Jumat, 31 Januari 2014

Poso-poso (A.Malam Terakhir)



A.Malam terakhir
Azan isya telah usai, sang bulan purnama pun telah muncul di atas gunung-gunung yang mengelilingi kampung ini memberikan sinar sejuknya sehingga takperlu untuk menyalakan obor di depan rumah-rumah. Angin sesekali berhembus kencang meniup daun-daun pohon kelapa yang seakan menari-menari yang berada tepat di atas rumah panggung yang sederhana. Hawa dingin terasa mulai menyelimuti, burung hantupun ikut menyaingi suara jangkrik yang memperkental suasana kampung.

Terdengar suara riuh segerombolan anak-anak yang pulang mengaji, aku tak terlalu memperhatikan mereka lewat di depanku, aku hanya diam terpaku di dekat perapian di pinggir jalan setapak yang berkelok-kelok. Aku sedang menunggu sahabatku Anwar, kulihat pak tua yang ada di dekatku sudah menghabiskan 2 batang rokok pusuknya dan telah jenuhlah kiranya hatiku.

Tak lama berselang sahabatku telah datang, kami langsung berjalan ke arah sebuah tempat yang bernama teras biru. Teras biru adalah teras sebuah rumah yang di tinggal pemiliknya ke Tanah Doli, teras biru menjadi tempat pertemuan pemuda dan pemudi. Tidak jarang di situ terjadi perkelahian dengan alasan yang tidak jelas, terkadang karena memperebutkan wanita, mabok mungkin itulah kehidupan anak muda.

Aku dan sahabatku menaiki tangga teras biru, masih terlihat sepi baru satu orang yang duduk di bangku bambu sebelah sudut, kelihatannya dia sedang menunggu seseorang.Aku tak begitu mengenal wajah pemuda itu karena sinar bulan sedang di tutup awan, kami duduk di bangku bambuyang sudah mulai reot.Anwar mengeluarkan sebungkus rokok dan menawarkannya pada pemuda yang duduk di sudut itu, mereka mulai menghembuskan asap rokok dari mulut dan hidung seperti cerobong asap.Dari suaranya aku kenal pemuda itu ya.. dia adalah Ibrahim pemuda yang lebih tua dariku dan berbadan lebih kecil.

Kami mulai berbincang-bincang tentang kehidupan anak muda mulai dari usaha, pertanian, percintaan dan perkelahian, ketika sedang asik asik ngobrol ada dua wanita berdiri di pinggir jalan dan memanggil nama Ibrahim, dia langsung pergi dengan semangat.

“kejolo te lae!!..” dia pamit padaku, sepertinya wanita itulah yang di tunggunya.

Ketika dia menghampiri dua wanita itu seorang dari mereka pergi dengan berlari-lari kecil.Tak lama kemudian berdatanganlah pemuda dan pemudi ke Teras Biru ini, karena suasana semakin ramai aku mulai mempertanyakan  kebenaran janji pertemuan dengan wanita idaman pada anwar,

Aku : “Botul dei ro alai dongan War?!..”aku bertanya.
Anwar :“Anggo janjina bah isondei Suf,…au parjolo ma au mulak”
Aku : “Aso!!?.”
Anwar : “Ima..”

diapun terlihat sudah bosan berada di teras itu karena kakaknya pun sudah ada di tempat itu yang sedang bersenda gurau dengan teman-temannya.

“Suf…sanga cogot doma daboih…parjolo ma au mulak dah!!..” Anwarpun turun dari teras, dia terpaksa meninggalkanku dengan berat hati karena segan dengan kakaknya Saimah.

Bulan terlihat sudah beranjak naik dan Anwarpun telah pergi meninggalkanku di teras biru ini, para wanita yang tadi jauh duduk kini sudah mulai mendekatiku, wangi-wangian tersebak dari selendang yang mereka kenakan.Mereka sudah mengelilingiku seorang dari mereka menarik tanganku dan menyuruhku duduk di antara mereka, sebuah gitar di berikan seorang wanita yang lebih manis di antara mereka.

Wanita1 : “Marende maho jolo dongan..malungun iba mambege soramu..”
Aku : “Hmm..namaloani kakak on noneh…”
Wanita 2 : “Baen majolo dabonggik..!!”
Akupun mulai memetik gitar dan bernyanyi :

Inda arani ho si boru tulang
Tai botul do di rohaon adong kasih sayang
Dompak marmayam pe ho di anggunan mau pasahat ma di tulang..2x
                   Ho madah siboru nauli na denggan
                   Nau pasahat-sahat dompak di anggunan
                   Molo adong di hita pardomuan
                   Sonang ni roha oih boru lintang.. 2x
O boru ni tulang parmaen ni damang
Ligi ma di rohaon adong kasih sayang
Molo na ragu do rohamu dongan bola ate-ate ligima di bagasan….2x
(bagi yang ingin mendengarkan lagunya klik video di bawah ini)


Belum selesai aku bernyanyi wanita yang di tunggu-tunggu sudah datang dan berdiri di seberang jalan di depan Teras Biru, aku langsung memberikan gitar pada wanita yang duduk di sampingku dan bergegas menuruni tangga.

Wanita3 : “Hakan soni maho teh..!!”
Wanita1 : “Padiarma soni baenna ro dei gandaknia..!!”
Wanita2 : “I ida do gandaknia ti…”
Wanita5 : “Kan mei I ida gandak ni si Anwar dei,..i Halimah dei gandaknia!!.”
Wanita2 : “Bo aso mulakki Anwar??!!..
Wanita5 : “Baenna roi roangku kakaknia kuson,..”
Aku mendekati dua wanita yang kelihatannya sedang terengah-engah, Halimah sedang merintih kesakitan.Ida mendekatiku.
Ida : “Bang Suf jia ma bang Anwar??!!..”
Aku : “Dung mulak kia..”
Ida :”Hah!!? Sondia do??!..”
Aku : “Baenna roi kakakniangkin mulakia,..cogot domai ningia!”
Ida : “Soni ajo dei abangi wida..” ida terlihat kecewa.
Aku : “Amawa dei I Halimah..??!” aku sedikit berbisik.
Ida : “Tahop ia angkin dompak mijur ngun tangga ni alai I, tong got cepatannia na ma bar-bar dei tot nia indari baenna itahan-tahania dei.”
Aku : “Bo sondia doma indari..?!”
Ida : “Kema humu mangecek..”
Aku : “Bo ho..?!”
Ida : “Upainte ma humu di Teras Biru on..ulang malolot tu humu bah!.”
Aku : “Olo..”
Aku dan Halimah berjalan menuju sebuah tempat dimana tempat itu adalah saksi cinta kami, ya cinta pemuda yang hanya mengenal keindahan dan sedikit tangis didalamnya.Kami duduk bersampingan di atas sebuah batu besar di bawah pohon nangka yang rimbun.Dia selalu memalingkan wajahnya ketika kupandang wajah yang biasanya terlihat manis, namun malam ini tidak, aku melihat tetesan air mata di pipinya meski samar cahaya bulan terpantul di aliran air matanya.
Aku : “Mancit pe lakna patmuidah..?!”
Halimah : “Inda be bang,..”
Aku : “Hah?!!..bo aso tangis pe anggik!?” aku sedikit kesal.
Halimah : “Isangka abang dei gara-gara ni patkuon so tangis au..?!”
Aku : “Gara-gara ni aha do?!!”
Halimah :”Adong na lobi ancit bang! Namanyiak ate-ate niba ibaenca!!”
Aku : “Olo aha?!!..lailalah, maolna dida dongan lalaho mandokonca”
Halimah terdiam sejenak, air matanya menetes lagi dan dia menatapku dengan sorot mata yang pilu.Dia mengambil nafas panjang dan menghembuskannya berlahan.
Halimah : “Isuru alak umak au bang mangaranto!!..”

Mendengar perkataan Halimah aku merasa dunia berhenti berputar, aku terdiam dan tak tau harus bilang apa, seakan aku takpercaya.Detak jantungku menggebu-gebu seakan genderang perang, ku coba untuk tak menitikkan air mata meski perih menyayat jiwa.Ini bukanlah pertama kali sakit di hati dalam cinta, namun ini terasa lebih dahsyat..lebih pilu.Ku coba tenangkan diri dengan mengambil nafas panjang dan mengeluarkannya secara berlahan, sebelum perih menyayat hatiku lagi aku memegang tangannya.

Aku : “Madung mei,…ulangko tangis be pala na soni ma ning inanta inda namawai anggik e!!..upainte pe anggik mulak ngun pandaraman!!”ternyata aku tak kuat dan meneteskan air mata.

Halimah : “Marjanji ma abang idakan na maninggalkon au..anggo au bang indakan na utinggalkoni abang bope sondiana!!” dia tersedu-sedu.
Aku memeluknya dari samping dan ku letakkan kepalanya di dadaku, kubiarkan dia menangis sepuasnya dalam dekapanku.Tak terasa rembulan sudah tepat di atas kepala, aku menyuruhnya bangkit.

Aku : “Jonjong maho anggik e so mulak kita!, mulak ki ida non!..ku jia lakna anggik nagot langkai?! “
Halimah : “Tu tano doli bang!..”
Aku : “Oh..inda namawai dabo anggik e,..pala madung lalu anggik di adu ulangko lupa mangirim surat jiabang dah!!, pala adong epeng ni abang ro pe abang sasakali!”aku menghiburnya.
Halimah : “Olo bang.. utulis pe surat naron borngin di abang so ulehen cogot di si ida dohot salendang dah bang!!..”
Aku : “Olo anggikku sayang!!”

Kamipun meninggalkan tempat itu dengan berat hati….

***











Jumat, 25 Oktober 2013

manduda Bulung gadung

Manduda Bulung Gadung.
Dulu waktu saya masih kecil sering melihat Ibu saya manduda bulung gadung (menumbuk daun singkong) di pagi hari sebelum saya mandi ke sungai Bonjo. Saya biasanya duduk di tangga rumah panggung kami sambil merasakan aroma cabe, cepokak dan daun ubi yang mengundang air liur saya telan di tambah lagi dengan aroma cambong. Saya sangat kagum dengan kegigihan para Ibu di kampung yang berjuang demi anak-anak mungilnya. Ibu saya takkan pernah melupakan jasa Ibu... Ibu saya sayang dan cintakan ibu.

Selasa, 22 Oktober 2013

Pakantan



Kecamatan Pakantan adalah sebuah Kecamatan yang terletak di hulu sungai Gadis (Batang Gadis), dilereng Gunung Kulabu diwilayah Kabupaten Mandailing Natal paling selatan, berjarak 12 km dari Muara Sipongi / jalan Raya Lintas Sumatera mengarah ke barat. Pakantan terdiri dari Delapan "huta" (desa): 1. Huta Dolok 2. Huta Gambir 3. Huta Lancat 4. Huta Lombang 5. Huta Padang 6. Huta Toras 7. Huta Julu 8. Silogun
Wilayahnya yang strategis dengan hamparan persawahan yang membentang luas, diapit oleh dua buah sungai kecil: Sijorni dan Mompang, dibelah dua oleh sungai Pahantan dengan kesejukan airnya serta dikelilingi perbukitan bak dipagari/dibentengi, terlihatlah serupa bentuk kuali (wajan) dan beriklim dingin karena ketinggiannya 1200 meter diatas permukaan laut. Pada tahun 2007 Pakantan ditetapkan sebagai salah satu kecamatan di kabupaten Mandailing Natal Provinsi Sumatera Utara.
Beberapa marga yang terdapat di Pakantan: Marga Lubis, Marga Hasibuan, Marga Nasution, Marga Batubara dan Marga Lintang (marga yang terbentuk di Pakantan)
Mengenai asal-muasal nama PAKANTAN sendiri, berbagai penafsiran bermunculan, namun tiada yang pasti, antara lain berasal dari kata antara lain:
"PAHANTAN" : nama sungai yang membelah desa tersebut.
"PAMUKAPATAN": karena Pakantan merupakan tempat dimana pada tempo dulu orang-orang dari Mandailing dan Sumatera Barat datang untuk mencari ketenangan dan meminta petunjuk atas masalah yang di hadapi karena tempo dulu sebelum adanya agama di pakantan / hulu sungai batang gadis / gunung kulabu dianggap tempat yang sangat sakral dan tempat pemujaan.
"PATANTAN" : suatu bentuk upacara pemakaman Raja Mangalaon Tua (Namangarotop Banua) dimana cara membawa beliau dari rumah duka ke tempat penguburan (di Talobu) tidak diusung diatas bahu, melainkan ditantan (dibawa bersama-sama dari tangan-ketangan) secara berantai hingga semua masyarakat Pakantan berkesempatan untuk mengantar ke liang kubur.
"PARMUPAKATAN": musyawarah tentang pemilihan / pengangkatan "Raja Huta" berikutnya. Perlu diketahui bahwa pada masa Harajaon Mangalaon Tua, nama Pakantan belum ada, baru ada Huta Lobu yang diketahui sebagai pemukiman atau Harajaon.
Menurut Tarombo ( silsilah ) marga Lubis di Pakantan, yang pertama kali diakui sebagai nenek moyang bernama Datu Sang Maima Na Bolon. Selanjutnya beberapa generasi kemudian, keturunan Datu tersebut bernama Namora Pande Bosi II. Diakui sebagai awal yang menurunkan Lubis Si Langkitang dan Si Baitang. Dan kemudian, beberapa generasi kemudian lahirlah Sutan Mogol, keturunan langsung dari Mangaradja Ulu Balang. Sekitar tahun 1540-an, Raja Mangalaon Tua (Raja Pakantan I), membuka perkampungan di Pakantan. Saat itu yang menjadi kepala kampung di Huta Padang adalah anak Raja Mangalaon Tua yang pertama, Namora Tolang. Raja Gumanti Porang Debata, anak yang kedua menjadi raja di Pakantan Dolok. Kemudian anak Raja Mangalaon Tua yang ketiga, Raja Sutan Barayun, menjadi raja di Pakantan Lombang.
Beralihnya paham Parbegu* (belum beragama, animisme), menjadi Islam di Pakantan sangat berhubungan dengan peristiwa Perang Padri di Bonjol (1825-1830). Para perwira kerajaan waktu itu banyak masuk ke wilayah Pakantan dan wilayah Mandailing lain untuk menyebarluaskan agama Islam.
Misi Zending Belanda pernah menugaskan Hendrick Dirks untuk berkiprah di Pakantan. Atas persetujuan kepala kuria Pakantan Lombang, Raja Mangatas, ia mendapat pinjaman tanah tahun 1871. Akhirnya Dirks membuat rumah. Kemudian kampung itu dikenal dengan nama Huta Bargot.
Masuknya penyebaran agama Kristen ke Pakantan, jauh lebih dulu dibandingkan masuknya Kristen ke daerah Silindung dan Toba. Ajaran Kristen ke Pakantan Madina dibawa oleh penginjil dari Rusia dan Swiss tahun 1821, sedangkan ajaran Kristen yang dibawa ke Toba dibawa oleh missionaris dari Jerman. Itulah sebabnya gereja tertua di Tapanuli Selatan terletak di Pakantan Huta Bargot.

Letak Geografis

Pada zaman dahulu wilayah batas Mandailing Godang sampai Sayur Matinggi, Angkola Jae. Ke hilir Mandailing Julu sampai ke Limo Manis, tidak termasuk Muara Sipongi ke hulu (termasuk Pakantan).
Karena dahulu Gouverment sudah menetapkan satu kampung tempat Raja Panusunan seperti Mandailing Kecil ada empat, yaitu: Tamiang - Manambin - Singengu dan Tambangan. Pakantan pun demikian: Pakantan Lombang dan Pakantan Buhit (Pakantan Dolok).
Dalam keseharian (tempo dulu) apabila ada masyarakat Pakantan yang akan meninggalkan wilayah Pakantan dan ditanya: mau kemana? maka akan dijawab: "giot tu Mandailing".

Ciri Khas Adat Budaya

Ditemui banyak ciri khas bahasa dan peradatan yang berbeda dengan tempat lain. Seperti misalnya:
- Di Mandailing dikenal Raja Panusunan sedangkan di Pakantan tidak, namun ada yang disebut dengan "Pamutus Hata"
- Di Mandailing di kenal Anak Boru / Pisang Raut dan di Pakantan dikenal dengan "Parserean / Parsinggiran"
- Di Mandailing dikenal dengan Mora sedangkan di Pakantan dikenal dengan "Hula-hula"
- Di Mandailing alat kesenian Gordang Sambilan digunakan sebagai pelengkap adat, di Pakantan Gordang Sambilan selain pelengkap adat, juga sebagai pemanggil "Baso" atau dikenal dengan sebutan "Manyarama". Tiga irama Gordang Sambilan yang berasal dari Pakantan yaitu Sarama Datu, Sarama Babiat dan Pemulihon.
- Dan masih banyak lagi ciri khas budaya dan perbedaan dalam bahasa lainnya.

Kemasyarakatan

Selain dari itu, halak Pakantan juga sangat kental dengan persaudaraannya tanpa pernah memandang dari kekayaan dan keyakinannya masing-masing, itu sebabnya kemasyarakatan di Pakantan selalu kompak harmonis dan penuh toleransi. Di Pakantan sendiri, dua agama selalu bisa hidup berdampingan secara harmonis yaitu Islam dan Kristen.
Dalam suatu perkumpulan, yang namanya "halak Pakantan" selalu tampil pada jajaran terdepan, yang memiliki falsafah: "harus menjadi yang terdepan, atau tidak sama sekali". Sifat agresif ini dapat terlihat di rantau baik dalam berbagai bidang, seperti dalam hal kesenian. Di Medan misalnya, Kesenian Gunung Kulabu (kesenian ciri khas Pakantan) dengan Gondang dan Gordang Sambilan nya paling menonjol daripada wilayah lainnya, sehingga sempat melalang buana hingga ke "Negara Paman Sam". Begitu juga di Jakarta, sempat hadir di Istana Bogor saat peresmian pernikahan putri wakil presiden saat itu yaitu Bapak H. Adam Malik.
Dapat disimpulkan bahwa halak Pakantan selalu berusaha menjadi yang terdepan baik secara individu maupun kebersamaan.
Pakantan juga melahirkan banyak patriot-patriot bangsa. Seperti misalnya : Dr.Parlindungan Lubis (Ketua Perhimpunan Indonesia (PI) di Negeri Belanda 1938-41), Sakti Lubis dan Martinus Lubis (pejuang melawan Belanda di Tembung sekitar tahun 1947), Sutan Mompang Soripada (komandan Resimen Tapanuli Selatan), Ronggur Patuan Malaon (mantan Kepala Kehutanan Luar Jawa dan Madura), Prof. DR AP Parlindungan (pakar Hukum Agraria dan mantan Rektor USU), Kolonel Purn. Dahlan Lintang (mantan Kastaf Kodam II BB), Alm. Samsi B Nasution (pengusaha Jakarta), DR IUR Adnan Buyung Nasution, SH (pakar Hukum, pejuang HAM dan penasihat Presiden) dan masih banyak lagi yang tak dapat disebut satu persatu, baik yang sekarang masih aktif berkarya maupun yang sedang menikmati masa tuannya. Nama-nama mereka pun banyak diabadikan sebagai nama jalan-jalan di kota Medan dan sekitarnya.

Hasil Perkebunan

Pakantan dari zaman dahulu sangat terkenal dengan hasil kopinya. Pada zaman dahulu perkebunan kopi Pakantan yang diolah oleh putra daerah, banyak merekrut tenaga kerja, bukan dari anak daerah Pakantan saja tapi juga pekerja yang didatangkan dari Pasaman (Provinsi Sumatera Barat), kopi Pakantan tidak saja beredar di daerah Tapanuli Selatan pada masa itu tapi sudah sampai menembus ke Eropa. Dengan kejayaan perkebunan kopi itu pengusaha Pakantan mampu membangun ekonomi Pakantan, jalan yang baik, tranportasi yang lancar, distribusi hasil kopi Pakantan pun mampu menembus keluar Pakantan (Eropa) mekipun pada sarana komunikasi dan teknologi (IT) waktu itu belum ada, kehidupan ekonomi di Pakantanpun cukup menjanjikan, anak saudagar kopi pun dapat bersekolah keluar Pakantan baik di dalam maupun ke luar negeri. Selain kopi, pakantan juga terkenal dengan hasil perkebunan lainnya seperti buah manggis dan buah jeruk.

Kopi adalah jenis komoditi utama di Pakantan. Menurut tulisan Prof.A.P.Parlindungan gelar Sutan Makhudum (Waspada, 17 April 1997), Kopi Arabika di Pakantan, disebut juga Kopi Mandili, kadang ditambahkan 'Pakant', artinya dari Pakantan. Adanya ungkapan khas untuk mengajak makan "Mangopi Hita Jolo ", menandakan pengaruh kopi sangat mendalam terhadap sanubari orang di Pakantan.
Kopi Pakantan terkenal di Benua Eropa. Rasanya sangat enak dan harum baunya. Orang Belanda yang penciuman bisnisnya tajam, pernah membangun gudang besar ( Pakhuis ) di Pakantan. Seterusnya kopi Pakantan diangkut dengan Pedati ke Padang. Dari pelabuhan Teluk Bayur dikapalkan menuju Belanda. Selain kopi Pakantan, padi juga merupakan tanaman unggulan di Pakantan. Orang menyebutnya dengan nama ' Eme si Pahantan'. Selain dikenal wangi padi tersebut sangat enak rasanya bila dimakan.


Pakantan sebagai cakrawala kebangkitan budaya

Prof. P.J. Veth, sejarawan Belanda sangat gandrung kepada hal yang berhubungan dengan letak geografis Indonesia. Beberapa karyanya diakui sebagai tonggak penemuan masa lampau peradaban di Indonesia. Daerah penelitiannya mencakup kepulauan Sumatera sampai ke kepulauan Timor. Sosoknya dikenal sangat serius dan jarang tertawa.
Hobbynya membenamkan diri pada timbunan kertas tua. Dari situ ia membuat catatan ringkas dan kemudian mengolahnya dengan sumber lain untuk dijadikan sebuah buku. Salah satu kegemarannya yang lain, yang jarang diketahui orang, adalah membaca memoir (buku harian) para prajurit kompeni.
Sering kali para prajurit menuliskan keluh kesahnya selama melakukan dinas ke daerah pedalaman. Seorang prajurit yang bernama belakang Logemann, mengunjungi wilayah Mandailing (tahun 1800-an), menulis : Penduduk di wilayah Mandailing Godang dan Mandailing Julu dalam teks ia menuliskan Groot Mandheling en Klein Mandheling, Oeloe en Pakanten , sangat memuliakan air, memuja air, sampai-sampai air yang saya minum enak sekali rasanya…
Walaupun ada beberapa buku yang ditulis oleh para ahli (T.Z. Willer dan Junghuhn) tentang Mandailing, tetap saja tulisan Veth merupakan rujukan penting tentang batas geografis Mandailing.
Awalnya tulisan-tulisan Veth sempat menjadi pembicaraan hangat di perkumpulan ' Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschapen' ( lembaga seni dan ilmu pengetahuan ) di Jakarta. Deskripsinya tentang kelompok etnis yang tersebar pada berbagai kepulauan Indonesia sangat mengagumkan. Akhirnya atas perintah gubernur jendral kumpulan karangan Veth disatukan menjadi satu buku yang berjudul ' Aardrijkskundig en Statistisch, Woorden Boek van Nederlandsch Indie', terbit tahun 1869. Karangan Veth tersebut sering kali menjadi sumber penting dalam melakukan penelitian tentang Indonesia. Corak pemikirannya tampak memengaruhi tulisan Indonesianis G.F.E Gonggrijp dan W.F. Stuurheim.
Sedikit deskripsi Veth tentang Pakantan (1850-an) sebagai berikut : Sebuah distrik di kepulauan Sumatera, masuk ke dalam keresidenan Tapanuli, dialiri oleh sungai namanya ' Batang Gadis'. Urusan administrasi (perwakilan gubernemen) terletak di Kota Polak. Sedangkan wilayah yang mempunyai kepala kuria adalah Pakantan Dolok dan Pakantan Lombang. Seorang Opziener (pengawas) ditempatkan di Pakantan Lombang. Di daerah Pakantan Dolok terdapat tambang emas, tetapi hasil bumi yang utama adalah pinang, kentang dan jeruk . Sedangkan di Pakantan Lombang, yang waktu itu hanya ada 200 rumah, hasil buminya juga pinang, kelapa, beras dan kopi.

Di Pakantan banyak terdapat bangunan bersejarah yang unik. Adanya Bagas Godang dan Sopo Gordang yang berusia ratusan tahun membuktikan orang Pakantan itu mempunyai kehidupan budaya yang berarti. Bagas na Godang di Huta Dolok berfungsi sebagai tempat pelaksanaan upacara relijius dan musyawarah adat. Bila diperlukan 'Gordang Sambilan' ditabuh untuk menambah sakralnya upacara tersebut. Di daerah Pakantan Lombang terdapat sebuah Bagas Gambar yang unik dan merupakan satu satunya yang ada di daerah sumatera utara. Garis yang tertera pada dinding (menurut tipologi unsur seni rupa), mencitrakan kultus keindahan yang penuh romantika.


Penulis bisa meyakini goresan seperti itu merupakan sebuah pengejawantahan panca indera yang bernuansa halus. Mungkin saja yang membuat bangunan Bagas Godang tersebut orang-orang yang memiliki sensibilitas yang tinggi terhadap seni lukis dan ukir. Selain itu terdapat Bale dari Namora Nasution, Bale Ompu Boru Lubis Silogun dan Bale Ompu Boru Lubis Hadungdung yang berada di Hutatoras. Bale Ompu Sutan Borayun terdapat di Pakantan Lombang. Bale Sutan Mogol, leluhurnya marga Lubis. Bagas Gambar yang didirikan tahun 1821 oleh Soetan Singasoro. Jasalamat di Silogun . Kemudian Bagas Godang dan Sopo Godang Lintang di daerah Pakantan Dolok. Pendirinya adalah Ida Lidya Lintang.

Hari Pekan biasanya jatuh pada hari Selasa. Orang Pakantan menyebutnya dengan istilah 'marpoken'. Selama hari pekan itu penduduk berbelanja lauk pauk untuk persediaan selama satu minggu. Zaman sebelum Indonesia merdeka, hari pekan di Pakantan selalu dipenuhi oleh hilir mudiknya berbagai bangsa yang datang. Rombongan sirkus, Opera Bangsawan Deli, Sulap dari India dan Tiongkok, permainan bola tarik Jepang sampai pertunjukan bioskop bisu, merupakan ragam hiburan yang terdapat di Pakantan.