Selasa, 19 Maret 2013

RABAR



Rabar

Rabar adalah rujak yang cara pembuatannya adalah dengan di tumbuk atau di giling,biasanya bahan yang di gunakan adalah buah-buahan namun yang akan saya buat ini adalah menggunakan jantung pisang sebagai bahan utama.

Dan ada juga Rabar Kunyit untuk obat dan rasanya juga tak kalah enak, dan bagi anda yang belum pernah memakan rabar disini saya akan utarakan cara membuatnya.


Resep Membuat Rabar Atau Rujak Tumbuk dari Pakantan


Rabar atau rujak tumbuk memang enak dan rasanya yang dahsyat. Rasanya yang manis, asam, asin dan pedas tidak ada yang dapat menolak untuk menyantap makan khas Pakantan ini.
 Berikut ini resep membuat rabar istimewa.




Bahan Membuat Rabar : 
Jantung pisang (sesuai selera)

















Nenas








jeruk nipis














cabe merah dan cabe rawit








Kunyit




















garam secukupnya


























antan dan alu (untuk menumbuk bahan)


Cara Membuat Rabar : 

  • Masukkan  cabe merah, cabe rawit, kunyit dan garam ke dalam alu kemudian tumbuk sampai halus.
















  • Setelah halus masukkan jantung pisang dan tumbuk sampai halus





















  • Baru kemudian masukkan nenas dengan menumbuk pelan dengan menekan-nekan nenasnya.

















  • Kemudian masukkan jeruk nipis.

















  • Setelah santap!! Maknyosss,….




















Rabu, 06 Februari 2013

Cahaya Harapan


Malam terlihat ingin menangis, tersebab awan hitam tutupi langit yang keruh. Keruh akan suara-suara bising pabrik-pabrik, keruh akan asap penyakit dari mulut sang Perokok yang tak pernah peduli akan paruku. Ku berdiam diri, duduk menikmati keheningan malam ketujuhku di teras rumah ini.
Seorang sahabat datang menghampiriku dengan wajah riang di tonjolkannya. Dia mendekat dengan asap gerogoti udara indah ini, seakan tanpa rasa bersalah dia menghembuskan sang asap. Dia tersenyum “Selamat kamu bisa membuatnya tersenyum kembali !!!” ucapnya

                “Maksud mu apa Win,..?!” 

                “Rani sekarang tak murung lagi seperti beberapa bulan yang lalu, semua ini berkatmu yang mampu memberikan senyum di bibirnya lagi .”

                “Oh..itu sudah hal biasa yang kulakukan dalam hubungan tali kasih.. “

                   “Maksudmu apa bro..??!”

                “Aku sudah memiliki kekasih lebih dari seratus,...jadi aku sudah paham tentang karakter wanita dan bagaimana cara menghadapinya, dan itu hal yang biasa bagiku...”
                “Oh.... pantaslah”

                “Rani sekarang dimana Win?!”

                “Di kamar, tapi kamu gak ada niat jahatkan sama Rani...soalnya diakan Famili aku bro..”

                “gaklah win!” Aku bangkit dan hendak pergi karena menurutku malam ini sudah cukup

                “kamu gak jumpa sama Rani bro? “

                “Gak usah Win besok aja.. “

Tiba-tiba terdengar suara Rani yang sudah berdiri di pintu “Abang cepat kali pulang, tunggulah bang bentar lagi..”

                “Eh dek Rani,  iya... abang mau pulang nampaknya mau hujan.”

                “Bang Rani mau ngobrol sebentar sama abang boleh..?”

             “Bolehlah dekku yang manis..!!” Dia tersenyum, Senyumnya memang indah hingga membuat nyaman di hati. Aswin masuk ke dalam rumah dan membiarkan kami berdua di teras rumah yang sedikit remang-remang. Kami berdua terdiam seakan membiarkan nada rintik hujan di atap iringi hati yang sedang menggebu.

