Rabu, 10 Juni 2026

Cinta diujung Jalan Bab III



BAB IV: Harmoni yang Tak Terduga

Pengumuman di papan kliping sekolah pagi itu sukses membuat gempar. Dalam rangka memperingati ulang tahun SMP Negeri Kumayan, pihak sekolah akan mengadakan kegiatan pentas seni (pensi) antar-kelas. Namun, kejutan terbesar justru datang dari ruang guru. Pak Syamsul, guru kesenian yang terkenal tegas, menunjuk Panusunan dan Nantium untuk berduet mewakili gabungan kelas mereka.

 

Panusunan didapuk untuk bernyanyi sekaligus memetik gitar, sementara Nantium menjadi vokalis utamanya.

 

"Duh, Sun, kok bisa kamu dipasangkan sama si 'Gadis Es' itu?" bisik Mardian cemas saat mereka berjalan menuju ruang musik di sudut belakang sekolah untuk latihan pertama.

 

Panusunan hanya mengangkat bahu, walau dalam hati dadanya berdegup agak kencang. Mengingat insiden labrak-melabrak beberapa minggu lalu, ia tidak yakin latihan ini akan berjalan mulus.

 

Saat pintu ruang musik yang berdebu itu terbuka, Nantium sudah duduk di sana. Ia menatap kedatangan Panusunan dengan pandangan datar yang sulit diartikan. Di sudut ruangan, sebuah gitar akustik tua bermerek Yamaha bersandar di dinding. Panusunan melangkah maju, mengambil gitar itu, lalu duduk di kursi kayu tepat di hadapan Nantium.

 

Di Antara Nada dan Rasa

"Kita mau bawa lagu apa?" tanya Nantium dengan nada datar memecah keheningan, suaranya tidak seketus dulu, namun masih menyisakan dinding pembatas.

 

"Gimana kalau lagu yang lagi sering diputar di radio?" Panusunan mulai menyetem senar gitarnya. Jari-jarinya yang terbiasa memegang gitar listrik anak band kota tampak sangat lihai dan lincah memetik senar.

 

Setelah sepakat memilih sebuah lagu pop romantis berjudul My Heart yang dipopulerkan Acha ft Irwansyah  sedang hit di tahun 2000, Panusunan mulai memainkan intro. Petikan gitarnya begitu bersih, ritmenya sangat pas, dan mengalun indah memenuhi ruangan yang sepi.

Di sini kau dan aku
Terbiasa bersama
Menjalani kasih sayang
Bahagia ku denganmu

Nantium tertegun. Sepasang matanya yang biasa menatap sinis, kini melebar karena kagum. Ia tidak menyangka cowok kota berpenampilan urakan dengan jaket hijau army dan gelang-gelang hitam itu memiliki musikalitas seindah ini.

 

"Sekarang masuk bagianmu," ucap Panusunan memberi aba-aba dengan anggukan kepala.

 

Nantium menghirup napas dalam-dalam, lalu mulai melantunkan bait pertama.

 

Pernahkah kau menguntai

Hari paling indah?

Kuukir nama kita berdua

Di sini surga kita

 

Kali ini, giliran jantung Panusunan yang seolah berhenti berdetak. Suara Nantium terdengar begitu merdu, bening, dan penuh penghayatan, berpadu sempurna dengan petikan gitarnya. Ketika tiba di bagian reflektif, Panusunan masuk memberikan suara dua, menciptakan harmoni vokal duet yang luar biasa indah.

 

Di saat latihan vokal inilah, mata mereka kembali beradu pandang. Nantium tersenyum manis memperlihatkan gigi gingsulnya. Dan tak ada lagi kilatan amarah atau rasa tersinggung. Yang ada hanyalah getaran tak kasat mata yang perlahan meruntuhkan dinding ego masing-masing. Panusunan menatap lekat mata bening Nantium, dan menyadari sesuatu yang mengejutkan hatinya: ia tertarik pada gadis desa ini. Di sisi lain, Nantium yang selama ini menutup diri, merasa sangat kagum dengan suara vokal berat Panusunan serta caranya bermain gitar yang begitu memikat. Mereka berdua mendadak merasa sangat serasi, seolah musik telah menyatukan dua dunia mereka yang berbeda.

 

Redamnya Amarah di Balik Jendela

Di luar ruang musik, dari balik celah jendela kaca yang buram, sepasang mata memperhatikan mereka dengan dada yang bergemuruh. Triani berdiri di sana dengan wajah yang memerah padam menahan murka. Menyaksikan kebersamaan dan tatapan intim antara Panusunan dan Nantium membuat hatinya panas terbakar cemburu.

 

"Kurang ajar... berani-beraninya si Nantium kegatelan sama Panusunan," desis Triani, tangannya mengepal kuat siap untuk melabrak lagi.

 

Namun, belum sempat Triani melangkah ke pintu, sebuah tangan menahan pundaknya. Itu Mardian. Cowok keriting itu rupanya sudah mengawasi Triani sejak tadi.

