di balik runtuhnya kehormatan sang kekasih, membuat dunia Panusunan serasa runtuh berantakan.

Kesaksian dari Bus dan Teror di Selasar Sekolah

Nantium menghapus kasar air matanya, mencoba menstabilkan napasnya yang memburu untuk melanjutkan ceritanya yang belum usai.

"Lalu soal kejadian di bus Bunga Raya saat kamu di kota," lanjut Nantium dengan suara yang mulai serak. "Pak Anwar memang berniat jahat kepadaku setelah mengintip kita di bengkel sepi itu. Di perjalanan pulang, dia menghentikan bus dan mencoba melecehkanku dengan menyodorkan uang ke dadaku. Tapi demi Allah, Sun, tidak terjadi hal senonoh apa pun! Bang Borang, kerneknya, langsung datang menghalangi Pak Anwar. Bang Borang yang menjagaku sepanjang jalan sampai selamat ke desa ini."

Panusunan mengembuskan napas berat, rasa sesak akibat cemburu buta yang sempat membakar dadanya perlahan mencair, berganti menjadi rasa bersalah yang teramat besar kepada Nantium. Gadisnya tidak bersalah. Gadisnya adalah korban dari kejamnya lingkungan desa ini.

"Bukan cuma mereka, Sun..." Nantium mencengkeram ujung baju Panusunan, tubuhnya bergetar hebat mengingat betapa menjijikkannya orang-orang dewasa di sekitar mereka. "Saat kamu masih berada di kota, aku juga diteror di sekolah. Kamu ingat Pak Jafar? Suami dari Ibu Guru Biologi kita?"

Panusunan mengangguk kaku.

"Waktu itu dia selesai mengantar istrinya ke sekolah. Saat berpapasan denganku di selasar lingkungan sekolah yang sepi, dia menghentikan langkahku. Dengan wajah mesum dia berbisik, 'Untuk apa kau sama si Panusunan? Lebih ganteng lagi aku. Apa lagi dia pandenya cuma isap aja,' katanya!" Nantium menirukan ucapan menjijikkan itu dengan rasa jijik yang kentara.

Mendengar penuturan terakhir Nantium, darah Panusunan mendidih hebat. Rahangnya mengatup rapat hingga urat-urat di lehernya menegang. Di tangan kirinya, jam Digitec terasa berdenyut seirama dengan detak jantungnya yang dipompa oleh amarah yang membara. Gadis yang dicintainya, yang dianggapnya rapuh, ternyata telah melewati neraka jahanam sendirian selama seminggu ia tinggalkan ke kota. Semuanya tertata rapi dalam konspirasi busuk yang dipicu oleh sakit hati seorang sahabat bernama Mardian.

***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar