Rabu, 10 Juni 2026

Cinta diujung Jalan Bab VI

 

BAB VI: Perjalanan yang Mengintai

Dua minggu setelah malam yang kelam itu, sebuah keputusan mendadak diambil oleh keluarga Panusunan. Sang ayah, yang menginginkan masa depan terbaik untuk putra tunggalnya sudah meminta izin wali kelasnya untuk libur selama seminggu dan meminta Panusunan ke kota terdekat untuk mencari sekolah lanjutan atas yang bermutu. Rencananya, Panusunan akan tinggal di rumah indekos selama seminggu untuk mengurus segala keperluan administrasi. Sang ayah membekalinya dengan uang yang cukup lumayan di dalam dompetnya.

 

Subuh itu, kabut tipis masih menyelimuti terminal kecil Desa Kumayan. Udara dingin menusuk hingga ke tulang. Nantium berdiri di samping Panusunan, menatap bus ekonomi Bunga Raya yang mesinnya sedang dipanaskan. Wajah Nantium tampak pucat, ada kesedihan mendalam yang coba ia sembunyikan rapat-rapat sejak kejadian bersama Paman Amir.

 

"Sun, hati-hati di kota ya," bisik Nantium lirih, merapatkan jaket hijau army yang sengaja Panusunan pakaikan ke tubuhnya agar gadis itu tidak kedinginan.

 

Panusunan menatap kekasihnya, lalu melirik jam Digitec-nya yang menunjukkan pukul 05.00 WIB. Tiba-tiba, sebuah ide melintas di kepalanya. Ia tidak tega meninggalkan Nantium dalam kondisi serapuh ini.

 

"Nanti, ikut gua yuk ke kota? Lo temani gua jalan hari ini, nanti sore lo langsung pulang naik bus ini lagi pas putar balik ke desa. Ongkosnya gua yang tanggung, gua ada uang lebih dari Ayah," ajak Panusunan spontan sambil menggenggam tangan Nantium.

 

Nantium sempat ragu, namun rasa rindunya yang besar serta keinginan untuk menjauh sejenak dari bayang-bayang trauma di desa membuatnya mengangguk. "Iya, Sun. Aku ikut."

 

Intaian di Spion Atas

Bus Bunga Raya mulai bergerak membelah jalanan lintas sumatra yang sepi. Seiring berjalannya waktu dan kilometer yang bertambah, satu per satu penumpang turun di kota-kota kecamatan yang dilewati. Hingga akhirnya, ketika matahari mulai meninggi, bus itu menjadi sangat lengang. Penumpang umum telah habis. Di dalam bus besar itu kini hanya tersisa Panusunan, Nantium, Pak Anwar sang sopir yang sudah paruh baya, serta Borang, kernek bus yang bertubuh tambun.

 

Merasa suasana sudah aman dan sepi, Panusunan menarik tangan Nantium untuk pindah ke bangku paling belakang tempat yang paling tidak terlihat dari kursi kemudi. Di sana, didorong oleh rasa rindu karena akan berpisah seminggu, kedua remaja itu mulai bermesraan.

 

Namun, mereka tidak sadar bahwa sepasang mata tua milik Pak Anwar sedari tadi mengawasi gerak-gerik mereka melalui kaca spion panjang yang menggantung di atas kepalanya. Sorot mata Pak Anwar tampak berubah, dipenuhi oleh rasa penasaran dan pikiran kotor saat melihat adegan sepasang kekasih di bangku belakang itu.

 

Otak licik Pak Anwar mulai bekerja. Saat bus melewati sebuah pinggiran kota yang sepi, ia sengaja membelokkan setir masuk ke sebuah pelataran bengkel tua yang tampak mangkrak dan sunyi.

 

"Borang! Aku mau cek mesin sebentar di bawah, kayaknya ada as yang goyang!" seru Pak Anwar beralasan sambil mematikan mesin bus. Ia kemudian turun membawa kunci pas.

 

Namun, Pak Anwar tidak benar-benar memeriksa mesin. Pria tua itu justru menyelinap ke kolong bus. Di sana, terdapat sebuah lubang kontrol kecil di bawah lantai bus yang biasanya digunakan untuk mengecek transmisi. Melalui lubang sempit itulah, Pak Anwar mengintip dengan napas memburu, menyaksikan seluruh adegan demi adegan mesra yang dilakukan Panusunan dan Nantium di atasnya.

 

Putar Balik Menuju Kumayan

Setelah puas melancarkan aksi bejatnya mengintip, Pak Anwar kembali naik ke kursi kemudi dengan wajah biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa. Bus kembali melaju hingga akhirnya tiba di terminal kota besar tujuan Panusunan.

 

Di area kedatangan, Panusunan turun menggendong tas ranselnya. Ia menggenggam jemari Nantium erat-erat sebelum gadis itu kembali duduk di dalam bus yang bersiap putar balik menuju Desa Kumayan.

 

"Gua cuma seminggu di sini, Nanti. Jaga diri baik-baik ya di desa. Ini uang buat ongkosmu dan buat jajan di jalan," kata Panusunan sambil menyelipkan beberapa lembar uang kertas ke tangan Nantium.

 

Nantium tersenyum getir, mengangguk perlahan. "Iya, Sun. Kamu juga ya."

 

Setelah lambaian perpisahan itu selesai, bus Bunga Raya kembali melaju jalan pulang, menyusuri rute pegunungan yang sama. Kali ini, kondisi bus benar-benar kosong melompong. Hanya ada Nantium seorang diri sebagai penumpang di baris tengah.

 

Di tengah kepungan hutan yang sepi, Pak Anwar tiba-tiba menginjak rem mendadak, menghentikan bus di tepi jalan raya yang lengang. Ia mematikan mesin, lalu berdiri dari kursi kemudi dan berjalan lambat menghampiri bangku Nantium.

 

Wajah Pak Anwar tampak menyeringai tipis. "Nanti... kau tidak usah bayar ongkos ya. Simpan saja uang yang dikasih si Panusunan itu," ucap Pak Anwar dengan nada suara yang dibuat-buat manis sambil menurunkan sedikit kacamatanya, membuat Nantium langsung merasa tidak enak.

 

Nantium tertegun. "Tapi, Pak"

 

"Bahkan, kalau perlu, ini ada uang jajan tambahan untukmu," potong Pak Anwar. Pria tua itu melangkah semakin dekat, lalu dengan lancang menyodorkan beberapa lembar uangnya, mencoba mendekatkan tangan dan uang itu ke arah dada Nantium.

 

Nantium terkejut, sontak memundurkan tubuhnya hingga mentok ke sandaran kursi, wajahnya memerah padam menahan malu dan ketakutan yang luar biasa. Ia menyadari satu hal: Pak Anwar tahu apa yang ia lakukan dengan Panusunan tadi.

 

"Ayo ambil, Nanti. Paman tahu kok apa yang kamu lakukan sama pacarmu di bangku belakang tadi. Paman lihat semua..." bisik Pak Anwar semakin berani.

 

Pembelaan dari Borang

"Heh, Pak Anwar! Sudah, apa-apaan ini?!"

 

Sebuah suara lantang tiba-tiba menginterupsi. Borang, sang kernek yang sedari tadi berada di dekat pintu belakang, langsung melangkah maju dengan cepat. Ia menyela di antara Pak Anwar dan Nantium, menghalangi tubuh pria tua itu dengan badannya yang kekar.

 

"Sudah, ayo kita lanjutkan perjalanan pulang ini! Jangan macam-macam, Pak. Ingat anak istri di rumah!" gertak Borang dengan wajah serius.

 

Pak Anwar yang aksinya dipotong langsung mendengus kesal. Sambil bersungut-sungut, ia menarik kembali uangnya lalu berbalik menuju kursi kemudi, menghidupkan mesin bus dengan kasar karena dongkol.

 

Setelah situasi mereda, Borang berbalik menatap Nantium yang masih gemetar di kursinya dengan air mata yang hampir menetes. Borang menghela napas panjang, lalu duduk di bangku seberang Nantium untuk menjaganya agar Pak Anwar tidak bertingkah lagi.

 

"Nanti... dengarkan abang ya," kata Borang dengan nada bicara yang tulus dan bersahabat. "Jangan mau kau sama pak tua bangka itu. Dia itu cuma mau memanfaatkanmu saja karena kejadian tadi."

 

Borang menepuk pundak kursi di depannya. "Sudah bagus kau pacaran sama si Panusunan itu. Dia itu orangnya baik, bertanggung jawab, dan kelihatan tulus sama kau. Jaga hubungan kalian baik-baik, jangan tergoda sama omongan orang-orang tua bejat di desa."

 

Mendengar nasihat tulus dari Borang, benteng ketakutan di dada Nantium perlahan sedikit mengendur. Di tengah rasa malu yang teramat sangat karena rahasianya ketahuan lagi, ia merasa bersyukur masih ada orang baik seperti Borang yang melindunginya di bus ini.

 

Nantium perlahan menghapus sudut matanya, lalu mengangguk pelan menatap Borang. "Iya, Bang... Terima kasih banyak."

***


Cinta diujung Jalan Bab V


 

Bab V Sisi Kelam di Balik Sunyi

Keesokan harinya, matahari terbit dengan enggan di balik kabut Desa Kumayan yang tebal. Sisa-sisa kegelapan semalam seolah masih bergelayut di udara. Mardian tidak berangkat ke sekolah karena libur catur wulan selama dua minggu dia berjalan dengan langkah berat menuju rumah panggung bambu milik keluarga Nantium. Wajahnya tampak kusut, ada beban rahasia yang teramat berat menggelayuti pikirannya sejak malam Minggu itu. Namun, pagi ini dia datang murni untuk menyampaikan amanah.

 

Di depan pintu, Mardian mengetuk pelan dan disambut oleh Nantium. Gadis itu tampak agak canggung, seolah takut jika Mardian mengetahui apa yang terjadi semalam, meski ia mencoba bersikap biasa saja.

 

"Nanti," panggil Mardian, suaranya agak serak. "Aku disuruh Pak Kades menyampaikan pesan. Kamu diminta datang ke rumahnya siang ini untuk mengambil Bantuan Desa. Ibu dan ayahmu kan lagi ke sawah, jadi kamu yang harus mewakili."

 

Keluarga Nantium memang termasuk yang paling kekurangan di desa itu. Kondisi ekonomi yang sulit membuat mereka sering bergantung pada bantuan sosial. Kebetulan, Kepala Desa Kumayan yang bernama Pak Amir masih terhitung memiliki hubungan kekerabatan sebagai paman jauh dengan keluarga Nantium.

 

Nantium mengangguk perlahan. "Iya, Mar. Makasih ya sudah menyampaikan. Nanti siang aku ke sana."

 

Mardian menatap Nantium sesaat dengan tatapan yang sulit diartikan, penuh rasa kasihan sekaligus berkecamuk, sebelum akhirnya berpamitan pergi.

 

Perangkap di Rumah Kepala Desa

Sekitar pukul dua siang, Nantium berjalan menuju rumah kepala desa. Rumah Pak Amir adalah bangunan paling besar di ujung jalan, berpagar kayu tinggi dengan halaman yang luas. Namun, siang itu, suasana di sekitar rumah tersebut terasa sangat sunyi. Tidak ada hilir mudik warga atau perangkat desa yang biasanya bertamu. Angin gunung yang berembus kering membuat bulu kuduk Nantium agak merinding.

 

Nantium melangkah naik ke selasar rumah dan mengetuk pintu jati yang tertutup rapat. "Permisi... Paman Amir? Ini Nantium mau mengambil bantuan."

 

Hening sejenak. Tak lama, dari arah dalam terdengar suara berat Paman Amir memanggilnya. "Masuk saja, Nantium! Pintunya nggak dikunci, Paman ada di ruang tengah."

 

Tanpa menaruh curiga sedikit pun karena menganggap pria itu adalah kerabat sekaligus pemimpin desa, Nantium memutar kenop pintu dan melangkah masuk. Keadaan di dalam rumah tampak remang-remang, gorden jendela ditutup rapat hingga cahaya matahari nyaris tak bersisa.

 

Klek.

 

Belum sempat Nantium melangkah lebih jauh menuju ruang tengah, pintu di belakangnya ditutup dengan cepat. Sebelum ia sempat berbalik, sepasang lengan kekar langsung menyergap dan memeluk tubuhnya dengan sangat erat dari belakang.

 

"Paman! Apa-apaan ini?!" jerit Nantium panik, jantungnya langsung mencelos drastis. Ia mencoba meronta, namun tenaga pria dewasa itu jauh lebih kuat.

 

Brak!

 

Dengan kasar, Amir memijak kedua kaki Nantium dengan kaki besarnya, mengunci pergerakan gadis itu hingga ia tak mampu melangkah atau menendang. Napas bau tembakau pria itu berembus kasar di dekat telinga Nantium, membuat gadis itu merinding ketakutan.

 

"Jangan berisik, Nanti..." bisik Amir dengan nada rendah yang penuh ancaman dan menjijikkan. "Aku tahu semua rahasiamu. Aku tahu kau sering berhubungan badan dengan Panusunan di pondok sawah itu. Aku pun bisa kok seperti yang dia lakukan kepadamu!"

 

Mendengar ucapan itu, seluruh tubuh Nantium mendadak lemas bak kehilangan tulang. Rahasia terdalamnya ternyata telah diketahui oleh pria berhati iblis di hadapannya. Memanfaatkan ketakutan dan posisi Nantium yang tak berdaya, Amir dengan brutal menyeret gadis itu ke dalam kamar dan melancarkan aksi bejatnya. Di dalam rumah yang sunyi itu, pertahanan Nantium hancur lebur. Air matanya mengalir deras, hatinya menjerit, tangannya mengepal kuat, meratapi kemalangan yang merenggut paksa kehormatannya di siang bolong. 

 

Ancaman di Balik Pintu

Setelah badai mengerikan itu berlalu, Nantium terduduk di lantai kamar dengan pakaian yang berantakan dan tubuh yang gemetar hebat. Isak tangisnya tertahan di tenggorokan, air matanya mengalir dengan deras dan menyisakan rasa trauma yang teramat mendalam.

 

Amir berdiri di dekat ranjang sambil merapikan pakaiannya kembali, menatap Nantium tanpa ada rasa bersalah sedikit pun di wajahnya yang ketus. Ia melangkah mendekat, lalu mencengkeram rahang Nantium dengan kasar, memaksa gadis itu menatap matanya yang penuh kilat mengancam. Nantium terlihat sangat hancur.

 

"Dengar ya, Nantium," desis Amir tajam. "Jangan coba-coba mengadu pada orang tuamu, pada Panusunan, atau pada siapa pun di desa ini kalau ini pernah terjadi. Kalau sampai ada satu kata saja yang keluar dari mulutmu, aku sendiri yang akan memberitahu semua warga desa kalau kau adalah perempuan murahan yang sudah digilir oleh anak kota itu! Biar hancur nama keluargamu, dan biar diusir si Panusunan itu dari kampung ini!"

 

Amir menghempaskan wajah Nantium dengan kasar. "Sekarang, pakai bajumu dan pergi dari sini!"

 

Dengan sisa-sisa tenaga yang ada dan hati yang hancur berkeping-keping, Nantium bangkit. Ia merapikan pakaiannya dengan tangan yang gemetar hebat, lalu berlari keluar dari rumah jahanam itu. Di bawah langit sore Desa Kumayan yang perlahan meredup, Nantium berjalan pulang dengan jiwa yang terasa mati, dia tak menyangka akan nasib yang menimpanya dan membawa beban rahasia. Masih terngiang ancaman yang siap menghancurkan sisa hidupnya kapan saja.

***

Cinta diujung Jalan Bab IV



 

BAB V: Antara Panggung, Sawah, dan Noda 

Malam puncak perayaan ulang tahun SMP Negeri Kumayan menjadi saksi bisu bagi membumbungnya nama Panusunan dan Nantium. Di atas panggung sederhana dengan sorot lampu warna-warni seadanya, duet mereka sukses memukau seisi sekolah. Petikan gitar Panusunan yang magis bersanding sempurna dengan suara merdu Nantium, melahirkan tepuk tangan riuh yang seolah tak mau berhenti. Pak Syamsul terlihat begitu puas dengan pilihannya untuk menduetkan Panusunan dan Nantium.

 

Namun, bagi Panusunan, panggung malam itu bukanlah pencapaian terbesarnya.

 

Sesaat setelah acara resmi ditutup dan riuh penonton mulai membubarkan diri di bawah langit malam desa yang bertabur bintang, Panusunan menarik lembut jemari Nantium. Mereka berjalan menjauh dari keramaian, menuju ke balik rimbunnya pohon mahoni di sudut lapangan yang sepi. Udara malam yang sedingin es tak mampu membendung debar di dada Panusunan. Dengan tatapan mata tajamnya yang kini melunak penuh kesungguhan, pemuda itu menggenggam tangan Nantium.

 

"Nanti... gua tahu gua anak baru di sini. Tapi sejak latihan vokal waktu itu, rasa ini nggak bisa gua bohongi lagi," ucap Panusunan, logat kotanya terdengar bergetar lembut. "Gua suka sama lo. Lo mau kan jadi pacar gua?"

 

Nantium tertegun. Benteng pertahanan yang selama ini ia bangun kokoh di dalam hatinya mendadak runtuh sepenuhnya. Baru kali ini dia merasakan debaran cinta dihatinya dia menatap ketulusan di mata Panusunan, ia perlahan mengangguk kecil dengan pipi yang merona merah.

 

"Iya, Sun. Aku mau," bisik Nantium lirih.

 

Hari-Hari yang Bersemi

Sejak malam itu, dunia seolah hanya milik mereka berdua. Panusunan tidak lagi merindukan hiruk-pikuk kota atau studio musiknya yang dulu. Baginya, Desa Kumayan kini telah bertransformasi menjadi tempat paling indah karena keberadaan Nantium.

 

Hubungan mereka terjalin sangat erat dan tak terpisahkan. Di waktu siang setelah pulang sekolah, Panusunan yang berpakaian santai dengan kaos hitam dan celana jinsnya setulus hati menemani Nantium pergi ke sawah milik orang tua gadis itu. Anak kota yang dulunya anti kotor itu kini tak segan melepas sepatunya, ikut berjalan di atas pematang sawah, membantu Nantium membawa bekal atau sekadar menemani gadis itu mengusir burung pipit di bawah terik matahari.

 

Saat malam tiba, kebersamaan mereka berlanjut. Mereka kerap menghabiskan waktu di teras rumah atau di gardu pandang dekat perbatasan desa. Di bawah temaram cahaya bulan pegunungan, Panusunan akan memetik gitarnya secara perlahan, mengiringi suara merdu Nantium yang bernyanyi membelah keheningan malam. Kedekatan yang intens ini, hari demi hari, memupuk rasa kepemilikan dan gairah muda yang semakin mendalam di antara keduanya.

 

Batas yang Terlanggar

Hingga tibalah sebuah malam Minggu yang sunyi. Kabut tebal turun lebih cepat dari biasanya, membungkus Desa Kumayan dalam hawa dingin yang menggigit.

 

Di ujung desa, Mardian berjalan santai menyusuri jalanan setapak yang gelap. Berniat mencari Panusunan untuk mengajaknya mengobrol santai seperti malam Minggu biasanya, Mardian mengarahkan langkah kakinya menuju sebuah pondok kayu kosong di tepi sawah tempat yang ia tahu sering menjadi lokasi favorit Panusunan dan Nantium menghabiskan malam untuk bernyanyi.

 

Kondisi malam itu sangat sepi, hanya terdengar suara jangkrik dan gesekan daun padi yang ditiup angin. Namun, saat langkah Mardian semakin dekat dengan pondok, ia tidak mendengar suara petikan gitar atau senandung lagu yang biasa menggema. Suasana justru terasa hening, diselingi bisikan-bisikan lirih yang ganjil.

 

Didorong rasa penasaran, Mardian melangkah mengendap-endap. Di bawah temaram cahaya bulan yang menembus celah dinding pondok bambu, mata Mardian seketika melebar. Jantungnya berdegup kencang, seolah berhenti berdetak untuk beberapa detik.

 

Melalui celah yang terbuka, tanpa sengaja Mardian memergoki Panusunan dan Nantium sedang melakukan hal yang teramat jauh di luar batas norma. Di tengah keheningan malam dan dinginnya udara desa, kedua remaja yang sedang dimabuk asmara itu telah hanyut oleh buaian rasa, melanggar dinding pembatas yang selama ini dijaga ketat oleh adat dan agama. Ini adalah kali pertama bagi pasangan muda itu melakukan perbuatan yang sangat dilarang tersebut.

 

Mardian berdiri terpaku, tubuhnya bergetar hebat antara syok, tidak percaya, dan juga merasa bersalah karena telah melihat apa yang seharusnya tidak ia lihat. Sahabat yang ia kenal baik, dan gadis yang dikenal sangat tertutup itu, kini telah melangkah terlalu jauh.

 

Sadar bahwa kehadirannya bisa merusak segalanya atau memperkeruh suasana, Mardian perlahan mundur selangkah demi selangkah. Dengan dada yang bergemuruh hebat dan perasaan campur aduk, ia berbalik. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Mardian diam-diam pergi meninggalkan area pondok sawah itu, membiarkan kegelapan malam Minggu menelan rahasia kelam yang baru saja ia saksikan.


 

Cinta diujung Jalan Bab III



BAB IV: Harmoni yang Tak Terduga

Pengumuman di papan kliping sekolah pagi itu sukses membuat gempar. Dalam rangka memperingati ulang tahun SMP Negeri Kumayan, pihak sekolah akan mengadakan kegiatan pentas seni (pensi) antar-kelas. Namun, kejutan terbesar justru datang dari ruang guru. Pak Syamsul, guru kesenian yang terkenal tegas, menunjuk Panusunan dan Nantium untuk berduet mewakili gabungan kelas mereka.

 

Panusunan didapuk untuk bernyanyi sekaligus memetik gitar, sementara Nantium menjadi vokalis utamanya.