 

"Tri, tunggu dulu. Jangan emosi," cetus Mardian dengan nada yang sengaja dilembutkan.

 

"Lepasin, Mar! Kamu nggak lihat mereka di dalam? Nantium itu sengaja"

 

"Triani, dengerin aku dulu," potong Mardian tegas namun tetap tenang, menatap langsung ke mata Triani. "Panusunan itu anak baru, dia ke sini cuma mau sekolah dan bantu orang tuanya yang pensiun. Dan soal pensi ini, itu murni tugas dari Pak Syamsul. Kamu tahu sendiri kan sifat Panusunan? Dia itu sok profesional kalau soal musik."

 

Mardian menghela napas pendek, lalu melanjutkan dengan suara lebih pelan, "Lagi pula, Tri... cinta itu nggak bisa dipaksa. Kamu cantik, pintar, populer di sekolah ini. Masih banyak cowok lain yang mendambakanmu. Jangan rendahkan dirimu dengan terus-terusan mengemis perhatian dari orang yang hatinya mungkin udah tertuju ke tempat lain. Lepasin aja, Tri. Kamu berhak mendapatkan yang lebih menghargai perasaanmu."

 

Mendengar penjelasan panjang lebar dan bijak dari Mardian, kalimat makian yang sudah di ujung lidah Triani mendadak tertelan kembali. Ia menatap Mardian yang menatapnya dengan tulus, lalu kembali menoleh ke dalam ruang musik di mana Panusunan dan Nantium tampak tertawa kecil bersama setelah menyelesaikan satu lagu.

 

Ada rasa sesak di dada Triani, namun perlahan ego tingginya mulai melunak. Kata-kata Mardian entah mengapa meresap jauh ke dalam sanubarinya. Ditambah lagi, perhatian kecil dari Mardian yang selalu ada di dekatnya belakangan ini membuat Triani menyadari sesuatu, Mardian mencintainya.

 

Triani mengembuskan napas panjang, bahunya yang tegang perlahan merosot turun.

 

"Ya sudah," gumam Triani lirih, matanya melirik Panusunan untuk terakhir kali dengan tatapan merelakan. "Mungkin dia memang bukan buat aku."

 

Dengan perasaan yang jauh lebih lega, Triani berbalik memunggungi ruang musik. Langkah kakinya kini terasa lebih ringan, mulai berjalan menjauh ditemani Mardian di sampingnya, membiarkan harmoni indah di dalam ruangan itu terus mengalun menyambut masa depan yang baru bagi Panusunan dan Nantium.


Cinta diujung Jalan Bab II

 


BAB II: Riak di Sela Lorong Kelas

Hawa dingin Desa Kumayan di pagi hari rupanya masih enggan beranjak, meski matahari bersemburat kuning keemasan sudah mulai meninggi. Panusunan berdiri di depan cermin lemari pakaiannya yang terbuat dari kayu jati tua. Ia merapikan seragam putih-biru barunya, mencoba membiasakan diri dengan pantulan sosoknya yang kini harus menjadi anak sekolahan di desa. Rambut belah tengahnya disisir rapi, kontras dengan alis tebal dan mata tajamnya yang pagi itu tampak kurang tidur. Jam *Digitec* di tangan kirinya menunjukkan pukul 07.00 WIB ketika ia melangkah keluar rumah menuju SMP Negeri Kumayan.

 

Sebagai murid pindahan dari kota besar di tahun pelajaran baru ini, kehadiran Panusunan jelas mencuri perhatian. Langkah kakinya yang dibalut sepatu kets hitam satu-satunya barang yang tersisa dari gaya anak *band*-nya terdengar ritmis menyusuri lantai semen selasar sekolah.

 

Saat wali kelas mempersilakannya maju ke depan kelas untuk memperkenalkan diri, puluhan pasang mata langsung tertuju padanya.

 

"Nama saya Panusunan. Pindahan dari kota," ujarnya singkat, padat, dengan nada suara yang agak berat.

 

Awalnya, Panusunan mengira hari-harinya akan terasa garing dan penuh kecanggangan. Namun, ramahnya anak-anak desa mematahkan dugaannya. Saat jam pelajaran pertama dimulai, beberapa anak laki-laki di barisan belakang mulai melempar candaan dan mengajaknya mengobrol. Jiwa supel yang biasa ia asah bersama teman-teman *band*-nya di kota rupanya membuat Panusunan mudah beradaptasi. Setidaknya, tawa renyah kawan-kawan barunya ini berhasil menyita pikirannya, membuatnya lupa sejenak pada studio musik, teman-teman lama, dan patah hatinya di kota.

 

***

 

Jam Istirahat: Pukul 10.00 WIB

 

Bel berkarat yang digantung di dekat kantor guru dipukul bertalu-talu menggunakan besi, menandakan waktu istirahat pertama telah tiba.

 

"Sun, ke kantin yuk! Di belakang ada gorengan Mak Purna yang paling juara. Kalau telat, bisa kehabisan kita," ajak seorang anak berambut keriting dengan senyum lebar. Namanya Mardian, anak asli Kumayan yang sejak jam pertama tadi langsung akrab dan menjadi teman sebangkunya.

 

"Boleh, yuk. Perut gua juga udah dangdutan dari tadi," sahut Panusunan, menyelipkan logat kotanya yang belum hilang.

 

Mereka berdua berjalan beriringan menyusuri koridor sekolah yang semi-terbuka. Udara pegunungan yang sejuk berembus, menggoyahkan daun-daun pohon mahoni di halaman tengah. Sepanjang jalan, Mardian dengan antusias menceritakan seluk-beluk sekolah, mulai dari guru yang paling galak sampai mitos hantu di kamar mandi belakang. Panusunan mendengarkan sambil sesekali mengangguk.

 

Namun, langkah kaki Panusunan melambat saat mereka melewati deretan ruang kelas dua.

 

Melalui celah jendela nako yang terbuka, mata tajam Panusunan menangkap sebuah pemandangan yang ganjil. Di saat seluruh murid berhamburan ke lapangan atau kantin untuk melepas penat, ada satu ruang kelas yang hampir kosong melompong. Hanya ada satu orang di dalam sana.

 

Seorang gadis.

 

Gadis itu duduk sendirian di bangku baris tengah. Rambutnya dikuncir kuda sederhana, wajahnya oval dengan hidung jambu air berkulit kuning langsat. Sebelah kiri giginya gingsul dengan bibir tipis yang merona. Dia tertunduk menatap permukaan meja kayu yang penuh coretan tipe-eks. Tangannya tampak memainkan ujung pulpen. Suasana di sekitar gadis itu terasa begitu sunyi dan terisolasi dari keriuhan hari pertama sekolah.

 

Panusunan menghentikan langkahnya total. Ia memperhatikan dengan seksama. *Kenapa wanita ini tidak keluar kelas? Apa dia sakit? Atau... dia nggak punya teman?* berbagai spekulasi langsung berputar di kepala Panusunan. Rasa penasarannya terusik.

 

Merasakan ada seseorang yang berdiri di luar jendela, gadis itu perlahan mengangkat wajahnya.

 

*Deg.*

 

Mata mereka beradu pandang melalui celah jendela. Gadis itu memiliki sepasang mata yang bening namun menyiratkan kedalaman yang sulit diartikan ada semacam luka dan benteng pertahanan yang kokoh di sana. Untuk beberapa detik yang terasa lama, mereka hanya saling diam, terkunci dalam tatapan masing-masing.

 

Gadis yang belakangan akan diketahui bernama Nantium itu tampaknya merasa tidak nyaman, atau mungkin terintimidasi oleh tatapan mata tajam Panusunan serta alis tebalnya yang sekilas memang membuat wajah cowok itu tampak galak dan mengintimidasi.

 

Wajah Nantium mendadak berubah tegang. Sorot matanya yang semula tenang langsung berganti menjadi kilatan defensif yang tajam.

 

"Apa lihat-lihat?! Pergi sana!" bentak Nantium tiba-tiba dengan suara yang lantang dan ketus, memecah kesunyian ruang kelas tersebut.

 

Panusunan tersentak mundur satu langkah, agak terkejut mendapat sambutan sekeras itu di hari pertamanya. Sementara Mardian yang menyadari kecanggungan temannya langsung menarik lengan jaket Panusunan.

 

"Eh, Sun! Ayo cepat, jangan cari masalah sama dia," bisik Mardian setengah menyeret Panusunan menjauh dari jendela kelas dua tersebut, meninggalkan Nantium yang masih menatap mereka dengan napas memburu dari balik meja kayunya.

"Heh, Panusunan! Kamu kenapa malah bengong di depan kelas Mak Lampir itu?"

 

Suara melengking tinggi khas remaja perempuan tiba-tiba membuyarkan keterkejutan Panusunan. Dari arah belakang, seorang gadis dengan seragam yang tampak sangat rapi dan wangi parfum menyengat berjalan cepat menghampiri mereka. Namanya Triani, teman sekelas Panusunan yang sejak jam pertama tadi tak henti-hentinya mencuri pandang ke arah meja Panusunan. Triani, dengan bando merah menyala di rambutnya, rupanya sudah menaruh hati pada pandangan pertama kepada si anak baru dari kota itu.

 

Namun, senyum manis yang awalnya dipersiapkan Triani langsung luntur saat ia menyadari bahwa Panusunan baru saja saling beradu pandang bahkan dibentak oleh gadis miskin didalam kelas dua tersebut.

 

Wajah Triani mendadak berlipat gundah, berganti menjadi kilatan emosi. Baginya, martabat cowok keren yang baru ditaksirnya tidak boleh diinjak-injak, apalagi oleh seorang Nantium.

 

"Kurang ajar banget ya itu anak. Anak baru nggak tahu apa-apa malah dibentak!" gerutu Triani berapi-api.

 

Sebelum Panusunan atau Mardian sempat mencegah, Triani dengan langkah menghentak-hentak langsung berbelok, melangkah mantap memasuki pintu kelas dua yang terbuka lebar. Tujuannya hanya satu: meja Nantium.

 

 

Melabrak di Sudut Kelas

Brak!

Triani menggebrak meja kosong di sebelah Nantium, membuat gadis kuncir kuda itu tersentak kaget.

"Maksudmu apa bentak-bentak Panusunan tadi, hah?!" labrak Triani tanpa basa-basi. Suaranya yang melengking menggema di ruangan yang sepi itu. "Dia itu anak baru Tium, nggak ada salah sama kamu! Dasar aneh, pantesan nggak punya teman. Kerjaanmu cuma bisa nyari musuh aja ya!"

Panusunan dan Mardian yang panik segera menyusul masuk ke dalam kelas. Panusunan berdiri agak di belakang Triani, merasa tidak enak karena kehadirannyalah yang memicu keributan ini.

 

Nantium perlahan berdiri dari bangkunya. Alih-alih ketakutan karena dilabrak oleh kakak kelas mengingat Triani duduk di kelas tiga sorot mata Nantium justru semakin menajam. Dagunya terangkat menantang, sambil bertolak pinggang memperlihatkan keteguhan yang luar biasa meskipun dikeroyok secara mental.

 

"Bukan urusanmu," sahut Nantium dingin, suaranya datar namun menusuk. "Tanya saja sama teman barumu yang matanya nggak bisa dijaga itu. Mau dia anak kota atau anak presiden sekalipun, kalau tidak sopan mengintip kelas orang, layak dipelototi!"

 

"Kamu!" Triani menunjuk wajah Nantium dengan telunjuk yang gemetar karena emosi. "Heh, Nantium! Jaga mulutmu ya! Kamu itu cuma anak"

 

"Tri, udah, Tri! Cukup!"

 

Panusunan akhirnya melangkah maju, memotong kalimat Triani sebelum situasi menjadi semakin runyam. Ia berdiri di antara kedua gadis itu, telapak tangan kirinya yang dilingkari jam Digitec terangkat ke udara, memberi isyarat agar Triani mundur.

 

Panusunan lalu menatap langsung ke arah Nantium. Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat gurat kelelahan sekaligus kekeras kepalaan yang terpahat di wajah gadis itu namun terlihat menarik.

 

"Gua yang salah," kata Panusunan dengan logat kota yang tegas, menatap Nantium lekat-lekat. "Gua yang lancang ngelihatin lo tadi. Jadi, nggak usah bawa-bawa orang lain. Tri, ayo keluar. Enggak enak dilihat guru."

 

Nantium hanya mendengus sinis, mengalihkan pandangannya ke luar jendela seolah-olah kehadiran mereka bertiga di kelasnya hanyalah sekumpulan lalat yang mengganggu.

 

Triani yang merasa pembelaannya tidak dihargai, menghentakkan kakinya kesal. "Kamu kok malah belain dia sih, Sun?! Ih, tau ah!" Dengan perasaan dongkol dan cemburu yang membakar dada, Triani berbalik dan berlari keluar kelas, meninggalkan selasar dengan kekesalan mendalam.

 

"Aduh, Sun... repot ini urusannya," bisik Mardian sambil menepuk jidatnya, memberi kode pada Panusunan agar mereka juga segera angkat kaki sebelum gosip ini menyebar ke seantero sekolah.

 

Panusunan memberikan satu tatapan terakhir pada Nantium yang kembali terdiam di bangkunya, lalu berbalik pergi. Hari pertamanya di sekolah desa yang ia kira akan membosankan, rupanya justru dimulai dengan sebuah riak permusuhan yang tak terduga. Cantik juga anak ini gumam Panusunan sambil berlari menyusul Mardian yang sudah duluan berlari kearah kantin Mak Purna.


Cinta diujung Jalan Bab I



BAB I: Senja di Balik Kaca Jendela

Deru mesin bus antarkota Bunga Raya menderu rendah, membelah jalanan aspal berkelok-kelok yang memutari lereng pegunungan. Bus baru saja memasuki simpang dari jalan besar lintas sumatera, dari simpang menuju ke desa yang diujung jalan berjarak 12km. Di luar sana, hari mulai beranjak senja. Semburat warna jingga dan keunguan perlahan tenggelam di balik gumpalan kabut tebal yang mulai turun, membawa hawa dingin yang perlahan menyusup lewat sela-sela kaca jendela bus yang tak rapat sempurna.