                “Bang terimakasih ya semuanya...” Dia tersenyum lagi

                “Sama-sama dekku..” Akupun menebar senyumku untuknya 

                “Abang ternyata sudah punya banyak pacar ya bang...?!”

        “Iya..dan adek mungkin yang kesekian..., entahlah mantan abg sekarang sudah berapa memangnya kenapa dekku. Apa adek ingin memutuskan hubungan ini?!, kalo iya gak papa kok dekku.. “ Aku tersenyum lagi.

                “Gak papa kok bang...”

                “Tapi abang heran,..kenapa tiba-tiba adek berubah dan terlihat tidak murung lagi padahalkan abang tak melakukan apapun hanya ngobrol biasa saja “

                “Iya.., seperti yang abang ketahui semenjak Irsal meninggalkanku aku merasa hidup ini tak ada artinya lagi...mungkin sebaiknya aku mati!. Itulah yang ada dalam benakku, Namun aku pernah bertanya pada bang Yusuf yang juga pernah mengalami hal sama denganku bagaimana sebaiknya aku mengambil sikap dalam hal ini. Dan bang Yusuf menyarankanku untuk menyelidiki tentang masa lalunya.”

                   “Apa hubungannya dengan masa lalu Irsal ya dekku..?!!”

                “Itulah pertama akupun merasa heran, tapi setelah ku selidiki ternyata dia memiliki masa lalu yang cukup kelam. Karena kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai di saat dia masih berumur tujuh tahun. Setelah ku ceritakan hal itu kepada bang Yusuf dia pun menjelaskan bahwa irsal sangat menikmati penderitaanku yang telah di tolaknya, karena dia sakit hati di tolak oleh orangtuanya dan penolakannya kepadaku sebagai balas dendamnya..”

                “Aku tak mengerti kenapa ada orang seperti itu..”

                “Iya dan harusnya dulu aku tak cepat-cepat menerima cintanya, karena kami baru dua bulan berkenalan di Danau Maraganda, dan tak seharusnya pula aku melakukan hubungan suami-istri dengannya.” Rani meneteskan air mata.... dia mengambil nafas panjang.Sepertinya dia mencoba tegar dengan penderitaan batinnya.
                “Ya sudah...adek jangan menangis lagi..ya dekku !!” Aku mencoba menghiburnya.
                “Iya bang, aku menyesal...namun aku tak mau hidup dalam penyesalan. Dalam hidupku yang kelam seakan hidupku tiada guna lag, abang datang dengan memberi secercah Cahaya Harapan untukku dan meski aku bukan gadis lagi abang ikhlas menerimaku “ Dia menangis lagi.
                “Ya sudah abang tak pernah mempermasalahkan hal itu karena abangpun bukanlah orang yang tek pernah melakukan hal itu..!!, besok orang tua abang akan datang untuk melamar adek karena itu tidurlah sayang..”
                “Iya bang..tapi adek boleh kan bang..?!”
                “Boleh apa tu dekku..?!!”
                “Cium kening abang sekali...”
                “Bolehlah sayang..”
                “Ummmuuaacchhh...!!!” Dia terlihat bahagia akupun pergi menerobos hujan di gelap malam.

               
               