 

"Duh, Sun, kok bisa kamu dipasangkan sama si 'Gadis Es' itu?" bisik Mardian cemas saat mereka berjalan menuju ruang musik di sudut belakang sekolah untuk latihan pertama.

 

Panusunan hanya mengangkat bahu, walau dalam hati dadanya berdegup agak kencang. Mengingat insiden labrak-melabrak beberapa minggu lalu, ia tidak yakin latihan ini akan berjalan mulus.

 

Saat pintu ruang musik yang berdebu itu terbuka, Nantium sudah duduk di sana. Ia menatap kedatangan Panusunan dengan pandangan datar yang sulit diartikan. Di sudut ruangan, sebuah gitar akustik tua bermerek Yamaha bersandar di dinding. Panusunan melangkah maju, mengambil gitar itu, lalu duduk di kursi kayu tepat di hadapan Nantium.

 

Di Antara Nada dan Rasa

"Kita mau bawa lagu apa?" tanya Nantium dengan nada datar memecah keheningan, suaranya tidak seketus dulu, namun masih menyisakan dinding pembatas.

 

"Gimana kalau lagu yang lagi sering diputar di radio?" Panusunan mulai menyetem senar gitarnya. Jari-jarinya yang terbiasa memegang gitar listrik anak band kota tampak sangat lihai dan lincah memetik senar.

 

Setelah sepakat memilih sebuah lagu pop romantis berjudul My Heart yang dipopulerkan Acha ft Irwansyah  sedang hit di tahun 2000, Panusunan mulai memainkan intro. Petikan gitarnya begitu bersih, ritmenya sangat pas, dan mengalun indah memenuhi ruangan yang sepi.

Di sini kau dan aku
Terbiasa bersama
Menjalani kasih sayang
Bahagia ku denganmu

Nantium tertegun. Sepasang matanya yang biasa menatap sinis, kini melebar karena kagum. Ia tidak menyangka cowok kota berpenampilan urakan dengan jaket hijau army dan gelang-gelang hitam itu memiliki musikalitas seindah ini.

 

"Sekarang masuk bagianmu," ucap Panusunan memberi aba-aba dengan anggukan kepala.

 

Nantium menghirup napas dalam-dalam, lalu mulai melantunkan bait pertama.

 

Pernahkah kau menguntai

Hari paling indah?

Kuukir nama kita berdua

Di sini surga kita

 

Kali ini, giliran jantung Panusunan yang seolah berhenti berdetak. Suara Nantium terdengar begitu merdu, bening, dan penuh penghayatan, berpadu sempurna dengan petikan gitarnya. Ketika tiba di bagian reflektif, Panusunan masuk memberikan suara dua, menciptakan harmoni vokal duet yang luar biasa indah.

 

Di saat latihan vokal inilah, mata mereka kembali beradu pandang. Nantium tersenyum manis memperlihatkan gigi gingsulnya. Dan tak ada lagi kilatan amarah atau rasa tersinggung. Yang ada hanyalah getaran tak kasat mata yang perlahan meruntuhkan dinding ego masing-masing. Panusunan menatap lekat mata bening Nantium, dan menyadari sesuatu yang mengejutkan hatinya: ia tertarik pada gadis desa ini. Di sisi lain, Nantium yang selama ini menutup diri, merasa sangat kagum dengan suara vokal berat Panusunan serta caranya bermain gitar yang begitu memikat. Mereka berdua mendadak merasa sangat serasi, seolah musik telah menyatukan dua dunia mereka yang berbeda.

 

Redamnya Amarah di Balik Jendela

Di luar ruang musik, dari balik celah jendela kaca yang buram, sepasang mata memperhatikan mereka dengan dada yang bergemuruh. Triani berdiri di sana dengan wajah yang memerah padam menahan murka. Menyaksikan kebersamaan dan tatapan intim antara Panusunan dan Nantium membuat hatinya panas terbakar cemburu.

 

"Kurang ajar... berani-beraninya si Nantium kegatelan sama Panusunan," desis Triani, tangannya mengepal kuat siap untuk melabrak lagi.

 

Namun, belum sempat Triani melangkah ke pintu, sebuah tangan menahan pundaknya. Itu Mardian. Cowok keriting itu rupanya sudah mengawasi Triani sejak tadi.

 

"Tri, tunggu dulu. Jangan emosi," cetus Mardian dengan nada yang sengaja dilembutkan.

 

"Lepasin, Mar! Kamu nggak lihat mereka di dalam? Nantium itu sengaja"

 

"Triani, dengerin aku dulu," potong Mardian tegas namun tetap tenang, menatap langsung ke mata Triani. "Panusunan itu anak baru, dia ke sini cuma mau sekolah dan bantu orang tuanya yang pensiun. Dan soal pensi ini, itu murni tugas dari Pak Syamsul. Kamu tahu sendiri kan sifat Panusunan? Dia itu sok profesional kalau soal musik."

 

Mardian menghela napas pendek, lalu melanjutkan dengan suara lebih pelan, "Lagi pula, Tri... cinta itu nggak bisa dipaksa. Kamu cantik, pintar, populer di sekolah ini. Masih banyak cowok lain yang mendambakanmu. Jangan rendahkan dirimu dengan terus-terusan mengemis perhatian dari orang yang hatinya mungkin udah tertuju ke tempat lain. Lepasin aja, Tri. Kamu berhak mendapatkan yang lebih menghargai perasaanmu."

 

Mendengar penjelasan panjang lebar dan bijak dari Mardian, kalimat makian yang sudah di ujung lidah Triani mendadak tertelan kembali. Ia menatap Mardian yang menatapnya dengan tulus, lalu kembali menoleh ke dalam ruang musik di mana Panusunan dan Nantium tampak tertawa kecil bersama setelah menyelesaikan satu lagu.