 

Di sisi kanan bawah jalan, sebuah sungai berbatu mengalir dengan airnya yang jernih, memantulkan sisa-sisa cahaya langit sore. Riaknya yang deras seolah sedang balapan dengan laju bus yang membawa mereka semakin jauh meninggalkan hiruk-pikuk peradaban modern. Suara tonggeret terdengar nyaring bersahutan dengan suara burung kedasih dikejauhan.

 

Di baris kursi nomor dua belas, Panusunan menyandarkan kepalanya ke kaca yang terasa sedingin es. Di telinganya, sepasang earphone busa berwarna hitam terpasang erat, mengalirkan suara melengking Once vokalis band Dewa lewat lagu "Akulah Arjuna". Sesekali, suara musik itu agak melambat dan bergelombang tanda bahwa baterai AA di dalam walkman Sony kuning yang ia genggam sudah mulai melemah.

 

Panusunan mengembuskan napas berat, membuat kaca jendela di depannya sedikit berembun. Ia menyeka embun itu dengan ujung jaket hijau army-nya. Menatap pantulan dirinya sendiri di kaca: seorang pemuda dengan rambut hitam yang dibelah tengah rapi tren yang sedang digilai anak muda zaman itu, alis tebal yang menaungi sepasang mata tajam, serta sejumput jenggot tipis yang baru tumbuh di dagunya.

 

Di tangan kirinya, sebuah jam tangan digital merek Digitec menunjukkan pukul 17.45. Sementara di pergelangan tangan kanannya, melingkar beberapa gelang tali hitam polos sisa-sisa identitasnya sebagai anak band kota yang terpaksa tercerabut dari akarnya. Lengkap dengan kaos hitam dan celana jins belelnya, Panusunan tampak seperti makhluk asing yang tersesat di jalur lintas sumatra ini.

 

Ia menoleh ke samping kirinya. Kedua orang tuanya duduk dengan gurat wajah yang bertolak belakang dengannya. Ibu dan Ayahnya sedari tadi tak berhenti tersenyum, sesekali menunjuk ke luar jendela, menikmati setiap jengkal pemandangan hijau yang dilewati. Ada binar kebahagiaan yang tulus di mata sang ayah.

 

Perjalanan ini adalah perjalanan pulang yang abadi bagi sang ayah. Setelah puluhan tahun merantau dan mengabdi sebagai guru pegawai negeri di kota Jakarta, masa pensiun akhirnya tiba. Dan bagi ayahnya, tidak ada tempat terbaik untuk menghabiskan sisa umur selain tanah kelahiran: Desa Kumayan.

 

Namun bagi Panusunan, Desa Kumayan terdengar seperti akhir dari dunianya.

 

Kenapa harus sekarang? Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, seirama dengan putaran pita kaset di dalam walkman-nya.

 

Ia benci kenyataan ini. Ia sudah terlanjur nyaman dengan kehidupan kota yang dinamis. Di sana, di studio musik pengap berperedam rak telur yang tersusun didinding yang biasa mereka sewa per jam, teman-teman bandnya mungkin sedang berkumpul menyusun daftar lagu untuk festival bulan depan. Dan yang paling menyakitkan, ia harus merelakan hubungannya kandas dengan sang kekasih, gadis yang menangis di terminal bus dua hari lalu saat melepas keberangkatannya. Semua itu harus ditinggalkan demi sebuah desa terpencil yang bahkan sinyal radio pun timbul tenggelam.

 

Bus kembali berguncang keras saat roda besarnya menghantam lubang jalanan gunung. Panusunan memejamkan mata, menekan tombol forward pada walkman-nya secara acak, berharap lagu berikutnya bisa meredam rasa dongkol dan rindu yang mulai menggunung di dadanya, tepat saat bus mulai berbelok memasuki gapura tua bertuliskan: Selamat Datang di Desa Kumayan.


