BAB V: Antara
Panggung, Sawah, dan Noda Sore
Malam puncak
perayaan ulang tahun SMP Negeri Kumayan menjadi saksi bisu bagi membumbungnya
nama Panusunan dan Nantium. Di atas panggung sederhana dengan sorot lampu
warna-warni seadanya, duet mereka sukses memukau seisi sekolah. Petikan gitar
Panusunan yang magis bersanding sempurna dengan suara merdu Nantium, melahirkan
tepuk tangan riuh yang seolah tak mau berhenti.
Namun, bagi
Panusunan, panggung malam itu bukanlah pencapaian terbesarnya.
Sesaat setelah
acara resmi ditutup dan riuh penonton mulai membubarkan diri di bawah langit
malam desa yang bertabur bintang, Panusunan menarik lembut jemari Nantium.
Mereka berjalan menjauh dari keramaian, menuju ke balik rimbunnya pohon mahoni
di sudut lapangan yang sepi. Udara malam yang sedingin es tak mampu membendung
debar di dada Panusunan. Dengan tatapan mata tajamnya yang kini melunak penuh
kesungguhan, pemuda itu menggenggam tangan Nantium.
"Nanti...
gua tahu gua anak baru di sini. Tapi sejak latihan vokal waktu itu, rasa ini
nggak bisa gua bohongi lagi," ucap Panusunan, logat kotanya terdengar
bergetar lembut. "Gua suka sama lo. Lo mau kan jadi pacar gua?"
Nantium
tertegun. Benteng pertahanan yang selama ini ia bangun kokoh di dalam hatinya
mendadak runtuh sepenuhnya. Menatap ketulusan di mata Panusunan, ia perlahan
mengangguk kecil dengan pipi yang merona merah.
"Iya, Sun.
Aku mau," bisik Nantium lirih.
Hari-Hari yang
Bersemi
Sejak malam itu,
dunia seolah hanya milik mereka berdua. Panusunan tidak lagi merindukan
hiruk-pikuk kota atau studio musiknya yang dulu. Baginya, Desa Kumayan kini
telah bertransformasi menjadi tempat paling indah karena keberadaan Nantium.
Hubungan mereka
terjalin sangat erat dan tak terpisahkan. Di waktu siang setelah pulang
sekolah, Panusunan yang berpakaian santai dengan kaos hitam dan celana jinsnya
setulus hati menemani Nantium pergi ke sawah milik orang tua gadis itu. Anak
kota yang dulunya anti kotor itu kini tak segan melepas sepatunya, ikut
berjalan di atas pematang sawah, membantu Nantium membawa bekal atau sekadar
menemani gadis itu mengusir burung pipit di bawah terik matahari.
Saat malam tiba,
kebersamaan mereka berlanjut. Mereka kerap menghabiskan waktu di teras rumah
atau di gardu pandang dekat perbatasan desa. Di bawah temaram cahaya bulan
pegunungan, Panusunan akan memetik gitarnya secara perlahan, mengiringi suara
merdu Nantium yang bernyanyi membelah keheningan malam. Kedekatan yang intens
ini, hari demi hari, memupuk rasa kepemilikan dan gairah muda yang semakin
mendalam di antara keduanya.
Batas yang Terlanggar
Hingga tibalah
sebuah malam Minggu yang sunyi. Kabut tebal turun lebih cepat dari biasanya,
membungkus Desa Kumayan dalam hawa dingin yang menggigit.
Di ujung desa,
Mardian berjalan santai menyusuri jalanan setapak yang gelap. Berniat mencari
Panusunan untuk mengajaknya mengobrol santai seperti malam Minggu biasanya,
Mardian mengarahkan langkah kakinya menuju sebuah pondok kayu kosong di tepi
sawah—tempat yang ia tahu sering menjadi lokasi favorit Panusunan dan Nantium
menghabiskan malam untuk bernyanyi.
Kondisi malam
itu sangat sepi, hanya terdengar suara jangkrik dan gesekan daun padi yang
ditiup angin. Namun, saat langkah Mardian semakin dekat dengan pondok, ia tidak
mendengar suara petikan gitar atau senandung lagu yang biasa menggema. Suasana
justru terasa hening, diselingi bisikan-bisikan lirih yang ganjil.
Didorong rasa
penasaran, Mardian melangkah mengendap-endap. Di bawah temaram cahaya bulan
yang menembus celah dinding bambu pondok, mata Mardian seketika melebar.
Jantungnya berdegup kencang, seolah berhenti berdetak untuk beberapa detik.
Melalui celah
yang terbuka, tanpa sengaja Mardian memergoki Panusunan dan Nantium sedang
melakukan hal yang teramat jauh di luar batas norma. Di tengah keheningan malam
dan dinginnya udara desa, kedua remaja yang sedang dimabuk asmara itu telah
hanyut oleh buaian rasa, melanggar dinding pembatas yang selama ini dijaga
ketat oleh adat dan agama. Ini adalah kali pertama bagi pasangan muda itu
melakukan perbuatan yang sangat dilarang tersebut.
Mardian berdiri
terpaku, tubuhnya bergetar hebat antara syok, tidak percaya, dan juga merasa
bersalah karena telah melihat apa yang seharusnya tidak ia lihat. Sahabat yang
ia kenal baik, dan gadis yang dikenal sangat tertutup itu, kini telah melangkah
terlalu jauh.
Sadar bahwa
kehadirannya bisa merusak segalanya atau memperkeruh suasana, Mardian perlahan
mundur selangkah demi selangkah. Dengan dada yang bergemuruh hebat dan perasaan
campur aduk, ia berbalik. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Mardian
diam-diam pergi meninggalkan area pondok sawah itu, membiarkan kegelapan malam
Minggu menelan rahasia kelam yang baru saja ia saksikan.