 

Ada rasa sesak di dada Triani, namun perlahan ego tingginya mulai melunak. Kata-kata Mardian entah mengapa meresap jauh ke dalam sanubarinya. Ditambah lagi, perhatian kecil dari Mardian yang selalu ada di dekatnya belakangan ini membuat Triani menyadari sesuatu, Mardian mencintainya.

 

Triani mengembuskan napas panjang, bahunya yang tegang perlahan merosot turun.

 

"Ya sudah," gumam Triani lirih, matanya melirik Panusunan untuk terakhir kali dengan tatapan merelakan. "Mungkin dia memang bukan buat aku."

 

Dengan perasaan yang jauh lebih lega, Triani berbalik memunggungi ruang musik. Langkah kakinya kini terasa lebih ringan, mulai berjalan menjauh ditemani Mardian di sampingnya, membiarkan harmoni indah di dalam ruangan itu terus mengalun menyambut masa depan yang baru bagi Panusunan dan Nantium.


Cinta diujung Jalan Bab II

 


BAB II: Riak di Sela Lorong Kelas

Hawa dingin Desa Kumayan di pagi hari rupanya masih enggan beranjak, meski matahari bersemburat kuning keemasan sudah mulai meninggi. Panusunan berdiri di depan cermin lemari pakaiannya yang terbuat dari kayu jati tua. Ia merapikan seragam putih-biru barunya, mencoba membiasakan diri dengan pantulan sosoknya yang kini harus menjadi anak sekolahan di desa. Rambut belah tengahnya disisir rapi, kontras dengan alis tebal dan mata tajamnya yang pagi itu tampak kurang tidur. Jam *Digitec* di tangan kirinya menunjukkan pukul 07.00 WIB ketika ia melangkah keluar rumah menuju SMP Negeri Kumayan.

 

Sebagai murid pindahan dari kota besar di tahun pelajaran baru ini, kehadiran Panusunan jelas mencuri perhatian. Langkah kakinya yang dibalut sepatu kets hitam satu-satunya barang yang tersisa dari gaya anak *band*-nya terdengar ritmis menyusuri lantai semen selasar sekolah.

 

Saat wali kelas mempersilakannya maju ke depan kelas untuk memperkenalkan diri, puluhan pasang mata langsung tertuju padanya.

 

"Nama saya Panusunan. Pindahan dari kota," ujarnya singkat, padat, dengan nada suara yang agak berat.

 

Awalnya, Panusunan mengira hari-harinya akan terasa garing dan penuh kecanggangan. Namun, ramahnya anak-anak desa mematahkan dugaannya. Saat jam pelajaran pertama dimulai, beberapa anak laki-laki di barisan belakang mulai melempar candaan dan mengajaknya mengobrol. Jiwa supel yang biasa ia asah bersama teman-teman *band*-nya di kota rupanya membuat Panusunan mudah beradaptasi. Setidaknya, tawa renyah kawan-kawan barunya ini berhasil menyita pikirannya, membuatnya lupa sejenak pada studio musik, teman-teman lama, dan patah hatinya di kota.

 

***

 

Jam Istirahat: Pukul 10.00 WIB

 

Bel berkarat yang digantung di dekat kantor guru dipukul bertalu-talu menggunakan besi, menandakan waktu istirahat pertama telah tiba.

 

"Sun, ke kantin yuk! Di belakang ada gorengan Mak Purna yang paling juara. Kalau telat, bisa kehabisan kita," ajak seorang anak berambut keriting dengan senyum lebar. Namanya Mardian, anak asli Kumayan yang sejak jam pertama tadi langsung akrab dan menjadi teman sebangkunya.

 

"Boleh, yuk. Perut gua juga udah dangdutan dari tadi," sahut Panusunan, menyelipkan logat kotanya yang belum hilang.

 

Mereka berdua berjalan beriringan menyusuri koridor sekolah yang semi-terbuka. Udara pegunungan yang sejuk berembus, menggoyahkan daun-daun pohon mahoni di halaman tengah. Sepanjang jalan, Mardian dengan antusias menceritakan seluk-beluk sekolah, mulai dari guru yang paling galak sampai mitos hantu di kamar mandi belakang. Panusunan mendengarkan sambil sesekali mengangguk.

 

Namun, langkah kaki Panusunan melambat saat mereka melewati deretan ruang kelas dua.

 

Melalui celah jendela nako yang terbuka, mata tajam Panusunan menangkap sebuah pemandangan yang ganjil. Di saat seluruh murid berhamburan ke lapangan atau kantin untuk melepas penat, ada satu ruang kelas yang hampir kosong melompong. Hanya ada satu orang di dalam sana.

 

Seorang gadis.

 

Gadis itu duduk sendirian di bangku baris tengah. Rambutnya dikuncir kuda sederhana, wajahnya oval dengan hidung jambu air berkulit kuning langsat. Sebelah kiri giginya gingsul dengan bibir tipis yang merona. Dia tertunduk menatap permukaan meja kayu yang penuh coretan tipe-eks. Tangannya tampak memainkan ujung pulpen. Suasana di sekitar gadis itu terasa begitu sunyi dan terisolasi dari keriuhan hari pertama sekolah.

 

Panusunan menghentikan langkahnya total. Ia memperhatikan dengan seksama. *Kenapa wanita ini tidak keluar kelas? Apa dia sakit? Atau... dia nggak punya teman?* berbagai spekulasi langsung berputar di kepala Panusunan. Rasa penasarannya terusik.