Senin, 09 Oktober 2017

Ilmu Temurun

1.HARUS BERPISAH

Pemuda itu berlari menyusuri pinggir desa dan mulai memasuki persawahan, nafasnya terengah-engah, hidungnya sedikit berdarah, tak dihiraukannya lalang yang menyayat kakinya, dia terus berlari memasuki semak belukar.
Sesekali dia terjerembab dan bangkit lagi,tenaganya mulai habis namun dia terus berlari memasuki semak-belukar.
Dan akhirnya dia tersungkur... dia tak bangkit, dia sudah pasrah. Nafasnya terlihat tak beraturan, dia balikkan badan dan menelentangkankan badannya.Dengan nanar dia menatap langit.
Dari kejauhan terlihat empat pemuda berdiri di pinggir desa dan memperhatikan pemuda yang sedang berlari itu, mereka tertawa melihat Yusuf berlari ketakutan setelah mereka hajar.
Panusunan adalah seorang pemuda yang jatuh cinta pada sahabatnya Aminah dimana dari kecil mereka sudah bersahabat,mereka bersahabat tiga orang yakni Panusunan, Aminah dan Yani. Persahabatan mereka mulai retak disaat Panusunan mulai menjalin kasih dengan Aminah, sedang mereka satu marga.Satu marga di larang untuk menjalin kasih apalagi untuk menikah, itulah adat yang sudah turun-temurun di kampung ini.
Empat pemuda yang menghajarnya adalah: Ridwan, Jamal, Sukri dan Amron. Ridwan adalah abangnya aminah sedang Jamal, sukri dan Amron adalah tiga sekawan yang tidak menyukai Panusunan. Semenjak kecil mereka sudah bersaing dalam berbagai hal begitu jua dengan persaingan dalam Cinta, Jamal juga jatuh cinta pada Aminah dan menghasut Ridwan untuk menghajar Panusunan dan menyusun siasat supaya Panusunan diusir dari Kampung.
“Lihat bang wan... dia bagaikan dikejar setan ya bang..hahahaha” Jamal tertawa riang.
“Sudahlah.. mudah-mudahan itu menjadi pelajaran baginya” sahut Ridwan
Mereka terlihat berpisah Ridwan mengarah ke kampung sedang Jamal dan kawannya menuruni sawah ke arah Panusunan berlari.
“Perlu kita kejar lagi mal?” tanya Amron
“Gak usah, kita pergi saja mandi.Nanti malam kita tunggu dia pulang ngaji, biar jera.”
“Iya.., kalau begitu kita mandi saja dulu di bonjo”
“Ayok,.. tapi... aku penasaran bang. Soalnyakan dia berlari kearah semak diantara dua bukit itu bang!”
“Memangnya kenapa mal?”
“itukan tempat perlintasan Panjago Arangan bang...”
Mereka bertiga terdiam dan saling berpandangan, suasana jadi hening. Suara nafas merekapun terdengar naek turun, keringat dingin. Tiba-tiba tanpa komando mereka berlari terbirit-birit ke arah kampung, jamal berlari paling depan karena dia memiliki badan kecil dan lincah sedang amron yang badannya lebih besarberada paling belakang dan Sukri badannya tidak jauh beda dengan Jamal.
***
Setelah beberapa jam Panusunan terlentang dia terlihat mulai sadar dan membuka mata berlahan. Langit mulai terlihat jingga, berlahan dia bangkit, sedikit demi sedikit perih di kakinya mulai terasa. Dia memandang sekitar yang membuatnya tersentak. “Ini adalah Aek mompang, tempat perlintasan Jangak!”. Di tatapnya dua bukit yang mengapit aliran sungai kecil pas di pinggirnya dia berdiri. Suara Tonggeret terdengar riuh bagai sirene,Suara jangkrikpun mulai turut menyumbangkan suara dan di akhiri suara katak pada akhir irama. Bulu kuduknya berdiri, selangkah demi selangkah di ayunkannya menuju perkampungan.
                             ***
Setelah azan Isya berkumandang pengajianpun berakhir. Anak-anak muda dan remaja berhamburan dari rumah pengajian suaranya bising sekali ada yang sibuk mencari sendal, ada berlari-lari dan ada juga yang sabar menunggu giliran keluar.
Aminah berdiri di dekat tangga rumah panggung tempat pengajian, dia sibuk melihat kesana-kemari sepertinya dia sedang mencari seseorang. Tak lama keluarlah seorang pemuda dari rumah pengajian, badannya tinggi besar dan agak jangkung,dia sedang mencari sendalnya di dekat tangga. Aminah mendekatinya dan memukul pundaknya.
“Cepatlah yani..”
“Iya, tunggu dulu saya ambil dulu sendalku ini”
“Hm,.. lambannya..”
“Tidak ada sabarmu Aminah”.
Mereka berjalan menembus gelap malam,Yani menyalakan lampu senter di tangannya. Mereka berjalan sambil berbincang, sesekali dia mematikan senternya bila melewati rumah yang diterangi listrik  karena di kampung ini hanya beberapa rumah saja yang memiliki lampu listrik.