Sabtu, 24 November 2012

LOsOhAn



  Di Desa Banua hiduplah seorang Bujang lapok yang gagah lagi tampan, di tambah dengan sedikit jenggot dia terlihat lebih karismatik dengan gaya khasnya.Dia akan menggoda wanita-wanita setiap malam meski memiliki kekasih yang banyak, dia belum juga menikah karena takut mengecewakan kekasihnya karena dia adalah lelaki yang malas yang tak punya apa-apa selain gubuk yang di tinggalkan Almarhum orang tuanya. Waktu kecil  dia adalah anak yang di manja orang tuanya hingga diapun tak tahu untuk bekerja.
Suatu pagi yang cerah, seperti biasa  meski matahari telah menunjukkan waktu dhuha akan berakhir dia masih tergolek di tikar, “Hah…hari ini adalah pernikahan si Lizah…” dia bergumam, dia teringat kata terakhir yang di ucapkan Lizah yang menyakiti hatinya “ Bang Ikren…anggo naso adong dope roamu got mambuat boru marbagas ma au dah!!!, lupa on ma sude hubungan taon dah…” Lizah pergi dengan lingangan air mata. Karena dia pun sebenarnya sangat mencintai Ikren bujang lapok yang memiliki kekasih yang banyak itu.
Dia bangkit dengan seribu amarah di hatinya, kesal marah dan benci bercampur dalam hatinya.Ikren berniat akan datangi pernikahan kekasihnya Lizah dengan Ahmadi, dia ingin melihat wajah Ahmadi yang telah merebut kekasihnya itu. Dengan langkah gontai dia menuju sungai kecil di samping rumahnya, dia memandang ke dalam sungai terlihat bayangan wajahnya yang terlihat sudah sedikit mengkerut. Di renunginya nasib yang membuat hatinya semakin sedih
, tak terasa air matanya menetes. Ketika matahari tepat di atas kepala yang menunjukkan bahwa dia telah lama termenung tiba-tiba dia di kejutkan oleh suara “Losohan…”, Ikren memandang kiri dan kanan meski sedikit takut dia juga marah karena ada yang telah mengatainya.”Losohan…!! au dei namangecek i..baion!!”
“inda bah,…aso sedih koi…?!”
“Ma nabahatan ma marbagasi gandakku…, inda uboto sanga sondia…”
Tiba-tiba rumpun mandong itu bernyanyi “Losohan-losohan gotap ma au da losohan,…!!”

Entah kenapa Ikren langsung bergegas mengambil sabit di rumahnya dan memotong mandong itu. Setelah di potong mandong itu di letakkannya dalam rumah, dan mandong itupun bernyanyi lagi “Losohan-losohan jombur ma au da losohan…!!”, Ikren pun seperti terhipnotis dia langsung menjemur mandong-mandong di luar. Sepertinya dia sudah lupa bahwa hari ini adalah hari pernikahan kekasihnya, dia sangat heran dengan mandong yang bisa bicara itu dari dalam rumahnya dia terus memandang mandong yang di jemurnya. Setelah kelihatan kering mandong itu bernyanyi lagi “Losohan-losohan bayu ma au da Losohan..!!”. Losohan pun langsung menganyam mandong itu menjadi sebuah tas kecil. Tas kecil itu dia sangkutkan di sebuah paku di atas kepalanya, lalu dia tertidur dengan pulas.

Dia sengaja tidur pada siang hari agar dia tak merasa lapar karena bahan pokok di rumahnya sudah hampir habis di tambah rasa malasnya untuk menanak nasi.Tiba-tiba tas anyamannya terbang menuju pasar, dan mendarat pas di samping orang yang jualan ikan asin yang tampa sengaja mengisikan ikan asin ke dalam tas itu dan terbang lagi menuju rumah Ikren alias Losohan. Begitulah ulah tas anyamannya hingga malam menjelang.
Ketika Losohan bangun dia sangat terkejut karena di sampingnya banyak bahan pokok dan tidak hanya itu ada baju dan celana jeans yang masih baru, sejenak dia tertekun melihat ke adaan itu.”Losohan-losohan ulang ko heran da Losohan,… on sebagai upamu do on madung ra mambayu au ima mulai sadarion ulang ko losok be dah..”
“Olo bayuon…tarimokasi godang-godang dah…!!”
“Ligi ma golap ari got magrib ma manjawek maho…ualang tinggalkon sumbayangmu muali on dah..”
“Olo manjawek ma au…”
Dia pun Sholat magrib…Malam ini adalah malam yang special baginya, dengan baju dan celana jeans baru dia makin pede untuk mendekati cewek-cewek dan malam ini dia mendekati wanita yang bernama Leni yang berambut kriting yang indah. Akhirnyia mereka pun sepakat untuk menikah, dan menjalani hidup dengan bahagia