 

Merasakan ada seseorang yang berdiri di luar jendela, gadis itu perlahan mengangkat wajahnya.

 

*Deg.*

 

Mata mereka beradu pandang melalui celah jendela. Gadis itu memiliki sepasang mata yang bening namun menyiratkan kedalaman yang sulit diartikan ada semacam luka dan benteng pertahanan yang kokoh di sana. Untuk beberapa detik yang terasa lama, mereka hanya saling diam, terkunci dalam tatapan masing-masing.

 

Gadis yang belakangan akan diketahui bernama Nantium itu tampaknya merasa tidak nyaman, atau mungkin terintimidasi oleh tatapan mata tajam Panusunan serta alis tebalnya yang sekilas memang membuat wajah cowok itu tampak galak dan mengintimidasi.

 

Wajah Nantium mendadak berubah tegang. Sorot matanya yang semula tenang langsung berganti menjadi kilatan defensif yang tajam.

 

"Apa lihat-lihat?! Pergi sana!" bentak Nantium tiba-tiba dengan suara yang lantang dan ketus, memecah kesunyian ruang kelas tersebut.

 

Panusunan tersentak mundur satu langkah, agak terkejut mendapat sambutan sekeras itu di hari pertamanya. Sementara Mardian yang menyadari kecanggungan temannya langsung menarik lengan jaket Panusunan.

 

"Eh, Sun! Ayo cepat, jangan cari masalah sama dia," bisik Mardian setengah menyeret Panusunan menjauh dari jendela kelas dua tersebut, meninggalkan Nantium yang masih menatap mereka dengan napas memburu dari balik meja kayunya.

"Heh, Panusunan! Kamu kenapa malah bengong di depan kelas Mak Lampir itu?"

 

Suara melengking tinggi khas remaja perempuan tiba-tiba membuyarkan keterkejutan Panusunan. Dari arah belakang, seorang gadis dengan seragam yang tampak sangat rapi dan wangi parfum menyengat berjalan cepat menghampiri mereka. Namanya Triani, teman sekelas Panusunan yang sejak jam pertama tadi tak henti-hentinya mencuri pandang ke arah meja Panusunan. Triani, dengan bando merah menyala di rambutnya, rupanya sudah menaruh hati pada pandangan pertama kepada si anak baru dari kota itu.

 

Namun, senyum manis yang awalnya dipersiapkan Triani langsung luntur saat ia menyadari bahwa Panusunan baru saja saling beradu pandang bahkan dibentak oleh gadis miskin didalam kelas dua tersebut.

 

Wajah Triani mendadak berlipat gundah, berganti menjadi kilatan emosi. Baginya, martabat cowok keren yang baru ditaksirnya tidak boleh diinjak-injak, apalagi oleh seorang Nantium.

 

"Kurang ajar banget ya itu anak. Anak baru nggak tahu apa-apa malah dibentak!" gerutu Triani berapi-api.

 

Sebelum Panusunan atau Mardian sempat mencegah, Triani dengan langkah menghentak-hentak langsung berbelok, melangkah mantap memasuki pintu kelas dua yang terbuka lebar. Tujuannya hanya satu: meja Nantium.

 

 

Melabrak di Sudut Kelas

Brak!

Triani menggebrak meja kosong di sebelah Nantium, membuat gadis kuncir kuda itu tersentak kaget.

"Maksudmu apa bentak-bentak Panusunan tadi, hah?!" labrak Triani tanpa basa-basi. Suaranya yang melengking menggema di ruangan yang sepi itu. "Dia itu anak baru Tium, nggak ada salah sama kamu! Dasar aneh, pantesan nggak punya teman. Kerjaanmu cuma bisa nyari musuh aja ya!"

Panusunan dan Mardian yang panik segera menyusul masuk ke dalam kelas. Panusunan berdiri agak di belakang Triani, merasa tidak enak karena kehadirannyalah yang memicu keributan ini.

 

Nantium perlahan berdiri dari bangkunya. Alih-alih ketakutan karena dilabrak oleh kakak kelas mengingat Triani duduk di kelas tiga sorot mata Nantium justru semakin menajam. Dagunya terangkat menantang, sambil bertolak pinggang memperlihatkan keteguhan yang luar biasa meskipun dikeroyok secara mental.

 

"Bukan urusanmu," sahut Nantium dingin, suaranya datar namun menusuk. "Tanya saja sama teman barumu yang matanya nggak bisa dijaga itu. Mau dia anak kota atau anak presiden sekalipun, kalau tidak sopan mengintip kelas orang, layak dipelototi!"

 

"Kamu!" Triani menunjuk wajah Nantium dengan telunjuk yang gemetar karena emosi. "Heh, Nantium! Jaga mulutmu ya! Kamu itu cuma anak"

 

"Tri, udah, Tri! Cukup!"

 

Panusunan akhirnya melangkah maju, memotong kalimat Triani sebelum situasi menjadi semakin runyam. Ia berdiri di antara kedua gadis itu, telapak tangan kirinya yang dilingkari jam Digitec terangkat ke udara, memberi isyarat agar Triani mundur.

 

Panusunan lalu menatap langsung ke arah Nantium. Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat gurat kelelahan sekaligus kekeras kepalaan yang terpahat di wajah gadis itu namun terlihat menarik.

 

"Gua yang salah," kata Panusunan dengan logat kota yang tegas, menatap Nantium lekat-lekat. "Gua yang lancang ngelihatin lo tadi. Jadi, nggak usah bawa-bawa orang lain. Tri, ayo keluar. Enggak enak dilihat guru."