“Yan,.. Panusunan kok gak datang mengaji ya?”
“Iya. Tadi saya kerumahnya sebelum berangkat ngaji tapi kata Ayahnya dia belum pulang.”
“Kemanalah kiranya dia ya Yan,..”
“Aduhai.. yang sedang dirundung rindu..”
“ah.. janganlah kamu begitu yan.”
Aminah tersipu malu.
Sedang asyiknya mereka berbicara sambil berjalan ada suara laki-laki dari belakang. Dia sedikit berlari menghampiri Yani dan Aminah. Dia menengkan nafas.
“Saya tak melihat si Panusunan keluar dari bagas pengajian, apa dia masih didalam ya?”
“Tadi si Yani sudah ke rumahnya tapi kata Ibunya dia belum pulang ke rumah. Memangnya kenapa Bang Sukri?”
“Hm,... tadi sore kami memukulinya, trus dia lari ke arah aek mompang, setelah itu kami tak tau dia kemana. Apa dia dimakan...”
“Huss.. jaga bicaramu bang suk, kenapa pulak kalian memukulinya?, apa dia berbuat salah?”
“Ya.. jelas dia berbuat salah gik Aminah, karena dia itukan marga pulut dan marga pulutnya itu satu marga pulak sama gik minah. Dan di kampung kita pernikahan satu marga sangat dilarang kalaupun ada yang marga pulut, itu akan dikucilkan dari masyarakat. Itulah mungkin yang dipikirkan oleh abangmu Ridwan makanya saya bang Amron, Jamal dan abangmu Ridwan memberikan dia sedikit pelajaran.”
“Kalian memang kurang ajar!!..”
“Berarti dia gak masuk mengji malam ini, baiklah kalau begitu saya pergi dulu ya. Hehehehe..”
“Pergilah kau jauh-jauh dari kami..”
Sukri berlari sembari tertawa riang dan menghilang di kegelapan malam.
“Bagaimana ni Yan? Saya jadi kawatir. Jangan-jangan dia kenapa-kenapa”
“hm,... mudah-mudahan dia tak kenapa-kenapa, nanti setelah mengantarmu pulang saya akan ke rumahnya. Jadi cepatlah kita jalan.”
Raut wajah aminah terlihat sedih dia cemas akan kekasih hatinya Panusunan, mereka berdua berjalan melewati jalan menurun.
                             ***
Udara berhembus sepoi langit terlihat tanpa awan,dua pemuda duduk diatas batu besar  di bawah sinar bintang yang samar-samar yakni Amron dan Jamal. Mereka terlihat sedang berbincang dan sesekali menatap ke kearah jalan. Asap mengepul dari mulut kedua pemuda itu dan terlihat sangat menikmati cigaret Gudang Garam Merah, sebenarnya itu adalah rokok yang biasa di hisap orang tua atau untuk diberikan kepada Datu sebagai tanda terima kasih. Malam ini mereka memang berencana menemui Datu untuk meminta pelet. Amron berencana menggunakan pelet itu untuk pujaan hatinya Aminah.
Kedua pemuda itu terlihat gelisah, dan pandangan mereka sekarang tertuju ke arah jalan, sepertinya mereka sedang menunggu seseorang. Tak lama kemudian nampaklah bayangan hitam di ujung jalan, kelihatannya dia berlari kecil dan semakin lama semakin mendekati kedua pemuda itu.
“Bang Amron..”
“Apa sukri..”
“Si Panusunan tidak masuk mengaji bang,.. kata si Yani tadi sore dia sudah ke rumah si Panusunan tapi dia tidak ada, kata Ibunya belum pulang bang..”
“Akh,.. masak?!” Amron merasa terkejut dan menatap kedua sahabatnya. Jantungnya berdetak kencang, diwajahnya terlihat berkeringat. Tapi dia mencoba terlihat tenang.
“Kalau begitu kita batalkan saja ke rumah ompung Ja Mangambat!”
“Maksud bang Amron kita gak jadi minta pelet?”
“Iya mal,kita cari tau dulu kabar si Panusunan”
“iya bang!, perlu kita kasi tau sama bang Ridwan?
“Tidak usah. Kita kearah rumahnya panusunan aja yok!”
“Iya bang!..”
Mereka terlihat berjalan tergesa-gesa menembus gelapnya malam.
                             ***
Yani menuju kearah rumah Panusunan,dia berjalan agak cepat karena suasana mulai terasa angker.Sinar bulan terkadang tertutupi awan hitam, suara burung hantu sesekali terdengar.
Sebenarnya kumandang isya baru beberapa saat selesai, namun suasana di kampung pahantan sudah sunyi.Yani teringat malam ini malam perkumpulan inyek di Magogar.
Suara-suara para inyek mulai terdengar, awal suaranya terdengar seperti orang yang menjerit kesakitan kemudian suaranya akan berubah berat seperti suara harimau yang terengah-engah. Konon katanya jika inyek itu masih pemula untuk menjadi harimau membutuhkan waktu dan tenaga yang banyak terkuras.
Yani berlari sekencang-kencangnya, dia sudah tidak peduli dengan senternya yang terjatuh. Parit-parit kecil dilompatinya hingga akhirnya sampailah dia di depan rumah sahabatnya.

"Assalamualaikum!!"
"Waalaikumsalam" terdengar sahutan dari dalam rumah.

Yani mencium bau amis yang pekat.Meskipun salamnya sudah berbalas pintu rumah belum juga dibuka, dia berdiri ditangga rumah panggung yang sudah terlihat sedikit reot.
Terdengar suara bingkolang diangkat, dan terbukalah pintu.Nampak seorang wanita paruh baya dipintu.
"Masuk kau Yani."
"Iya luk!, Panusunan sudah datang luk?"
"Sudah, belum lama dia nyampek."
"Darimana dia rupanya luk?"
"Aek mompang... ketiduran dia katanya setelah dipukuli orang si Ridwan."
"Iya luk aku sudah dengar tadi dari Sukri."
Yani melihat Panusunan tertidur pulas beralaskan tikar anyaman, dia memperhatikan wajah, badan, kaki dan tangan Panusunan. Dia mengkerutkan dahi!.

"Kalau seperti ini baguslah hari sabtu dia berangkat ke Tanah Doli Yan!"
"Iya luk..."
"Sudahlah ayahnya tak pulang-pulang dari Birun eh.. dipukuli orang pulak dia.Hari sabtu kawani dia ke pasar ya yan!"
"Iya luk."


2.PESAN IBU


Hari mulai terik, langit terlihat bersih. Suara Prinjak terdengar merdu bersahutan. Riak air sungai yang riuh tak membuyarkan lamunan Yani yang duduk berpangku tangan ditangga surau. Angin sepoi-sepoi sesekali berhembus.

Anak-anak mulai berdatangan mandi, ada yang langsung melompat kedalam sungai ada pula yang masih  mengganti pakaian. Yani sesekali menatap kearah jalan besar, sepertinya dia sedang menunggu seseorang. Tak lama berselang muncullah yang ditunggu, Sukri terlihat menuruni jalan setapak dari jalan besar. Dia berjalan kearah surau.

"Sukri!!, sudah lama aku menunggumu."

"Lo!,.. kenapa Yan?"

"Ada yang terganjal dihatiku. Semalam waktu saya ke rumah Panusunan, aku merasa ada yang aneh!."

"Aneh kenapa Yan?" Sukri jad penasaran.

"Kamu bilang kalian menghajarnya kan?"

"Iya. Bahkan darah dari hidungnya muncrat ke bajuku Yan."

"Hm.." Yani Menghela nafas."Itu yang kumaksud suk,... tadi malam saya tidak melihat dia terluka sedikitpun, baik hidung, wajah bahkan badannya tidak sedikitpun ada bekas goresan."

"Kami terakhir melihat dia masuk semak kearah parlintasan Panjago Arangan Yan."

"Sebelum aku menaiki tangga rumah Panusunan saya mencium bau amis!"

"Apa mungkin Ayahnya itu seorang...inyek!?."

"Maksudmu suk?"


















.KE TANAH DOLI
.SEPERTI AMINAH
.MENJALIN KASIH
.HARAPAN HAMPA
.PULANG KAMPUNG
.HATI YANG MENANGIS
.KEMBALI KE TANAH DOLI
.SECERCAH HARAPAN
.MENJALIN KASIH II
.DILEMA
.MENIKAH
.PULANG KAMPUNG II
.BERPISAH



Kamis, 09 Februari 2017

Resep memasak Boyoman Bolut digerabah



Bentuk nya sih kecil dan imut, tetapi kalau masalah rasa, Boyoman atau pepes Belut  ini dijamin pasti bikin ketagihan. Perpaduan gurih dan krispinya Belut yang imut dengan pedas dan lezatnya bumbu memang mantap sekali. Kombinasi kedua resep masakan sederhana ini menghasilkan resep masakan pepes belut yang gurih dan pedas. Apalagi ditambah dengan bahan pelengkap lainnya. Rasanya sepiring nasi putih pun pasti akan kurang kalau lagi menikmati kelezatan rasa resep pepes belut ini. Yang penting, cara membuat pepes belut ini sangat sederhana dan mudah. Bumbu pepes belut juga simpel kok. Yang penting, belut yang kita gunakan harus benar-benar bagus kualitasnya. 

Bahan Untuk Membuat Resep Pepes Bolut
  • Bahan utamanya berupa belut kualitas bagus kurang lebih sebanyak 150 gram saja.

  • Cabai merah segar 

  • Buah cabai rawit merah pedas 



  • Bawang merah 
  • Daun bawang

  • Daun kunyit muda.

  • Daun pisang

  • Kemiri

  • Garam dapur beryodium secukupnya.

  • Jeruk Nipis




 Langkah Cara Membuat Resep Pepes Belut

  • Pertama haluskan bawang merah,  cabai rawit, cabai merah, kunyit dan kemiri sampai halus kemudian sisihkan.

  • Daun kunyit dan daun bawang di iris kecil-kecil.
  • Potong kecil-kecil belutnya.


  • Kemudian belut dan bumbu yang sudah di haluskan di campur

  • Setelah itu daun bawang yang sudah di iris di campurkan.

  • Kemudian peras jeruk nipis.

  •  Masukkan daun pisang dan daun kunyit sebagai alas didalam gerabah.

  • Masukkan belut yang sudah dicampur dengan bumbu ke dalam gerabah.

  • Tutup rapat gerabahnya.

  • Nyalakan api kompor sekecil mungkin.
  • Setelah tercium aroma yang nikmat yang menandakan bahwa pepes sudah masak.
  • Kemudian angkat.

  • Ok, selesai selamat menikmati :)
  • Garang na mangani dah mar caudon baen.