 

Nantium hanya mendengus sinis, mengalihkan pandangannya ke luar jendela seolah-olah kehadiran mereka bertiga di kelasnya hanyalah sekumpulan lalat yang mengganggu.

 

Triani yang merasa pembelaannya tidak dihargai, menghentakkan kakinya kesal. "Kamu kok malah belain dia sih, Sun?! Ih, tau ah!" Dengan perasaan dongkol dan cemburu yang membakar dada, Triani berbalik dan berlari keluar kelas, meninggalkan selasar dengan kekesalan mendalam.

 

"Aduh, Sun... repot ini urusannya," bisik Mardian sambil menepuk jidatnya, memberi kode pada Panusunan agar mereka juga segera angkat kaki sebelum gosip ini menyebar ke seantero sekolah.

 

Panusunan memberikan satu tatapan terakhir pada Nantium yang kembali terdiam di bangkunya, lalu berbalik pergi. Hari pertamanya di sekolah desa yang ia kira akan membosankan, rupanya justru dimulai dengan sebuah riak permusuhan yang tak terduga. Cantik juga anak ini gumam Panusunan sambil berlari menyusul Mardian yang sudah duluan berlari kearah kantin Mak Purna.


Cinta diujung Jalan Bab I



BAB I: Senja di Balik Kaca Jendela

Deru mesin bus antarkota Bunga Raya menderu rendah, membelah jalanan aspal berkelok-kelok yang memutari lereng pegunungan. Bus baru saja memasuki simpang dari jalan besar lintas sumatera, dari simpang menuju ke desa yang diujung jalan berjarak 12km. Di luar sana, hari mulai beranjak senja. Semburat warna jingga dan keunguan perlahan tenggelam di balik gumpalan kabut tebal yang mulai turun, membawa hawa dingin yang perlahan menyusup lewat sela-sela kaca jendela bus yang tak rapat sempurna.

 

Di sisi kanan bawah jalan, sebuah sungai berbatu mengalir dengan airnya yang jernih, memantulkan sisa-sisa cahaya langit sore. Riaknya yang deras seolah sedang balapan dengan laju bus yang membawa mereka semakin jauh meninggalkan hiruk-pikuk peradaban modern. Suara tonggeret terdengar nyaring bersahutan dengan suara burung kedasih dikejauhan.

 

Di baris kursi nomor dua belas, Panusunan menyandarkan kepalanya ke kaca yang terasa sedingin es. Di telinganya, sepasang earphone busa berwarna hitam terpasang erat, mengalirkan suara melengking Once vokalis band Dewa lewat lagu "Akulah Arjuna". Sesekali, suara musik itu agak melambat dan bergelombang tanda bahwa baterai AA di dalam walkman Sony kuning yang ia genggam sudah mulai melemah.

 

Panusunan mengembuskan napas berat, membuat kaca jendela di depannya sedikit berembun. Ia menyeka embun itu dengan ujung jaket hijau army-nya. Menatap pantulan dirinya sendiri di kaca: seorang pemuda dengan rambut hitam yang dibelah tengah rapi tren yang sedang digilai anak muda zaman itu, alis tebal yang menaungi sepasang mata tajam, serta sejumput jenggot tipis yang baru tumbuh di dagunya.

 

Di tangan kirinya, sebuah jam tangan digital merek Digitec menunjukkan pukul 17.45. Sementara di pergelangan tangan kanannya, melingkar beberapa gelang tali hitam polos sisa-sisa identitasnya sebagai anak band kota yang terpaksa tercerabut dari akarnya. Lengkap dengan kaos hitam dan celana jins belelnya, Panusunan tampak seperti makhluk asing yang tersesat di jalur lintas sumatra ini.

 

Ia menoleh ke samping kirinya. Kedua orang tuanya duduk dengan gurat wajah yang bertolak belakang dengannya. Ibu dan Ayahnya sedari tadi tak berhenti tersenyum, sesekali menunjuk ke luar jendela, menikmati setiap jengkal pemandangan hijau yang dilewati. Ada binar kebahagiaan yang tulus di mata sang ayah.

 

Perjalanan ini adalah perjalanan pulang yang abadi bagi sang ayah. Setelah puluhan tahun merantau dan mengabdi sebagai guru pegawai negeri di kota Jakarta, masa pensiun akhirnya tiba. Dan bagi ayahnya, tidak ada tempat terbaik untuk menghabiskan sisa umur selain tanah kelahiran: Desa Kumayan.

 

Namun bagi Panusunan, Desa Kumayan terdengar seperti akhir dari dunianya.

 

Kenapa harus sekarang? Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, seirama dengan putaran pita kaset di dalam walkman-nya.

 

Ia benci kenyataan ini. Ia sudah terlanjur nyaman dengan kehidupan kota yang dinamis. Di sana, di studio musik pengap berperedam rak telur yang tersusun didinding yang biasa mereka sewa per jam, teman-teman bandnya mungkin sedang berkumpul menyusun daftar lagu untuk festival bulan depan. Dan yang paling menyakitkan, ia harus merelakan hubungannya kandas dengan sang kekasih, gadis yang menangis di terminal bus dua hari lalu saat melepas keberangkatannya. Semua itu harus ditinggalkan demi sebuah desa terpencil yang bahkan sinyal radio pun timbul tenggelam.

 

Bus kembali berguncang keras saat roda besarnya menghantam lubang jalanan gunung. Panusunan memejamkan mata, menekan tombol forward pada walkman-nya secara acak, berharap lagu berikutnya bisa meredam rasa dongkol dan rindu yang mulai menggunung di dadanya, tepat saat bus mulai berbelok memasuki gapura tua bertuliskan: Selamat Datang di Desa Kumayan.